Love In Bet

Love In Bet
London



Yuna pulang ke mansion papanya setelah ia, Karen dan pengacara menyelesaikan laporan mengenai acara lelang kemarin termasuk dana yang diterima untuk diberikan kepada semua pihak yang berhak mendapatkannya. Gadis itu juga sudah memberikan laporan kepada papanya tertulis dan via telepon.


Sesampainya di mansion, dia melihat Vivienne sedang mengepak kopernya di ruang tengah.


"Mau kemana Viv?"


"Packing aja berjaga-jaga kalau kita pulang besok" jawab Vivienne santai.


"Udah nih jalan-jalan di Jakartanya?" tanya Yuna sambil tersenyum duduk di sofa.


"Hai, sayangku" sapa Brandon yang baru keluar kamar lalu mencium pipi Yuna dan duduk di sebelahnya.


"Hai B. Jadi kalian makan rujak cingur tadi?" tanya Yuna.


"Oh God, kalau aku tahu cingur itu apa aku nggak bakalan makan" keluh Brandon.


Vivienne dan Yuna tertawa terbahak-bahak.


"Tenang, yang kamu makan itu kikil bukan congornya sapi" kekeh Yuna.


"Tapi tetep abis Ding maemnya tuh!" goda Vivienne.


"Enak kan B?" kerling Yuna.


"Enak sih bumbunya" ucap Brandon pelan yang membuat dua gadis itu terbahak.


"Kamu belum coba makanan ekstrim lainnya, lontong Kupang, belalang goreng, tempoyak..."


"Udah-udah, nggak usah kamu sebutkan! Aku makan makanan normal saja!" hardik Brandon memotong ucapan Yuna yang nyengir lebar.


"Eniwai, kami akan memesan tiket pulang ke Inggris besok. Kamu akan ikut kami pulang atau masih mau di Jakarta?" lanjut Brandon.


"Aku ikut kalian pulang. Ingin ke kampusku lagi, melukis lagi karena sudah lama tidak aku lakukan. Lukisanku masih terdampar di studio."


"Aku sudah pesan JAL ( Japan Airlines ) kelas bisnis" ucap Vivienne melalui ponselnya.


"Tumben naik JAL, biasanya Qatar atau Emirates atau Singapore Airlines" komentar Yuna.


"Yang berangkat pagi mbak, aku males malam-malam ke airport."


"Terserah deh. Udah dibayar kan Viv?" tanya Yuna.


"Udah. Papa kemarin udah kirim duit ke aku buat lukisannya nanti kan aku tinggal minta ganti kalian" cengirnya.


"Aku yakin, adikmu itu lebih kuat gen Pratomo daripada kalian" bisik Brandon.


"Terakhir kami cek, DNA nya berbeda dengan kami" balas Yuna.


"Mungkinkah yang memeriksa itu salah sampel?" Brandon menatap serius.


Yuna tertawa.


***


Pagi ini ketiga orang dengan style masing-masing sudah masuk ke dalam kabin business class Japan Airlines.



Seperti biasa, Yuna langsung meletakkan novel yang sedang dibacanya di meja, Brandon meletakkan iPod nya meskipun jadul tetap dibawa kemana-mana sedangkan Vivienne langsung memeluk bantal dan terlelap.


Perjalanan yang hampir membutuhkan waktu dua hari karena harus berhenti di bandara Narita lalu menuju Haneda kemudian transit di Charles de Gaulle Paris sebelum sampai ke Heathrow, ternyata lebih mengasyikkan bagi Vivienne.


Sesampainya di Heathrow, ternyata sopir Oom Alex sudah siap disana dan ketiganya pun menuju rumah milik Vivienne yang di London. Brandon mengatakan bahwa besoknya usai istirahat semalam, dia akan kembali ke Edinburgh dengan kereta dari London, begitu juga Vivienne yang akan ke Manchester menggunakan mobil. Yuna akan kembali ke apartemennya jaman kuliah yang masih dimilikinya dan akan kembali ke kampus nya.


***


Yuna masuk ke dalam apartemennya yang terletak di daerah Kensington. Sebelumnya Penjaga apartemen, Lloyd memberikan satu bundel surat untuknya ketika melihatnya pulang.



Membuka tirai yang menutup apartemennya menjadi lebih terang, membuka jendelanya hingga hawa segar masuk ke dalam ruangan yang sudah lama dia tinggalkan.


Yuna membuka surat-surat yang masuk seperti promosi maupun brosur. Tidak ada yang urgen, Yuna pun memesan makanan online. Hari ini dia ingin memakan pizza, jadi dia memesan di restoran Italia langganannya.


Usai memesan, Yuna memasukkan baju-baju dari kopernya ke dalam lemari, sedangkan baju kotor selama mereka transit, ia masukkan ke dalam mesin cuci.


Ketika melihat kulkasnya, Yuna hanya mengerenyitkan dahinya. Too much soda!



Dulu dia dan teman-teman kuliahnya sering begadang membuat tugas di apartemennya dan mereka adalah pecinta soda karena itu Yuna mengisinya. Sekarang nyonya Rodriguez, bagian tukang bersih-bersih apartemen tahu Yuna pulang, mengisikan penuh kulkasnya dengan soda seperti kebiasaannya.


Mungkin dikira nyonya Rodriguez aku kuliah lagi disini setelah setahun aku tidak kemari.


Suara bel apartemen berbunyi, Yuna berjalan menuju pintu dan terkejut ketika melihat siapa yang datang.


Buru-buru dia membuka pintunya.


"Mr Edward?"


Tampak di hadapannya, Edward Blair dengan suit kerja tanpa dasi membawa dua buah kotak pizza pesanannya.


***


Belum pernah Yuna gugup seperti ini berhadapan dengan Edward hanya dipisahkan oleh meja kaca, dua kotak pizza dan dua botol coke.



"Pizza nya nggak dimakan? Dingin nggak enak lho!" ujar Edward sembari mengambil sepotong pizza. "Kok keju banget rasanya?"


"Aku memang memesan four cheese" jawab Yuna.


"Harusnya kamu memesan pepperoni satu, four cheese satu. Bukan four cheese semua" protes Edward.


"Kalau anda tidak suka, tidak usah mengambil pizza saya!" Yuna pun menarik kotak pizzanya namun gerakannya terhenti ketika Edward memegang tangannya.


"Kenapa kamu pulang tidak memberi kabar?" tanya Edward menatap dalam ke Yuna.


"Eh?" Sumpah demi apapun, Yuna hanya ingin Edward keluar dari apartemennya karena dia sangat gugup sekarang.


"Kenapa tidak memberi kabar?" ulang Edward.


"Aku... Bagaimana anda tahu apartemen saya?" Yuna berbalik bertanya.


Edward merasa gemas melihat Yuna yang hari ini memakai kaos crop yang memperlihatkan perutnya yang rata.



Tahan Ed! Tahan!


"Aku tanya sekali lagi, Yuna. Kenapa tidak memberi kabar kamu pulang ke London?"


"Karena saya masih mau menikmati istirahat saya."


Edward menatap Yuna yang asyik memakan pizzanya.


"Aku mengganggu mu ya?"


Yuna menatap Edward. "Sejujurnya, iya."


Edward tersenyum tipis. Inilah yang dia suka dari Yuna, tidak pernah basa basi kelamaan selalu apa adanya.


"Aku akan menghabiskan dua slice pizza lagi, setelah ini akan kembali ke mansionku."


"Hhmmm."


Edward menatap isi kulkas Yuna yang berisi banyak minuman ringan.


"Minuman seperti itu tidak bagus untuk tubuhmu."


Yuna hanya tersenyum. "Itu kebiasaan buruk saya. Mengira masih kuliah, terbiasa teman-teman saya datang kemari membuat tugas. Mereka soda maniak dan saya pun mengisikan kulkas saya dengan banyak soda. Bagian tukang bersih-bersih apartemen pun tahu kebiasaan saya jadi ketika saya bilang akan kembali ke London kemarin ketika di Jakarta, nyonya Rodriguez mengisikan penuh dengan soda."


"Bagi-bagikan saja kepada tetanggamu atau siapa saja koleksi sodamu. Jangan terlalu banyak minum minuman seperti ini."


"Tenang saja Mr Edward. Saya bukan soda maniak."


Edward pun menghabiskan cokenya bertepatan dengan bunyi mesin cuci yang sudah selesai mengolah baju Yuna.


"Terimakasih pizza dan cokenya." Edward berdiri dan menuju pintu apartemen, Yuna mengikuti dari belakang.


"Besok kamu acaranya apa?" tanya Edward sembari membuka pintu.


"Ke kampus, menyelesaikan lukisanku."


Edward pun mengangguk lalu dia membalikkan tubuhnya.


"Aku akan menelponmu" ucap Edward.


Yuna hanya mengangguk.


Tiba-tiba Edward merengkuh tubuh langsing Yuna, memegang kepalanya dan me******** bibirnya. Sekali lagi Yuna hanya bisa mencengkeram kerah jas Edward. Secepat dia merengkuh tubuh Yuna, secepat itu juga dia melepaskannya.


"Jangan pernah memamerkan perut indahmu kepada pria lain! Hanya aku saja yang boleh melihatnya" bisik Edward di sisi telinga Yuna yang masih belum bisa mencerna peristiwa yang terjadi namun rona wajahnya yang memerah menjawab semuanya.


***


Yuhuuu Up sore yaaakkk


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


*alamat Porsche melayang ya bang kalau liat perut rata begono* 🤭🤭🤭