Love In Bet

Love In Bet
Restu di Tangan Euy!



Nabila dan Mike memandang kedua orang di hadapan mereka dengan perasaan geli. Akhirnya Mike tidak tahan dan tertawa terbahak-bahak sedangkan Nabila hanya tersenyum.


"Kenapa Mike?" tanya Edward sebal.


"Kalian berdua tuh! Kayak Hermione Granger dan Ron Weasley. Sayang, ingat nggak episode Hermione berdansa dengan Viktor Krum yang bikin si Ron muring-muring? Sekarang kejadian deh, si Edward malah jotos Rafael" gelak Mike.


"Harry Potter and the goblet of fire judulnya itu, mas" ucap Nabila.


"Aku nggak hapal judulnya tapi aku ingat adegannya."


Yuna menatap kakaknya yang hanya mengedikkan bahunya.


"Bang Mike, sejak kapan jadi Gesrek?" tanya Yuna sambil memincingkan matanya.


"Sejak dipanggil Bambang sama kakakmu" kekeh Mike cuek yang membuat Yuna dan Nabila terbahak.


"Oke, back to Topic. Ed, kamu yakin mau menikah sama adikku?" tanya Nabila.


"Yakin dan serius."


"Kamu gimana dik?" tanya Nabila ke adiknya yang masih cemberut.


"Nggak yakin."


Edward menatap Yuna tidak percaya.


"Aku masih belum memantapkan hatiku mbak. Kan dirimu tahu aku bagaimana, semakin didesak semakin aku menjauh."


"Sayang, kamu itu sudah menghajar Edward berapa kali lho dan dia tetap kembali padamu. Padahal pria kalau sudah dihajar, biasanya langsung pergi."


"Seperti kamu menghajar ku di malam pengantin kan?" sindir Mike cuek.


"Karena kamu memang pantas dihajar!" umpat Nabila.


"Tunggu. Jadi malam pengantin itu, kamu dihajar bang?" tanya Yuna sambil nyengir.


"Ohya. Sudah dihajar, disuruh tidur sofa lagi seminggu, ga bisa unboxing juga karena mbak mu lagi marah" keluh Mike.


Yuna dan Edward terbahak.


"Tapi sekarang sudah kan" goda Yuna.


"Sudah lah! And it's worth it! Adduuhhh!" Mike menjerit kesakitan karena lengannya dicubit oleh Nabila.


"Ed, selamat berjuang untuk mendapatkan Yuna." Nabila mengacuhkan pelototan suaminya.


"I am." Edward menoleh ke arah Yuna yang berada di sampingnya.


***


Mike dan Nabila sudah pergi menuju apartemen Nabila untuk membereskan barang-barangnya yang hendak dikirim ke Edinburgh. Nabila sudah mengundurkan diri dari rumah sakit tempatnya bekerja, bahkan pengawal pribadinya, Rita memutuskan untuk ikut ke Edinburgh agar dekat dengan kekasihnya Bryan. Menurut rencana setelah mengurus semua kelengkapan surat, mereka akan segera menikah.


Kini tinggallah Yuna dan Edward di restauran milik sepupunya Yuna.


"Yuna" ucap Edward. "Maafkan aku yang terlalu memaksakan kehendak. Aku lakukan ini karena aku tidak mau kehilangan mu."


Yuna menatap Edward dingin. "Porsche mu?"


Edward melongo. Bahkan disaat begini dia masih menanyakan Porsche ku?


"Aku sudah tidak memikirkan hal itu. Hanya kamu yang ada di otak dan hatiku." Edward menatap Yuna serius.


"Gombal!"


"Hah? Kok gombal sih darling?"


Hati Yuna berdesir mendengar panggilan 'darling'.


"Kalimat anda yang membuat saya berpikir kalau anda sedang menggombali saya" ucap Yuna sedikit pelan.


"Yuna. Bisa nggak kamu tidak formal ke aku?"


"Eh?"


"Semakin kamu berkata formal ke aku, semakin membuat jurang percakapan kita bagaikan kamu berkata pada klien."


"Tapi kan anda memang klien saya..."


"Klien di hatimu" bisik Edward sambil mencium pipi Yuna.


"See. Kamu tidak menolak dicium olehku berarti kamu ada perasaan padaku." Edward menatap dalam ke mata Yuna yang membuat wajah ayu itu memerah.


Yuna terdiam.


"Coba kamu tanya sama Nabila atau sepupu perempuan mu yang lain yang sudah punya pasangan rasanya seperti apa. Berdebar-debar, ingin lihat, benci tapi rindu..." kekeh Edward.


"Berarti itu yang dirasakan oleh seorang Casanova seperti anda setiap anda merasa jatuh cinta pada seseorang?"


Edward terperangah. Bukan itu maksudku!


"Aku hanya merasakan itu kepadamu. Apakah kamu tahu aku sampai tidak bisa tidur akibat memikirkan kesalahan ku padamu. Aku yang bersalah disini tapi aku juga tidak mau kehilanganmu. Memang aku mempunyai banyak mantan tapi setelah bubar ya sudah tidak ada rasa berbekas. Tapi denganmu, aku yang muring-muring. Ingin menjauhimu tapi daya tarikmu terlalu kuat. Jika saja Mike tidak memberitahukan soal taruhan itu, aku sudah tidak peduli akan mobilku. Aku hanya ingin selalu bersamamu tapi mungkin caraku salah terlalu terburu-buru sedangkan dirimu ingin semuanya harus yakin, diyakinkan dan meyakini bahwa itu semua tidak salah terutama perasaanmu padaku."


Yuna menatap mata biru itu mencari apakah hanya sekedar bualan atau serius tapi Yuna tidak menemukan kebohongan disana.


"So, Yuna Indira Pratomo, kita mulai dari awal?"


"Yakinkan saya Mr Edward agar perasaan saya tidak salah."


"Anything for you, darling."


***


Malam harinya Edward diundang makan malam oleh keluarga Aryanto Pratomo yang hendak mencecar soal lamaran nyeleneh ala Edward.


"Bagaimana nak Edward. Yuna menerima lamaranmu?" tanya papa Aryanto.


"Belum Oom tapi kami ingin memantapkan hati dulu. Saya akui bahwa saya terlalu gegabah dan buru-buru karena takut kehilangan anak Oom."


"Untuk mengambil hatinya Yuna memang harus sabar. Witing tresno jalaran Soko kulino. Cinta tumbuh karena terbiasa" papar mama Rani.


"Baik Tante."


"Na, mama harap kamu jangan hajar Edward lagi ya. Kasihan calon anak mantu nanti bengap terus wajahnya kamu hajar" kekeh mama Rani.


Yuna melotot. "Astaghfirullah! MAMA!"


Papa Aryanto dan Edward tertawa terbahak.


***


"Apa kamu yakin Ed?"


"Yakin Oom. Edward akan belajar di London dengan Ustadz Qarim Jefferson, karena saya tahu Yuna ingin memiliki imam dan kepala keluarga yang seiman."


"Bukan karena Yuna kan?" tanya papa Aryanto.


"Yuna mungkin perantaranya tapi selama sebulan ditinggal membuat saya kelimpungan lalu saya membaca sebuah buku La Tahzan dan disana saya menjadi tertarik dengan Al Qur'an. Pelan-pelan saya membacanya karena Mike, Jack dan Bryan semua menjadi mualaf jadi banyak Al Qur'an dan bcaan hadist di markas kami."


Edward menyesap kopinya.


"Hati saya menjadi lebih tenang setelah membaca Al Qur'an dan hal itu yang membuat saya yakin untuk menjadi mualaf tapi sebelumnya saya juga ingin meyakinkan Yuna bahwa saya serius dengannya meskipun dengan cara nyeleneh."


Papa Aryanto menatap bule tampan di sebelahnya.


"Kamu memang tidak sempurna nak Edward, masa lalumu kita tahu tapi jangan gunakan masa lalu sebagai beban untuk menatap masa depanmu. Yang lalu biarlah berlalu jangan diulangi lagi. Oom sangat bersyukur kamu menyadari dan tidak ada kata terlambat untuk memulai hidup baru. Apalagi Oom juga tahu kamu sudah tidak berhubungan dengan wanita setahun belakangan ini."


"Haaaahhhh, pasti Voldemort yang membocorkan" keluh Edward.


"Hahahaha, tapi mas Duncan bangga dipanggil seperti itu" kekeh papa Aryanto.


"Itu panggilan Nabila ketika boss mengalami luka tembak dan dioperasi oleh istrinya Mike" dengus Edward.


"Selamat meyakinkan Yuna. Oom dan Tante mendukung mu. Buat Yuna bahagia nak, karena itu keinginan Oom dan Tante, putri kami memiliki suami yang bisa mencintai, menjaga dan melindunginya."


"Insyaallah saya yang akan menjadi pria itu."


Papa Aryanto menepuk bahu Edward.


"Insyaallah."


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️