
Sore hari acara pernikahan Edward dan Yuna pun selesai. Sepasang suami istri baru itu pun baru bisa merasakan istirahat setelah menyalami banyak tamu undangan.
Yuna memang meminta acara pernikahan mereka dimulai pagi lanjut resepsi karena bisa beristirahat lebih lama. Edward menurut saja maunya Yuna karena dia sudah membayangkan yang yummy yummy.
Para anggota keluarga yang datang menuju mansion Adrian Pratomo yang lebih luas dan besar dibandingkan dengan milik papa Aryanto. Yuna dan Edward lebih memilih tinggal di hotel karena menghindari kerusuhan para anak buahnya yang dipimpin oleh Mike.
"Yakin kamu nggak pulang ke mansionnya papa?" tanya Yuna.
"Nggak, disini saja. Takutnya kalau di mansion papa, si durjana Mike akan mengganggu kita!" ucap Edward sambil melepaskan jasnya.
"Sebenarnya kalau memang niat mengganggu, mau dimana saja bisa sih Ed. Apalagi mereka tahu kita disini" kekeh Yuna yang masih mengenakan gaun pengantinnya.
"Mrs Edward Blair, apakah kamu memiliki ide nakal?" Edward berlutut di depan Yuna yang sedang duduk di tempat tidur.
Yuna tersenyum licik. "Aku memang punya rencana tapi aku tidak tahu kamu mau atau tidak."
"Melihat mu dengan wajah licik seperti itu, membuatku auto setuju!" kekeh Edward sembari mencium hidung mancung Yuna. "Sekarang, beritahu aku apa rencanamu."
Yuna tersenyum lebar.
***
Jam tujuh malam Mike, Jack dan Bryan sengaja datang ke kamar hotel tempat Yuna dan Edward menginap. Ketiganya sengaja hendak menyeret Edward agar tidak melakukan unboxing di malam pertama.
Setelah berapa lama menunggu tidak ada yang membuka, akhirnya Mike meminta pihak hotel untuk membukanya.
Betapa terkejutnya Mike, Jack dan Bryan melihat kamar itu kosong dan sudah rapih.
"Apakah penghuni kamar ini sudah check out?" tanya Mike.
"Belum pak. Masih atas nama tuan Edward Blair."
Mike mendengus kesal.
"Boss!" panggil Jack yang menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan
Bye Now, Hi Ladies ... Muach!
Mike tersenyum kecut.
"Duasar EDWARD!"
***
Yuna dan Edward sampai di apartemen milik gadis itu, sebuah apartemen yang ada dua kamar tidur dan satu ruang tamu merangkap ruang tengah, dapur dan dua kamar mandi, satu di dalam kamar utama, satu di luar.
Di kamar utama tampak pemandangan kota Jakarta. Edward melihat interior apartemen yang dominan putih dengan lantai kayu, dan tampak nyaman untuk ditinggali.
"Apartemen siapa ini darling?" tanya Edward bingung.
"Apartemen ku lah!" jawab Yuna sembari meletakkan makanan di meja makan. Tadi sebelum mereka keluar hotel, sempat membeli makanan yang hendak dibawa.
"Hah? Kapan kamu beli?"
Yuna hanya tersenyum. "Aku beli dua Minggu lalu."
Edward melongo. "Kenapa?"
"Sebagai sanctuary ku lah. Hanya kamu, suamiku yang tahu" bisik Yuna di telinga Edward.
Edward tersenyum lebar. "Kita makan dulu, aku lapar."
Keduanya pun segera makan makanan yang dibeli tadi.
***
Edward memandang istrinya yang sedang membersihkan peralatan makan yang kotor di dapur. Dia tidak menyangka akan menikah juga meskipun sebelumnya merasa kehidupan pernikahan tidak cocok untuknya.
"Sayang, habis ini sholat Maghrib bareng ya" ajak Edward.
"Yes darling."
Edward mandi cepat dan terkejut melihat betapa lengkapnya pakaian untuknya di lemari baju. Biasanya suami yang melengkapi tetapi ini malah istrinya yang menyiapkan.
Yuna tersenyum ketika melihat Edward sudah siap diatas sajadahnya untuk menjadi imam. Keduanya pun segera melaksanakan sholat Maghrib. Usai melaksanakan sholat, Edward pun berdoa sebentar lalu menghadap Yuna yang mencium tangan Edward dibalas dengan ciuman di kening.
Edward menatap Yuna dalam lalu mencium bibirnya dengan lembut. Perlahan dia melepaskan mukenanya lalu mulai memegang tengkuk istrinya dan Melu**mat bibirnya kembali. Edward merebahkan tubuh Yuna diatas sajadah dan mulai mencumbunya.
"Edward.." bisik Yuna.
"Yes darling" gumam Edward di ceruk leher istrinya.
"Handphone sudah dimatikan?"
Edward segera bangkit dan mencari ponselnya yang ternyata sudah off.
Ketika masuk kembali ke kamar, ternyata Yuna sudah membereskan sajadah dan mukenanya.
"Ponselku sudah off. Ponselmu bagaimana?" tanya Edward yang langsung naik ke tempat tidur.
"Sudah dari tadi semenjak keluar hotel" senyum Yuna.
"Berarti kita sehati" kekeh Edward. "Sini istriku."
Yuna menurut dan naik ke tempat tidur lalu duduk bersandar di kepala kasur. Edward lalu mendekati Yuna dan mengikis jarak diantara mereka.
"May I?" bisik Edward parau.
Yuna hanya mengangguk.
Edward lalu merebahkan tubuh Yuna dan mulai menciumi wajahnya tanpa ada yang terlewat menyisakan bibirnya.
"Sesuai janjiku, aku akan menciumi seluruh wajahmu dan tubuhmu" bisik Edward di sisi telinga Yuna yang membuat gadis itu tertawa kecil.
Edward menatap Yuna dengan tatapan yang tidak bisa dijabarkan. Segera dia melepaskan kaosnya membuat Yuna terkesiap melihat badan suaminya yang liat dan dengan tangan gemetar, gadis itu menyentuh dada suaminya.
"Pegang saja. Semua ini milikmu, dan ini" Edward menyetuh sekilas dada Yuna "adalah milikku."
Pria bermata biru itu kemudian Melu**mat bibir istrinya dan dengan pelan menurunkan lingerie nya yang bertali spaghetti. Dua gundukan yang membusung membuat Edward semakin menurunkan bibirnya hingga ke dua bukit kembar itu.
Kedua insan itu saling mengeksplorasi tubuh pasangan masing-masing, saling menyentuh dengan lembut hingga keduanya sama-sama polos dan akhirnya Edward berhasil mendapatkan harta milik Yuna yang tidak ternilai. Mantan Casanova itu semakin semangat untuk membuat istrinya menikmati permainan percintaan mereka hingga akhirnya keduanya menyerah dengan ******* yang datang.
Edward kemudian memeluk istrinya untuk memberikan kesempatan beristirahat setelah melakukan unboxing dan keduanya pun tertidur hingga tengah malam.
Dan betapa terkejutnya Edward ketika terbangun, melihat istrinya berada diatas tubuhnya sembari memberikan ciuman di dadanya.
"Sayang... Apa yang kamu lakukan?" tanya Edward parau.
"Mewujudkan omonganmu di depan papa" senyum Yuna.
"Hah?" Edward pun berpikir. "Maksudmu kamu mau woman on top? Masih sakit nggak?"
Yuna meringis. "Sedikit tapi aku penasaran."
Edward tergelak. "Astaga istriku ternyata wow juga ya mood nya."
Yuna tidak menjawab, hanya mencium pipi suaminya.
"Kan aku melakukan dengan pasangan yang sah jadi gadha masalah kan kalau aku penasaran."
Edward menangkup wajah istrinya.
"Kamu belajar dari mana seperti ini? Aku berterimakasih kamu menjaganya untukku tapi aku juga kaget kamu berani juga. Dapat ilmu dari mana?"
Yuna tersenyum jahil. "Kama Sutra."
Edward melongo lalu terbahak. "Mrs Edward Blair, aku suka memiliki istri yang sudah persiapan."
Yuna hanya tersenyum dan malam itu keduanya saling menikmati malam pengantin mereka.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Maaf hari ini satu chapter ajah soalnya seharian sibuk n ini agak flu juga.
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️