
Sudah dua hari ini pasangan pengantin baru itu memilih mematikan ponselnya dan menikmati suasana berduaan. Yuna dan Edward benar-benar menikmati surga dunia hanya beristirahat pada saat makan dan mandi wajib namun setelahnya mereka pun berc**ta lagi.
Edward benar-benar candu dengan tubuh Yuna yang selalu ingin berdekatan terus. Sampai-sampai saat Yuna memasak pun, pria itu tetap menempel seperti Velcro.
"Aku mau masak, Ed!" hardik Yuna ketika sedang membuat nasi goreng sosis namun Edward malah memilih memeluk istrinya dari belakang sembari meletakkan kepalanya di ceruk lehernya yang harum green tea.
Yuna sudah mempersiapkan semuanya tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Dia mengisi penuh kulkas dan kitchen kabinet dengan banyak bahan makanan jadi mereka tidak perlu keluar atau menelpon pesan makanan via online. Yuna memang ingin berduaan dengan Edward.
"Kamu seksih kalau masak dengan kostum begini" kekeh Edward sambil menyusupkan tangannya ke dalam daster batik pendek Yuna.
"Astaga! Mr Edward Blair! Aku masak dulu baru nanti habis makan ngapa-ngapain!" hardik Yuna pura-pura marah padahal dirinya sudah merasa bergidik ketika tangan Edward bermain di kedua bukit kembarnya.
"Kita belum melakukannya di dapur" goda Edward.
Yuna mendelik. "Makan dulu! Aku lapar!"
Edward terbahak. "Nanti habis makan, kita berbuat di dapur ya. Oke?" Suaminya itu lalu duduk di meja makan menunggu sarapan yang dibuatkan istrinya.
Yuna hanya memutar mata malas lalu menyiapkan dua buah piring yang berisikan nasi goreng sosis dan meletakkan di atas meja yang sudah ada telor mata sapi.
"Hhhmmm, baunya sedap." Edward mencium harum masakan Yuna.
"Aku mandi dulu, bau masakan." Yuna berdiri namun dicegah oleh Edward.
"Duduk, makan bersamaku. Kamu bau masakan malah makin hot rasanya" goda Edward yang membuat Yuna terperangah.
"Mr Edward Blair, gombal receh mu makin kacau ya" kekeh Yuna yang akhirnya duduk di hadapan Edward.
Keduanya menikmati hidangan di atas meja tetapi di bawah, kaki Edward mengelus kaki mulus Yuna yang membuat istrinya tidak konsentrasi makan. Semakin lama elusan kaki Edward semakin naik hingga ke paha Yuna.
Yuna menatap tajam Edward yang santainya makan nasi goreng dengan tatapan menggoda menjurus ke mesum.
"Astaga Mr Edward. Tangan dan kaki sama-sama nakal ya" kekeh Yuna.
"Nakalku cuma sama kamu kok Darling" senyum Edward jahil.
Keduanya menyelesaikan acara sarapan dan Edward meminta Yuna duduk manis karena dia yang akan mencuci semua peralatan masak yang tadi dipakai memasak.
"Wah, sering-sering saja Mr Edward untuk seperti ini" goda Yuna.
"Maksudnya apa darling?" tanya Edward sambil mencuci piring.
"Kapan lagi melihat CEO MB Enterprise, memakai kaos hitam dan celana boxer mencuci piring dan wajan" gelak Yuna.
Edward hanya tersenyum lalu membersihkan semuanya hingga bersih kinclong.
"Kalau begini, bagaimana Mrs Blair?" Edward membuka kaos hitamnya dan membuang sembarangan. "Apa kelihatan CEO MB Enterprise?" tanyanya parau sambil mendekati istrinya yang duduk di kursi.
"Ehem... kalau begini tampaknya ini adalah suamiku" bisik Yuna sen**sual.
Edward mendekati wajahnya ke istrinya yang memerah wajahnya.
"Dapur sudah bersih, meja makan sudah bersih, istriku." Edward menatap Yuna penuh na**su.
"Terimakasih Mr Edward Blair" senyum Yuna.
"Ada bayarannya, Mrs Blair."
Edward lalu mengangkat tubuh Yuna diatas meja makan lalu melu**mat bibir istrinya. "Seperti kataku tadi, kita belum melakukannya di dapur."
Yuna tertawa.
***
Papa Aryanto kebingungan kehilangan putri dan menantunya selama dua hari ini. Meskipun urusan hotel dan lain sebagainya sudah dibereskan, namun keberadaan keduanya pun entah kemana.
Mike dan Nabila pun sudah kembali ke Edinburgh begitu juga Duncan McGregor beserta anak buahnya sudah kembali ke London. Keluarga besar Pratomo pun kembali ke negara mereka masing-masing. Akira, kakak Yuna pun sudah kembali ke Singapore bersama Alex yang ada urusan disana.
"Mas, kenapa?" tanya Mama Rani melihat suaminya sibuk menyuruh anak buahnya mencari anak dan menantunya.
"Dua anak itu malah ngilang! Masih ada banyak saudara kok malah kabur!" omel papa Aryanto. Meskipun keluarga besarnya maklum mereka berdua menghilang karena ingin menikmati berduaan, namun papa Aryanto tetap tidak enak kepada keluarga besarnya.
"Tapi kita kan nggak ngilang begini Thow Ran" eyel papa Aryanto kesal.
Mama Rani hanya tertawa melihat suaminya muring-muring.
***
Papa Aryanto masuk kantor dengan wajah kesal. Semua ponsel baik milik Edward maupun Yuna tidak ada yang aktif tiga hari ini.
Karen, asistennya pun masuk ke ruangannya sembari memberikan berkas yang harus ditandatangani oleh papa Aryanto.
"Karen. Apa kamu tahu kemana Yuna?" tanya papa Aryanto kepada asistennya itu.
Karen hanya menatap atasannya bingung. Aku sudah berjanji dengan Bu Yuna untuk merahasiakan apartemen miliknya tapi ini bapak Aryanto yang tanya. Aduh, bagaimana ini?
"Karen? Kamu pasti tahu sesuatu kan?" papa Aryanto menatap tajam wajah asistennya.
"I..iya Pak" suara Karen terdengar pelan.
"Mereka dimana?"
"Eeeerrrr, ada di apartemen pak."
Papa Aryanto mengerenyitkan dahinya. "Apartemen? Yuna punya apartemen? Sejak kapan?"
"Sejak seminggu sebelum menikah pak."
"Hah?"
"Bu Yuna sudah mempersiapkan semuanya sebelum menikah karena tahu pasti akan diganggu oleh keluarga baik dari keluarga Pratomo dan McGregor" senyum Karen.
"Owalaahhh, anak itu!" kekeh papa Aryanto. "Dimana dua anak itu sekarang? Maksudnya apartemen dimana mereka?"
Karen menyebutkan nama apartemen yang dibeli Yuna dan ternyata hanya sebelahan dengan hotel tempat mereka melakukan acara pernikahan.
"Astaga! Yuna...Yuna" gelak papa Aryanto.
**
"Haaattsssyiiinggg!" Yuna bersin cukup keras begitu keluar dari kamar mandi sehingga membuat Edward terkejut mendengarnya.
"Kamu flu darling?" tanya Edward panik.
"Nggak. Kayaknya ada yang ngrasani aku deh!" Yuna mengambil tissue di meja riasnya dan membersihkan hidungnya.
"Ngrasani?" tanya Edward.
"Ngomongin aku di belakang artinya." Yuna menyusul suaminya tiduran di tempat tidur. Tubuhnya benar-benar remuk redam setelah tadi mereka berbuat di dapur dan di sofa ruang tengah.
Ini adalah kali mandi ketiga kalinya bagi Yuna dan dia sudah lelah mengeringkan rambutnya. Yang dia inginkan hanyalah tidur mengembalikan staminanya.
"Kamu tidur saja, baby. Aku akan memesan makanan saja biar kamu bisa istirahat." Edward lalu mengambil ponselnya dan menyalakannya setelah tiga hari off.
"Yakin aku, kita akan dimarahi papa dan Oom Duncan" kekeh Yuna.
"Kayak mereka nggak pernah ngerasain jadi pengantin baru saja sih!" gerutu Edward dan benar saja, begitu ponselnya menyala, suara notifikasi masuk bertubi-tubi.
"Ya Allah berisiknya" keluh Edward. Yuna hanya tersenyum dan memejamkan matanya yang mulai mengantuk.
***
Yuhuuu Up menjelang Siang Yaaaa
Maaf kalau nggak bisa crazy up coz Eike kena flu.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️