
Kehamilan Yuna ini merupakan kehamilan yang sulit. Yuna muntah setiap pagi dan hanya bisa makan sup krim dan teh mint. Meskipun dia mencoba makan semua yang dimasakan oleh Maria sesuai dengan anjuran dokter obgyn dan ahli gizi yang dikirimkan oleh Duncan McGregor, tetap saja hanya sekilas masuk ke dalam perutnya, sejam kemudian keluar lagi.
Nyaris dua bulan terakhir ini atau tri semester pertama dan memasuki tri semester kedua, Yuna hanya terdampar di rumah karena muntah dan mual terus.
Memasuki bulan kelima kehamilan, Yuna sudah mulai bisa menikmati makanan yang dibuatkan Maria. Edward bersyukur Yuna nggak ngidam aneh-aneh seperti Stephen yang sempat marah-marah karena Diana waktu hamil Nadya dan Neil ngidam makan laksa Singapore di Universal Studio. Beruntung pesawat milik Edward sedang berada di Jakarta waktu itu jadi bisa dipinjam.
Edward yang diceritakan oleh Stephen tertawa terbahak-bahak.
"Dikira pergi ke Singapore kayak pergi ke tanah Abang apa ya Diana tuh!" omel Stephen. "Udah gitu, selesai makan ya udah minta pulang ke Jakarta."
Yuna hanya ngidam dibuatkan asinan Bogor dan karedok yang akhirnya meminta mama Rani terbang ke London untuk membuatkan demi calon cucu tercinta.
Kini bumil cantik itu sudah siap untuk kontrol bulanan sekaligus mengetahui jenis kelamin baby-nya. Yuna tidak sabar mengetahui dan harapannya adalah anak pertama perempuan karena dia bisa dandan bareng seperti dulu waktu kecil dengan mamanya.
"Darling!" panggil Edward yang baru saja datang dari kantor.
"Sudah urusan kantornya?" tanya Yuna yang tampak simpel dengan rambutnya yang dikepang dua dan dress warna biru muda dengan motif bunga-bunga warna merah.
"Sudah sayang. Yuk, berangkat sekarang" ajak Edward sambil menggandeng Yuna. Perutnya sudah mulai membuncit.
Di dalam mobil, Yuna bercerita kalau dirinya sedih tidak bisa membesuk Dian dan Jack. Dian baru saja melahirkan bayi perempuan cantik yang diberi nama Savira.
"Kamu kan lagi fase mual dan muntah-muntah sampai susah bangun."
Yuna mengangguk sambil memegang tangan suaminya. Semenjak hamil, dia selalu meminta Edward mencukur brewoknya. Meskipun tidak setuju akhirnya Edward tampil kelimis setiap hari karena kalau tidak, bumil akan nangis lama.
Perempuan hamil itu lebih serem daripada klien menyebalkan.
Edward sendiri lebih suka memelihara brewok daripada kelimis yang tampak lebih culun menurutnya namun demi bumil, calon hot Daddy itu mengabulkannya.
***
Mobil Range Rover hitam itu sampai di Portland Hospital yang merupakan rumah sakit bersalin bergengsi di London. Semua fasilitas sama dengan fasilitas bintang lima. Sebagai pemilik MB Enterprise dan Yuna mengandung salah satu pewaris PRC group, membuat Duncan serta Edward memang memilih rumah sakit itu dimana Victoria Beckham melahirkan disana juga.
"Yuk sayang, sudah sampai" Edward membantu Yuna turun dari mobil.
Keduanya masuk ke dalam lobby rumah sakit dan menunggu dipanggil oleh Dokter Ashley Young.
"Kalian belum masuk kan?" suara bariton yang sangat dikenal Edward dan Yuna membuat kedua pasutri yang sedang membahas kamar bayi itu mendongakkan kepalanya.
"Astaga Big Boss! Ngapain kesini Dad?" tanya Edward kepada Duncan McGregor yang semenjak Yuna hamil maunya dipanggil Dad oleh keduanya.
"Ingin tahu jenis kelamin cucuku lah!" jawab Duncan santai.
Yuna hanya tersenyum tipis. "Bagaimana kalau tidak sesuai dengan keinginan Dad?"
Duncan menatap Yuna yang sudah dianggap menantunya. "Yakin sama Dad, pasti cowok!"
Edward hanya mendengus kasar. Pedenya bukan main ih si Voldemort!
"Tidak usah memakiku Ed!" kekeh Duncan.
Yuna tertawa melihat ekspresi kesal suaminya.
***
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Yuna dan Edward masuk ke dalam ruang praktek dokter Ashley. Duncan pun ikut masuk namun dihadang oleh suster disana.
"Oh come on! Aku ini kakeknya! Biarkan aku masuk! Masa seorang Duncan McGregor tidak boleh melihat cucunya?" protes Duncan sebal.
"Suster, biarkan Mr McGregor masuk" ucapnya lembut. Jangan ditanya muka sebal Edward dan jengahnya Yuna.
"Whoah! Ashley! Apa kabar sayang?" sapa Duncan.
"Baik D. Apa kabar? Apakah ini putramu?" tanya Ashley sambil tersenyum.
"Iya itu anak angkatku dan istrinya yang cantik, Edward dan Yuna."
Edward dan Yuna menatap bingung interaksi Duncan dan dokter Ashley.
"Ashley dulu tetanggaku. Kalau ada yang nakalin dia, aku yang maju menghajar orang itu" ucap Duncan bangga.
"Astaga" bisik Edward.
"Lho Mike dan Mario gimana kabar D?" tanya dokter Ashley sambil mengajak Yuna tiduran di tempat tidur pasien. Suster di ruangan itu membantu menyiapkan Yuna yang ditutup oleh tirai agar Edward dan Duncan tidak melihat.
"Mike dan istrinya Nabila baik-baik saja. Mario masih di Paris."
Dokter Ashley lalu mengoleskan gel ke perut Yuna yang membuncit. "Kita periksa yuk baby-nya."
"Everything is normal, perfect, bayi bagus perkembangannya. Masih mual nggak ma'am?" tanya dokter Ashley.
"Sudah mulai berkurang ketika masuk Minggu ke 16. Saya sudah bisa makan normal."
"Ashley, bisa kasih tahu jenis kelamin cucuku?" tanya Duncan tidak sabar.
"Rasanya aku yang tanam bibit kenapa Dad yang ribut?" omel Edward.
"Sstt, shut up Ed, aku mau mendengarkan detak jantung cucuku" desis Duncan cuek.
Edward memutar matanya malas.
"Yakin kamu mau tahu jenis kelamin cucumu?" tanya dokter Ashley.
"Iyalah agar aku tahu aku menang taruhan atau tidak" kekeh Duncan.
"Astaga. Edward, Yuna, nasib kalian mendapatkan dad rusuh begini" komentar dokter Ashley sambil tertawa. "Meskipun begitu, Duncan orang baik."
"Well, Ashley?" tanya Duncan tidak sabar.
Dokter Ashley pun memutar transduser nya.
"Congrats. It's a boy."
"Yes!!!" seru Duncan. "Benar kan kataku!"
Edward dan Yuna melongo. Boy?
Oh No! Benar-benar namanya harus Duncan!
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️