
Edward menggendong Yuna turun ke lantai satu dimana Maria yang sedang menyiapkan makan malam terkejut melihat tuannya hanya memakai kaos polos dan jeans, menggendong nyonya dengan panik.
"Maria, suruh Stu menyiapkan mobil!" perintah Edward.
"Baik tuan!" Maria bergegas keluar dan para pengawal pun segera menyiapkan mobil melihat nyonyanya pingsan.
Edward membawa Yuna masuk ke dalam Range Rovernya, sedangkan Stu dan sopir bergegas menuju rumah sakit.
"Darling? Baby? Come on! Ayo bangun!" bisik Edward sambil menepuk pelan pipi Yuna.
"Iya tuan Mike. Kami perjalanan kesana." Stu menelpon Mike Cahill yang sedang ada pekerjaan di St Thomas Hospital.
"Mike disana Stu?" tanya Edward sambil memeluk Yuna.
"Iya tuan. Ini sepuluh menit lagi sampai kita."
***
Mike Cahill sudah bersiap di depan pintu masuk rumah sakit St Thomas dengan brankar dan beberapa perawat. Ketika mobil Edward berhenti depan pintu masuk, Stu langsung membuka pintu dan Edward pun turun sembari menggendong Yuna.
"Taruh Yuna di brankar Ed!" perintah Mike.
Edward pun mematuhinya, segera meletakkan tubuh Yuna diatas brankar dan Mike langsung membawa ke ruang IGD.
Edward berjalan mondar-mandir di depan ruangan tempat Yuna dirawat. Wajahnya sangat cemas mengingat betapa pucatnya wajah istrinya tadi.
Kalau memang tidak sehat, seharusnya tidak usah menerima tamu tadi.
"Edward!" suara feminin memanggilnya.
Edward membalikkan tubuhnya tampak seorang wanita mengenakan sneli datang memeluknya.
"Adikku kenapa?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Nabila Pratomo Cahill.
"Aku nggak tahu Nab, tahu-tahu tadi pingsan" jawab Edward sendu.
"Apa dia nggak pernah mengeluh apapun selama ini?"
"Yuna itu termasuk cewek kuat dan selama ini dia tidak pernah mengeluh sakit apapun" mata biru Edward menatap ruangan tempat Yuna berada.
Pintu ruangan pun terbuka dan tampak Mike keluar dari sana dengan wajah serius.
Edward yang melihat ekspresi saudara iparnya hanya terdiam. Ya ampun istriku pasti sakit parah.
"Ed, tampaknya taruhan istrimu dan Voldemort terlaksana" jawab Mike sambil nyengir.
"Hah? Maksudnya apa?"
"Congrats man, Duncan junior is on the way" kekeh Mike.
Edward melongo. "Yuna? Yuna hamil?" serunya.
"Yes, jalan delapan Minggu." Mike tersenyum lebar melihat wajah Edward bengong.
"Alhamdulillah" seru Nabila sambil memeluk Edward. "Selamat ya!" Lalu menatap wajah suaminya. "Apa maksudnya Duncan junior?"
"Dad dan Yuna taruhan dan Yuna kalah. Dad minta sama Yuna kalau besok melahirkan anak laki-laki, namanya harus Duncan" kekeh Mike.
"Astaga!" Nabila tertawa terbahak-bahak.
Edward hanya bisa mematung, seolah tak percaya istrinya hamil.
***
Edward duduk di tepi tempat tidur sambil memegang tangan Yuna. Mata cantik istrinya masih terpejam dan Edward mengulurkan tangannya untuk mengelus pipinya yang mulus.
"Terimakasih sayang" bisiknya lalu mencium bibir Yuna sekilas dan bibirnya mencium perut putih yang masih rata. "Sehat-sehat di dalam ya nak. Jangan buat mommymu susah."
"Nngghhh..."
Edward mengelus pipi Yuna lagi. "Halo sayang."
Yuna mengerjap-kerjapkan matanya dan sejenak dia merasa bingung berada di tempat asing.
"Ini... aku... kita dimana Ed?" bisiknya lemah.
"Kita di rumah sakit" jawab Edward sambil terus mengelus wajah cantik itu.
"Aku kenapa?" tanya Yuna masih bingung.
"Kamu... eh aku kenapa bisa pingsan?"
"Anggap saja taruhanmu dengan Voldemort sedang berjalan" jawab Edward sambil cemberut.
Mata Yuna membelalak. "Aku...hamil?" Edward mengangguk. "Serius?" Edward mengangguk lagi.
Yuna langsung mengelus perutnya yang masih rata. "Alhamdulillah sayang. Sehat-sehat di dalam ya nak." Airmata pun turun dari mata cantik Yuna yang langsung dipeluk oleh Edward. "Aku sudah menunggu lama Ed. Alhamdulillah, Alhamdulillah."
"Terimakasih sayangku" bisik Edward. "Terimakasih ya Allah menitipkan keturunan pada kami."
Sepasang suami-istri itu saling berpelukan bahagia akan memiliki anak.
"Apa sudah diketahui jenis kelaminnya? Aku hamil berapa Minggu?" tanya Yuna setelah suaminya melerai pelukannya.
"Jenis kelamin belum sih kata Mike, kita harus menunggu Minggu ke 14 kira-kira. Kamu hamil baru delapan Minggu, sayang" jawab Edward.
"Oh sebentar lagi" senyum Yuna.
"Memang kenapa? Apa taruhan dengan Voldemort tetap dilakukan?"
"Apa salahnya jika anak kita laki-laki lalu diberikan nama Duncan? Bukankah bagus artinya?" senyum Yuna.
"Hhhmmm. Duncan artinya pejuang, prajurit. Not bad sih."
Yuna mengelus wajah suaminya. "Lagipula, belum tentu bayi kita laki-laki kan?" senyum Yuna.
***
"Pasti baby boy!" jawab Duncan McGregor dengan yakinnya ketika keesokan harinya membesuk Yuna di rumah sakit. Oleh dokter obgyn yang merawatnya, Yuna harus beristirahat setidaknya dua hari untuk memeriksa semuanya. Edward sendiri tidak datang ke perusahaan dan menyerahkan semua ke Jack dan Bryan.
"Yakin sekali tuan besar" cebik Edward sebal.
"Yakin lah Ed. Yuna pasti hamil baby boy!" kekeh Duncan.
"Dad, kan belum diketahui jenis kelaminnya, udah main klaim duluan" gerutu Mike yang sekarang berada di ruang rawat inap iparnya.
Nabila dan Yuna yang melihat ketiganya gegeran, hanya bisa menghela nafas panjang.
"Mbak, kayaknya keluarga kita sudah terkenal rusuhnya kenapa ini keluarga suami kita masing-masing ikutan rusuh?" bisik Yuna kepada kakak sepupunya yang sedang menyuapinya.
"Mbak juga nggak tahu. Biarin saja lah, para pria-pria itu kalau ketemu pasti gegeran tapi kalau nggak ketemu, ribut nanyain" jawab Nabila. "Oom Aryanto sama Tante Rani sudah tahu dik?"
"Sudah. Diberitahu sama Edward."
"Bahagia dong!" senyum Nabila.
"Mas Akira sih yang senang mau dapat keponakan" kekeh Yuna.
"Akira belum dapat cewek?" Akira adalah kakak kandung Yuna.
"Belum mbak, kan baru 26 tahun. Masih senang kerja dia." Yuna dan Akira hanya berjarak satu tahun jadi kalau keduanya jalan bareng sering dikira anak kembar.
"Kalau cowok mah nikah diatas umur 30 it's okay. Kalau cewek dah diributin dah" gumam Nabila. "Makanya mbak lebih suka kerja di luar negeri, nggak riwil orangnya tanya kapan nikah, kapan punya anak. Bikin males para netizen itu!"
Yuna tertawa. "Ya maklum lah mbak, orang kita kan tingkat keponya tinggi."
"Padahal kita yang keluarga saja nggak rumpi kayak gitu tapi orang di luar keluarga yang sok sotoy."
"Udah, nggak usah ngedumel" kekeh Yuna.
"Yakin 100% anaknya Yuna laki-laki. Jadi Dad harap jangan lupa untuk memberikan nama Duncan ke cucu Dad nanti sesuai dengan perjanjian ya Ed!" suara Duncan McGregor membuat dua wanita kakak beradik itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gawat lu dik, anakmu dah di klaim cucu Voldemort" bisik Nabila sambil cekikikan.
"Semoga nggak ketularan kacaunya klan McGregor" balas Yuna sambil memegang pelipisnya.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️