Love In Bet

Love In Bet
Menginap



Yuna akhirnya menyetujui untuk datang ke rumah Stephen dan Diana pada hari Sabtu besok. Papa dan mamanya senang putrinya memiliki teman yang juga koleganya di perusahaan PRC group.


Sabtu pagi ini kantor PRC group memang tutup karena weekend tapi Yuna sudah berada disana karena ada kiriman beberapa lukisan dan keramik para orang-orang disabilitas dari yayasan mamanya. Usai acara lelang amal kemarin itu, banyak rekan dan kolega bisnis Aryanto menyukai program seperti itu ditambah Yuna sebagai tuan rumahnya.


Aryanto sendiri menjadi kelimpungan ketika banyak dari mereka meminta Yuna sebagai menantu atau pun pasangannya karena mereka terkesima dengan kecantikannya selain kecerdasannya.


Sebagai seorang ayah, Aryanto sangat bangga dengan putri judesnya tapi dia sendiri tahu Yuna masih ingin bebas. Semua kakak beradik Pratomo sangat membebaskan anak-anak mereka memilih kariernya sendiri dan tidak diharuskan untuk mengambil alih perusahaan PRC group. Berusaha untuk tidak menyinggung perasaan para rekan dan kolega bisnisnya, Aryanto hanya bisa berkata menyerahkan semua kepada Yuna karena dia yang akan menjalaninya.


"Papa bilang saja lah sama mereka, Yuna masih ingin bebas" ucap Yuna waktu Aryanto mengatakan bahwa beberapa dari mereka ingin melamarnya.


"Papa tahu mereka hanya melihat fisik dan apa yang di belakang mu" kekeh Aryanto.


"Ntu paham papa" gelak Yuna.


"Na, mama sih berharap kamu dapat jodoh seperti Nabila."


"Aamiin." Apakah mama tahu aku sudah dicuri ciuman oleh asistennya bang Mike, tunangan mbak Nabila?


Dan kini, di ruang kerjanya, Yuna menggelar lukisan-lukisan yang baru saja dia dapatkan. Yuna memilah-milah dari ukuran kanvas, tema dan aliran yang mereka pilih.


Seperti biasa, dia bekerja dengan tekun hingga akhirnya satpam gedung menelponnya untuk mengingatkan sudah pukul 2 siang. Yuna pun membereskan pekerjaannya yang sebagian besar sudah selesai dia kurator. Lukisan-lukisan itu ia tutup dengan kain putih baik yang sudah selesai maupun belum ditumpuk terpisah dengan kode yang hanya dia paham.


Setelah mengunci ruangannya, Yuna pun turun menuju parkiran dan masuk ke dalam mini Cooper nya lalu pulang ke mansion.


***


"Kamu nanti nggak usah bawa mobil, Na" ucap Diana ketika Yuna sampai di rumah.


"Hah? Kenapa?"


"Gampang kalau kamu pulang nanti, kita antar juga bisa. Oh bawa baju aja sekalian nginap disini. Stephen ada kasus berat jadi aku nggak ada temennya ngobrol" kekeh Diana.


"Owalaahhh. Aku bilang mama papa dulu, gimana pun kan aku tinggal di mansion papa."


Papa Aryanto dan mama Rani pun mengijinkan putrinya menginap di rumah Stephen dan Diana karena Papa Aryanto mengenal Stephen dengan baik.


"Stephen nggak mungkin macam-macam lah. Dia pria gentleman" komentar papa Aryanto.


"Papa maksudnya apa ya? Kok ambigu gitu?" kekeh Yuna.


"Maksud papa, kan kamu nginap di teman yang baru dikenal gitu."


"Astaga pa, anakmu ini bisa jaga diri. Biasa keliling dunia juga kenapa baru sekarang papa khawatir?"


"Entah lah."


Mama Rani dan Yuna hanya mengedikkan bahu mereka yang biasa melihat papa Aryanto rumpi sendiri meskipun biasanya instingnya benar.


***


Yuna sampai di rumah mewah milik Stephen dan Diana Blair. Dua orang penjaga rumah mengijinkan dirinya masuk karena Diana sudah memberikan info tentang Yuna.


Begitu masuk, Yuna tersenyum melihat pemandangan di depannya. Tiga buah mobil mewah berjejer rapi di sana, Range Rover, Mercedes G65 dan Bentley.



Dasar pamer kekehnya.


Malam ini Yuna memakai rok berwana broken pink sebatas paha yang menunjukkan kakinya yang jenjang dengan tas kecil, sepatu flatshoes dan duffle bag Louis Vuitton berisi baju ganti.



"Selamat malam nona Yuna" sapa penjaga "Mari saya antar." Yuna mengikuti penjaga itu masuk ke dalam rumah. "Silahkan nona."


"Terima kasih."


Yuna masuk ke ruang tamu yang luas melihat Diana sedang duduk di sana sembari melihat MacBook nya. Wanita itu mengenakan dress ketat bewarna biru garis-garis putih.


"Halo" sapa Yuna.


"Yunaaaa" seru Diana heboh yang langsung berdiri dan memeluk Yuna plus cipika cipiki. "Gimana sih penjaga depan nggak bilang-bilang."


"Yang penting aku sudah sampai" ucap Yuna sambil tersenyum.


"Malam Minggu kalian itu juga kerja?" tanya Yuna.


Stephen mendongakkan kepalanya dan melepaskan kacamatanya. "Yuna!" Pria bermata biru yang mengingatkan Yuna pada Edward itu pun berdiri lalu memeluk tamu istrinya dan memberikan ciuman di pipinya.



"Ayo kita duduk. Ini masih jam setengah tujuh, acara makan malam baru mulai jam tujuh" ucap Stephen.


"Sayang, sebentar aku ajak Yuna ke kamar dulu buat taruh tasnya." Diana mengajak Yuna ke kamar tamu yang sudah disiapkan dan Yuna meletakkan tas Louis Vuitton nya di atas kasur.



"Kamar yang indah" pujinya. Diana hanya tersenyum.


"Yuk keluar."


***


Acara makan malam ketiganya berjalan lancar. Stephen bercerita tentang kasusnya yang sedang ditangani serta hubungan baiknya dengan papa Yuna.


"Aku lebih mengenal Pak Aryanto dibandingkan pak Adrian karena yang sering bertemu. Papamu orangnya menarik dan menyenangkan" ucap Stephen.


"Papa memang memegang PRC group kawasan Indonesia karena pakdhe Adrian lebih sering di Australia dan negara-negara Asia Tenggara dibandingkan tinggal di Jakarta."


"Keluarga Pratomo itu berapa bersaudara?" tanya Diana.


"Empat. Pakdhe Adrian paling besar punya anak mbak Nabila, mas Reza dan mbak Shanum. Lalu budhe Yana, punya anak si kembar Alex dan Alexa, Rey dan Ryu Reeves. Papaku nomor tiga, lalu Tante Adinda punya anak kembar Brett dan Darren, Chris dan Vivienne."


"Seru ya kalau kalian kumpul. Aku soalnya anak tunggal jadi nggak tahu rasanya punya saudara" keluh Diana.


"Jangan Di. Kamu akan stress jika ikut kumpul dengan kami, keluarga kami Gesrek semua." Yuna tertawa. "Apalagi yang perempuan, aduh ampun."


"Ohya. Seru ya kayaknya."


Stephen hanya mendengarkan obrolan antara istrinya dan temannya. Diana bukan orang yang mudah dekat dengan orang baru tapi dia bisa mudahnya meminta ijin kepadanya untuk memperbolehkan Yuna menginap. Padahal mereka baru bertemu di acara lelang dan museum.


Pantas Edward bisa tertarik dengan Yuna, dia punya daya tarik tersendiri.


"Di, kenapa kamu mengambil spesialisasi jantung?" tanya Yuna.


"Karena ayahku meninggal akibat serangan jantung. Itulah yang membuat aku mengambil spesialisasi ini."


"Oh maaf aku tidak tahu."


"It's okay darling" senyum Diana.


Ketiganya masih berbicara sampai Stephen mendapatkan telepon dari asistennya yang hendak datang untuk membahas kasus mereka. Diana sendiri harus ke rumah sakit karena ada panggilan emergency.


"Aku akan jalan-jalan ke taman belakang ya" pamit Yuna.


"Iya Na. Maafkan aku urus pekerjaan dulu" sesal Stephen.


Yuna pun menuju halaman belakang yang terdapat kolam renang. Dia sangat menyukai desain interior dan eksterior rumah Diana.


"Halo, Yuna."


Suara itu!


***


Yuhuuu Up pagi dulu


Eniwaiii thank you so much atas supportnya para readersku terchayank 😘😘😘 yang setia mengikuti keluarga amburadul penuh dengan drama gaje n receh... Hehehehe.


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️