LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 74



Ussy mengangguk pelan, senyum tegarnya kembali merekah membuat Fahrul membalas senyum. Ussy berjalan kembali dengan tangan yang menggenggam tangan Fahrul.


Deg


Astaga! Tangan aku digenggam.


Perlahan memandang gedung rumah sakit dengan sebentar hela nafas pendek terhembus, langkahnya berjalan kembali memasuki rumah sakit.


"Selamat, siang. Ada yang bisa saya bantu?" tutur seorang begitu ramah saat Ussy mendekati meja Resepsionis.


"Maaf saya mau bertanya Pasien bernama Surni?"


"Di tunggu sebentar ya," Jawabnya sembari membuka lembar kertas.


Kemudian wanita yang menyandang sebagai resepsionis rumah sakit itu menyebutkan nama lengkap, umur, dan beberapa kriteria untuk menyakini ciri pasien yang dicari Ussy.


Ussy mengangguk secara yakin setelah mendengar pernyataannya, lalu dia menunjukan ruangan Ibu.


"Ruangan ×××, Mbak tinggal lurus belok kanan," jawabnya menunjukan arah.


"Baik, terima kasih."


Ussy berjalan dengan tangan yang selalu menggenggam tangan Fahrul, membuat degup hati Fahrul tergoncang. Menyusuri koridor Rumah sakit, saat memasuki ruangan yang tertera jelas Ruangan Sakit Jiwa.


Di ujung pintu masuk ruang, ada seorang penjaga yang menunggu tempat pintu masuk, Ussy mendekati dan menegur sapa.


"Maaf Pak, saya mau menjenguk pasien bernama Surni."


"Boleh saya lihat identitasnya?"


Ussy memberikan lembar kertas identitas Ibu yang tadi diberikan resepsionis. "Mari saya antar."


Si Penjaga membuka kunci slot, mulai memasuki ruangan. Sekilas pandangan Ussy melihat arah taman yang berisi beberapa manusia yang terserang gangguan jiwa, rasanya tersayat saat mendapati Ibu berkecimpung kepada golongan pasien gila.


"Itu, Ibu Surni," tunjuknya menunjuk arah Ibu yang terduduk dibawah pohon. Tatapannya kosong, dengan tangan yang sibuk memegang boneka.


"Terima kasih," Jawab Ussy, si Penjaga pergi kembali dengan tersenyum.


Perlahan Ussy mendekati ibu, kondisi ibu yang jauh lebih kacau dari sebelumnya, rambut yang tidak beraturan, bulatan hitam kisaran mata yang tertampak jelas, dan bibir yang pecah-pecah.


Sesaat hati Ussy merasa sakit melihatnya, hingga air mata meniti. Fahrul yang berada disamping menepuk lembut punggung Ussy, untuk memberi rasa ketegaran. Saat sepenuhnya siap, Ussy jalan mendekati Ibu.


"Ibu...," sahut Ussy lembut.


Ibu tidak menoleh sahutan Ussy, dia hanya terpaku pandangan kosong, lalu Ussy menyentuh pundak Ibu, membuat Ibu menoleh ke arahnya dengan cepat.


"Siapa kamu?" Tanya Ibu dengan raut wajah ketakutan.


"Ini aku Ibu, Ussy anakmu."


"Anak aku Ussy masih kecil, nih dia masih aku gendong! Sana pergi...," Jawabnya terus memeluk boneka. Ibu merasa Boneka yang dia pegang adalah Ussy.


"Ibu ... Ini aku Ussy ... Ussy sangat rindu Ibu," ungkap Ussy kembali lebih mendekati Ibu.


"Tidak! Sana pergi! Tolong ... tolong ... dia mau menculik anakku!" Jerit Ibu histeris saat Ussy berusaha mendekatinya.


Fahrul segera menahan Ussy agar tidak mendekati Ibu lebih dekat, Ussy hanya mematung dengan air mata yang terus mencoba menerobos keluar.


Teriakan Ibu membuat Si penjaga segera datang dan mengajak Ussy segera menjauhi Ibu. Terpaksa Ussy mengiyakan dan pergi kembali dengan kecewa melihat keadaan Ibu yang semakin parah.


"Mungkin Ibu masih syok," ucap Fahrul pada Ussy, dia tidak melepas tangannya yang bergontai di pundak Ussy.


"Ini kedua kalinya ada yang menjenguk Ibu Surni," ungkap Si penjaga mengawali pembicaraan.


"Hah! Siapa yang pertama, Pak?"


"Dia bilang dia adalah kerabat dekatnya Ibu Surni, apa Anda tidak mengenali beliau?" Tanya heran si Penjaga saat mendapati jawaban Ussy yang terkejut.


"Mmm ... Mungkin saya lupa, bisa Anda jelaskan bagaimana ciri-cirinya?"


Lantas Si Penjaga memberikan ciri fisik dari seorang yang selalu menjenguk Ibu, Ussy masih belum mengenali ciri fisik yang di ungkap Si penjaga.


"Apa Nona mengenalinya?"


"Ah, mungkin saya lupa. Apa dia selalu menjenguk Pasien?"


"Tentu, beliau sering menjenguk tiap tanggal 15 setiap bulannya." Jelasnya.


"Oh begitu, Terima kasih atas informasinya, Pak."


"Sama-sama," jawabnya sembari tersenyum dan menutup kembali pintu ruangan.


Ada yang tidak beres! Aku harus segera menyelidiki nya!


Ungkap batinnya, Ussy berjalan dengan penuh gelisah, membuat Fahrul menjadi khawatir. "Apa kamu kenal siapa Pria itu?"


Ussy hanya membalas dengan menggeleng kepala pelan.


"Kamu tenangkan saja dulu, perlahan bakalan ingat siapa beliau," ucap Fahrul memberi energi positif.


Lantas Fahrul mengusap puncak kepala Ussy. "Sudah jangan terlalu dipikirkan."


Ussy hanya mengangguk. "Oh iya, Aku pulang sendiri aja. Kak Fahrul duluan saja," tutur Ussy.


"Aku ada urusan dulu, Kak Fahrul pulang saja duluan."


"Ya sudah sekalian saja aku antar," Fahrul bersikeras ingin mengantarnya.


"Tidak Usah! Ussy hanya ingin sendiri, mengertilah...,"


"It's Oke, tapi ... Kamu harus hati-hati ya,"


"Ya,"


Tangan Ussy segera melambai memberhentikan Taxi, setelah mendapati Taxi segera Ussy masuk dan meninggalkan Fahrul lebih dulu.


Mau kemana ya dia? Dalam hati Fahrul yang terheran.


...***...


Tempat yang dituju telah sampai tujuan, Ussy turun dan memberikan selembar uang ongkos. Dia memandang jam tangannya yang menunjukan pukul satu kurang dua menit, dia menghela napas lega.


Segera Ussy masuk ke dalam Cafe, dia langsung berjalan mendekati salah satu meja yang telah ada menunggunya. Ussy mulai menyapa, dan terduduk menggelar beberapa obrolan.


"Saya hanya ingin meminta maaf secara pribadi atas kejadian tidak senonoh kemarin kepada kamu."


Sudah kuduga akan membahas ini. dumel batin Ussy.


"Saya harap kamu melupakannya dan menganggap tidak terjadi apa-apa diantara kita," lanjutnya.


"Saya sudah melupakannya, Tuan. Tenang saja..,"


"Syukurlah, imbalan apa yang kamu mau untuk menebus semua kesalahan saya?"


"Tidak perlu imbalan, Tuan. Mengakui saja sudah cukup."


"Kamu terlalu naif, Kalau begitu bagaimana kalau malam ini kamu temani saya untuk ikut perjamuan?"


Ussy hanya terdiam, sejujurnya dia ingin menolak tapi rasa takut yang membesar hingga bibir tidak mampu berucap.


"Saya tidak ingin mendengar penolakan," tambahnya membuat bibir Ussy mengunci.


Dasar keras kepala! Egois! Umpat Ussy dalam hati kesal akan ucapan Mr.GE


"Baiklah," jawabnya kecewa.


"Kalau begitu aku tunggu...," balasnya dengan senyum licik. Ussy hanya mengangguk begitu berat dia menyetujui


Brak...


Seketika Fahrul datang memergoki Ussy dengan Mr.GE yang sedang duduk berdua menikmati secangkir Cappucino, terlihat seperti sedang kencan. Wajahnya memerah, emosi begitu cepat saja menyulut melihat Ussy berduaan dengan Pria lain.


"Fahrul!" Sontak kaget Ussy dengan refleks Ussy langsung berdiri.


"Siapa dia?" Tanya Fahrul begitu posesif


Ussy tidak mampu membalas. Mr.GE hanya tersenyum simpul melihat reaksi Fahrul, mungkin bisa dibilang sedang dalam fase cemburu buta.


"Santai Bro...," Tumpas GE dengan santai.


"Diam kamu! Saya engga tanya kamu!" Bentak Fahrul dengan menunjuk jari tepat wajah Mr.GE


"Hei ... rileks kawan, apa kamu cemburu?" Tanya Mr. GE yang membuat emosi bertingkat.


"Diam kamu!" Hampir saja Fahrul melayangkan pukulannya tepat wajah Mr. GE


"Sudah cukup!" Lerai Ussy,


Ussy melerai keduanya yang hampir bertengkar, Lalu Ussy menarik keluar Fahrul, meninggalkan GE yang masih terduduk santai dan tersenyum simpul memandang mereka berdua yang sedang beradu mulut diluar.


"Cari informasi tentang Pria tadi," perintah Mr.GE terhadap pengawal pribadinya.


"Baik, Tuan!"


---


"Siapa dia?"


"Kamu tidak perlu tahu siapa dia! Tidak ada urusannya dengan kamu! Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan tadi? Itu memalukan!" Kesal Ussy menjadi.


"Dan satu lagi kenapa juga kamu membuntuti ku sampai sini! Ini terlalu berlebihan!" Lanjut Ussy meluap.


"Berlebihan? Menurut Aku tidak! Aku takut kamu kenapa napa!" Jawabnya tidak mau kalah.


"Aku bisa jaga diri sendiri! Aku punya privasi tersendiri. Jangan terlalu ikut campur masalah orang!"


"Tapi Ussy ... Aku sangat mencintai mu,"


"Cinta? Hah! Bukan seperti ini caranya! Ini sangat memuakan!" Balas Ussy pedas, dia langsung meninggalkan Fahrul begitu saja.


"Tunggu Ussy ... Tunggu ... Kamu salah paham!" Jelas Fahrul, namun Ussy tidak menggubris sebutannya, Ussy fokus untuk menghentikan Taxi.


Akhirnya Taxi datang, segera Ussy masuk tidak peduli dengan Fahrul yang berusaha menghentikannya. Taxi segera melaju dengan cepat.


"Aarrghhhh sialan!"