LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 66



Anton dan Ussy segera turun dari mobil, mereka berjalan mendekati sebuah toko yang terdampar dipinggir jalanan kota. Pertama Anton mulai membuka pintu toko kemudian disusul oleh Ussy. Suara denting lonceng masuk terdengar jelas saat pintu terbuka, memberi tanda seseorang masuk ke dalam toko.


Toko yang menyediakan beberapa jenis jam antik dengan desain kuno dan sangat kental dengan arsitektur dindingnya yang pekat dengan ornamen motif yang khas, terbuat dari ukiran kayu dengan jendela yang sedikit berdebu.


Si pemilik toko sedang terduduk di meja kasir dengan tangan yang sibuk membersihkan jam koleksinya.


Umur nya sudah tidak muda lagi dengan rambut yang beruban dan mata yang kini sudah memakai kacamata, karena pelihatan yang sudah tidak jelas lagi, ditambah kumis dan jengot yang telah berwana putih.


Panggil saja dia Kakek Yafuz yang sudah mendirikan cukup lama toko tersebut, namun hingga detik ini dia tidak merekrut karyawan. Entah kenapa, mungkin karena toko nya tidak terlalu ramai.


Anton segera mendekatinya dan melihatkan kartu identitas tersebut. Yafuz menatap serius melihat kartu identitas dan setelah jelas dia baca dia langsung tersenyum simpul, lalu beranjak dari duduknya segera berjabat tangan kepada Anton.


"Aku kira kamu siapa, bagaimana kabarmu, Anton?" Sapa Yafuz dengan raut wajah yang sumringah ketika mengetahui dia Anton.


"Baik," Anton membalas jabat tangan dengan tersenyum juga.


"Oh ya, kenalkan dia adalah anggota baru dari tim," lanjutnya Anton dengan berbisik kepada Yafuz sambil menunjuk Ussy.


"Astaga! Ternyata GE merekrut lagi anggota baru. Dia benar-benar selalu tidak merasa cukup," balas Yafuz sedikit bercanda dengan tertawa kecil.


"Mau apa kalian kesini?" Tanya Yafuz kembali.


kemudian Anton mendeham. "Seperti biasa, kami membutuhkan sesuatu alat untuk menyelesaikan misi."


"Hah, sudah kuduga kalian datang untuk itu." Balas Yafuz dengan terkekeh sambil berjalan mendekati suatu ruangan dan berhenti disalah satu pintu rahasia.


Anton dan Ussy segera menuturi dari belakang. Tangan Yafuz sedang sibuk memilah kunci untuk membuka pintu dan mencocokan dengan lubang kunci pintu sesekali melontarkan beberapa pertanyaan kepada Anton dan Ussy.


"Misi apa lagi yang kalian akan rencanakan?"


"Tentu saja dengan misi yang gila," jawab Anton santai dengan tertawa kecil.


Yafuz hanya membalas dengan tertawa pula, kemudian setelah kunci telah ditemukan, Yafuz segera membuka dan mulai memasuki ruangan tersebut sesaat Ussy takjub saat memasuki ruangan yang penuh akan benda-benda canggih bak peralatan agent rahasia yang handal.


"Kalian ambilah barang yang dibutuhkan," ujar Yafuz mempersilahkan sambil berjalan dengan santai.


Seketika Ussy memandangi salah satu barang yang membuat sorot matanya tersihir tertuju kepadanya, sebuah senjata api genggam yang dikombinasikan dengan belati, dengan lapisan warna yang elegan.


"Apa kamu menyukainya?" Tanya Yafuz yang mendadak ada dibelakang Ussy.


Ussy langsung mengangguk dengan harapan Yafuz dapat memberikan barang yang dia inginkan.


"Pilihan yang tepat," ucap Yafuz dengan memainkan janggutnya,


"Apa saya boleh memilikinya?" Tanya Ussy begitu lugu.


"Tidak, kamu tidak bisa memiliknya, GE akan marah besar apabila seorangpun berani menyentuh benda itu apalagi memilikinya," jelasnya.


"Kenapa, Kek?" Ussy bertanya alasan penolakan.


"Karena senjata itu milik Elisa."


"Elisa?" Telinga Ussy seakan asing mendengarnya, membuat rasa ingin mengetahui siapa Elisa.


Saat mendengarnya seketika Ussy mengerutkan alisnya penuh heran rasanya ingin melontarkan pertanyaan selanjutnya, tapi bibir tidak mampu untuk mengutarakan dan lebih baik untuk berdiam.


"Elisa, wanita yang sangat spesial di mata GE. Banyak sekali kenangannya. Dan GE menyuruhku untuk menyimpan benda peninggalan Elisa," jelasnya kembali sambil mengusap barang tersebut.


"Sudahlah, lebih baik kamu cari senjata yang lainnya saja," Lanjut Yafuz sembari menyimpan kembali senjata tersebut.


Ussy menghela nafas kecewa. Saat mendengar apa yang tidak sesuai yang ekspektasinya. Di balik perbincangan itu, Anton sibuk dengan beberapa barang yang dia butuhkan untuk menjalankan rencana


"Siapa nama mu, Nak?" Tanya Yafuz kembali.


"Lussy...," jawab Ussy sembari tersenyum.


"Nama yang bagus, kamu sangat mirip dengan Elisa," Balas Yafuz dengan tawa kecil lalu berbalik badan dan berjalan mendekati Anton.


Ussy terdiam sesaat ketika Yafuz berucap demikian. Memang benar, sekilas wajah Ussy mirip dengan Elisa. Dari segi fisik dan beberapa tingkahnya, seperti Elisa yang lahir kembali. Ussy seakan membatu dengan pikiran yang bergelayut penasaran seperti apa Elisa. Segera Ussy mengalihkan pikirannya dan memandang kembali barang lain yang dia cari.


"Bagaimana, Anton? Apa ada barang yang sesuai dengan misi kamu?" Pertanyaan Yafuz membuat Anton menoleh ke arahnya


"Belum Kek," Yafuz hanya termangut, seketika suara Bel toko terdengar memberi informasi bahwa ada seseorang yang datang.


"Sepertinya ada yang beli, saya tinggal dulu. Kalian carilah dengan santai...," ujar Yafuz sembari berlalu dengan memegang tongkat dan berjalan keluar.


Yafuz pergi meninggalkan Anton dan Ussy yang masih sibuk mencari beberapa barang. Ussy segera menghampiri Anton dengan tangan yang memegang suatu barang.


"Hei, aku menemukan barang ini, sepertinya cukup bagus untuk menjalankan rencana kita." Ujar Ussy yang membuat Anton langsung bertuju barang yang dipegang Ussy.


"Apa kamu yakin?" Anton bertanya untuk meyakinkan.


"Ya, ini semua sudah cukup," balas Ussy mantap.


"Baiklah,"


Sedikit bercerita tentang Yafuz, dia adalah seorang yang sudah lama dipercaya oleh Lay yaitu Ayah angkat Mr. GE, Lay sudah sejak lama bekerja sama dengan Yafuz, bisa dibilang hubungan mereka sangat dekat.


Lay mempercayakan Yafuz untuk menyimpan beberapa benda untuk keperluan para Anak buahnya untuk menjalankan misi, bahkan Yafuz sering membuat beberapa senjata untuk melengkapi keperluan tim yang dibangun Lay. kini kepemimpinan Lay diturunkan kepada GE.


Rasa setia Yafuz yaang luar biasa membuat seluruh anggota Tim mempercayai Yafuz, hingga umur dia yang sudah tidak lagi muda, dia masih mengabdi pada kelompok mafia tersebut.


Lagi-lagi Toko yang berkedok untuk menutupi semua kejahatan, siapa sangka Toko Jam yang terlihat kuno dan jadul adalah tempat penyimpan senjata yang begitu mematikan dan canggih. Hingga sekarang pihak keamanan negara belum bisa mengendus keberadaan para pencuri senjata, yang berhasil diboyong oleh anggota Tim.


Setelah beberapa lama Anton dan Ussy selesai mencari alat untuk menjalankan rencana, mereka segera mengemasi barang tersebut. Lalu mereka keluar dengan sekantung alat.


"Sudah?" Tanya Yafuz kepada Anton.


"Sudah, Kek. Terima kasih atas bantuannya" jawab Anton sembari melintasinya dan berjalan keluar toko.


Yafuz hanya mengangguk kepala dan tersenyum setelah mereka dapat barang. Ussy dan Anton segera berangkat menuju salah satu tempat. Mobil segera melaju dengan cepat meninggalkan toko.


"Aku yakin hati GE terbuka kembali." Yafuz tersenyum simpul dengam pandangan lurus melihat mobil Anton dan Ussy yang semakin menjauh.