
Luna menyalakan kran air dan menumpahkan sekulah demi kulah air yang dibawa kedalam gayung. Luna membasahi dirinya terus menerus dengan air tanpa melepaskan sehelai kain bajunya.
Luna bersimpuh dan menjerit dalam hatinya penuh rasa sakit, bekas gerayangan jemari pria bejat masih dirasakan Luna membuatnya terus menerus membasahi diri dengan air dan menangis tersedu.
"APA SALAH LUNA?! KENAPA LUNA HIDUP SEPERTI INI!ARRRHHH!! HIDUP KU HANCUR!!" Jerit batin Luna terasa sesak di dada,
"LUNA BENCI!! PRIA BEJAT!! ANGEL KEPARAT!! MATILAH KALIAN!!!" Lanjut Luna memberi sumpah.
Luna telah selesai membersihkan diri, wangi sabun yang beraroma buah menyengat dan tercium hidung bagian dalam. Wangi aroma buah yang menyegarkan dan menutrisi. Langkah Luna berlalu menuju kamarnya, tidak menoleh dan menyentuh sedikitpun teh dan kue jahe yang dibuat oleh si bungsu Lily.
Seolah Luna ingin segera terhempas dalam ranjang dan segera berlarut untuk tidur, langkah Luna seakan berat, tatapanya kosong, tubuhnya gemetar hebat dengan pikiran yang selalu terngiang kejadian hina yang dialami Luna.
Luna membuka tirai kamarnya, tangannya selalu mengepal keras, penuh akan dendam dan rasa sakit hati yang dalam. Luna mendekati tembok dan membenturkan kepalanya berulang kali hingga membekas luka lebam pada dahinya.
"HIDUP KU HANCUR!!" Ujarnya Luna berulangkali begitupun dengan benturan kepala ya terus Luna lakukan, bukan lebam lagi, dahinya kini mengeluarkan darah.
Dug... Dug...
Benturan keras yang berulang dibalik kamar menimbulkan suara dan getaran sehingga Lily terbangun dari tidurnya, Lily dengan cepat bangkit dari ranjangnya dan bergegas mendekati suara benturan tersebut.
Lily membuka tirai kamar Luna, dengan segera Lily mendekati Luna yang terus menerus membenturkan kepalanya terhadap tembok, ketika semakin dekat dengan Luna tampak jelas sebercak darah menempel pekat di tembok, dahinya bercucuran darah merah yang kental.
Lily terkejut melihat penampakan dahi Luna yang bercucuran darah, namun Luna menghiraukan rasa sakit dan darahnya dengan terus menerus membenturkan dahinya.
"Kak!! Kak Una!! Cukup!! Jangan benturan lagi kepala Kakak!! Lily mohon!!" Ucap Lily menarik dan memeluk tubuh Luna untuk membendung reaksi Luna agar tidak membenturkan kepalanya lagi.
Luna terdiam ketika lengan Lily melingkari tubuhnya, kepalanya seketika terasa berat dan sangat pening setelah menghentikan benturan. Pandangannya kini berubah menjadi gelap, matanya seketika tertutup.
Brukk
Luna terjatuh tidak sadarkan diri, tangan Lily yang tidak tahan menopang tubuh Luna, hingga melepaskan peluknya.
"Kakak!! Kak Una!! Bangun Kak!! Kakak!!" Ujar Lily berusaha mengembalikan kesadaran Luna, namun hasilnya nihil. Mata Luna masih terpejam dengan dahi yang berdarah.
Lily berusaha keras memapah Luna menuju ranjangnya, dengan sekuat tenaga Lily akhirnya bisa memindahkan tubuh Luna di atas ranjang, segera Lily mengambil sekotak obat pertolongan pertama.
Perlahan Lily membersihkan darah yang bercucuran di dahi Luna, lalu memberikan obat merah untuk menghentikan pendarahannya, kemudian Lily tutup dengan perban yang telah diberi perekat atau
plester.
Lily memandangi Luna dengan batin yang penuh pertanyaan, mengapa Luna bersikap seperti tidak biasanya hingga melukai dirinya sendiri.
"Kak Una.. sebenarnya apa yang telah terjadi kepada Kakak? Siapa yang membuat Kakak menjadi seperti ini? Mengapa Kakak begitu terlihat depresi!" Benak Lily bertanya sambil membelai lembut rambut Luna.
"Aahhh!! Tolong!! Kalian manusia biadab! Kalian telah menghancurkan Aku! Kepar*t!!" Ucap Luna mengingau,
Segera Lily mengambil sehelai kain bersih dan menyumpal kepada hidung Luna agar darah yang mengalir segera berhenti. Tubuhnya kini menjadi terasa sangat panas, badannya menggigil. Membuat Lily semakin cemas akan kondisi Luna semakin menjadi buruk.
"Ada apa dengan Kak Una? Mengapa badannya sangat panas?! Tuhan tolong Kak Una..,"
Lily mulai bingung dengan kondisi genting seperti itu, apa yang harus dilakukan Lily? Batinnya selalu dihantui kecemasan dan kebingungan saat melihat kondisi Luna yang berubah secara signifikan. Lily hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Luna.
Lily membalut tubuh Luna dengan sehelai selimut agar badannya tidak menggigil, namun masih tetap saja, kemudia Lily tambah sehelai demi helai kain hangat. Lalu Lily menaruh kain kompres kepada dahi Luna agar demam segera turun.
Tiga helai kain selimut telah Lily balut kepada Luna, namun Luna masih menggigil, bingung apa lagi yang harus dilakukan Lily. Lalu Lily membuka lemari Ibu berusaha mencari sehelai kain selimut lagi untuk Luna.
Saat Lily membuka lemari Ibu dan mencari selimut, tidak sengaja Lily melihat ponsel Ibu yang tergeletak rapih diatas setumpukan baju. Kemudian Lily meraih ponsel tersebut.
"Ada ponsel! Semoga Lily bisa menghubungi Kak Ussy!" Ujarnya sambil mengantungi ponsel tersebut.
Sehelai kain hangat telah Lily raih dan segera Lily membalut kembali Luna dengan selimut tersebut. Kini badannya tidak menggigil lagi, Lily menarik nafas lega ketika keadaan Luna sedikit membaik.
Kemudian Lily menggantikan kompresnya, dan mencelup kembali ke air dingin lalu melepasnya dan menempelkan kembali kepada dahi Luna.
"Semoga kak Luna baik-baik saja."
Lily segera membalikan badannya dan beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju arah dapur untuk menganti air kompres tersebut. Lily terduduk dan termenung sejenak memikirkan kejadian yang menerpa secara mendadak kepada Luna.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Lily yang terus menerus bertanya seakan ada yang janggal dalam kehidupan Luna.
Lily kemudian teringat akan ponsel yang telah dikantunginya, lalu Lily merogoh dan segera mengaktifkan ponsel Ibu. Puluhan pesan dari Ussy kini tersampaikan setelah ponsel baru diaktifkan kembali, Lily membuka pesan tersebut dan membacanya.
Hati Lily seakan tersayat belati ketika membaca pesan demi pesan Ussy, batinnya merasa bersalah tidak memberitahukan kondisi Ibu yang kini mentalnya terganggu.
Lily mengusap air matanya dan segera menghubungi Ussy, berharap Ussy bisa datang dan membantunya. Pikir Lily kini buntu, hanya Ussy harapan satu-satunya. Tanpa pikir panjang Lily langsung menghubungi Ussy.
Tut...Tut...Tut..
Maaf panggilan yang anda tuju tidak menjawab, cobalah beberapa saat lagi.
"Yah... kenapa tidak di angkat sih!" Ujar Lily kecewa, namun saat menoleh arah jam menunjukan pukul tiga pagi.
"Astaga! Pantas saja ini jam tiga pagi! Mungkin kak Ussy masih tertidur! Uhhh dasar Lily bodoh!" Ucapnya menyalahkan diri.
"Hoaammm..." Lily mulai menguap, badannya seketika terasa sangat lelah setelah mengurus Luna.
Lily beranjak dan berjalan menuju kamar Luna, lalu tertidur disisi Luna. Tidak berani Lily meninggalkan Luna tertidur sendirian, Lily terlalu khawatir akan keadaan Luna untuk saat ini.
"Tuhan ku mohon lindungi Kak Una.." Doa Lily lalu terpejam matanya, sambil memeluk Luna.