
"Tenanglah ... aku ada disini...," dekap Fahrul dengan lembut.
"Ah maaf," Ussy melepaskan pelukannya.
"Tidak masalah, kamu kenapa?" Tanya kembali Fahrul.
Ussy hanya terdiam dengan wajah yang begitu pucat.
"Ya sudah sekarang kamu minum dulu ya," ujar Fahrul sembari memberikan segelas air diatas meja nakas.
Ussy menerimanya dan perlahan diteguk, hatinya sedikit tenang. Fahrul sesaat menatap Ussy, matanya tergambar jelas penuh tekanan dan emosi batin yang sulit meluap.
"Aku tahu hari-hari kamu sungguh berat, dan mungkin sulit bagi kamu untuk bercerita, aku paham itu. Tenangkan dulu hati mu. Ada aku disini menemani kamu...," tutur Fahrul begitu lembut.
"Kenapa kamu masih mau menolongku? Aku bukan orang yang baik, bukankah kita dulu bermusuhan?"
"Tidak peduli kamu baik atau jahat. Yang terpenting kita harus saling menolong. Aku yakin kamu orang yang baik, hati manusia terkadang berubah ubah, kadang suka kadang benci, itu semua sudah takdir alam," Balas Fahrul dengan tersenyum.
Deg
Seketika jantung Ussy berdegup saat mendengar Pernyataan yang keluar dari mulut Fahrul. Bibirnya tidak mampu membalas kata manis nan lembut. Fahrul terlihat begitu dewasa, berbeda sekali saat pertama kali mereka bertemu. Membuat Ussy terheran dengan sikapnya yang semu.
"Ya sudah ... Sekarang kita makan dulu, sudah itu kamu istirahat lagi."
"Tapi aku harus pulang," tolak Ussy begitu ragu.
"Di luar hujan deras, kalau kamu bersikeras untuk pulang demam kamu akan lebih parah."
"Aku mohon sama kamu, patuhlah untuk hari ini saja. Ini demi kebaikan kamu juga," bujuk Fahrul kembali.
"Baiklah."
Lalu Fahrul memapah Ussy menuju meja makan.
Si Mbok telah menyediakan beberapa hidangan makan malam. Si Mbok datang dan menyajikan masakan diatas meja. Aroma sup sangat tercium pekat, bau nya begitu harum, hingga Ussy memejam mata nya sesaat menikmati aroma masakan yang menyihir.
Si Mbok mempersilahkan makannya untuk segera disantap. Fahrul dan Ussy hanya membalas dengan anggukan kepala pelan lalu tersenyum simpul, Si Mbok pergi kembali menuju dapur.
Ussy menoleh ke arah Fahrul dengan kondisi Fahrul yang sudah sehat bahkan pulih sepenuhnya.
"Kaki kamu sudah sembuh?" tanya Ussy berempati.
"Sudah, semenjak aku diurus mami. Mami membawaku therapy ke beberapa ahli medis agar aku segera sembuh dan bisa berjalan kembali," jelasnya.
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya...,"
"Sudah selarut ini kamu habis dari mana? Dan kenapa tangan kamu dibalut perban?" Tanya balik Fahrul menambah pembicaraan.
"Ah ini luka karena jatuh saja dan aku baru pulang kerja," Jawab Ussy menutupi kejadian sebenarnya.
Maafkan aku, Kak Fahrul... sesalnya dalam hati.
Fahrul hanya termangut setelah mendengar penjelasan Ussy.
"Jaga kesehatanmu ... Cepat lah makan Sup'nya,"
"Iya,"
Ussy perlahan menyantap sup ayam. Sesaat air mata mengalir begitu saja, setelah menikmati cita rasa sup yang membawa ingatannya kepada masakan Ibu. Cita rasanya sungguh sama.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Fahrul begitu khawatir.
"Ah aku hanya rindu seseorang setelah memakan sup ini, rasa Sup ini sama persis dengan buatannya," jawab Ussy tertegun menahan air mata agar tidak terjatuh.
"Siapa?"
"Ibu," jawab Ussy dengan nada pelan.
"Ibu? Memang Ibu kamu kenapa?" tanya Fahrul yang tidak tahu kondisi Ibu Ussy.
Ussy tersenyum begitu tegar. "Ibu aku sedang dirawat."
"Dirawat? Apa dia sakit?" Tanya Fahrul semakin melebar.
Ussy menghela nafas pendek. "Iya, ibu aku memiliki gangguan mental. Setelah bapak meninggal ibu tidak menerima kepergiannya hingga ibu menjadi gila. Dan sekarang ibu di rawat di Rumah Sakit Jiwa."
"Astaga ... Maaf ya Ussy aku baru tahu ... Maaf mungkin ini sangat terluka bagimu ... Aku ikut prihatin, Aku betul-betul tidak tahu soal ini," Jawab Fahrul merasa bersalah selama melontarkan pernyataan yang membuat mata Ussy menetes air mata.
"Ah tidak apa apa...," jawabnya sembari menyeka air mata.
"Kamu hebat sekali, aku yakin kamu pasti bisa melewati ujian ini," Fahrul berusaha memberi sepatah kata untuk memberi semangat.
"Iya, terima kasih kak."
Ussy dan Fahrul kembali menyantap makan kembali, setelah semua selesai Ussy segera bersiap untuk tidur.
"Kamu tidurlah di kamarku, biar aku tidur dikamar mami."
"Ya sudah, selamat istirahat ... Good Night, Ussy."
Ussy hanya membalas dengan tersenyum, kemudian Fahrul membalik badan untuk segera berjalan ke kamarnya, seketika langkah Fahrul terhenti, tangannya digenggam Ussy membuat Fahrul menoleh kembali ke arahnya.
"Ada apa?" tanya nya heran.
"Aku hanya mau bilang, terima kasih banyak telah membantuku. Kakak selalu ada untuk Ussy. Maaf Ussy tidak bisa membalas semuanya," ucapnya dengan tertunduk malu.
Fahrul tersenyum setelah mendengar perkataan Ussy dia membelalai lembut puncak kepala Ussy.
"Sudah menjadi kewajibanku untuk menjagamu, karena aku menyayangimu...,"
Begitu lembut tutur kata yang terlontar di bibir Fahrul, terdengar begitu tulus, Ussy yang mendengarnya seketika merona membuat senyum merekah menghiasi wajah Ussy. Terlihat begitu menggemaskan bagi Fahrul yang memandang ekspresi Ussy saat itu. Lalu Ussy lebih mendekati Fahrul dan kakinya berjinjit.
Cup
Dia mengecup pipi kanan Fahrul karena hanya pipi yang bisa Ussy capai, kening Fahrul terlalu sulit di jangkau, mungkin karena tinggi badan Fahrul yang melebihi Ussy.
Seketika mata Fahrul membulat sempurna dengan wajah yang merona seketika. Ussy kembali tersenyum dan langsung menutup kembali pintu dengan pelan.
Deg
Deg
Deg
Detak jantung Fahrul begitu berdegup kencang.
Tatapan masih tidak lepas dari pandangan yang sama. Badannya masih berdiri paku didepan pintu kamar.
Astaga! Apakah ini mimpi?
Ungkap batin Fahrul begitu tidak percaya setelah mendapati hadiah begitu indah. Beberapa detik dia masih berdiri, yang akhirnya kembali berbalik badan lalu melangkah kakinya menuju kamar.
Dia buka kenop pintu dengan lemas, hatinya seakan mendapat ledakan mendadak. Fahrul merebahkan dirinya dengan tatapan yang tidak berubah. Di pikirnya selalu bergelanyut gembira, detak jantung begitu berdegup kencang, sesekali menelan ludah.
"Kecupan nya lembut sekali!"
"Bibirnya..."
"Astaga! Tuhan ... Apakah ini mimpi?" Fahrul langsung mencubit lengannya, rasa sakit terasa dan pikir Fahrul semakin kuat bahwa itu nyata.
"Ini bukan mimpi!" Sontak Fahrul begitu sumringah.
Kemudian Fahrul menutup wajahnya dengan bantal. "Ahh tidak ... mataku tidak mau tidur! Aku terlalu bersemangat...,"
Fahrul menghempaskan bantal yang menutup wajah, senyumnya merekah indah. Menggantikan posisinya menjadi terduduk
Apakah Ussy sudah menyukai ku? Ah ... berarti hati Ussy apa sudah terbuka? Dalam batinnya begitu berkecamuk dengan pertanyaan itu.
Fahrul begitu sorak gembira dengan berjoget joget di atas ranjang. Yes Yes Yes ... Selangkah lagi Fahrul...
...***...
"Apa yang sudah kamu lakukan, Ussy?" sesaat Ussy tersadar dengan perilakunya yang telah mengecup Fahrul. Semua terjadi begitu saja, wajahnya begitu tersipu malu.
"Ah sudahlah lupakan saja...,"
Ussy berusaha mengalihkan pikiran nya, dia berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri. Sesaat pikirannya teringat Lily. Ussy langsung merogoh Tas mencari ponselnya menghubungi Bibi Yun.
"Hallo...,"
"Hallo, iya ada apa Ussy?"
"Maaf Bibi Yun, Ussy mengganggu tengah malam gini. Ussy hanya teringat Lily. Apa Lily baik-baik saja?"
"Tenang sayang ... Lily baik-baik saja disini, dia juga sudah minum obatnya dan sekarang sudah tertidur pulas," Jelas Bibi Yun membuat Ussy menghembus nafas lega.
"Syukurlah kalau begitu hati Ussy tenang. Terima kasih banyak ya Bi...,"
"Iya sayang ... kapan kamu pulang?"
"Nanti Ussy kabari lagi kalau Ussy mau pulang,"
"Ya sudah kalau begitu kamu cepet tidur ya, besok'kan harus kuliah. Dan jangan lupa jaga kesehatan ya, Nak."
"Baik, Bi. Terima kasih banyak,"
"Yaudah tidur sana,"
"Iya,"
Akhirnya panggilan berakhir, Ussy begitu lega mendengar kabar baik Lily. Perlahan memejamkan mata dengan tenang.