LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 24



Pagi mulai menyambut hari, malam pun berganti. Sinar mentari menyinari celah ruangan, yang gelap kini terang, yang dingin kini hangat. Mentari pembawa kedamaian. Mata yang tertidur kini membuka perlahan.


Ussy terbangun dari tidurnya, tangannya yang terus menggenggam Fahrul, kesemutan karena posisi yang tidak berubah. Fahrul masih memejamkan matanya, penuh rasa lelah terukir di wajahnya. Tidurnya begitu pulas.


Lambat laun tersadar, matanya terkejut melihat Fahrul tertidur disebelahnya. Ussy Refleks menendang Fahrul yang sedang pulas tertidur hingga tersungkur ke sudut ruangan.


"Ahhhhh kenapa Senior ada disini?!!" Teriak Ussy terkejut,


Fahrul tersadar dengan paksa, kepalanya lebam terbentur dinding, kekuatan tendangan Ussy sungguh menakjubkan. Hingga membuat badan Fahrul yang tinggi besar tersungkur. Fahrul sempoyongan dengan memegang kepalanya yang pusing.


"Kamu gila ya? Tendang orang bisa sekuat itu!" Ucap Fahrul sambil berjalan sempoyongan dan terjatuh tertidur dilantai.


Ussy terkejut melihat kondisi Fahrul, seketika Ussy turun dari ranjang dan menghampiri Fahrul. Wajah Ussy mulai cemas ketika Fahrul tidak sadarkan diri.


"Senior... maafkan Ussy! Sadarlah. Buka matanya. Senior..." Cemas Ussy sambil menepuk berulang kali wajah Fahrul,


Namun sayang Fahrul tidak membuka matanya. Ussy khawatir dan bingung harus bagaimana. Tidak selang lama Ussy menemukan ide, Ussy mengambil segelas air dan menyiprat sedikit air kepada wajah Fahrul.


"Banjir...Banjir.." teriak Fahrul mengngigau, kemudian Ussy menepuk kembali wajah Fahrul agar tersadar.


"Senior... Sadarlah.." Teriak Ussy dan akhirnya usaha Ussy tidak sia-sia,


Fahrul membuka matanya perlahan. Dan tersadar dengan kepala yang masih terasa pusing. Ussy memberikan segelas air hangat kepada Fahrul.


"Nih... Minum dulu. Senior tidak apa-apa?" Tanya cemas Ussy,


"Gak apa-apa gimana! Aku ditendang sampai memar kaya gini! Sakit tau!" Fahrul mengusap kepalanya yang lebam.


"Maaf... Senior, aku refleks tiba-tiba ada senior di kamar Ussy."


"Gila ya, badan kamu kecil tapi tendangannya kuat banget! Memang kamu gak sadar apa semalaman aku disini nemenin kamu! Bukannya terima kasih, malah di tendang kaya gini. Ini nih yang dinamakan air susu dibalas air tuba!" Jelas Fahrul.


Ussy menggaruk kepalanya, terheran dengan ucapan Fahrul. Karena Ussy benar-benar tidak ingat semua kejadian. "Masa iya sih?"


"Kamu gak ingat?" Tanya Fahrul tidak percaya,


Ussy hanya menggelengkan kepalanya. Yang teringat Ussy hanya saat kejadian Anton menodongnya.


"Yasudah itu engga penting! Yang terpenting kamu sudah sadar!" Ujar Fahrul sambil beranjak dari duduknya.


"Eh, aku ikut ke Toilet dong!" Lanjut Fahrul, Ussy mengangguk dan menunjukan arah Toilet.


Ussy hanya termenung, masih tidak menyangka dengan Anton yang sangat berani mengancam nyawa Ussy hanya untuk menjalankan perintah Tuan GE.


Rasa takut masih tertancap dalam diri Ussy, Anton seperti teror dalam hari-harinya. Ussy harus selalu bersikap santai dalam segala situasi. Ussy hanya mampu berdoa kepada Tuhan, agar selalu dilindungi.


"Tapi kenapa Ussy enggak ingat ya! kenapa Senior Fahrul ada disini? Ah sudahlah... Lupakan saja." Gerutu Ussy.


Hening seketika terpecah, saat Fahrul keluar dari Toilet. Pintunya Toilet dibuka sedikit. Hanya memunculkan kepalanya saja seraya meminta tolong kepada Ussy,


"Heh! Pinjem Handuk dong, aku lupa gak bawa." Ujar Fahrul.


Lalu Ussy melemparkan handuk kepada Fahrul, dan Fahrul langsung menyanggap handuk tersebut seraya mengucap terima kasih dan menutup kembali pintu kamar mandi.


"Menyusahkan saja!" Gerutu Ussy,


Ussy beranjak dari duduknya dan menyiapkan beberapa buku untuk ke kampus. Tidak lama kemudian Fahrul keluar dari kamar mandi, dengan baju yang kemarin, dan rambut yang basah. Memberi kesan Macho.


"Lu mau kuliah?" Tanya Fahrul sambil mengeringkan rambutnya.


Ussy hanya mengangguk dengan tangan yang sibuk merapihkan beberapa buku di meja.


"Ya udah. Cepat mandi! Kita bareng ke kampusnya." ajak Fahrul.


"Tidak! Terima kasih. Senior duluan saja berangkatnya." jawab dingin Ussy.


"Kenapa?",


"Kalau aku bareng sama senior yang ada Ussy habis dikeroyok para fans Senior." Jawab Ussy datar sambil melintasi Fahrul dan memasuki toilet.


"Haha.. Kamu takut sama fans aku? Tenang aja selama ada aku disamping kamu, Aman!" balas Fahrul percaya diri


"Eh ini handuknya." lanjutnya bertanya,


Lalu Ussy menjawab didalam kamar mandi, "Bawa aja handuknya. Aku ikhlaskan buat Senior. Dan satu lagi cepat pergi dari sini!" Teriak Ussy.


"Oke! Thanks ya handuknya." Timpal Fahrul.


"CEPAT PERGI DARI SINI!" Teriak Ussy dalam kamar mandi, mengusir Fahrul.


"Oke.. Oke aku pergi!" Fahrul langsung pergi keluar dari kamar Ussy.


Namun saat Fahrul melintasi meja belajar Ussy terdapat foto yang dipajang indah tergeletak di mejanya. Lantas Fahrul mengambil dan memandanginya.


Foto tersebut adalah foto berdua Ussy dan Jamy saat bermain di suatu tempat. Wajah ceria Ussy terukir jelas di dalam Foto tersebut dengan Jamy.


"siapa lelaki ini?" Tanya dalam benak Fahrul. Kemudian Fahrul menyimpan kembali dan segera keluar dari kamar Ussy dengan keadaan hati penuh pertanyaan.


***


Akhirnya Ussy selesai mandi, membuka pintu dan menengok ruangannya memastikan Fahrul sudah tidak ada didalamnya. Terlihat hanya ruangan kamar kosong.


Ussy langsung keluar dan bersiap diri dengan segera. Pakaian sederhana yang biasa Ussy pakai, tidak terlalu mencolok atau pun terbuka menjadi ciri khas Ussy dalam berpakain.


Ussy mengunci kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga, lalu berjalan keluar menuju kampus. Ussy membuka pagar dan berjalan.


Suara Klakson mobil terdengar keras, hingga membuat Ussy menutupi telinganya. Lalu menoleh ke arah mobil tersebut. Kemudian mobil tersebut membuka jendelanya. Ternyata Fahrul.


"Aduh... Kenapa harus kamu lagi sih!" kesal Ussy,


"Ayo.. Naik! Kita berangkat bareng," ajak Fahrul.


"OGAH!" Tolak Ussy dengan kembali berjalan.


Fahrul terus membuntuti Ussy, membuat Ussy kesal akan keberadaannya. Lalu Ussy berhenti melangkah dan memarahi Fahrul.


"Senior maunya apa sih! Jarak dari indekos sampai kampus hanya seratus meter dan gak perlu naik mobil! Dan satu lagi Ussy gak mau berangkat bareng sama senior Fahrul! Apalagi naik mobil dengan jarak yang begitu dekat! Dasar pemalas!" Kesal Ussy.


Lalu Fahrul keluar dari mobil, dan mengunci otomatis mobilnya. Dan menuturi Ussy dengan berjalan bersama, meninggalkan mobilnya dipinggir jalan.


"Senior Gila ya?!" kesal Ussy saat melihat tingkah konyol Fahrul.


"Aku waras kok!" jawab Fahrul dengan datar.


"Mau berangkat bareng sama kamu." balasnya datar,


"Kenapa harus meninggalkan mobil! Nanti ada yang maling gimana?!" Amarah Ussy kembali memuncak.


"Tadi disuruh jalan, gak boleh bawa mobil! kamu bilang Pemalasan! Ya, jadi aku jalanlah, Emang salah?" Jawab datar Fahrul, membuat Ussy menggertak.


"Arrgghh.. BODO AMAT AH!" Ussy berjalan dengan langkah penuh kesal. Dengan polosnya Fahrul mengikuti Ussy hingga sampai kampus.


***


Akhirnya jam kuliah telah selesai, Dosen keluar ruangan. Beberapa murid pun ikut serta keluar. Ada yang pergi ke kantin, perpustakaan dan tujuan lainnya. Ussy masih terduduk di bangku dengan memainkan bolpoin.


"Tuan GE benar-benar telah menyembunyikan identitas Anton. Sulit bagi Ussy untuk melaporkannya tanpa bukti yang kuat! Yang belum Ussy tanya adalah senior Fahrul. Semoga dia mengingat Anton!" Ungkap Ussy dalam benaknya.


Ussy beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju taman kampus, untuk menetralkan pikirannya. Ussy duduk kembali dibawah pohon rindang, dengan membawa sekotak jus mangga kemasan. Menyeruput minumannya sambil memainkan ponselnya, menggulirkan layar informasi tentang keberadaan Anton dan misteri Tuan GE.


Lagi dan lagi berita dunia memaparkan tentang pembunuhan dan pembantaian beruntun. Ussy yakin dalangnya adalah Tuan GE, akan tetapi pertanyaan Ussy semakin membesar perihal tujuan Tuan GE. Apa yang diinginkan Tuan GE?.


"Dor.." Fahrul mengejutkan lamunan Ussy,


Sedikit terkejut namun Ussy tidak menggubris Fahrul yang Selalu menjahili Ussy. Sepertinya Ussy sudah kebal dengan sikap Fahrul yang terkadang kekanakan.


"Lagi apa sih? fokus banget." tanya Fahrul mengintip Ussy yang sibuk dengan ponselnya.


"Bukan urusan Senior!" ketus Ussy.


"Jangan panggil aku Senior mulu napa! Ospek juga udah selesai ini! Coba ganti dengan sebutan Sayang gimana?" Rayu Fahrul.


"Najis!"


"Hahaha.. sorry. Eh By the way kenapa sih kamh dingin banget! Aku ini Artis kampus tau, banyak wanita yang ingin dekat sama aku. Tapi kamu beda, padahal didekat aku itu ibarat Anugerah dari Tuhan." Gurau Fahrul.


"Dekat dengan senior adalah malapetaka buat saya!" balas Ussy.


"Eh ada yang mau aku tanyain," ucap Fahrul dan Ussy bersamaan. Hingga Fahrul menyuruh Ussy duluan untuk bertanya.


"Senior kenal tidak dengan Anton? Kelas ×××." tanya Ussy duluan,


Fahrul mengerinyit dahinya, berusaha mengingat nama yang disebutkan Ussy. "Kaya kenal, tapi aku lupa. Emang kenapa?" Tanya kembali Fahrul. Namun Ussy membalas dengan menggelengkan kepalanya.


Lantas giliran Fahrul untuk bertanya, "sekarang giliran aku tanya sama kamu. Foto yang dipajang di meja belajar kamu itu Foto siapa? Pacar ya?" Tanya Fahrul sedikit Posesif.


"Bukan urusan Senior! Kenapa bertanya seperti itu?" Ussy terheran.


"Ah tidak..." Fahrul mengelak.


"Eh nanti pulang kuliah, kamu harus periksa luka dileher itu. Takutnya semakin parah dan aku masih penasaran siapa sih orang yang tega melakukan ini sama kamu?" Lanjut Fahrul.


"Tidak perlu pergi ke rumah sakit, lagian luka ini sudah kering dan pulih. Ditambah Ussy juga ada keperluan hari ini. Dan masalah kemarin malam Ussy juga tidak tahu. Mungkin itu hanya kecelakaan semata." Jawab Ussy.


"Ya sudah.. Aku harap kamu bisa jaga diri baik-baik. Dunia ini memang jahat!" nasihat Fahrul


"Eh Lu lapar gak? Ke kantin yu,.aku traktir deh," ajak Fahrul.


Ussy setuju dengan ajakan Fahrul, mereka berdua berjalan menuju kantin. Membeli beberapa makanan untuk mengganjal rasa lapar perut yang sudah memberontak.


---


Akhirnya semua mata kuliah hari ini selesai. Ussy langsung bergegas untuk mengikuti Psikotes kerja. Dan berharap bisa lulus.


"Yuk, aku antar," ajak Fahrul. Ussy tidak berpikir panjang dan langsung menerima ajakannya.


Karena waktu semakin menipis, kemungkinan besar akan kesiangan apabila naik angkutan umum. Fahrul menjalankan mobilnya dengan cepat, dan tidak butuh lama bagi Fahrul untuk sampai tujuan.


Berbagai jalan tikus telah dikenal Fahrul, sehingga sangat efektif untuk jalanan kota yang macet. Ussy takjub akan kelihaian Fahrul dalam mengemudi dan mengetahui arah jalan pintas.


"Terima kasih banyak Senior," Ujar Ussy tersenyum.


Lalu Fahrul menghentikan kakinya dengan isyarat Ok.


"Mau aku tungguin gak?" Ajaknya kembali.


"Tidak usah. Terima kasih, Ussy akan pulang sendiri saja." Tolak Ussy dan pergi berlalu meninggalkan Fahrul. Segera bergegas memasuki toko tersebut.


Satu jam berlalu, akhirnya beberapa test telah dilalui Ussy. Hasil test akan di informasikan besok via email. Ussy berharap bisa lulus dan di Terima bekerja untuk menambah pundi penghasilan.


Tidak disangka ternyata Fahrul menunggu Ussy hingga selesai test. Ussy merasa tidak enak dengan Fahrul yang Selalu menolongnya. Ussy takut Fahrul memiliki niat jahat yang terselubung, seperti Anton. Maka dari itu Ussy tidak mudah percaya dengan orang lain. Selain keluarganya.


"Kenapa Senior menunggu Ussy?"


"Masuk aja dulu kedalam mobil, biar aku jelaskan sambil jalan." pinta Fahrul,


Lalu Ussy masuk kedalam mobil dan menerima ajakan Fahrul karena tidak enak apabila menolak, Ussy menghargai penantian Fahrul dengan menerima ajakannya. Harap-harap tidak ada niat buruk.


"Aku gak tega kalau kamu harus pulang sendirian, mana udah mulai malam! Tambah kejadian kemarin buat aku was-was ninggalin kamu sendirian. Kenapa juga sih kamu harus kerja?" Tanya Fahrul,


"Karena kondisi yang memaksa Ussy untuk mandiri dan gigih." Jawab Ussy singkat namun sangat berbobot ketika terdengar di telinga Fahrul.


"Aku salut sama kamu, wanita hebat! Maaf atas sikap aku yang dulu." Fahrul serius. Ussy membalas dengan tersenyum.


***


#POV IBU


Kesehatan mental Ibu semakin memburuk, Ibu menjadi lebih temperamen. Terpaksa Luna kunci Ibu didalam rumah, dan kini Luna yang mengambil alih posisi. Luna bersekolah sambil berjualan Kue. Dan setelah pulang sekolah Luna mengurus Ibu dari mulai memandikan dan memakai pakaian Ibu serta memberi makan Ibu.


Ibu layaknya seperti anak kecil yang mudah menangis dan tertawa dengan keadaan kecil. Terkadang Ibu menangis sendiri dan tertawa sendiri. Membuat Luna khawatir akan keadaan Ibu yang semakin memburuk. Maka terpaksa Luna mengurung Ibu di dalam rumah.


Sewaktu waktu Ibu pernah berhasil keluar dari rumah, tanpa sepengetahuan Luna. Ibu menjahili anak-anak para tetangga. Dicubit hingga menangis, lalu di jambak rambutnya, hingga ada yang hampir diceburkan kedalam sungai.


Membuat para warga khawatir akan sikap Ibu yang semakin tidak waras. Luna selalu menelan rasa malu atas sikap Ibu. Kata maaf selalu Luna lontarkan apabila Ibu berhasil keluar dan mengganggu tetangga.


Akhirnya pak Romi ketua RT di kampung, memberi saran agar Ibu segera di bawa ke rumah sakit jiwa. Akan tetapi Luna menolak keras, Luna tidak ingin berpisah dengan Ibu. Biarpun Ibu gila, Luna akan tetap menjaganya.


Terakhir Ibu diseret paksa oleh warga untuk dibawa ke Rumah sakit jiwa, karena melakukan hal diluar batas. Yaitu membongkar kuburan Bapak dan membawa mayat Bapak kedalam rumah. Luna dan Lily begitu ketakutan ketika perilaku Ibu seperti Itu.


Lalu salah seorang warga melihat Ibu membawa mayat Bapak, dan melapor segera kepada Pak Romi, dengan bergegas Pak Romi dan warga lainnya pergi mendatangi Rumah Luna. Dan terpaksa menyeret Ibu untuk di masukan ke Rumah sakit jiwa. Sempat terjadi percekcokan antara Luna dan Pak Romi, karena ketidak setuju an Luna terhadap pendapat Pak Romi.


Lantas pak Romi dan warga lainnya memberi penjelasan, terpaksa Luna dan Lily harus terpisah dengan Ibu. Hati Luna dan Lily hancur melihat sang Ibu yang kini tinggal di rumah sakit jiwa. Luna tidak kuat apabila kabar ini terdengar oleh Ussy. Akhirnya Luna hanya tinggal berdua saja dirumah. Sepinya suasana rumah. Membuat Luna menangis kesakitan.


"TUHAN TIDAK ADIL! LUNA BENCI HIDUP!"