
"Aku harus dapat uang dari mana ya? Kerja udah di pecat! Mana tabungan aku mulai menipis!" Keluh Ussy,
Ussy terus menatap Lily yang begitu lemah tidak berdaya, tangannya selalu membelai lembut rambut Lily, air matanya menetes entah untuk yang ke berapa kalinya Ussy meneteskan air mata.
"Lily sayang ... kamu harus sabar dan bertahan ya! Kakak akan berusaha mencari uang untuk pengobatan mu," tutur Ussy lembut,
Perlahan Lily menggerakan jemarinya, membuat Ussy sedikit tercengang. Mata Lily akhirnya membuka, membuat senyum Ussy kembali merekah.
"Aku ada dimana Kak?" Tanya Lily lirih,
"Kamu ada di Rumah Sakit sayang.." balas Ussy sambil mencolek hidung Lily,
"Kenapa aku ada disini Kak? Lily tidak mau ada di Rumah Sakit! Lily benci Rumah Sakit!" Ujar Lily begitu kesal,
"Kenapa sayang? Kenapa Lily tidak mau di Rumah Sakit? Lily harus dirawat dulu hingga sembuh baru kita pulang," tutur Ussy berupaya menenangkan Lily,
"Gak mau! Lily tetap ingin pulang! Buat apa Lily disini! Bapak juga meninggal gara-gara diam di Rumah Sakit terus!" Oceh Lily,
"CUKUP LILY!" Bentak Ussy membuat Lily terdiam dan menundukan kepalanya,
Ussy bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar berupaya untuk menenangkan dirinya. Lily hanya tertegun setelah Ussy keluar ruangan. Setelah menutup pintu, kaki Ussy seakan lunglai menahan beban begitu berat dan langkahnya kini terduduk di kursi tunggu pasien.
"Tuhan kenapa ini terjadi kepada ku! Apa salah ku!"
Ussy mendongakan kepalanya, memandang atap langit, air matanya menetes haru, soal hati tidak bisa dipungkiri rasanya begitu hancur menahan beban derita. Perjalanan cinta yang tidak sempurna, hati yang terkikis kembali dengan hilang satu persatu anggota keluarga.
Pikirnya selalu mengajak kenangan indah dan pahit yang menjadi satu, mulut terasa bungkam saat hati tak lagi mampu berkata, hanya air mata yang mampu menggambarkan jelas kondisi yang begitu pahit.
Ussy berusaha tegar dan bangkit kembali, hatinya sedikit reda dan berusaha untuk membangun ulang kehidupan, jemari mulai mengusap air mata yang terjatuh, lalu Ussy menghela nafas saat semangat segera hadir.
Tidak sengaja Blangkar yang didorong oleh dua Suster melewati Ussy begitu saja dengan satu pasien tertidur diatasnya. Mata Ussy seakan ingin melihat orang tersebut, rasanya tidak asing baginya. Lantas Ussy mempertajam penglihatannya saat pasien melintas.
"Fahrul!"
Ucap Ussy terkejut dengan mata yang membulat sempurna, tangannya menutup mulut seakan tidak percaya apa yang telah dia lihat. Kakinya segera mengejar Fahrul.
Fahrul segera memasuki ruang inap, saat Ussy hendak memasuki langkahnya terhenti oleh Suster yang menahan dan bertanya perihal hubungan Ussy dengan Pasien, Ussy menjawab dengan tegas bahwa dia sahabat korban. Seketika Suster memberikan izin kepada Ussy untuk memasuki ruangan.
Perlahan Ussy mendekati Fahrul yang kini terkulai lemas, dengan selang Infus yang melingkar ditangan dan beberapa perban yang membalut tubuhnya. Matanya terpejam seakan sedang menikmati mimpi indah yang enggan terbangun.
"Suster, apa yang sebenarnya terjadi kepada dia?" Tanya Ussy saat Suster sedang menyuntikkan cairan obat kedalam infus,
"Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup besar sehingga menimbulkan luka begitu dalam, kakinya mengalami kelumpuhan dan ada benturan keras di kepalanya," balas Suster,
"Apa? Lumpuh!" Ussy tercengang,
"Iya Mbak, untungnya segera dibawa kerumah sakit sehingga nyawanya bisa terselamatkan."
"Oh ini Mbak ponsel pasien dan beberapa barang pasien," ucap Suster seraya menyerahkan barang Fahrul, lantas Ussy menerimanya.
"Apa Mbak ini pacarnya?" Tanya Suster begitu lugu,
"Tidak! Saya temannya," tegas Ussy,
"Oh maaf ya Mbak, habisnya saya lihat begitu serasi. Saya pamit ya Mbak! Permisi," ujarnya sambil berlalu.
Ucapan Suster tersebut membuat Ussy terngiang akan kejadian saat Fahrul menyatakan perasaannya. Ussy duduk di sebelahnya, matanya kini menatap dan memandangi Fahrul, segera tangan yang terkulai lemas Ussy gapai dalam genggaman.
"Senior kenapa kamu begitu bodoh! Kenapa harus melakukan hal bodoh ini!" Ucap Ussy tersedu,
"Apa kamu sudah tidak menghargai apa itu namanya Hidup! Ku mohon cepatlah sadar." Lanjut Ussy,
Drett.. Drett..
"Hallo sayang, kenapa kamu tidak ada dirumah? Mamih sudah pulang Nak," ucapnya,
"Hallo Tante maaf ini saya Ussy teman Fahrul, saat ini Fahrul sedang ada di Rumah Sakit, Fahrul mengalami kecelakaan," ujar Ussy segera memberi tahu kondisi Fahrul,
"Apa! Sekarang Fahrul di Rumah Sakit mana?" Tanya Mamih begitu terkejut,
"Rumah Sakit Insani,"
"Baik saya akan segera kesana, tolong tunggu!" Ujarnya sambil mengakhiri panggilan.
Mamih dengan cepat langsung menuju Rumah Sakit, air matanya berlinang saat mendengar kabar buruk menimpa Anak semata wayangnya. Rasanya tidak karuan saat di perjalanan seakan ingin segera melihat kondisi Fahrul.
Saat Mamih sedang menyetir tangannya langsung merogoh Ponsel dan menghubungi Papih untuk memberi kondisi Fahrul.
"Hallo Pih, kamu harus segera pulang! Fahrul kecelakaan!"
"Apa?! Kecelakaan?" Sontak kaget Papih,
"Iya! Cepat kamu ke rumah sakit, Mamih akan kirim alamatnya!" Ucapnya singkat dan langsung mengakhiri panggilan.
Tidak butuh waktu lama Mamih lebih dulu sampai, langkahnya langsung mendekati ruang inap Fahrul, tangannya langsung membuka pintu dan berjalan cepat menghampiri Fahrul.
"Fahrul..." teriaknya,
Mamih langsung memeluk Fahrul yang terkulai tidak berdaya diatas Blangkar dengan selang Infus dan beberapa luka.
"Nak kenapa kamu bisa seperti ini?! Cepatlah bangun!" Sedihnya semakin terpecah,
Mamih terus menangisi Fahrul, Ussy hanya memandang haru melihatnya, batinnya merasa bersalah oleh keadaan yang menimpa Fahrul. Tidak selang lama akhirnya ayah Fahrul datang dan segera menghampiri.
"Fahrul kenapa kamu bisa kaya gini Nak?" Cemas Papih,
Suasana begitu sedih saat itu, lalu Papih menoleh ke arah Ussy dan bertanya perihal kronologi kejadian kecelakaan.
"Bagaimana Anak saya bisa seperti ini?" Tanya Papih kepada Ussy,
"Maaf Pak, Saya tidak begitu tahu. Saat itu Saya sedang menunggu Adik saya yang sama di Rawat disini dan kebetulan saya bertemu dengan Fahrul sudah seperti ini," jelas Ussy,
"Pak, Bu. Saya izin pamit ya, saya harus merawat Adik saya. Semoga Fahrul cepat sembuh," lanjut Ussy,
"Iya, Terima Kasih Ya Nak telah memberitahu kami dan membantu Fahrul," balas Papih,
Ussy tersenyum dan berlalu meninggalkan ruangan, Mamih begitu kalut dalam sedihnya, sedangkan Papih berusaha keras untuk menenangkan Mamih yang begitu cemas.
"Semua gara-gara kamu! Kenapa kamu begitu sibuk! Lihat Anak kita sekarang?!" Ucap Mamih kesal,
"Kenapa jadi menyalahkan aku?! Seharusnya Mamih yang menjaga Fahrul!" Balasnya,
"Kamu memang egois!" Kesal Mamih semakin menyulut,
"Ah sudahlah! Aku malas harus beradu mulut dengan mu lagi! Aku capek!" Ucap Papih sambil berlalu keluar ruangan,
"Dasar suami Banjingan!" dengus kesal Mamih,
---
Ussy berjalan menuju ruang Lily, saat melangkah pikirannya kembali mengajak tentang kejadian saat Fahrul menyatakan perasaannya.
"Kalau saja aku terima! Mungkin semua ini tidak akan terjadi kepada Senior!" Sesal Ussy,
"Tapi kenapa? Hati ini sulit untuk menerima?! Aarghh aku benci perasaan ini!"