LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 43



Ussy terus menggenggam tangan Jamy yang mulai terasa dingin, tangisnya membasahi badan Jamy yang perlahan mulai kaku. Jantung mulai berdenyut pelan, nafasnya kini semakin menipis. Raut wajah Ussy begitu cemas melihat kondisi Jamy.


"Ussy Mohon... Kak Jamy harus kuat!! Bertahanlah!!",


Tidak lama kemudian Ambulan berhenti dan segera Tim Medis mengeluarkan Jamy, tubuhnya merebah diatas Blangkar. Dengan cepat para Tim Medis mendorongnya menuju ruang UGD. Ussy terus menggenggam tangan Jamy, langkahnya selalu mengikuti jalur Blangkar.


Akhirnya Blangkar memasuki ruang UGD, kemudian salah satu Perawat melarang Ussy untuk masuk kedalam.


"Maaf, mohon tunggu diluar. Dokter akan segera memeriksa," ucapnya menahan Ussy, lantas menutup pintu ruang.


Langkah Ussy terhenti dan berdiam menetap jendela kecil yang terpasang pada pintu UGD, Ussy memandangi Jamy yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya. Dokter berusaha semaksimal mungkin untuk menolong Jamy.


Kemudian Fahrul datang menyusul Ussy, segera mungkin Fahrul mendekati Ussy yang terus berdiri memandang dibalik jendela dengan mata yang berlinang.


"Ussy.." sahut Fahrul,


Ussy tidak menggubrisnya dan fokus melihat kondisi Jamy didalam, segera Fahrul menarik tangan Ussy hingga membalikan badan dan saling berhadapan.


Mata Ussy begitu sembab, harapannya kosong, dan pikiran cemas yang sangat tergambar jelas di raut wajah. Tangan Fahrul mendarat diatas bahu Ussy.


"Tenang! Semua akan baik-baik saja! Dia akan selamat! Percayalah..", ucap Fahrul berupaya mentenangkan Ussy,


"Kak Ussy sudah jangan menangis lagi.." tambah Lily,


Ussy hanya terdiam bisu, dengan segera Fahrul memeluk Ussy, berusaha memberi semangat kepada nya.


"Aku mohon jangan seperti ini! Tuhan pasti menolongnya! Tenanglah.",


Fahrul terus berusaha untuk mentenangkan Ussy, tangannya terus membelai rambut lembut Ussy. Kemudian Fahrul memapah Ussy untuk duduk dikursi tunggu. Si Bungsu Lily langsung memeluk Ussy dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Kemudian Dokter keluar dari ruang UGD, dengan cepat Ussy langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Dokter dengan ribuan kecemasan.


"Dokter bagaimana keadaan Jamy?!" Tanya Ussy gemetar,


Dilanjut dengan Fahrul mengikutinya, dan bertanya perihal kondisi.


"Karena Luka yang cukup dalam hingga menembus usus yang menyebabkan luka robek yang besar sehingga banyak darah yang keluar dan jantung tidak mampu memompa darahnya lagi. Jadi maaf nyawanya tidak tertolong, kami sudah melakukan yang terbaik." Jelas Dokter,


"TIDAK!! TIDAK DOKTER PASTI BOHONG!!",


Fahrul menahan Ussy yang terus menunjuk kesal kepada Dokter, " Maaf ya Dok.." sahut Fahrul,


"Tidak apa-apa hal biasa bagi keluarga yang ditinggalkan, saya turut bela sungkawa. Permisi," balas Dokter sambil berlalu,


Ussy dengan cepat berlari menuju jasad Jamy, menangisi tubuh yang kini kaku dan dingin, sesekali jasad Jamy diguncang perlahan untuk membangunkan. Namun alhasil nihil, kini Jamy telah meninggalkan dunia lebih dulu membuat Ussy semakin hancur berkeping setelah kesekian kali hatinya terluka menahan rasa ditinggalkan dengan orang yang kita sayang.


"Kak Jamy bohong!! Kenapa Kakak meninggalkan Ussy lebih dulu!!! Kita akan segera menikah!! Ussy benci!!! Ayo bangun Kak!!" Sahut Ussy dengan derai air mata begitu mengalir,


"Sabar Ussy!! Kamu pasti kuat!!" Tepuk lembut Fahrul di bahu Ussy,


"Aku tidak habis pikir dengan Ussy yang seperti ini, sungguh tidak berdaya. Diluar tampak kuat, namun didalam begitu rapuh," Ucap Fahrul begitu tidak tega melihat Ussy yang menangisi Jamy


Pemakaman Jamy segera berlangsung, Mama Jamy ikut serta dalam berlangsungnya pemakaman dengan dijaga oleh dua Aparat kepolisian, Mamanya meneteskan air mata saat jasad Jamy perlahan memasuki liang lahat.


Begitupun dengan hati Ussy yang begitu terpukul oleh keadaan, hatinya masih terasa sakit oleh kepergian Luna sekarang dilanjut oleh Jamy seorang yang paling Ussy sayang dalam hidupnya setelah keluarga.


"Semua gara-gara wanita ****** itu! Yang harusnya mati adalah kamu bukan Anak ku!" Teriak Mama sambil menunjuk Ussy, dengan sigap Polisi menahan Mama agar tidak terjadi keributan.


Segera Fahrul menarik Ussy dan melindungi dari Mama yang begitu ingin mencekik Ussy, Polisi juga terus menahan Mama yang mulai melakukan pemberontakan. Wajah Ussy mulai terlihat kesal dengan Mama yang tidak pernah menjaga perkataannya, hatinya bagai tersulut api amarah.


Mulut Ussy hampir saja ingin membalas ucapan Mama, namun Fahrul segera menghentikan aksi Ussy agar tidak terjadi percekcokan disaat pemakaman sedang berlangsung.


"Sudah Ussy... Sabar, biarkan saja Nenek Sihir itu! Kamu tidak usah menghiraukannya! Nanti akan menimbulkan keributan besar, dia hanya memancing amarah mu!" Bisik Fahrul kepada Ussy,


Setelah mendengarnya Ussy berusaha tenang dan tidak menggubris ucapan Mama. Nafasnya menghela dengan berat saat tanah merah mulai menutupi jasad Jamy, berat bagi Ussy untuk melihatnya.


Ketika itu Fahrul merangkul bahu Ussy, tangisnya semakin terjatuh ketika tanah telah sepenuhnya menutup. Terakhir bunga di tabur diatas pemakaman Jamy. Perlahan para pelayat meninggalkan pemakaman karena upacara telah selesai.


Kemudian Mama segera dibawa kembali oleh Polisi untuk masuk kepada jeruji besi, saat hendak membalik kepada mobil Polisi segera Mama melarikan diri dan mendekati arah Ussy.


"Kamu harus mati!!!" Teriaknya,


Dengan sigap Fahrul langsung memeluk Ussy untuk melindungi dari cengkraman Mama, para polisi langsung menangkap Mama. Dengan segera Mama diseret paksa oleh Polisi untuk masuk ke dalam mobil.


"Maaf Pak atas keteledoran kami," ucap Polisi,


"Baiklah, cepat bawa dia pergi!",


"Tidak!!! Aku tidak mau di penjara!! Lepaskan!! Lepas.." berontak Mama,


Polisi langsung mengikat tangan Mama dengan Borgol, dan akhirnya Mama telah dibawa oleh Polisi. Hanya tertinggal Ussy, Fahrul, dan Lily di pemakaman itu.


"Ayo kita pulang Kak," ajak Lily menarik secuil baju Ussy,


Namun Ussy hanya terdiam kaku meratapi makam Jamy, lagi dan lagi air matanya terjatuh.


"Pangeran... Cepat ajak Kak Ussy untuk pulang, Lily sangat pegal dan lelah," ucap manja Lily kepada Fahrul.


Fahrul mengangguk kepalanya, dan menoleh kearah Ussy. Segera Fahrul membujuk Ussy untuk segera pulang.


"Sudah mari kita pulang.. Ikhlaskan kepergiannya, dia sudah tenang di alam sana. Ayo pulang kasihan Lily, dia sudah terlalu lelah untuk hari ini," bujuknya,


Lantas Ussy segera melangkah kaki untuk pulang, hari sudah mulai jingga dengan cepat Ussy, Lily dan Fahrul untuk memasuki mobil dan segera berpindah ke Jakarta.


Ussy dan Lily duduk dibelakang supir kemudi, lalu dilanjut Fahrul memasuki mobil dan segera menjalankannya. Perjalanan akhirnya dimulai. Namun dibalik kaca Spion dalam, Fahrul melihat Ussy dari balik kaca tersebut, Ussy yang sedang memeluk Lily sedang tertidur, raut wajahnya sangat tergambar keterpukalan yang hebat.


Tidak tega Fahrul melihat kondisi Ussy seperti itu, namun apa daya sulit baginya untuk menghibur Ussy saat berkalut. Mungkin Ussy butuh waktu untuk menenangkan hati nya sendiri.


"Aku yakin kamu kuat! Hati kamu begitu tulus Ussy, aku tersadar kali ini mengapa sulit bagi mu untuk membuka hati," ucap Fahrul dalam hatinya,


"Tapi aku yakin aku bisa menaklukan hatimu!" Lanjutnya,