LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 62



Lily memasang wajah penuh muram, kesal akan Kakaknya yang tak kunjung datang menjemputnya. Beberapa camilan telah habis di lahap mulut kecil dengan kunyahan yang kuat. Bibirnya mulai mengerucut, Fahrul berusaha mengajak bermain agar tidak jenuh. Tapi, apa daya keadaan Fahrul yang tidak bisa bergerak membuat dia terbatas melakukan hal lainnya.


Ditambah Mami yang sudah pergi kembali ke kantornya, meninggalkan Lily dan Fahrul. Hari mulai senja, perlahan Lily menguap dan memejamkan matanya tertidur diatas Sofa.


Ussy kemana sih! Lama banget!


Kesabaran Fahrul mulai menipis, jam semakin berputar memakan waktu. Untuk menghilangkan rasa jenuh, Fahrul membaca beberapa cerita novel. Lembar demi lembarnya telah terbaca. Fahrul semakin asyik ketika menikmati sebuah cerita yang dihidangkan, tak lama kemudian Ussy datang kembali, dengan wajah yang penuh akan rasa lelah.


"Akhirnya kamu datang, dari mana aja?" Fahrul mulai menginterogasi Ussy yang baru saja menutup kembali pintu,


"Maaf...," jawab Ussy singkat sembari berjalan mendekati Lily yang tertidur, segera membopong untuk pulang ke rumah.


"Kamu belum menjawab pertanyaan dariku, dari mana kamu? Apa kamu bekerja lagi?" Fahrul mempertegas,


"Ini bukan urusan Kak Fahrul dan terima kasih telah menjaga Lily, semoga Kakak lekas sembuh...," Ussy langsung pergi keluar begitu saja dengan memangku Lily.


"Tunggu... Ussy..." Fahrul berusaha menghentikan Ussy, namun sayang Ussy sama sekali tidak menggubris sahutan Fahrul.


Dengan cepat Ussy berjalan keluar dan segera menutup rapat kembali pintu, Fahrul hanya tertegun melihat reaksi Ussy yang sungguh berbeda. Membuat pertanyaan besar dalam benak yang semakin mencuat.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Ussy, kenapa wajah dia seakan penuh beban?"


"Ussy ... berapa banyak rahasia yang kamu simpan? Kenapa kamu Tega membuatku merasakan rasa gelisah ini! Bisakah kamu menerima aku? Setidaknya menjadi teman berbicara. Itu sudah cukup membuatku senang."


Perasaan Fahrul semakin menggila, merasa ingin sekali memiliki Ussy. Tapi apakah itu mungkin? Apakah bisa Ussy membuka kembali hatinya? Setelah kepergian Jamy yang menyimpan luka dalam.


...***...


Ditengah perjalanan menuju rumah, Lily terbangun dari tidurnya.


"Kak Ussy...," Lily mengucek matanya pelan,


"Iya Lily? Kenapa kamu bangun? Pasti terganggu ya?" Balas Ussy,


"Kita dimana, Kak?"


"Kita dalam perjalanan pulang, sebentar lagi juga sampai."


Lily hanya membalas dengan tersenyum, mendadak kepala Lily kembali pusing, dengan cepat Lily memegang kepalanya yang hampir terasa pecah. Lily juga meraung kesakitan yang begitu hebat di kisaran kepala.


"Kamu kenapa Lily?!" Seketika Ussy langsung cemas saat melihat Lily,


"Ke-pala aa-ku pusing Kak! Pusing sekali!" Balas Lily dengan terus meringis kesakitan,


"Astaga! Kakak lupa beri kamu Obat! Sabar ya sayang, tahan dulu. Kita akan segera sampai."


Ussy berusaha keras menenangkan Lily, segala upaya telah dikerahkan. Tetap saja Lily merasakan pusing hebat di kepala akibat obat yang belum Lily minum. Taxi langsung berhenti setelah sampai tujuan, segera Ussy turun dan membayar ongkos Taxi. Ussy langsung membopong Lily, segera membuka pintu lalu meraih kotak obat.


Ussy langsung memberikan Obatnya kepada Lily, tanpa lama lagi Lily segera menelan obat dengan segelas air. Beberapa menit kemudian rasa sakitnya mereda, Ussy menghela nafas lega dan mencium puncak kepala Lily.


"Maafkan Kakak ya, Kakak telah lalai menjaga kamu." Ungkap Ussy penuh rasa bersalah kepada Lily,


Lily menyandarkan kepalanya di bahu Ussy, "Kakak tidak salah Kok, malah Lily yang harus minta maaf karena selalu menyusahkan Kak Ussy,"


Ussy langsung merangkulnya dan membelai lembut puncak kepala Lily, lambat laun air matanya tergelincir membasahi rambut Lily.


Lily ... Kamu hanya satu-satunya penyemangat Kakak! Kak Ussy rela lakukan apa saja untuk Lily, asalkan Lily harus tetap ada menemani Kak Ussy...


Tangan Ussy yang terus membelai lembut rambut Lily membuat Lily tertidur dalam peluknya. Ussy segera membopong kembali Lily, memindahkan tidurnya dikamar yang lebih nyaman.


Matahari telah bergilir waktu dengan Bulan dan beberapa bintang yang menabur indah. Malam kini hadir dalam keadaan hangat.


Ussy segera beranjak dari meja belajarnya, setelah menyelesaikan beberapa tugas dari kampus. Kakinya melangkah ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam. Setelah selesai menyajikan, Lily datang menghampirinya karena bau masakan yang begitu menyihir hidung.


"Kak Ussy masak Sup Ayam ya?" Lily langsung terduduk dengan sendok yang sudah dia pegang.


"Iya, tau aja kamu kalau Kakak buat masakan kesukaan kamu...," Ussy membalasnya dengan mencolek hidung Lily,


Lily tersenyum indah, perutnya sudah sangat keroncongan. Apalagi setelah menghirup aroma lezat, membuat perut semakin bersuara. Ussy langsung menyajikan Sup Ayam, mulai melahap makan malam.


Setelah usai sudah menyantap makan malam, segera Ussy merapihkan kembali dan mencuci piring kotor. Lily langsung beranjak dan berlari kecil menuju kamarnya. Setelah selesai, segera Ussy terduduk kembali di Sofa sembari menyalakan Televisi.


Saat Ussy sedang bersantai, Lily datang kembali menghampiri Ussy dengan membawa sekotak berukuran sedang yang berwarna putih dengan pita merah muda.


"Itu apa Lily?" Tanya Ussy,


"Ini kotak peninggalan Kak Una,"


Deg


Sesaat hati Ussy berdesir setelah mendengar nama Luna, sang Adik yang meninggal dengan gantung diri. Dan masih meninggalkan bekas luka dalam. Ussy hanya tertegun, Lily langsung menyerahkan kotak tersebut kepada Ussy.


"Kak una berpesan kepada Lily sebelum dia meninggal untuk menyerahkan ini sama Kak Ussy tepat tanggal kelahiran Kak Una. Sampai sekarang Lily belum tahu apa isi didalamnya."


Tangan Ussy bergetar saat menerimanya, perlahan Ussy menarik pita dan membuka penutup kotak tersebut. Isi di dalamnya banyak sekali foto keluarga beserta teman sekolah Luna, dan beberapa catatan kecil. Segera Ussy membaca catatan tersebut.


 


Dear, Kak Ussy....


Kak Ussy hari ini Luna telah beranjak 14 tahun, tapi sayang sekarang kita telah berbeda alam. Kita terpisah secara paksa oleh dunia yang begitu kejam. Luna harap Kak Ussy selalu tangguh menjalani perjalanan hidup yang begitu gigih.


Luna hanya ingin menyampaikan beberapa orang yang telah Luna temui, dan hidup yang Luna alami... semua penjelasan ada dalam foto itu. Luna akan tenang setelah Kak Ussy tahu yang sebenarnya.


 


Tangan Ussy kembali bergetar setelah membaca surat kecil dari Luna, Ussy langsung mengambil beberapa Foto yang Luna tinggalkan, dibalik Foto tersebut banyak penjelasan.


Dari mulai foto keluarga, Luna menjelaskan perihal rindunya. Dan kejadian janggal atas Ibu yang berubah menjadi gila. Ditambah Beberapa foto teman Luna, diantaranya ada kebusukan Angel yang Luna jelaskan dibalik Foto Angel dengan wajah Angel yang dicoret garis silang oleh Luna dengan spidol merah.


Dia adalah teman Luna yang paling kejam! Dia menindas Luna karena Luna miskin. Dia penyebab Luna depresi setelah pemerkosaan yang dia buat, karena orang yang dia suka malah menyukai Luna! Bren*s*k'kan dia?


Mata Ussy membulat sempurna, setelah mendapati pernyataan pahit dari Luna. Hatinya tertusuk belati tumpul yang mengiris hati dengan pelan yang meninggalkan kepedihan dalam.


Gadis Biadab! , batin Ussy.


Lily memandang Ussy yang perlahan meneteskan air mata, dengan tangan yang mengepal, seakan sedang bertarung emosi. membuat Lily tidak tega melihatnya dan segera menyeka tangis Ussy.


"Jangan menangis Kak ...,"


Ussy memegang tangan Lily yang mengusap tangisnya, dan menatap lembut Lily. Kemudian Ussy memeluk Lily.


"Lily ... Kamu harus tetap ada untuk Kak Ussy, jangan tinggalkan Kak Ussy ya...," Ussy tersedu,


"Iya kakak ... Lily akan selalu ada untuk Kak Ussy,"


Hanya Lily, bintang terakhir Ussy yang tersisa...