
Luna diseret paksa, tubuhnya langsung menghempas sudut tembok. Sakit bukan main meresap kedalam tulang. Sayang matanya masih tertutup enggan terbuka. Efek Obat bius masih tersisa dalam tubuh. Segelas air panas menyiram wajah Luna, membuat kulitnya melepuh dan kini tersadar saat air telah tumpah tepat wajah.
"Arggghh!!! Panas!!" Jerit Luna kesakitan,
Dua orang pria tersebut mendekati Luna, "Akhirnya kamu sadar juga!"
Kaki tangan Luna diikat kuat Membuat Luna sulit untuk memberontak, "Mau apa kalian membawa ku!! Apa salah ku?!" Teriak Luna dengan gemetar,
Pria berbaju biru mendekati Luna dan mencolek dagu Luna, "Jangan terlalu banyak bertanya cantik! Kita lakukan pesta malam ini! Kamu akan menikmatinya!" Ujarnya dengan nada merayu yang membuat Luna semakin membencinya.
"LEPASKAN AKU!! KALIAN PRIA BAJING*N!! BIADAB!! TOLONG!! TOLONG!!" Teriak Luna semakin menjadi,
"Silahkan kamu berteriak sekencang mungkin, percuma kamu berteriak tidak akan ada yang mengetahuinya. Kamu harus patuh dengan kami! Layani kami dengan baik! Dan kami akan memberi kepuasan untuk mu LUNA!" Bisik pria tersebut, membuat Luna semakin membenci dan menitikan air mata kepedihan.
"Kenapa pria ini tau nama ku?! Siapa dia?!!"
Pria berbaju merah sedang berbicara sesuatu dengan seseorang di ponselnya, "Bos target telah kami tangkap, Langkah selanjutnya apa yang harus kami lakukan?" Tanyanya,
"Kalian harus menghancurkan hidupnya, perkosa dan siksa dia! Tapi ingat jangan sampai dia mati!" Perintahnya,
"Baik Bos! Jangan lupa soal bayarannya." Ujarnya dengan sedikit tersenyum kecil.
"Tenang saja masalah bayaran aman! Asalkan kalian harus menjalani perintah saya dengan benar dan saya akan membayar kalian dua kali lipat! Cepat habisi dia!",
"Siap Bos!",
"Tunggu dulu! Biarkan saya berbicara kepada dia, berikan ponselnya kepada dia!" Perintahnya lalu dengan cepat pria tersebut menekan tombol pengeras suara dan mendekati kepada Luna.
"Hallo Luna? Apa kamu mengenali suara ku?" Tanyanya,
Luna berpikir dan berusaha mengenali suara tersebut, "ANGEL! Apa kamu yang melakukan ini semua?!" Jawab Luna tidak percaya setelah mendengar ucapan seseorang di dalam ponsel.
"Betul sekali! Aku ANGEL! Aku berikan kejutan untuk kamu malam ini, pasti kamu menyukai dan selamat menikmati kejutan dari ku hahaha." Ujarnya tertawa puas,
"Kamu gila Angel! Aku salah menilai mu telah berubah!! Apa salah ku?!" Berontak Luna, dengan sigap tangannya yang terikat kini di genggam keras oleh para penjahat tersebut.
"Hahaha.. Lucu sekali kamu bertanya seperti itu, tentu kamu tahu alasan Angel berbuat seperti itu. Semua karena DANIEL! Aku tidak rela kamu dekat dengannya! Apalagi kau berpacaran dengannya! Meski kau menyembunyikan hubungan tetap saja Angel akan selalu mengetahui. Dan ini adalah balasan untuk kamu karena telah merebut Daniel dari ku!"
"ANGEL KAMU GILA!! BIADAB!!" teriak Luna kesal penuh amarah,
"Hahaha.. selamat menikmati malam indah hahaha.." tawanya puas dan menutup panggilan.
"TERKUTUK KAU ANGEL!! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN KAMU!!" sumpah Luna terlontar begitu kencang,
Plakk...
Luna di tampar oleh pria tersebut dan rambutnya dijambak paksa olehnya, membuat Luna meraung kesakitan.
"DIAM KAMU! cukup kau nikmati malam ini hahaha, ayo kita perkosa dia hahaha.." Ujarnya lalu membuka baju Luna dengan merobek paksa,
Seluruh tubuhnya terlihat jelas tanpa sehelai kain. Membuat para penjahat tersebut tergiur melihat moleknya tubuh Luna.
"TIDAKKK...."
***
#BACK TO USSY
"kak Ussy.. selamat tinggal..." ucap Luna tersenyum kepada Ussy, lalu menjatuhkan dirinya ke jurang yang sangat dalam.
"Huft..Huft.. tenang Ussy.. ini hanya mimpi.." ujar Ussy berusaha menenangkan dirinya.
Ussy menoleh kearah jam dinding, jam menunjukan pukul sepuluh malam. Matanya terbangun dari tidurnya di atas setumpuk kertas tugas kuliah yang belum dia selesaikan, Ussy beranjak dari tempat duduk dan pergi menuju toilet.
Ussy membasuh wajahnya dengan air dan memandangi dirinya di depan cermin toilet. "Tenang Ussy! Itu hanya mimpi!".
Namun rasa cemas yang datang secara mendadak masih melekat dipikirnya, membuat hati tidak terasa tenang. Tubuhnya tumbang dibawah kasur, dengan pikir yang berkecamuk.
"Besok aku harus pulang untuk memastikan keadaan!" Ujar Ussy bertekad memaksa diri untuk pulang.
Matanya kembali terpejam setelah tekad telah terucap, hati dan pikirnya tidak sabar untuk menunggu hari esok tiba. Malam berasa panjang saat menunggu mentari terbit. Ussy tutup mata dengan paksa dan segera tidur untuk mengakhiri malam.
---
Malam begitu gelap, angin berhembus dingin. Tidak lama air turun dari langit, begitu deras membuat pohon dan rerumputan basah tertetes air.
"Akhirnya selesai juga! Nikmat sekali wanita ini hahaha tidak sia-sia kita malam ini, sudah dapat uang dapat pula kenikmatan surgawi hahah." Ujar salah satu penjahat sambil memakai bajunya.
Luna menangis tersedu di sudut ruang, menutupi tubuhnya dengan sehelai kain yang telah robek, tawa jahat kedua pria tersebut semakin terdengar, sesekali meminum minuman beralkohol membuat pikiran dan ucapannya semakin melantur tidak terarah.
Tubuh Luna kini telah ternodai oleh manusia bejat yang rela melakukan hanya karena harta. Harga dirinya kini telah robek terkoyak oleh kelakuan manusia yang tidak beradab.
Kedua penjahat tertidur lelap setelah meminum alkohol dan asap rokok yang menyengat masih tercium serta kulit kacang yang berserakan, Luna berpikir keadaan seperti ini adalah keadaan yang tepat untuk melarikan diri.
Dengan segera Luna memakai pakaiannya yang sudah tidak layak, setidaknya menutupi sebagian tubuhnya. Dengan perlahan Luna melangkah dengan mengendap menuju pintu keluar, langkahnya semakin bergetar ketika melewati kedua penjahat yang sedang mabuk tersebut.
Keadaan semakin memungkinkan Luna untuk melarikan diri, namun sayang pintu terkunci, membuat Luna sulit untuk membukanya. Luna berusaha mencari kunci, ternyata kunci terdapat di atas meja yang tertumpuk kulit kacang, Luna perlahan membawanya.
Dan berhasil Luna mendapatkannya. Segera Luna membuka kunci dan berlari, kedua penjahat tersebut mendengar saat suara kunci terbuka dan berusaha mengejar Luna, tetapi kesadaran para penjahat tersebut masih di bawah pengaruh alkohol.
"Sudahlah Bro! Tidak perlu dikejar! Toh dia sudah kita nikmati ini.. biarlah dia pergi, sebentar lagi juga mati hahah.." Ujarnya sempoyongan,
"Benar juga ya haha ayo kita lanjutkan minum." Balasnya sambil memberikan sebotol minuman beralkohol.
Luna berlari dengan kencang, perlahan langkahnya menjadi pelan saat tersadar penjahat tersebut tidak mengejarnya. Di bawah derasnya hujan Luna terus berjalan menyusuri arah jalan pulang, pakaiannya tidak hanya compang camping kini menjadi basah kuyup terguyur air hujan yang begitu deras.
Langkahnya terhenti dibawah derasnya hujan dan lutut tak lagi kuat untuk menopang, kini Luna berlutut dibawah derai hujan, menangis dan menjerit sekuatnya.
"TUHAN!! KAU TIDAK ADIL!! KINI HIDUPKU SEMAKIN HANCUR!! BAPAK TELAH KAU RENGGUT!! IBU TELAH GILA!! DAN SEKARANG KAU MERENGGUT MASA DEPAN KU!! INI TIDAK ADIL!! KENAPA KAU TIDAK MERUNGGUT NYAWA KU SAJA!! ARRGGGGHHHHHHH!!!! LUNA BENCI HIDUP!!",
---
Jam menunjukan pukul satu pagi, Lily tertidur pulas di kursi, menunggu kedatangan kakaknya hingga matanya terlelap.
Tok..tok..
Suara ketuk pintu kini terdengar, Lily langsung terbangun dari tidurnya, segera membuka pintu, berharap Luna telah pulang. Saat Lily telah membuka pintunya, terlihat Luna yang berdiri dihadapan Lily dengan keadaan baju yang basah kuyup dan seluruh tubuh yang kotor penuh dengan lumpur.
"Kak Una? Kenapa baru pulang jam segini? Kenapa Kakak seperti Ini?!" Tanya Lily terkejut melihat penampilan Luna.
Luna menghiraukan Lily dan berlalu begitu saja melewatinya. Luna langsung mengarah kepada kamar mandi, untuk membasuh seluruh tubuh yang telah ternodai. Sesekali tangisan Luna terdengar oleh Lily, membuat Lily semakin cemas akan keadaannya.
Lily mengetuk pintu kamar mandi seraya berucap, "Kak Una baik-baik saja?" Tanya Lily khawatir, namun Luna hanya membisu tidak ingin menjawab pertanyaan Lily.
"Lily telah menyiapkan secangkir teh hangat dan kue jahe untuk kakak, dimakan ya.. Lily tidur duluan." Ucap Lily kemudian pergi berlalu dan tertidur diranjangnya.