
Fahrul menjalan mobilnya dengan kecepatan penuh, kesalnya seakan memuncak setelah melihat Ussy berpelukan dengan Jamy. Hatinya dipenuhi api cemburu. Hampir saja mobilnya menabrak seorang wanita paruh baya yang sedang menyeberang. Dengan cepat Fahrul menekan rem, tubuhnya tersontak ke depan untung tertahan sabuk pengaman.
"Hampir saja!" Ujar Fahrul lega,
Akan tetapi wanita paruh baya itu hanya terdiam, dengan tongkat yang masih dipegang kokoh, dan selendang yang mengkerudung kepalanya.
Tiditt...
Fahrul menekan klakson, namun tetap saja wanita paruh baya itu terdiam membeku. Terpaksa Fahrul turun dari mobilnya dan menegur nenek tersebut.
"Nek! Permisi saya mau lewat! Minggir dulu bisa?!" Ucap Fahrul dengan nada tinggi,
Wanita paruh baya itu menoleh, seketika Fahrul terkejut melihatnya. "OMAH!"
"Sayangi diri kamu! Jangan sia-siakan hidup!" Katanya sepintas,
Fahrul mengucek matanya, tidak percaya apa yang telah dilihatnya. Saat membuka matanya kembali, seketika wanita paruh baya itu hilang dari pandangan Fahrul. Pandangannya memutar segala sisi, mencari wanita paruh baya tersebut. Namun hanya terlihat jalanan sepi.
"Tidak mungkin Omah masih hidup! Pasti itu cuma bayangan aku saja!",
"Mungkin saja Omah memperingati Fahrul..." lanjut Fahrul sambil menghela nafas, dan kembali mengendarai mobil.
***
"Silahkan masuk kak Jamy," Ussy mempersilahkan Jamy,
Jamy terduduk dan menaruh seikat bunga diatas meja. Tidak lama Ussy datang dari dapur dengan membawa secangkir teh hangat. Untuk menjamu Jamy.
"Terima kasih dek Ussy.." ucap Jamy dengan menerima secangkir teh hangat dan mulai menyuruputi,
Ussy kemudian duduk disamping Jamy, dan mulai menghadapinya dengan senyum yang terukir hangat, tanpa basa basi mereka memulai pembicaraan.
"Kenapa kak Jamy tidak memberitahu Ussy kalau kakak mau pulang?" Tanya Ussy,
"Hehe maafkan Jamy ya, karena Jamy mau memberi surprise untukmu hehe... eh sebentar kenapa dek Ussy semakin..."
"Semakin apa?" Potong Ussy,
"Cantik..." gombal Jamy,
Rona merah terukir jelas diwajah Ussy, mereke berdua berbincang dengan asik, dari mulai Jamy membahas kuliahnya selama di jepang serta perjalanan hidupnya. Sesekali tawa terdengar saat mereka berbincang, sungguh hangat keadaan saat itu.
"Jamy dengar beberapa berita sedih menerpa kehidupan mu ya dek? Bapak dan Luna telah meninggal dunia apakah benar?",
"Benar kak Jamy, Bapak telah meninggal beberapa bulan yang lalu, dan disusul oleh Luna yang baru tadi menyelesaikan pemakaman," jawab Ussy dengan raut sedih tergambar jelas di wajahnya, kemudian Jamy menangkup pipi Ussy dan memandangnya serta memberi semangat kepada Ussy.
"Jamy turut berduka cita ya, Jamy yakin dek Ussy adalah wanita tangguh dan mampu melalui ini semua dengan sabar. Oh iya gimana kuliah dek Ussy?" Lanjut Jamy bertanya,
"Terima kasih kak. Kuliah tidak ada masalah, semua berjalan baik." Jawab Ussy,
"Syukur kalau begitu..",
"Oh iya kenapa kak Jamy bisa langsung kerumah Ussy? Apa Mama kak Jamy tidak akan marah?" Tanya Ussy penuh khawatir,
Jamy tersenyum simpul, " tidak akan. Tenang saja Jamy kesini tidak ada yang akan mengetahui,"
"Sampai kapan kak Jamy akan bersikap seperti ini, selalu bersembunyi perkara hubungan kita. Jujur saja Ussy takut menjalin hubungan seperti ini kak!",
Perlahan Jamy meraih tangan Ussy dan menggenggam lalu memandangi Ussy penuh kelembutan.
"Dek Ussy sayang... Jangan takut ya, hari ini Jamy akan membawa kamu kepada keluarga Jamy, dan segera menggelar pernikahan kita," ujarnya tulus,
"Tapi kak Jamy, bagaimana dengan Mama kak Jamy memangnya dia sudah merestui hubungan kita?" Tanya kembali Ussy semakin khawatir,
"Tenang saja sayang.. masalah Mama itu urusan Jamy, yang terpenting kita harus segera menikah. Jamy tidak mau kehilangan Ussy, Jamy sangat sayang sama Ussy, apakah Ussy percaya dengan Jamy?" Ujarnya meyakini Ussy,
"Sangat yakin!" Balas Ussy mengangguk kepalanya,
Jamy lansung memeluk Ussy dengan lembut begitupun Ussy membalas peluk Jamy.
"Jamy sangat sayang Ussy..." ucap Jamy penuh kasih,
"I LOVE YOU USSY..." bisik Jamy, membuat hati Ussy semakin bergetar.
"Love you too.." balas Ussy dengan nada rendah, lalu Ussy melepaskan peluknya namun Jamy tidak ingin melepaskannya dan terus memeluk erat Ussy,
"Jangan dilepaskan! Jamy masih ingin peluk Ussy, Jamy sangat rindu..." pinta Jamy membuat Ussy mengurungkan niat untuk melepaskan peluknya.
Duaggg
Banting pintu terdengar keras, membuat Ussy dan Jamy terkejut seketika mereka melepaskan peluknya. Mama Jamy datang dan memergoki Jamy sedang berada di Rumah Ussy
"JAMY! TERNYATA KAMU ADA DISINI!!" Teriak Mama Jamy dengan nada yang penuh rasa kesal,
"CEPAT PULANG!!" Lanjutnya memerintah penuh kesal,
"Tidak! Jamy tidak mau pulang! Jamy ingin disini bersama Ussy!!" Tolak Jamy dengan tangan yang terus menggenggam tangan Ussy,
"Kamu berani melawan Mama?! Mama sering bilang kepada kamu untuk tidak mendekat perempuan miskin seperti dia!! Mama tidak akan pernah merestui kalian!" Balasnya dengan menunjuk Ussy,
"Ma.. kenapa Mama begitu egois!! Jamy selalu menuruti apa keinginan Mama, tapi soal hati maaf Ma Jamy tidak bisa mengikuti apa yang Mama mau. Jamy sangat sayang sama Ussy, lagian Ussy sekarang kuliah bahkan dia berprestasi! Kenapa Mama tidak pernah menyetujui hubungan Jamy!!! Kenapa ma???" Kesal Jamy,
"Karena dia MISKIN!! Mama tidak mau mempunyai menantu miskin di tambah Ibunya GILA, Adiknya BUNUH DIRI!! apa kata tetangga kalau Mama punya menantu yang masa depannya kelam??" Balasnya sangat menyayat hati Ussy, kepal tangan semakin erat ketika mendengar ucapan sadis yang keluar dari mulut api Mama Jamy.
"Tapi Ussy tidak seperti itu Ma... Ussy wanita baik Ma..." bela Jamy berlanjut, Ussy berusaha untuk tetap diam dan menahan hinaan tapi hatinya semakin memberontak dalam bungkam,
"Baik apanya! Sekali tidak ya tidak! Dan Mama sudah mempunyai calon isteri untuk kamu yang tentunya lebih cantik dari dia! Dan juga lebih kaya serta wanita terpandang! Tidak seperti wanita ini!! Tidak sebanding dengan keluarga kita!" Ucapnya penuh arogan,
"TIDAK! TIDAK JAMY MENOLAK! JAMY HANYA INGIN USSY!" Balas Jamy menolak dengan nada tinggi,
"Kamu harus tetap menikah dengan wanita pilihan Mama! Karena Mama telah menyebar undangan pernikahan kalian!" Paksanya,
"MAMA EGOIS.."
"Cukup!! Cukup sudah!! Ussy tidak ingin mendengar perdebatan lagi!" Potong Ussy segera melerai cekcok antara Mama dan Jamy,
"Mama boleh menghina saya sesuka hati Mama! Tapi saya tekankan lagi untuk jaga ucapan Mama untuk tidak menghina keluarga saya!",
"Dan untuk Kak Jamy, terima kasih atas segalanya dari mulai perhatian dan kasih sayang Kak Jamy kepada Ussy. Apabila kak Jamy sayang kepada Ussy maka menikah lah dengan wanita pilihan Mama kak Jamy. Ussy sudah lelah mendengar penghinaan dan cacian ini! Cukup sampai disini hubungan kita! Maafkan Ussy.." tegas Ussy,
"Tidak Ussy!! Jamy tidak mau menikah dengan wanita itu!!",
"Kak Jamy harus mau! Ini memang sudah jalan takdir cinta kita! Kita tidak akan pernah bersatu!", balas Ussy.
"Tidak Jamy tidak mau!!" Tolak Jamy lagi,
"Ayo Ussy kita harus pergi dari sini! Dan segera menikah! Hiraukan Mama!! Jamy sudah tidak peduli!" Lanjut Jamy menggenggam tangan Ussy,
"Jamy!!! Kamu berani berucap seperti itu kepada Mama!!" Kesal Mama Jamy,
Segera Ussy melepaskan gandeng tangan Jamy, "Maaf kak Jamy, Ussy tidak mau menjalin pernikahan tanpa restu orang tua karena itu akan membuat malapetaka untuk hidup! Cukup sampai disini. Semoga kak Jamy bahagia bersamanya!",
"Tidak Ussy! Aku ingin bersama kamu!",
"Stop! Kak Jamy! Silahkan kalian pergi dari rumah saya!" Usir Ussy,
"Ayo kita pulang!!! Cepat Jamy!!!" Mamanya menarik tangan Jamy untuk segera keluar, namun Jamy tetap enggan untuk pergi.
"Ussy ku mohon... Jangan seperti ini!!" Bujuk Jamy,
"CEPAT KELUAR!!" Sentak Ussy dengan tegas membuat Jamy terdiam dengan air mata yang berlinang, dengan segera Mamanya menyeret paksa Jamy pulang.
Ussy langsung menutup pintu rumah dan segera menguncinya. Ussy bersandar dibalik pintu perlahan tubuhnya melorot kebawah hingga mencium lantai, tangannya melingkar kaki yang tekuk, dan menangis sejadinya.
"arggghh..." jerit Ussy penuh amarah dengan tangis yang pecah,
Lily yang sedari tadi melihat perdebatan antara Ussy dan mereka dibalik bilik kamarnya, langsung menghampiri Ussy dan memeluknya.
"Kak Ussy harus kuat!! Lily ada bersama kakak!" Ucapnya menyemangati.
setelah mendengar ucapan Lily, tangis Ussy semakin pecah.