
Pagi mulai menyambut, mentari kembali tersenyum hangat membawa keceriaan pagi hari. Suasana begitu sejuk dengan dedaunan yang rimbun serta kicau burung begitu merdu, menambah kesan pagi terasa lebih kental.
"Lily... Ayo bangun, kita harus segera bersiap." Ujar Ussy penuh lembut membangunkan Lily,
"Lima menit lagi saja Kak," tawar Lily dengan mata yang masih terpejam,
"Hmm... Dasar tukang tidur." Balas Ussy sambil mencubit manja hidung Lily.
Perlahan Ussy bangkit dan membuka tirai kamar, sesaat matanya terkejut melihat Fahrul sedang tidur di ruang tamu dengan posisi terduduk, sungguh tidur yang sangat tidak nyaman. Membuat rasa pegal yang berbekas disekitar pundak dan punggung.
"Astaga! Kenapa Senior tidur dikursi tamu?!" Sontak Ussy,
Ussy langsung menghampiri Fahrul, sesaat Ussy memandanginya. Tidurnya sangat pulas dengan dengkuran kecil yang terdengar. Ussy tidak tega untuk membangunkannya, lantas Ussy memutar arah menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti ketika tangan Fahrul memegang erat pergelangan tangan Ussy.
"Tolong ada Kecoa, Selamatkan aku!" Ucap Fahrul mengigau,
Tawa kecil tersirat ketika Ussy melihat Fahrul yang sedang mengigau dalam tidurnya. Dengan hati-hati Ussy melepaskan tangan Fahrul yang mencengkram, tidak lama kemudian hal tidak disangka terjadi, secara tiba-tiba Fahrul menarik tangan Ussy dan terjatuh dalam peluknya.
Fahrul sangat memeluk erat Ussy, dalam mimpinya Fahrul merasa mendapatkan Super Hero yang menyelamatkan dari serangan monster Kecoa.
"Pahlawan Ku... Terima kasih.." ujar Fahrul mengigau kembali,
"LEPASIN!!" Berontak Ussy,
"Hey... Hey.. Bangun!!!", Ussy menepuk pipi Fahrul namun tetap saja Fahrul tidak bangun dari tidurnya.
Plakk
Tanpa pikir panjang lagi, Ussy langsung menampar Fahrul dengan keras. Seketika Fahrul tersadar dari tidurnya, tamparan yang begitu keras hingga meninggalkan bekas rasa sakit dengan sedikit merah disekitar pipinya.
"Awww sakit!!!" Raung Fahrul kesakitan,
"Rasain! Cepat lepasin aku!" Berontak Ussy,
Dengan segera Fahrul melepaskan tangan yang melingkar ke tubuh Ussy, kemudian Ussy segera memasang wajah penuh rasa kesal dan sedikit malu terukir jelas di wajahnya yang mulai merah merona.
"Kenapa dia tiba-tiba ada di pangkuan aku?!" Tanya Fahrul penuh rasa bingung,
"Dasar CABUL!" maki Ussy kepada Fahrul,
"Loh emang aku salah apa?!" Tanyanya begitu polos,
"Tau ah! Tanya tuh sama tiang listrik!" Jawab Ussy penuh kesal dengan berlalu begitu saja meninggalkan Fahrul,
"Eh kamu mau kemana?!" Tahan Fahrul,
"Membuat Teh!" Balasnya ketus.
Fahrul hanya menggaruk kepalanya penuh rasa bingung, tangannya mengelus lembut pipi yang terkena tamparan. Tidak lama kemudian Ussy datang kembali dengan membawa secangkir teh hangat dengan aroma Jasmine.
Aroma teh yang kuat dengan perpaduan Jasmine dan kepulan asap masih terlihat, segera Ussy memberikannya kepada Fahrul, agar badannya kembali Fresh setelah semalaman begadang membuat bulatan hitam dimatanya tergambar jelas.
Fahrul langsung menerima secangkir teh hangat yang diberi langsung dari tangan Ussy, perlahan Teh diseruput sedikit demi sedikit masuk kedalam kerongkongan dan berlabuh kedalam perut, menimbulkan rasa hangat dan nikmat. Kemudian Ussy duduk disamping Fahrul dengan jarak tujuh jengkal tangan, ya kisaran segitu.
"Mmm... Sungguh Isteri idaman.." ucapnya dengan nada pelan, membuat Ussy langsung menoleh ke arah Fahrul.
"Apa?!" Balas Ussy meminta pengulangan kata,
"Tidak," Fahrul mengelak.
"Oh iya, kenapa Senior tidur disini?" Tanya Ussy sambil menunjuk kursi,
"Ah itu.. Semalaman banyak kecoa dikamar, ku pikir setelah kamu mematikannya sudah tidak ada. Malah semakin banyak! Dan rasanya ingin teriak, tapi aku takut membangunkan kamu. Jadi ya sudahlah lebih baik tidur diluar saja," jelasnya.
"Hahah... Yaampun segitu takutnya ya Senior sama Kecoa Hahaha.." balas Ussy dengan tertawa terpingkal-pingkal,
Sesaat Fahrul memandangi Ussy yang sedang tertawa, wajahnya sangat cerah ketika tawa terukir jelas diwajah Ussy. Seakan pesona mentari terkalahkan dengan tawa riangnya.
"Cantik ya.." bisiknya dalam hati,
"Bukannya bantuin! Aku gak bisa tidur tahu semalaman!" Fahrul mulai meraju,
"Ah haha... Maafkan ya, habisnya lucu banget!",
Fahrul tersenyum manis melihat Ussy yang penuh dengan gembira. Tawanya mulai mereda, dan memulai percakapan kembali.
"Sebentar ya, aku mau bangunkan dulu Lily," tambahnya sambil berlalu menuju kamar,
"Eh Ussy aku ijin ke toilet ya!" Potong Fahrul,
"Ya,"
***
Disisi lain ada sebuah pengorbanan diri yang termakan api egoisme. Rasanya sakit yang mendalam dan terasa sesak di dada, menggelarkan sebuah pernikahan tanpa landasan cinta.
Jamy terduduk dengan tatapan kosong, air matanya tergelincir menetes membasahi baju suci. Baru kali ini Penata Rias pengantin melihat pengantin bersedih dengan wajah penuh tekanan.
"Mas yang sabar ya.. Tenang saja semua akan berlalu, semua telah takdir Tuhan," ucap penata rias pengantin pria upaya untuk menenangkan Jamy agar tidak kembali bersedih.
Acara akan segera berlangsung, pengantin wanita sudah siap untuk melaksanakan upacara pernikahan. Para tamu undangan telah menghadiri acara tersebut dan sangat menantikan momentum sakral.
Mama Jamy datang menghampiri Jamy yang telah siap dengan balutan Jas mewah yang begitu Stylish.
"Akhirnya... Anak Mama akan segera menikah," ucapnya penuh gembira,
"Ma... Jamy tidak mau menikah dengan dia! Jamy hanya ingin Ussy!" Tolak Jamy,
"Tidak!! Kamu harus menurut kepada Mama! Kamu tau kan hutang kita begitu besar kepada keluarga dia! Dan hanya ini jalan satu-satunya untuk melunasi hutang kita!",
"Tapi Ma... Jamy bisa melunasi hutang itu dengan hasil kerja Jamy!" Kukuh Jamy,
"TIDAK! Kamu harus menurut kepada Mama!" Balasnya menyentak, kemudian Mama Jamy berlalu meninggalkan Jamy.
"Mama Egois!" Kesal Jamy semakin menjulang tinggi.
Jamy melihat sekeliling ruangan, para pengawal Mama menjaga ketat ruangan saat itu hingga sulit bagi Jamy untuk melarikan diri. Seperti tawanan yang ditahan oleh sekawanan iblis.
Tidak ada cara lagi untuk melarikan diri, semua Ventilasi telah terpasang Tralis pengaman dan pintu terjaga oleh dua pengawal Mama. Rasanya ingin menjerit berada dalam ruangan penuh siksa. Pikirnya selalu berputar mencari cara melarikan diri.
Mata Jamy sekilas melirik belati yang tergeletak dipinggir meja pengantin, dengan cepat Jamy menggapai.
"Jangan bergerak semuanya!" Teriak Jamy menakuti,
Para pengawal dengan sigap mendekati Jamy, namun Jamy menodongkan belati tepat di dadanya untuk mengancam.
"Jangan sentuh aku! Siapapun yang berani melawan aku! Aku akan membunuh diriku sendiri!!" Ancam Jamy,
"Minggir kalian!!" Ucapnya kepada para pengawal Mama,
Dengan cepat Jamy langsung melarikan diri dari tempat tersebut, seketika Mama menahannya namun Jamy berhasil mengelak dan melanjutkan pelarian diri.
"Kalian Bodoh! Jagain Jamy saja tidak becus! Cepat kejar Jamy!!!" Perintah Mama dengan nada tinggi,
"Baik Bos!" Balasnya gemetar dan langsung mengikuti perintah.
---
"Loh Senior gak mandi?" Tanya Ussy saat Fahrul keluar dari kamar mandi,
"Gak jadi, kran airnya gak nyala! Apa lagi rusak?" Tanya balik Fahrul,
"Astaga Ussy lupa!" Sontak kaget Ussy,
"Lupa apa?"
"Lupa untuk ngasih tahu Ibu kontrakan kalau aku pindahnya sekarang bukan kemarin, yah pasti sudah dimatikan saluran airnya...",
"Apa kamu bilang? Pindahan?! Maksudnya?" Heran Fahrul,
"Jadi.. Aku dan Lily akan pindah rumah ke Jakarta agar dekat dengan kampus,"
"Lalu dimana Ibu dan adik kamu satu lagi?!" Tanya Fahrul polos,
Deg,
Batin Ussy seketika berdegup setelah mendengar pertanyaan Fahrul cukup menyayat hati, "Akan ku jelaskan nanti!" Balasnya ketus,
"Ya sudah kita bareng aja," ajak Fahrul,
"Tidak usah! Terima kasih! Saya bisa sendiri!" Balas Ussy kembali dingin,
Fahrul mengerutkan dahinya, tidak habis pikir dengan suasana hati yang naik turun didalam diri Ussy, kadang dingin kadang hangat. Akan tetapi Lily bersikukuh untuk pergi bersama Fahrul, namun Ussy melarangnya.
"Kak Ussy... Lily mohon.. Lily ingin naik mobil pangeran.." rayu Lily memohon,
"Hmm.. Baiklah!" Dengan berat Ussy menyetujui,
Keduanya bersorak gembira, Fahrul langsung membawa koper dan dimasukan kedalam bagasi mobil. Lily sangat senang membuat Ussy yang melihatnya menjadi tenang.
"Mari kita berangkat!" Ajak Fahrul penuh gembira begitu dengan Lily,
Saat hendak memasuki mobil perasaan Ussy merasa tidak karuan, namun pikirnya berusaha positif. Tidak lama kemudian teriak seseorang terdengar jelas dari kejauhan.
"Ussy.... Tunggu..." Teriaknya memanggil,
Ussy mempertajam penglihatannya dan panggilan tersebut semakin dekat dan terlihat jelas sosok pria dengan baju pengantin.
"Kak Jamy!!"