
IKHLAS?
Satu kata beribu rasa,
Mudah diucap,
Sulit dilakukan,
Yang dicapai, hilang..
Yang dinanti, padam...
Yang diharap, redam...
Sulit untuk melupakan,
Sulit juga hati untuk menutup segala yang berlalu,
Membuka lembar baru memang sulit,
Namun menuntut untuk ikhlas jauh lebih berat,
***
Ussy bangkit dari tidurnya, melihat arah jendela ternyata senja mulai menyapa. Langkahnya kini bangkit meski hati masih terasa sakit. Raganya berusaha kuat dengan situasi yang sangat darurat.
"Kak Ussy sudah bangun?" Sapa Lily yang mendapati Ussy sedang berdiri disampingnya,
Ussy membalas dengan menganggukan kepala dan tersenyum lalu berlalu ke arah dapur dan meneguk segelas air, terduduk dan menengadah kearah atap langit, air mata tergelincir saat pikiran kembali menerpa kejadian yang menyayat hati.
"Tuhan ku mohon kuatkan hati ini!"
Ussy berusaha menguatkan hatinya, sedangkan pikirnya selalu dihantui akan kejadian pahit yang menerjang diri. Matanya berkedip, tidak terasa air matanya mengalir kembali dengan cepat tangannya mengusap air matanya.
Perlahan Ussy merogoh ponselnya dan menghubungi Rosa, dengan segera Ussy menekan tombol hijau untuk memulai panggilan. Tidak butuh waktu yang lama Rosa langsung menjawab panggilan telpon Ussy.
"Hallo Rosa.." ucap Ussy memulai percakapan,
"Oh iya, ada apa Ussy?"
"Ussy mau ijin tiga hari tidak masuk kuliah,"
"Lah mau kemana sy?" Tanya Rosa memotong,
"Ussy baru saja dapat musibah, adik Ussy meninggal dunia dan Ussy akan mengurus perpindahan rumah dulu. Jadi tolong ya Ros bantu Ussy untuk membuat surat ijin tidak hadir," jelas Ussy,
"Astaga! Aku turut berduka cita ya.. semoga kau sabar dan diberi ketabahan untuk menjalani ujian ini, masalah surat ijin pasti akan ku buatkan." Sontak kaget Rosa ketika mendengar kabar buruk Ussy,
"Terima kasih, Ros." Jawab Ussy dan mengakhiri panggilan tersebut,
Ussy mematikan panggilannya dan menyimpan kembali ponselnya kedalam saku baju, tidak lama kemudian Lily datang menghampiri Ussy.
"Kak Ussy.. ",
"Iya Lily ada apa?" Tanya Ussy dengan mengelus rambut Lily,
"Tadi kak Ussy bicara dengan siapa?" Tanyanya kembali dengan lugu,
"Hanya teman Kakak, oh iya apa Lily lapar?",
Kemudian Lily membalas dengan anggukan kepalanya dengan pelan, "ya Sudah bagaimana kita jalan-jalan sore sembari mencari makanan, gimana Lily mau tidak?" Ajak Ussy,
"Mau! Ayo... cepat Kak Ussy, Lily sudah lama tidak bermain bersama kak Ussy!" Lily sangat bersemangat setelah mendengar ajakan Ussy, dan menarik narik tangan Ussy untuk segera melakukan ajakannya.
Ussy tersenyum melihat Lily kembali bersemangat, kemudian Ussy beranjak dan segera berjalan menuju luar rumah. Dengan segera Ussy keluarkan sepedanya. Saat mengeluarkan sepeda menuju keluar pagar seketika langkahnya terhenti melihat sekotak makanan yang berserakan tepat didepan pagar masuk rumah.
"Sampah makanan siapa ini?" Tanya Ussy
terheran sambil memandang arah Lily, namun Lily hanya membalas dengan gelengan kepalanya.
"Bukankah makanan itu adalah makanan kesukaan kak Ussy ya?" Tanya balik Lily,
"Iya benar, kakak sangat suka makanan ini. Tapi siapa yang berani membuang makanan tepat depan rumah kita! Tidak sopan!" Jawab Ussy sedikit kesal, kemudian Ussy buang sekotak makanan tersebut ke tong sampah.
Setelah membuangnya, Ussy langsung memboseh sepedanya dan menikmati senja di sepanjang perjalanan. Akan tetapi Lily hanya terdiam tidak seperti biasanya banyak bercerita ketika diboncengi oleh Ussy.
"Kenapa Lily diam saja? Apa Lily tidak senang?" Tanya Ussy memecah lamunan Lily,
"Tidak kak, Lily sangat senang. Cuma Lily teringat kak Una," jawabnya penuh raut sedih tergambar jelas di wajahnya,
Akhirnya Lily tersenyum dan ceria kini hadir kembali kepadanya. Mereka berdua berbincang kembali sepanjang perjalanan sesekali tawanya terdengar. Ussy memberhentikan sepedanya di salah satu rumah makan dan menaruhnya di tempat parkir yang telah disediakan oleh tempat tersebut.
Ussy segera mengajak Lily masuk kedalam, tangan Lily enggan melepaskan gandengannya. Saat Ussy mulai masuk ke dalam dan perlahan membuka pintu Cafe, lalu berjalan menuju arah kasir.
"Hallo mbak, saya mau pesan makanan." Ucap Ussy kepada mbak Ella yang sibuk dengan buku laporannya,
"Mbak tinggal duduk dan pelayan akan segera da..." ucapnya terhenti ketika mendongakan kepala dan melihat Ussy di depannya.
"Astaga.... dek Ussy..." sontaknya bahagia melihat kehadiran Ussy, dengan cepat Ella keluar dari meja kasir dan memeluk erat Ussy.
"Yaampun dek Ussy kenapa baru kesini lagi... Mbak sangat rindu.." ucapnya,
"Ussy juga sangat rindu hehe.." balas Ussy, kemudian Ella melepaskan peluknya, sedikit pertanyaan terlontarkan dan perbincangan terjadi diantara keduanya. Segera Ella mempersilahkan Ussy untuk duduk di meja yang berada dekat dengan meja kasir.
"Oh iya mbak Ella kenalkan ini adik saya yang bungsu namanya Lily," ucap Ussy memperkenalkan Lily,
"Ya ampun... lucu banget sih dek.. kelas berapa sayang?" Tanya Ella lembut,
"Lima" jawabnya sedikit malu,
"Oalah .. kamu lapar ya.. mau makan apa dek?" Tanya kembali Ella yang semakin gemas dengan Lily,
Namun Lily hanya diam dengan sipu malu, lalu Ussy menengahinya. Perbincangan mereka sangat terdengar ramai dengan tawa yang jelas terdengar membuat Lily sedikit terhibur.
"Boni... Boni.. cepat kesini..." teriak Ella memanggil,
"Iya mbak.. ada apa?" Seketika Boni keluar dan memunculkan dirinya, wajahnya terlihat melongo setelah melihat Ussy dengan cepat menghampiri dan memadu rindunya.
"Ya ampun ternyata ada dek Ussy, bagaimana kabarnya?",
"Baik kak Boni." Jawab Ussy dengan tersenyum,
"Heh Boni cepatlah kau buat makanan yang enak untuk mereka berdua ini." Suruh Ella,
"Oke" balas Boni sambil menjentikan ibu jarinya, dengan segera kembali ke dapur. Dan tidak butuh waktu lama hidangan sial disajikan.
"Makanan telah siap, selamat menikmati..." saji Boni dengan wajah tersenyum riang,
"Wow..." Lily terpesona akan masakan yang telah disajikan membuat matanya tidak ingin lepas dari pandangan indah, Ussy mempersilahkan Lily untuk makan lebih dulu. Tanpa waktu lama Lily langsung menyantapnya begitu nikmat.
"Isshh gemas kali sih adik mu ini Ussy, berasa ingin ku bawa pulang," Canda Ella, Ussy tertawa bersama mereka. Suasananya sangat hangat disana.
***
#POV IBU
Ibu yang terlihat dipojok taman dengan bersandar dibawah pohon, hanya terdiam mematung dengan pandangan kosong. Tidak lama kemudian seorang perawat datang menghampiri Ibu, memberi Ibu sebutir obat dan segelas air. Tidak perlu waktu lama Ibu untuk memakan Obat, bisa dibilang Ibu merupakan pasien yang tidak sulit meminum Obat sehingga memudahkan pengobatannya.
Setelah perawat pergi, Ibu kembali termenung dengan memeluk sebuah bantal yang selalu dibawanya. Bibirnya sering berbicara sendiri seakan mempunyai dunianya sendiri. Kemudian datang seorang pria memakai masker penutup mulut ditambah balutan jaket kulit, dan topi.
"Selamat sore Surni, bagaimana kabar mu?" Tanyanya sambil tersenyum simpul,
Ibu tidak menggubrisnya, hanya terdiam dengan terus memeluk bantal. Pria tersebut langsung mendongakan kepala Ibu dengan paksa sehingga Ibu meraung kesakitan.
"Heh! Surni kamu memang benar-benar gila! Hingga lupa dengan namamu sendiri!",
Mata Ibu membulat sempurna setelah memandang wajah pria tersebut dengan dekat. Seketika Ibu teriak histeris akan keberadaan pria tersebut.
"Pergi kamu pergi...!!! Manusia KEPARAT!! Pergi!!!",
"Tenang saja aku akan pergi dari sini! Aku hanya ingin memberitahukan kamu perihal anak mu Luna. Dia telah meninggal!!" Ucapnya dengan nada yang begitu menyeramkan,
"Tidak!! Luna tidak meninggal!! Luna masih hidup!!" Teriak Ibu,
Jlebb..
Jarum suntik langsung menancap tepat di lengan Ibu, pria tersebut memasukan suatu cairan obat kepada Ibu. Ibu seketika meraung kesakitan dengan segera pria tersebut membekam mulut Ibu.
"Ternyata kamu mulai pulih ya! TAPI KAMU TIDAK BOLEH MENJADI WARAS! sebelum Ussy anak kesayangan mu berada dalam genggaman saya!" Ujarnya berbisik kepada telinga Ibu.
Segera Ibu menggigit tangan pria tersebut, sehingga melepaskan bungkamannya, "TIDAK..! USSY TIDAK AKAN..."
Brukk
Ucapan Ibu terpotong dan langsung menutup matanya tidak sadarkan diri setelah obat yang disuntikan telah bereaksi. Pria tersebut langsung terkekeh saat melihat Ibu jatuh pingsan.
"Kamu harus tetap menjadi gila, Surni hahaha" ucapnya puas lalu pergi meninggalkan Ibu begitu saja.