
"Siapa Itu?!"
Ussy ketakutan bukan main ketika jendela terus di ketuk oleh orang misterius, tangannya berusaha menggapai belati disampingnya. Perlahan Ussy mendekati jendela tersebut dengan belati yang digenggam kuat.
Semakin mendekat, semakin bergetar tubuhnya. Keringat dingin bercucuran. Memberanikan diri untuk membuka jendela. Sempat terbesit untuk membiarkan saja, namun semakin dibiarkan semakin jendela di ketuk dengan keras.
Ussy sengaja tidak membuka Tralis jendelanya, lalu Ussy perlahan mendekati jendela, dan membuka tirai.
Srekkk...
Tirai terbuka dengan sekejap.
"FAHRUL?!" Ussy terkejut ketika yang dia lihat adalah Fahrul dengan wajah yang lemas dan tangan yang terluka, darahnya menetes bercucuran. Ussy langsung membuka tralisnya dan pintu jendela.
Ussy langsung memapah Fahrul masuk kedalam kamar, kemudian Fahrul terduduk di kursi belajar Ussy. Tangannya penuh goresan luka yang menimbulkan darah menetes ditambah lengannya yang terbesit benda tajam, lukanya menganga besar membuat daging bagian dalam terlihat jelas.
Fahrul terus meringis kesakitan menahan rasa linu campur perih atas luka di lengan dan telapak tangannya. Ussy bergegas membawa kotak obat, memberikan pertolongan pertama. Perlahan Ussy membersihkan seluruh luka yang ada di tangan Fahrul, kemudian memberikan obat merah untuk menghentikan pendarahan di lukanya.
"Awww.. sakit.." Fahrul meringis kesakitan ketika obat merah mulai menetes di pusat luka.
"Tahan sebentar." Balas Ussy yang terus fokus mengobati Fahrul.
Seluruhnya telah dilumuri obat merah, kemudian Ussy meraih kain perban. Dengan segera Ussy balut lukanya dengan kain perban, upaya untuk menutupi luka dan menghentikan pendarahannya.
"Kenapa Senior bisa seperti ini?" Tanya Ussy khawatir,
"Karena kamu." Jawabnya, membuat Ussy terdiam lalu tertegun.
"Maafin aku, bukan maksud aku menghina kamu..." ucap Fahrul yang langsung dipotong oleh Ussy.
"Stop gak usah dilanjutin!" balas Ussy, membuat Fahrul terdiam dan mengurungkan niatnya untuk berbicara kembali.
"Kenapa harus lewat jendela sih?! Dan kenapa juga bisa sampai berdarah kaya gini! Kan bisa datang secara baik-baik bukan menerobos kaya gini! Jangan buat orang khawatir!" jelas Ussy kesal, sambil menaruh kembali kotak obat.
"Awalnya aku datang secara baik-baik, tapi Ibu pemilik indekos ini negur aku karena tidak menerima tamu lebih dari jam sepuluh malam. Dan dimana diterima masuk juga, kamu mana mau keluar,"
"Jadi ya terpaksa aku panjat dinding dan menerobos secara paksa, aku gak mau salah paham terus! Aku gak bisa marahan sama kamu Ussy! Dan ini tangan berdarah karena saat panjat ternyata ada banyak pecahan beling, yang sengaja di taro. Otomatis kena dan mengorbankan tangan ini!" Jelas Fahrul.
"Apa Senior GILA! Udah tau dinding pagar ditambah pengaman pecahan beling, kenapa harus memaksakan diri!" Timpal Ussy kesal.
Fahrul meraih tangan Ussy dan berucap, "Iyaa emang aku udah GILA! Aku tergila-gila sama kamu, Ussy! Semua dalam pikiran aku ya kamu! Ussy! Ussy lagi lagi lagi dan lagi! Aku sendiri cape mikirin kamu mulu! Pliss maafin aku!" Balas Fahrul dengan mata yang berkaca-kaca.
Ussy melepaskan perlahan genggaman Fahrul, "Ussy sudah memaafkan Senior. Dan apa yang telah di lakukan senior, ini terlalu berlebihan. Menaruhkan nyawa sendiri! Ussy tidak suka!" Ucap Ussy dengan nada yang kecewa,
Fahrul hendak membalasnya namun segera Ussy melanjutkan kembali berucap, "Sudahlah! Ussy tidak mau berdebat untuk hal ini. Silahkan senior istirahat disini. Ussy akan tidur di sofa."
Lalu Ussy bangkit dan mendekati sofa yang berhadapan dengan meja riasnya, disana Ussy tertidur memejamkan mata dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
Fahrul hanya terdiam dengan seribu bahasa. Tidak menyangka sikap Ussy sangat berbeda dengan wanita lain yang Fahrul kenal, Ussy adalah wanita yang teramat istimewa di matanya.
Dan Fahrul masih diam dalam rasa bingung, dalam benaknya selalu berkata ini bukan dirinya. Belum pernah Fahrul merasakan perasaan hingga sedalam ini sampai rela menaruhkan nyawa hanya demi bertemu denga Ussy.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa bisa bertindak sampai sejauh ini! Apa ini yang dinamakan rasa suka? Atau Cinta? Arggghh!!! Gila kamu Fahrul!!" Gerutu Fahrul dalam hatinya,
"Eh bentar! Ini aku tidur di kasur Ussy, tandanya aku bisa tidur di bantal yang biasa Ussy pakai itu artinya aku tidur bareng Ussy. Uhuyyyy asikkk haha." Ujar Fahrul dalam hati penuh girang, senyumnya terukir manis. Langsung memejamkan matanya dan memeluk bantal Ussy.
"Hmmm... wangi banget!" Lanjut Fahrul yang terus memeluk bantal Ussy.
Ketika malam tiba sunyi mulai terasa. Hanya suara hening yang menemani dengan rumput dan daun yang bergoyang di hembus oleh angin yang sepoi-sepoi. Dinginnya udara malam terasa menusuk hingga ke tulang, udara malam yang tak dapat di ungkapkan bagaimana rasa nya membuat tubuh ini menggigil.
langit malam yang sangat indah, terang nya bulan malam ini dengan hadir nya bintang yang tak terhitung banyak nya berkelap-kelip di langit yang luas.
Hanya udara dingin malam ini yang mungkin dapat menenangkan sedikit pikiran dan menemani hening di sekitar malam ini, semakin larut malam di rasakan betapa bertambah dinginnya udara yang berhembus.
Saat malam semakin berlarut, suara menggigil terdengar. Fahrul seketika terbangun saat mendengarnya, dan beranjak dari tidurnya. Menghampiri Ussy dan membopong Ussy menuju ranjang, Bertukar tempat tidur.
"Kenapa aku bodoh banget sih! Masa iya tega lihat wanita tidur di sofa. Hmmm meskipun kamu nyebelin pake banget, tapi saat lihat kamu tidur cantik ya." Ujar Fahrul sambil memandangi Ussy yang tertidur lelap.
"Selamat tidur bidadari galak ku." Lanjut Fahrul lalu mengecup kening Ussy dan segera berjalan menuju sofa. Kemudian melanjutkan tidurnya.
***
#POV IBU
Malam begitu dingin menusuk jiwa, anginnya berhembus hingga angan. Suara tawa lepas terkadang terdengar jelas, ataupun jeritan tangis pedih menusuk telinga.
Perawat yang berlalu lalang sibuk mengurusi pasiennya. Obat yang selalu diantar tepat pada waktunya, memberinya dengan cara yang berbeda. Namun ketika malam tiba, semua hening dalam istirahat nya, terpejam dalam tidur.
Mata Ibu masih terbuka, enggan untuk menutup. Pikirannya selalu kacau, pandangannya kosong. Bulatan hitam kini melingkari kelopak matanya, bibirnya kering dan sedikit membiru, wajahnya putih pucat, rambut yang dulu lurus tertata rapih kini berantakan tanpa arah. Jari tangannya selalu digigit sambil terus menatap kosong.
Ibu yang terdiam dengan jari tangan yang selalu digigit. Di atas Blangkar dengan balutan Seprei dan selimut serba putih menjadi suasana khas dalam ruangan rawat inap, namun ruangan ini berbeda dengan ruangan lainnya yang berisi pasien normal. Ruangan khusus yang dibuat untuk pasien dalam mental yang rusak. Ibu hanya terduduk enggan untuk tertidur.
Suara pintu terbuka, kemudian datang seorang perawat dengan seragam putih dan obat yang dibawanya serta segelas air putih, menghampiri Ibu.
"Ibu, waktunya untuk minum obat ya..." Ujarnya sambil memberikan obat kepada Ibu.
Kemudian Ibu meminum obatnya dengan bantuan perawat, obatnya mulai ditelan dengan seteguk air membuat obat perlahan masuk kedalam kerongkongan lalu menuju perut. Tugas perawat kini telah selesai, dan kembali keluar meninggalkan Ibu sendirian.
Pintu kembali tertutup, namun Ibu masih terdiam kaku. Lambat laun Ibu mulai mengantuk mungkin efek dari obat tersebut sudah mulai reaksi, perlahan mulai memejamkan matanya.
Ceklekkk..
Suara pintu terbuka kembali, seseorang datang menghampiri Ibu, perlahan Ibu membuka matanya dan terduduk.
"Suster mau apalagi? Saya sudah minum obatnya!" Ujar Ibu kesal.
Namun pikir Ibu salah, bukan seorang perawat yang datang akan tetapi pria dewasa dengan kacamata hitam dan badan yang tinggi tegap, berbalut baju serba hitam. Memberi kesan yang menyeramkan.
Perlahan pria tersebut membuka kacamata yang dia kenakan, "Surni bagaimana kabar mu? Apakah kau mengingat siapa aku?" Tanyanya penuh misteri.
Ibu langsung membelalak matanya, tangannya meremas keras bantal, saat melihat Pria tersebut. "KAU MANUSIA JAHAT! BIADAB! PERGIII KAMU!!" jerit Ibu.
"Hahaha dalam keadaan gila pun kamu masih mengenalku. Sungguh menakjubkan!" Balasnya,
"PERGI KAMU!! PERGI!! PERGIIII!!!" Teriak Ibu semakin histeris.