LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 51



Wajahnya penuh rasa cemas, tangannya selalu meremas cemas. Mulut tidak henti berkomat kamit mengucap do'a yang terpanjat untuk keselamatan Lily, pengobatan Kemoterapi cukup memakan waktu membuat hati semakin gundah.


Ussy terduduk menunggu pengobatan Lily selesai, lalu datang seseorang dan menyapa Ussy, tangannya menepuk pundak Ussy membuat Ussy langsung menoleh arah sahutan.


"Kamu yang namanya Ussy'kan?" Tanyanya,


"Betul, anda siapa ya?" Balasnya sedikit mengerutkan dahi,


"Apa kamu sudah lupa dengan saya? Saya Ibunya Fahrul, saya mencari-cari kamu dari kemarin."


"Oh iya, maaf Bu saya sedikit pelupa hehe, memang ada apa Ibu mencari saya?" Balas Ussy,


"Sebelumnya saya mau mengucap Terima kasih, karena kamu telah menyelamatkan Fahrul. Maaf ya saya telat mengucapkannya karena kemarin begitu sedih melihat anak saya," jelasnya,


"Oh iya Bu, tidak perlu sungkan. Sekarang bagaimana keadaan Fahrul?"


"Fahrul telah siuman sekarang, saya sangat lega dan tenang, namun Fahrul terus menanyakan kamu dan ingin bertemu dengan kamu."


"Maaf memangnya ada apa ya Bu?" Tanya Ussy sedikit terheran,


"Saya tidak tahu, tapi Fahrul sangat ingin bertemu dengan kamu. Ibu Mohon temui dulu Fahrul ya.." paksa Mamih,


"Pasti perihal hubungan," ucap Ussy dalam hatinya sedikit menghela nafas,


"Kamu mau'kan?" Tanya kembali Mamih memastikan,


"Iya Bu saya akan menjenguk Fahrul, tapi setelah pengobatan Kemoterapi Adik saya selesai, saya akan segera kesana." Jawab Ussy lembut,


"Astaga! Adik kamu sakit apa?" Tanya Mamih sedikit terkejut,


Lantas Ussy menjawab dan memberi penjelasan tentang kondisi Lily, hati Mamih begitu sedih setelah mendengar akan kondisi Lily yang memiliki penyakit ganas di usianya yang sangat muda.


"Kamu yang sabar ya Nak, Saya sangat prihatin dengan keadaan Adik mu, Ibu berdo'a semoga lekas pulih dan sehat kembali ya untuk Lily." Ucap Mamih dengan membelai lembut bahu Ussy,


Ussy membalas dengan senyum yang mengembang, "Amin, Terima Kasih Bu."


"Ya sudah, saya akan menemani kamu sampai pengobatan Adik kamu selesai," lanjut Mamih,


"Tidak usah Bu, saya tidak ingin merepotkan," tolak Ussy,


"Tidak apa-apa, lagian saya sedang lenggang." Balas Mamih dengan tersenyum,


Kemudian Ussy menganggukan kepalanya, dan mempersilahkan Mamih untuk duduk di sampingnya. Perilaku Ussy sangat sopan membuat Mamih menyukainya. Tutur kata lembut menambah penilaian baik dimata Mamih. Keduanya saling berbincang dengan bahasan yang satu laras.


Perbincangan tersebut mengalihkan pikiran Ussy yang resah, dan tidak terasa pengobatan Lily telah selesai. Dokter segera keluar dan kedua Perawat segera membawa kembali Lily kepada ruang rawat inap.


Hati Ussy lega setelah Kemoterapi berjalan dengan lancar, tubuhnya terbaring lemah, lalu perawat menutup dengan sehelai selimut agar Lily tidak kedinginan.


"Kemoterapi berjalan lancar, mungkin ini akan memberi efek lemas terhadap tubuh. Maka dari itu, saya sarankan Lily untuk istirahat dan meminum obatnya setiap hari," tutur Dokter,


"Baik Dok, Terima kasih."


Setelah itu Dokter dan perawat pergi keluar ruangan, Ussy membelai lembut rambut Lily, matanya mulai berkaca memandangi sang Adik yang terbaring lemah dan berusaha melawan penyakitnya.


"Lily kamu pasti kuat! Kamu pasti sembuh!" Tegas Ussy dalam hati penuh rasa yakin.


Ussy mengecup kening Lily, lalu Mamih mendaratkan tangannya di bahu Ussy sembari tersenyum, "yang sabar ya Nak, pasti Adik kamu akan sehat kembali," tuturnya menyemangati,


Air mata yang hampir terjatuh dengan cepat Ussy usap dan membalikan badan, "Amin, Terima kasih Bu,"


---


Sesuai dengan janji Ussy setelah pengobatan Kemoterapi Lily selesai Ussy akan segera datang menjenguk Fahrul. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dengan ruangan Lily.


Akhirnya telah sampai sudah, Mamih segera membukakan pintu ruangan, kaki Ussy seketika terpaku didepan pintu saat melihat Fahrul yang terbaring lemah dengan selang Infus yang masih melingkar.


Sesaat Fahrul menoleh ke arah Ussy yang terdiam di depan pintu seakan enggan untuk masuk. Mata Fahrul begitu sayu lemah tidak berdaya, lantas Mamih memapah Ussy untuk segera masuk.


Ussy duduk disebelah Fahrul, matanya tidak mampu memandang Fahrul, sungguh suasana yang begitu canggung. Di tambah Mamih pergi begitu saja meninggalkan Fahrul dan Ussy menambah suasana semakin dingin.


"Apa kamu khawatir?" Tanya Fahrul lirih,


Ussy hanya terdiam kaku tidak membalas pertanyaan, Fahrul menggapai tangan Ussy, dengan Refleks Ussy menoleh ke arah Fahrul. Mereka saling memandang satu sama lain.


"Diam berarti Ya! Apa kamu tahu Ussy, hati seseorang terkadang berubah dengan seiring waktu berjalan? Meskipun sulit bagi mu untuk menerima cinta baru namun aku yakin kamu akan bisa menerima cinta kembali," ujar Fahrul,


"Kenapa Senior bisa mencintai ku? Bukankah kita saling membenci?" Tanya Ussy,


"karena kamu berbeda dari yang lain! Aku menyukai mu!" Tegas Fahrul,


Drett.. Drett..


Seketika ponsel Ussy bergetar, Notifikasi panggilan masuk dari Mr. GE, tangan Ussy segera melepaskan dari genggaman Fahrul dan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Kamu harus datang hari ini juga! dalam dua puluh menit kamu sudah ada!" perintah Mr. GE tegas,


"Baik,"


Ussy melepaskan genggaman tangan Fahrul, "Maaf Senior, aku harus pergi. Semoga lekas sembuh," cakap Ussy sambil berlalu,


Fahrul berupaya untuk menahan Ussy untuk tidak meninggalkannya begitu saja, namun sayang Ussy tidak menggubris sahutan Fahrul. Hatinya sedikit tersayat saat Ussy pergi berlalu.


Ussy berpapasan dengan Mamih dan segera mengucap pamit kepada Mamih, tidak perlu cakap panjang Ussy langsung melanjutkan perjalanannya.


Langkahnya berbelok ke arah ruangan Lily, terlihat jelas Lily masih memejamkan matanya. Ussy meninggalkan secarik pesan diatas Meja samping Lily dan mengecup kening Lily dan mulai kembali melakukan perjalanan.


"Kak Ussy pergi dulu ya sayang.. kamu harus jaga diri baik-baik yah, tunggu Kakak pulang!"


***


Pandangannya tidak henti melihat Jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan, sisa waktu sepuluh menit lagi. Namun sayang di pertengahan jalan seketika macet, Ussy semakin cemas kita jalanan mulai dipadati kendaraan.


"Kenapa harus macet sih!" Dengus kesal Ussy,


Matanya selalu melihat arah jalanan yang padat, kendaraan yang Ussy tumpangi sulit untuk bergerak hanya terpaku. Raganya mulai gelisah saat waktu semakin menipis.


"Gawat!"


"Kenapa bisa macet ya Pak?" Tanya Ussy kepada supir taksi,


"Maaf Mbak, didepan sedang ada perbaikan jalan. Jadi agak macet," balasnya,


"Argh! Sial!" kesal Ussy semakin menjadi,


"Ya sudah Pak, saya turun disini aja! ini ongkosnya," ucapnya sembari membuka pintu mobil dan keluar.


Tubuhnya yang mungil sangat lihai saat menerobos jalanan sempit, kakinya terus melangkah hingga tujuan. Jalannya menuju arah Trotoar dan berlari begitu cepat dengan dengus nafas yang terengah.


"Astaga! satu menit lagi!" Ucapnya semakin gelisah ketika melihat jam tangan,


Ussy berlari semakin cepat dan akhirnya sampai tujuan, dengan cepat memasuki dan berjalan menyusuri ruangan yang dituju. Ussy membuka pintu dan terlihat jelas Mr. GE sedang menunggu.


"Kamu telat Dua menit!" Ucap Mr. GE dengan nada tinggi,


"Maaf.." balas Ussy lirih,


Brakkk


Dengan keras Mr. GE menggebrak meja kerjanya, menimbulkan suara yang menggelegar membuat Ussy bergetar akan reaksinya. Mr.Ge segera mendekati Ussy perlahan dan mulai menatap dengan tatapan sinis.


"Kamu tahu'kan saya tidak suka kata terlambat?"


Ussy hanya tertegun penuh takut, Mr. GE mendongakan dagu Ussy, "Sesuai perjanjian, kamu akan mendapatkan hukuman!"


"Hukuman apa yang pantas ya..." lanjut nya sembari melangkah kaki membelakangi Ussy,


tangan mendarat di bahu Ussy dan mulai membisikkan, "sepertinya darah kamu sangat manis sayang... Bagaimana apabila kamu memberikan darah mu sedikit saja kepada ku sebagai penebus hukuman?" Ucapnya dengan menjilat kecil telinga Ussy. Membuat Ussy semakin Jijik atas perilakunya.