LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 69



"Kalian hebat!" Puji Mr. GE kepada Ussy dan Anton.


Mereka berdua hanya membalas dengan senyum puas, dan menghela nafas lega karena misi berhasil.


Perlahan Albert mulai sadar, pandangnya yang bermula kabur ketika mendapati cahaya silau dari sorot lampu, lambat laun menjadi jelas, tangannya terikat pada kursi begitupun dengan kaki yang terikat juga membuat dia sulit untuk memberontak.


Pandangannya melihat sekeliling ruangan yang hanya ada dirinya, GE yang sudah ada di depannya dan Ussy serta Anton yang ada dibalik layar menonton keduanya.


Apa yang akan di lakukan Mr. GE terhadap Albert?


Tanya dalam batin Ussy yang memberontak ingin meluap, kemudian Ussy memberanikan diri untuk bertanya kepada Anton yang berada disebelahnya dengan mulut yang sibuk mengunyah roti isi daging yang dia pesan.


"Menurutmu, Apa yang akan dilakukan Tuan?"


"Aku tidak tahu," Balasnya santai membuat Ussy memalingkan wajahnya kesal akan jawaban Anton yang santai tidak tahu, seakan dalam pikirannya hanya harta.


Kemudian Ussy menatap kembali menonton Mr. GE yang sedang melontarkan beberapa kata interogasi.


"Hallo Albert ... kita bertemu kembali," Sapa Mr.Ge dengan tersenyum licik.


"Ternyata kamu yang membawa aku! Apa yang kamu inginkan! Sampai membawaku dengan cara murahan seperti ini, cih!" Balas Albert dengan meludah dihadapan Rivalnya itu, beruntung Mr. GE segera menghindar.


"Sungguh tidak sopan," Mr. GE hanya terkekeh dengan jawaban angkuh Albert.


"Apa yang kamu inginkan!?" Tanyanya dengan nada meninggi.


Mr. GE semakin tertawa licik dia berbalik badan, lalu berjalan pelan menghampiri sebuah peti mati yang tersimpan. "Rileks ... kawan..,"


"Apa kamu tahu isi peti itu apa?" Tanya Ussy kembali kepada Anton.


"Tidak tahu, yang pastinya mayatlah..," jawab Anton dengan santai, membuat Ussy geram.


Semua tidak tahu!, dumel Ussy dalam batinnya.


Albert semakin kesal, dia berusaha kuat untuk melepaskan diri. Tapi itu nihil karena ikatan tali yang begitu kuat mengikat tangan dan kakinya. Mr. GE mendorong peti mati tersebut mendekati Albert dan membukanya dengan pelan hingga seluruh isi tertampak jelas.


"Apa kamu masih ingat dengan dia?" Ucap GE sembari membuka peti mati yang berisi mayat Elisa.


"ELISA!" Sontak Albert terkejut.


Hah! Jadi mayat itu Elisa, dia sangat mirip denganku.


Mata Ussy membulat sempurna saat melihat mayat Elisa yang tersimpan dalam peti, badan Ussy seketika gemetar melihatnya, pikirnya mulai teringat saat Albert pernah mengucapkan nama Elisa, dia menyangka bahwa Ussy adalah Elisa.


"Kamu masih ingatkah? Bagaimana dia mati? Dan bagaimana cara kamu mengambil barang berharga dia?" Tanya Mr. GE kembali mendekatinya dengan membawa belati di tangan.


Wajah Albert seketika pucat saat melihat mayat Elisa yang masih terlihat utuh, keringat dingin mulai menyembul.


"Kamu gila GE! Elisa sudah mati! Kenapa kau masih mengurus bahkan menyimpan mayat dia!"


"Karena itu semua kamu lah penyebabnya, Albert!" Emosi Mr. GE semakin meluap.


Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka? batin Ussy semakin gelisah melihat tontonan semakin tegang.


"Apa kau ingat, Saat kamu menodai kesucian Elisa oleh tanganmu ini!" Tanya GE sambail menyayat tangan Albert.


"Arghh...," Albert meringis kesakitan saat belati berhasil menyayat lengannya, darah mulai bercucuran.


"Dan ... apa kamu masih ingat ketika penghinaan yang kamu lakukan terhadap Elisa? Hingga dia mati!" Tanya Mr. GE semakin memanas saat belati kembali menyayat lengan Albert yang satunya.


"Arggghh ... kamu gila GE! Semua salah paham!"


Sesaat mata Albert membelalak, lalu dia berubah dengan tersenyum licik kepada Mr. GE. "YA! Aku mengakui aku semua yang salah! Aku menyukai Elisa! Aku tidak terima kamu mendekatinya! Aku tidak sudi kalian menikah!"


"Tapi ... kematian itu murni kecelakaan! Aku benar-benar tidak sengaja! Hati aku ikut hancur atas kematian Elisa...," jelas Albert sembari mentikan air mata.


"Tidak sengaja, menurut kamu!" Bentak Mr. GE tepat wajah Albert.


Jleb!


"Aarggghhh...,"


Belati tertancap tepat lengan Albert hingga dia meraung kesakitan, Mr. GE mencabutnya kembali dengan sedikit mempermainkan belati hingga darah menyiprat pada baju Mr. GE.


"Astaga!"


Ussy terkejut bukan main, matanya membelalak melihat perlakuan Mr. GE yang sedang menyiksa Albert, seketika Anton merasa mual saat matanya melihat darah yang terpancar.


Sesaat Mr. GE menitikan air mata penuh kepedihan saat pikiran mulai mengajak pada kisah hidup Elisa.


"Kamu masih saja menyukai si P*la*ur itu?" Ucap Albert dengan terkekeh.


"DIAM KAU!" Mr. GE berteriak kesal.


Albert hanya tertawa gila yang membuat amarah Mr. GE semakin memuncak dan membencinya.


"T*RK*TUK KAU ALBERT! AARRGGHH ...,"


Jleb!


Jleb!


Jleb!


Ussy langsung memalingkan pandangannya saat Mr. GE berulang kali menusukan belati dibagian perut Albert dan sekitar tubuhnya. Hingga Albert memuntahkan darah dan terus meraung raung kesakitan.


"Ka-mu memang sudah ti-dak wa-ras!" Ucap Albert dengan terbata dan nada yang begitu lirih keluar dari bibirnya yang terus memuntah darah.


Jleb!


Mr. GE langsung melayangkan tusukan terakhirnya tepat puncak kepala Albert, hingga Albert tewas! Albert menghembus nafas terakhirnya dengan tragis.


"Nyawa dibayar nyawa!" Mr. GE berseru nafas begitu berat setelah dendam nya terbalas.


Tangan Mr. GE penuh dengan darah Albert begitupun dengan bajunya, seakan telah bermandi darah. Tangannya gemetar hingga menjatuhkan belati yang di kepal. Menatapnya sebentar Albert yang kini sudah menjadi mayat, dia langsung pergi berlalu meninggalkan ruangan.


"Bersihkan tempat ini! Dan berikan mayat ini untuk makanan para Anjing!" Perintah Mr. GE pada para pelayannya.


Saat Mr. GE telah meninggalkan ruangan, para pelayan langsung masuk ke dalam segera membersihkan lantai yang bersimbah darah, beberapa dari mereka membopong mayat Albert dan memberikannya sebagai makanan para Anjing peliharaan Mr. GE .


Ruangan masih terasa begitu tegang, badan Ussy begitu gemetar hebat setelah melihat kematian Albert yang mati di tangan Mr. GE dengan begitu bengisnya dia membunuh Albert.


Setelah kejadian berdarah tersebut membuat Anton yang sedang asik menyantap makanannya, seketika mual dan ingin mengeluarkan isi perut, Anton setengah berlari menuju Toilet dan meninggalkan Ussy begitu saja.


Bruk...


Kaki Ussy seakan lunglai tak tahan lagi untuk menopang tubuhnya, dia terduduk dengan tatapan yang begitu ketakutan. Kemudian beberapa pelayan memapah Ussy menuju ruangan pengobatan karena melihat kondisi lengan Ussy yang berdarah, belum sepenuhnya terobati.


Ussy hanya pasrah saat para pelayan mengantarnya menuju ruang pengobatan, lengannya yang terkena tembakan segera diobati. Tatapan Ussy tetap sama dengan pikiran yang tidak berubah, dalam pikirnya selalu bergelayut kejadian kematian Albert yang begitu tragis. Sesaat air matanya menitik.


Kenapa menjadi seperti ini?