
"Ussy.... Tunggu..." Teriaknya memanggil,
Ussy mempertajam penglihatannya dan panggilan tersebut semakin dekat dan terlihat jelas sosok pria dengan baju pengantin.
"Kak Jamy!!"
Ussy terkejut dengan kedatangan Jamy yang begitu mendadak, lantas Ussy mengurungkan niatnya untuk melangkah kaki memasuki mobil. Jamy perlahan begitu dekat dengan pandangan Ussy, sangat terlihat jelas Jamy mengenakan pakaian Jas pengantin.
"Bukankah hari ini adalah hari pernikahan Kak Jamy, kenapa dia kesini?"
Tanya Ussy dalam hati penuh bingung,
Akhirnya Jamy tepat berhadapan dengan Ussy, segera Jamy mengatur nafasnya yang terengah-engah,
"Kenapa Kak Jamy kesini?!" tanya Ussy dengan cemas,
"Aku tidak bisa hidup tanpa mu Ussy! Aku berusaha keras untuk melupakan kamu, tapi itu semua sulit!",
"Semua butuh proses! Aku yakin Kak Jamy bisa melupakan Ussy!" tegas Ussy,
"Tidak! Tidak! Aku tidak bisa melupakan kamu Ussy," balas Jamy dengan menangkup dagu mungil Ussy,
Ussy menggapai tangan Jamy dengan lembut Ussy menjawab penuh ketegaran, "Ussy tahu melupakan adalah hal terbesar yang sulit dilakukan, Ussy sangat sayang Kak jamy begitupun sebaliknya. Ussy yakin dengan seiring berjalannya waktu Kak Jamy bisa melupakan Ussy",
"Mungkin bukan saatnya kita bersatu hari ini, bisa saja dikehidupan selanjutnya. Ini cara tuhan menguji cinta kita. Percayalah." Lanjut Ussy,
"Apa Ussy sudah tidak mencintai Jamy?!" Tanya jamy dengan raut wajah cemas,
"Bukan seperti itu Kak, tapi.."
"Tapi apa?! Kalau kamu benar sayang dan cinta kepada Jamy. Ayo kita kabur dari kota ini!" tegasnya,
Ussy hanya terdiam seribu bahasa, dilema kini menerpa hatinya yang telah rusak. Seakan telah memakan buah Simalakama. Tidak lama kemudian para pengawal berhasil menemukan Jamy dan segera berlari menghampirinya.
Sesaat Jamy tersadar akan keberadannya yang tak lagi aman. Menoleh ke arah belakang kini para pengawal telah mengetahui keberadaan Jamy dan semakin mendekati.
"Ayo.. Ussy kita harus pergi dari sini!!" ajak jamy terus menarik tangan Ussy, namun Ussy hanya terdiam paku seakan membatu.
"Bukan seperti ini caranya Kak!" balas ussy dengan nada tinggi, membuat jamy membisu.
"Kak jamy tahukan betapa besarnya Ussy menahan diri atas sikap Mama yang selalu menghina Ussy dan keluarga, kalau kita melakukan cara seperti ini, Ussy akan lebih buruk lagi dimata Mama! Harusnya Kak Jamy mengerti posisi Ussy!" ucapnya sambil menitikan air mata,
"Bukan seperti itu maksudnya,"
"Terus apa?! Kak Jamy dan Mama sama-sama egois! Mementingkan diri sendiri saja! Tanpa memikirkan perasaan orang lain!" kesal Ussy semakin membludak,
Pengawal semakin mendekat dan hampir saja menarik tangan Jamy, namun jamy berhasil mengelak.
"Diam kalian! Jangan dekati aku lagi! Selangkah saja kalian mendekati aku, Jamy akan menusukan belati ini dan mengakhiri hidup ku!" ancam Jamy dengan meletakkan ujung belati tepat di posisi Jantungnya,
Sontak Ussy terkejut melihat aksi bunuh diri Jamy, seakan teringat akan kematian Luna. Badannya gemetar dan bingung apa yang harus dilakukan Ussy. Lantas Fahrul keluar dari mobil karena terpancing oleh keributan diluar.
"Astaga! Apa yang mau dia lakukan terhadap Ussy?!" Sontak Fahrul terkejut,
Fahrul langsung menarik tangan ussy yang berada dekat dengan Jamy karena pikirnya Ussy akan dibunuh oleh Jamy.
"Lepasin aku!" ucap Ussy memberontak dalam rangkulan Fahrul,
"Apa kamu gila? Dia mau membunuh kamu!" cemas Fahrul,
"Lepasin aku lepasin!" Ussy terus menggeliat berontak, namun fahul tetap kokoh dalam menahan Ussy agar tidak mendekati Jamy,
Para pengawal tidak berani untuk mendekati Jamy yang memegang belati, lalu datang Mama dan terkejut melihat aksi Jamy yang berusaha membunuh dirinya sendiri.
"Jamy kamu gila! Jatuhan belati itu!" perintah Mama,
"Iya Ma aku gila! Gila karena egois Mama! Lebih baik aku mati daripada menikah hanya sebagai pelunas Hutang!"
"Oh jadi ini yang namanya jamy" gerutu Fahrul,
"Semua gara-gara Wanita ****** itu! Andai saja kamu tidak ada dimuka bumi ini anak saya tidak mungkin melakukan ini!" tunjuk Mama kepada Ussy,
"Ini semua bukan karena Ussy! Tapi karena Mama yang begitu Egois!! Jamy benci Mama!!" Bela Jamy,
"Sayang... Bukan maksud Mama menyakiti mu, tapi Mama tau yang terbaik untuk kamu Nak.." balas Mama dengan isak tangisnya,
"Tidak!! Mama hanya mementingkan Harta!" Bentak Jamy sekali lagi,
Ussy bergetar melihat kejadian yang begitu menyayat hatinya, sungguh ironis perjalanan cinta Ussy yang begitu banyak lika liku. Perlahan Fahrul melepaskan rangkulnya, Ussy langsung mendekati Jamy secara perlahan.
"Kak Jamy.." sahut Ussy penuh lembut, membuat Jamy menoleh ke arahnya,
"Ussy mohon kepada Kak Jamy, jangan melakukan hal bodoh ini! Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk kesekian kalinya," pilu Ussy,
"Jadi Ussy mohon lepaskan belati itu dan Mari Kita menjalin pernikahannya. Ussy akan ikut bersama Kak Jamy kemanapun itu," bujuk Ussy,
Hati Jamy seakan luluh setelah mendengar ucapan lembut dari Ussy, senyumnya kembali merekah dan menitik air mata haru. Perlahan Jamy mendekati Ussy dan belati yang dipegang mulai melonggar dan hampir terjatuh.
"Benarkah?" Tanya Jamy sekali lagi,
"Benar, Ayo kita pergi bersama!" Balas Ussy menyambut dengan uluran tangan,
Saat Jamy hampir menyentuh tangan Ussy dengan segera Mama merampas belati ditangan Jamy, dengan Refleks Jamy membalikan badan dan berupaya mengambil belati tersebut, keduanya saling berebut.
"Ma... kembalikan!" Upaya Jamy merebut kembali,
"Tidak Mama tidak akan memberikannya!" Tolaknya,
Jamy terus berusaha meraih belati tersebut ditangan Mama, sungguh kejadian yang sangat panas saat itu, keduanya beradu cekcok. Mama terus berjalan mundur dan Jamy berusaha merebut kembali.
Ketika Mama berjalan mundur untuk menghindari Jamy, kakinya tersandung bebatuan kecil di jalanan, hingga tubuhnya terjatuh kebawah dan Mama menarik baju Jamy sehingga Jamy ikut terjatuh bersamanya.
Jlebb
Belati kini menancap tepat pusar Jamy, posisinya benda runcing tepat diatasnya membuat Jamy tertusuk ketika terjatuh tengkurap disamping tangan Mama yang sedang memegang belati.
Mata Mama membulat sempurna, raut wajahnya pucat ketika melihat darah yang bersimbah di baju Jamy, kemudian Jamy memuntahkan darah di mulutnya.
Aaarrrrgggggghhhh
Teriak Ussy ketika melihat baju Jamy sangat berlumuran darah, dengan cepat Ussy menghampirinya dan menidurkan kepala Jamy diatas paha Ussy.
"Kak Jamy!!!",
"Ussy sayang mungkin kita akan bertemu di alam yang berbeda," ucap Jamy terbata-bata dengan mulut yang terus memuntahkan darah,
"TIDAK!! KAK JAMY HARUS BERTAHAN!! KAK JAMY TIDAK BOLEH MATI!!",
"Jamy sangat sayang Ussy..." ucap terakhir Jamy kemudian matanya tertutup dan menghembuskan nafas terakhirnya.
"TIDAK!!!!" Teriak Ussy dengan derai air mata, Ussy terus memeluk Jamy dengan tangis yang tersedu.
Mama langsung beranjak dengan wajah yang pucat dan gemetar melihat Jamy dengan lumuran darah, semua yang melihat kejadian tersebut seakan tercengang tidak percaya apa yang telah dilihat.
Segera Fahrul menghubungi Tim Medis untuk menolong Jamy, tidak perlu waktu lama Sirine Ambulan terdengar, dengan cepat Jamy dibopong masuk kedalam Ambulan, tangisan Ussy semakin pecah dan hatinya begitu hancur.
Fahrul memeluk Ussy dengan begitu lembut, upayanya selalu menenangkan Ussy. Mama Jamy kini dibawa oleh pihak keamanan negara, untuk mempertanggung jawabkan atas tindakannya.
Ussy terus menangis histeris ketika Jamy mulai memasuki Ambulan, Ussy melepaskan peluk Fahrul dan ikut memasuki Ambulan untuk menemani Jamy. Fahrul tidak bisa menghentikan Ussy, meskipun ada rasa sakit hati yang berbekas melihat reaksi Ussy yang begitu mencintai Jamy.
Pintu Ambulan tertutup, dengan segera Ambulan melaju dan menuju Rumah Sakit dengan cepat. Bunyi Sirine kembali terdengar dan perlahan semakin menjauh, namun Fahrul hanya terdiam memandang Ambulan yang kini mulai tidak terlihat.
"Kak Jamy... Ussy Mohon bertahanlah!!!" Ucap Ussy terus menggenggam tangan Jamy.