
"Pagi Luna!" Sapa Daniel ketika Luna membuka pintu rumah yang hendak pergi berangkat sekolah.
"Kak Daniel?" Ujarnya sedikit terkejut akan keberadaan Daniel.
"Isshh... panggil aku Daniel aja, jangan pake Kakak. Tapi panggil sayang juga boleh hehe.." Rayu Daniel, membuat rona merah tergambar jelas diwajah Luna.
"Gombal!" Balas Luna memalingkan wajah, tidak ingin terlihat rona merah di pipinya dihadapan Daniel,
"Lily.. cepatlah nanti kesiangan!" Teriak Luna memanggil Lily.
"Iya Kak." Sahut Lily, tidak lama kemudian Lily memunculkan diri, dengan cepat Lily memakai sepatu dan siap untuk berangkat sekolah.
"Loh itu siapa Kak?" Lanjut Lily bertanya, saat melihat Daniel yang terpampang didepan halaman dengan sepedanya.
"Emmm.... itu teman Kak Una." Jawab Luna gelagapan, dengan polosnya Lily hanya menganggukan kepalanya dan dengan segera untuk berangkat.
Kini Luna tidak sendiri dalam mengayuh sepeda, ada Daniel yang menemani berangkat dan pulang sekolah. Hari-harinya kini penuh warna, matanya menjelaskan kegembiraan, hatinya yang dingin menjadi hangat.
---
"Bye.. Bye.. Kak Luna. Hati-hati dijalan ya!" Ucap Lily setelah sampai tujuan di sekolahnya.
Luna tersenyum dan memastikan Lily hingga benar telah masuk sekolah hingga gerbang terlewati.
"Adik kamu imut ya, senyumnya manis." Tambah Daniel, memecah suasana hening.
Luna balas dengan senyumnya yang indah, membuat hati Daniel tercatat kebahagiaan yang sulit untuk diungkapkan. Senyum Luna semangat Daniel, mungkin sedikit geli mendengar kata tersebut, tapi itulah kenyataannya yang Daniel rasakan. Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya setelah mengantar Lily.
Mungkin banyak orang yang berasumsi bahwa cinta anak remaja seperti Daniel dan Luna menjalin hubungan adalah *C*inta Monyet, apakah Daniel akan menjadi cinta sejati Luna? Atau tidak? Semua akan terjawab dengan seiring waktu berjalan.
Terlihat seseorang mengendarai motor dari kejauhan dengan kecepatan yang maksimal, dan pengendaranya yang berjaket kulit berwarna hitam dengan sarung tangan yang membalut tangan, dan Helm atau pelindung kepala yang dipakainya ditambah kaca Helm yang serba hitam membuat wajah tidak terlihat jelas, dengan sengaja menabrak Luna hingga sepeda yang diboseh tersungkur ke sudut pohon.
Bruk**k**
Luna terhempas keras, badannya terbanting ke sudut pohon besar yang berdiri dipinggir jalan. Dahinya berdarah hingga hidung mengeluarkan mimis juga, pergelangan tangan Luna kaku tidak bisa digerakan. Kepalanya tidak kuat menahan pening yang terus memutar.
Daniel kaget setengah mati melihat Luna dengan darah dan lebam sekujur tubuhnya, Daniel berusaha menolong Luna dengan membantu memakannya. Namun sayang pengendara motor yang menabrak Luna kini lari melarikan diri, lepas tanggung jawab.
"WOY!! SIALAN!! JANGAN LARI !!" Teriak kesal Daniel,
Setelah Daniel memapah Luna ketempat yang lebih nyaman dan aman, Daniel sempat ingin mengejar pelaku tabrakan Luna tersebut dan meminta pertanggung jawaban. Namun sayang pelaku tersebut telah melarikan diri dengan kembali memancap gas motor dengan kecepatan penuh.
"Sudah biarkanlah. Sudah jauh," tahan Luna kepada Daniel yang hendak mengejar, terpaksa Daniel menuruti permintaan Luna.
"Ayo kita ke rumah sakit dulu!" ujar Daniel penuh khawatir,
Namun Luna menolak, "Tidak usah! Ini hanya sedikit luka dan lebam saja. Biar diobati di UKS (Unit Kesehatan Sekolah) saja! Nanti kita kesiangan.",
"Tidak UKS di sekolah tidak memadai, ayo kita ke rumah sakit aja. Biarin ijin dulu sehari." Ujar Daniel memberi solusi. Namun jawaban Luna tetap sama untuk menolak ajakan Daniel, dan segera pergi sekolah.
Karena Luna yang bersikukuh terpaksa Daniel menyetujui permintaannya. Kondisi sepeda Luna yang cukup parah membuatnya tidak bisa untuk ditumpangi, beberapa bagian penyok dan patah di sepedanya. Terpaksa Luna menitipkan sepeda di bengkel, lalu Luna melanjutkan perjalanan bersama dengan Daniel.
Sepanjang perjalanan hati Luna berdetak kencang, ketika berbonceng sepeda dengan Daniel. Tangannya berpegangan di baju Daniel, tidak berani untuk memeluknya. Namun lambat laun tangan Luna diraih Daniel dan menyuruh untuk memeluk melingkar pinggangnya, agar tidak terjatuh.
Deg
Perasaan Luna semakin bergetar ketika tangannya mulai melingkari pinggang Daniel dengan secara tidak langsung memeluk hangat.
---
#Sekolah
Angel datang berpapasan dengan Luna yang sedang di papah oleh Daniel keluar dari UKS, dengan refleks Angel menyapa Luna dengan sedikit khawatir melihat kondisinya terdapat beberapa balutan perban.
"Luna! Kenapa kamu bisa seperti ini?!" tanya Angel penuh cemas,
Luna sedikit terkejut akan reaksi Angel yang secara mendadak berubah menjadi lebih simpatik kepadanya. Meski ragu menerpa namun semua dihalau keadaan yang memaksa untuk berpikir positif.
"Tidak, ini hanya jatuh sedikit saat perjalanan ke sekolah." jawab Luna.
Angel terus bertanya akan kondisi Luna. Hingga Daniel menumpas pertanyaan yang tidak perlu terlalu berlebihan, "Angel sudah cukup! Jangan terlalu banyak bertanya, Luna sedang sakit.
"Emang kenapa? Aku salah mengkhawatirkan Luna? Kak Daniel maunya apasih? Aku musuhan sama Luna salah! Baikan salah juga!" Elak Angel,
"Sudah! Cukup! Tidak perlu ada perdebatan lagi! Kita semua teman!" Lerai Luna,
Angel dan Daniel terdiam, lantas melanjutkan langkahnya ke kelas.
"Luna ku harap kamu datang ya ke pesta ulang tahun ku hari ini." Ucap Angel memelas,
"Apa kau gila?! Luna sedang sakit seperti ini! Kamu menyuruh Luna hadir ke pesta mu?!" Tolak Daniel tidak menyetujui,
"Tapi Angel mau di hari spesial Angel, Luna hadir." Ujar Angel, "tapi, kalau Luna tidak bisa. Ya sudah tidak apa-apa." Lanjut Angel, wajahnya tertegun menunduk dengan kecewa.
"Tenang saja Angel, Luna akan usahakan hadir." Balas Luna yang membuat senyum Angel kembali terukir. Wajahnya kembali sumringah setelah mendengar jawaban Luna.
Akan tetapi Daniel menolak pendapat Luna untuk hadir ke acara ulang tahun Angel, Daniel khawatir akan kondisi Luna yang tidak memungkinkan untuk pergi. Namun, Luna tetap bersikukuh untuk tetap hadir.
"Ya sudah, kalau Luna tetap ingin menghadiri acara tersebut Daniel harus ikut!" Daniel memberi pendapatnya,
Dengan segera Angel memotong ucapan Daniel, "tapi Angel tidak mengundang kak Daniel!" Ujar Angel yang meledek,
Daniel mengepal keras tangannya, kesal akan sikap Angel yang membuat amarahnya kembali memuncak, sempat Daniel membalas ucapan Angel. Namun sayang bel berlangsung pelajaran telah berbunyi. Membuat Daniel mengurung niatnya untuk membalas ucapan Angel, dan berlalu menuju arah kelasnya.
"Awas kau kalau macam-macam dengan Luna!" Ucap terakhir Daniel mengancam Angel, telunjuknya mengarah tajam kepada Angel. Lalu Daniel pergi berlalu menuju kelasnya.
Angel menggertak giginya setelah melihat reaksi Daniel yang begitu memuakan bagi Angel. " Ya sudah, aku pergi ke kelasku dulu ya Luna. Akan ku tunggu kehadiran mu loh nanti." Ujarnya Angel penuh harap, lalu kembali meninggalkan Luna. Luna hanya membalas dengan menganggukan kepala dan tersenyum.
---
#Menuju pesta Angel
Pesta ulang tahun Angel yang digelar di kediamannya. Berlangsung tepat tujuh malam, Luna sudah bersiap diri untuk segera berangkat menuju pesta. Meskipun dengan kaki yang sedikit pincang, tapi Luna akan berusaha hadir untuk menempati janjinya kepada Angel.
Sedikit pertanyaan Lily terlontar kepada Luna yang sedang menata rambutnya, dengan lembut Luna menjawab pertanyaan Lily dan memberi penjelasan untuk pergi menghadiri pesta. Lily hanya mengangguk polos setelah Luna mengatakannya.
"Lily... Kak Una pergi dulu ya, kak Una akan segera pulang, jaga dirimu ya." pamit Luna dengan memberi kecup hangat kepada Lily.
"Terima kasih ya Kak Daniel sudah mau mengantar Luna. Tapi sayang Kakak tidak bisa masuk kedalam." Ujar Luna Sedikit kecewa terlukis di wajahnya.
"Tidak apa-apa, mengantar Luna saja Daniel udah senang kok. Asalkan Luna selamat aja Daniel tenang." Balas Daniel.
Hati Luna terasa aman di dekat Daniel, sepeda terus digayuh. Tidak terasa perjalanan telah sampai tujuan. Terlihat Angel yang menunggu kehadiran Luna di depan gerbang rumahnya.
"Akhirnya kamu datang Luna. Aku khawatir kamu tidak menepati janji." ujar Angel menghampiri Luna.
Luna hanya tersenyum, "Selamat ulang tahun Angel, semoga panjang umur. Ini hadiah dari ku, maaf ya hadiahnya tidak terlalu mewah. Luna harap Angel bisa menerimanya." Ucap Luna memberi selamat,
"Terima kasih Luna, mari masuk. Tapi maaf ya Kak Daniel tidak boleh masuk! Karena ini pesta khusus untuk para teman wanita Angel!" Ucap Angel sombong.
"Silahkan! Lagian siapa juga yang sudi hadir di acara orang sombong seperti kamu!" Balas pedas Daniel kepada Angel, "Luna, aku tunggu di depan sana ya." Lanjut Daniel, sambil berlalu menuju arah parkir yang telah disiapkan.
Luna menganggukan dan berucap terima kasih lagi kepada Daniel yang rela mengantar dan menjemput Luna.
"Ihhh!! Daniel Brengs*k!!" Pekik Angel kesal.
"Ayo Luna kita masuk, sebentar lagi acara dimulai. Jangan sungkan ya." Ujar Angel.
Luna dan Angel telah masuk kedalam, Daniel terdiam menunggu kembali Luna. "kenapa ada sih orang yang sombong banget kaya si Angel. Semoga cepat mati deh orang seperti dia!" Gerutu kesal Daniel.
Lima menit telah berlalu, datanglah seseorang menghampiri Daniel yang sedang fokus menggulir layar ponsel, membaca beberapa berita di Media Sosial. Daniel pikir Luna yang datang menghampirinya, tapi pikirnya salah bukan sosok Luna yang hadir melainkan seorang pria dengan jaket hitam, berkulit sawo matang.
"Malam Mas. Boleh saya bertanya?" Sapa pria tersebut kepada Daniel,
"Boleh, tanya soal apa ya?" Balas Daniel kembali bertanya,
"Apa benar nama mas itu Daniel?",
"Oh ya benar, kenapa ya?" Daniel semakin penasaran.
Lalu Pria tersebut mendekat kepada Daniel, "Tidak apa-apa mas, cuma mau tanya saya...."
JLEBBB
Pria tersebut menusuk Jarum suntik berisi cairan obat bius secara cepat kepada lengan Daniel, perlahan kesadaran Daniel memudar.
Brukk
Dengan hitungan detik Daniel tidak sadarkan diri. Lalu pria tersebut menggusur tubuh Daniel menuju suatu tempat.
---
Jam telah menunjukan pukul delapan malam, Luna akan segera pulang. "Angel, Luna pulang duluan ya." Ujar Luna berpamitan.
"Nanti saja pulangnya, acaranya belum selesai loh..." tolak Angel,
"Maaf Angel, tapi Luna harus segera pulang. Kasihan adik Luna sendirian di rumah."
"Oh gitu, ya sudah hati-hati ya dijalannya. Terima kasih sudah sempat hadir ke acara ku Luna." Balas Angel lembut.
Kemudian Luna segera pergi, dan menghampiri Daniel yang telah lama menunggu. Namun jalanan hanya terlihat mobil dan beberapa motor yang terparkir. Namun sayang Luna hanya menemukan sepeda Daniel tanpa pemiliknya.
Sepedanya dingin seperti telah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Sempat cemas dalam pikir Luna, namun Luna berusaha tenang dan berpikir positif.
"Mungkin kak Daniel sedang mencari sesuatu, ya sudahlah Luna akan menunggunya." Ujar Luna lalu duduk di jok sepeda Daniel.
Kemudian datang dua pria dewasa dengan berbalut baju kaos dan celana sobek, menghampiri Luna dan menggodanya.
"Hey, cantik kok malam gini sendirian?" Goda salah satu pria berbaju merah kepada Luna.
Luna menatap sinis dan mulai waspada akan kedua pria tersebut.
Lantas si pria berbaju biru mulai mencolek dagu Luna, "Lumayan cantik nih, ikut Abang yuk.. Kita bermain kenikmatan malam ini." Ujarnya menggoda Luna yang semakin menjadi,
Luna menumpas tangannya dan pikirnya semakin ketakutan. Berusaha melarikan diri, akan tetapi tangan pria berbaju biru dengan sigap menahan tangan Luna.
"Eh.. Jangan kabur sayang... kita bersenang-senang dulu malam ini!" Bisik pria berbaju biru, membuat Luna merinding dan semakin ketakutan. Luna berpikir cepat untuk dapat melarikan diri dari dekapan pedofil jahat.
Tangan Luna masih digenggamnya dengan keras, lalu Luna mengayunkan tangannya dan menggigit tangan si pria tersebut dengan keras dan meninggalkan sebercak darah, membuatnya melepaskan genggaman. Luna langsung melarikan diri sekuat tenaganya dengan nafas yang terengah engah.
"Hey!! Jangan lari!!" Teriak kedua pria tersebut, dan mengejar Luna.
Kaki Luna semakin terasa sakit ketika terus berlari, pikirnya sudah tidak tahan untuk terus melanjutkan pelarian. Lantas Luna mencari tempat persembunyian untuk menghindari para penjahat.
Luna berhenti berlari dan segera menoleh ke arah pohon yang begitu besar dan rimbun akan rumput liar, tempat yang tepat untuk bersembunyi pikir Luna. Kemudian Luna membelokan arahnya ke pohon tersebut dan bersembunyi di baliknya
"Ah sial! Kita kehilangan jejak dia!" Kesalnya pria berbaju merah,
"Ah ini semua gara-gara kamu gak bisa pegang Bocah!" Lanjut pria baju merah menyalahkan temannya.
"Kamu juga gak bener! Kenapa diem mulu! Kagak bantuin!" Balasnya beradu cekcok.
Dret..Dret..
Lalu ponsel Pria berbaju biru berdering memberi notif panggilan masuk, "Aduh bos nelpon! Gimana nih?" Ucapnya penuh cemas,
"Aku juga bingung! Udah angkat dulu aja." Balasnya.
Terpaksa pria berbaju biru mengangkat panggilan dari seseorang yang mereka sebut Bos. Pikirnya semakin karena cemas karena gagal menangkap Luna.
"Bos maaf...",
"Dia ada dibalik pohon besar sebelah kanan kalian, dia bersembunyi. Cepat bawa dia! Dan habiskan!" Ucapnya memotong dan memberi penjelasan posisi Luna yang bersembunyi.
"Siap!" Jawabnya tegas dan menutup panggilannya.
Perlahan mereka mendekati pohon tersebut, dan mengendap-endap dalam melangkah. Luna semakin gemetar dan menahan nafasnya agar tidak diketahui persembunyiannya.
Grepp..
Luna dibekam oleh secempal kain yang telah diberi obat bius, awalnya Luna memberontak. Tapi perlahan kesadarannya menurun dan menutup matanya. Badannya kini terkulai lemas, tidak bisa memberontak. Dengan sigap penjahat tersebut membopong tubuh Luna.
"Cepat bawa ke mobil!" Perintahnya.