LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 46



#Cafe


Ussy segera masuk ke dalam Cafe, langkahnya menuju ruang karyawan dan segera memakai seragam karyawan. Setelah itu keluar dan mulai bersiap untuk kerja.


Senyum hangat selalu terukir dan menyapa para pembeli yang mulai memasuki Cafe, sudah menjadi suatu tuntutan pekerjaan untuk selalu ramah dan memprioritaskan kenyamanan dan pelayanan.


"Totalnya seratus lima puluh ribu rupiah, apakah ada tambahan lagi Pak?" Tanya Ussy kepada pembeli yang hendak membayar,


Pembeli tersebut hanya menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan dua lembar seratus ribu rupiah, segera Ussy menerima dan memberikan kembalian pembayaran.


"Uangnya dua ratus ribu rupiah ya, ini kembaliannya lima puluh ribu rupiah. Terima kasih.." ucap Ussy ramah,


Kemudian pembeli tersebut pergi meninggalkan Cafe, Ussy sedang sibuk membereskan pekerjaannya. Lalu salah satu teman kerja Ussy datang menghampirinya.


"Ussy kamu disuruh Pak Wili ke ruangannya, biarlah kasir aku yang jaga." ucapnya,


"Oh iya," balas Ussy sambil berlalu,


Lantas Ussy segera menghadap Pak Wili pemilik Cafe, batinnya merasa penuh dengan pertanyaan akan rasa bingung, namun pikirnya berusaha positif. Perlahan Ussy mengetuk pintu ruangan, lalu Pak Wili mempersilahkan Ussy untuk masuk.


"Kemana kamu beberapa hari ini? Kenapa tidak masuk kerja?" Tanya Pak Wili sedikit kesal,


"Saya ijin beberapa hari karena ada musibah Pak, adik saya meninggal dunia jadi saya meminta untuk cuti," jawab Ussy,


"Lantas kenapa kamu tidak memberi surat cuti kepada saya?",


"Saya sudah menitipkan surat itu kepada..." ucap Ussy terpotong,


"Kepada siapa?! Kenapa tidak ada disini?! Apa kamu mau membodohi saya!" balasnya dengan nada tinggi,


"Tapi Pak, saya betul-betul telah memberikan surat Cuti itu," Ussy sedikit bergetar,


"Lantas kenapa tidak ada suratnya!"


"Ada Pak, saya sudah menitipkannya.."


"Kamu pikir surat Cuti bisa dititip titip Hah?! Dimana etika kamu!! Kamu harus secara langsung menghadap saya! Bukan nyelonong pergi gitu aja!" Bentaknya,


"Ta-tapi Pak saya mau memberinya secara langsung saat itu namun Bapak sedang tidak ada," balas Ussy terbata-bata,


"Berani ya Kamu mencari alasan! Sekarang zaman canggih! Kamu bisa menghubungi saya untuk hal seperti ini!" Balasnya kembali dengan nada penuh kesal,


"Sekarang kamu saya PECAT! pergi sana!" Bentaknya dan mengusir Ussy,


"Tidak Pak jangan! Ussy mohon beri Ussy kesempatan satu kali lagi! Ussy tidak akan melakukan ini! Ussy mohon.." balas Ussy memohon kepada bos,


"Tidak! Saya tetap akan memecat kamu! Saya sangat kecewa!" Balasnya pedas,


"Tidak Pak! Ussy mohon! Ussy butuh pekerjaan ini!" Ucapnya kembali memohon dengan mata mulai berlinang,


"Saya tetap akan PECAT kamu! Pergi kamu! Pergi!" Ujarnya mengusir,


"Tidak Pak saya tidak mau dipecat.." mohon Ussy kembali membujuk,


"Cepat kamu pergi dari sini! Atau saya panggil Satpam untuk mengusir paksa kamu!" Tunjuknya,


"Tapi Pak.. Saya mohon.."


"Satpam!! Satpam!! Cepat bawa dia pergi keluar dari sini!" Perintahnya tegas,


Satpam segera menyeret paksa Ussy, namun Ussy berupaya untuk mempertahankan pekerjaannya. Akan tetapi sayang sekali semua hasilnya nihil, Ussy diseret menuju keluar Cafe dengan paksa, membuat sorotan mata pembeli mengarah kepada Ussy.


Dengan kasar Satpam tersebut mendorong Ussy keluar hingga membuat Ussy terjatuh dan melemparkan tas Ussy tepat wajahnya.


"Jangan kesini lagi! Cepat pergi sana!" Bentak Satpam,


Ussy menangis dengan hati yang meringis kesakitan, kemudian Ussy berusaha tertatih dengan tegar. Batinnya sangat hancur kala itu, sulit untuk dijelaskan betapa pedihnya perasaan yang menanggung rasa malu dan sakit bercampur menjadi satu.


---


Dret.. Dret..


Ponsel bos berdering notifikasi panggilan masuk dari nomor tidak dikenal, dengan perlahan bos mulai mengangkatnya dengan tangan sedikit bergetar.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah melakukan tugas itu?" Tanya seseorang dalam ponsel,


"Sudah, saya sudah memecat dan mengusirnya." Balasnya sedikit gemetar,


"Bagus! Kerja yang sangat Bagus! Saya akan segera membayar anda dan membatalkan penggusuran Cafe," balasnya penuh rasa puas dengan terkekeh,


Panggilan segera berakhir, Pak Wili menghela nafas lega dan menaruhkan ponselnya.


"Padahal Ussy adalah karyawan terbaik dan sangat cekatan, namun sayang saya harus melepaskannya demi berlangsung Cafe ini! Maafkan saya Ussy!" Batinnya berucap.


***


Awan mulai kelabu, guntur perlahan datang menggelegar. Rintik air hujan mulai jatuh membasahi bumi. Perlahan mulai deras, banyak orang yang berlari mencari tempat berteduh, takut akan tubuh yang basah.


Ussy hanya berjalan penuh dengan rasa hancur berkeping, air mata menyatu dengan air hujan yang membasahi pipi, matanya mulai sembab, badannya gemetar ketika ingatan mengajak kembali peristiwa menyakitkan.


Seiring langkah mulai pelan dengan lutut yang tidak mampu untuk menopang beban. Bibir yang selalu membungkam menahan rasa sakit yang tidak mampu untuk menopang pedihnya hidup.


Disisi lain Fahrul sibuk mencari Ussy, dibawah derasnya hujan Fahrul semakin mempertajam penglihatannya untuk mencari keberadaan Ussy. Rasanya semakin khawatir setelah hujan membasahi seluruh kota dengan guntur yang menggelegar.


"Aduh.. Mana hujan lagi! Kemana ya Ussy?" Khawatirnya dengan terus memegang setir mobil,


"Di rumahnya tidak ada, Kemana sih itu Bocah!" Lanjutnya berupaya memikirkan Ussy,


"Kemana ya dia?! Aha! Pasti tempat kerjanya!"


Dengan segera Fahrul memutar arah perjalanannya dan mulai mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, rasanya semakin campur aduk ketika melihat kondisi cuaca begitu buruk.


Tidak sengaja Fahrul menoleh arah Trotoar, terlihat Ussy sedang berjalan dibawah derasnya air hujan dengan kepala yang tertegun. Segera Fahrul membelokan mobilnya dan berhenti, dengan cepat Fahrul keluar dengan membawa payung.


Langkah kaki Ussy terhenti ketika Fahrul berada tepat di hadapannya dengan menopang payung untuk memberi keteduhan kepada Ussy. Seketika Ussy mendongakan kepalanya saat langkahnya terhenti.


"Senior?" Batin Ussy,


"Ussy Kenapa kamu hujan-hujanan seperti ini!? Bagaimana kalau kamu sakit?! Ada masalah apa?!" Cemas Fahrul sembari memegang bahu Ussy,


Ussy hanya terdiam membisu seakan bibirnya tidak mampu berucap, tatapannya begitu kosong, wajahnya tergambar jelas penuh beban. Membuat Fahrul semakin mencemaskan keadaan Ussy.


"Hey kamu kenapa?! Jawab dong jangan membuat ku cemas!" Lanjut Fahrul sedikit meninggikan nada,


"Bisakah kamu pergi!" Balas Ussy dingin,


"Aku tidak akan pergi! Sebelum kamu menjawab pertanyaan aku! Kamu kenapa?" Tegas Fahrul,


"Ini semua tidak ada urusannya dengan kamu!" Balas Ussy sembari melepaskan tangan Fahrul yang mendarat di bahunya.


Segera Ussy berjalan kembali melewati Fahrul, hujan semakin deras kala itu Fahrul seakan terdiam kaku tercengang melihat reaksi Ussy. Kemudian Fahrul segera menarik tangan Ussy dan memeluknya.


"Aku mohon kepada mu Ussy, jangan seperti ini! Aku sangat sayang kepada kamu!" Ucap Fahrul,


Lalu Fahrul melepaskan peluknya dan menangkup pipi Ussy, memandangnya penuh lembut.


"Aku suka kepada mu Ussy! Aku sangat sayang kepada kamu! Jadi mohon jangan membuatku cemas dengan kondisi kamu seperti ini! Jadilah pasangan hidupku! Aku janji akan membahagiakan kamu!" Janji Fahrul,


Deg


Seketika batin Ussy bergetar saat mendengar pernyataan perasaan Fahrul, matanya membulat sempurna seakan tidak percaya dengan pernyataan Fahrul. Namun sayang batin Ussy merasa muak dengan ucapan lelaki seperti itu membuat trauma kembali melonjak dalam hatinya.


Plakk


Seketika Ussy menampar keras Fahrul, matanya penuh akan rasa benci, bibirnya sedikit bergetar. Fahrul sangat tercengang dengan cara Ussy membalas perasaannya.


"Semudah itu anda berkata! Saat hati saya hancur! Asal kamu tahu aku masih jijik dengan ungkapan lelaki seperti kamu! Dahulu Kamu begitu menginjak harga diri aku! Dan sekarang haha sungguh ajaib!" Ujar Ussy dengan kesal,


"Tapi itu dulu, sekarang aku sadar dan aku suka dan sayang sama kamu Ussy! Ku mohon percayalah!" Balas Fahrul meyakini,


"Berhenti menyatakan perasaan busuk itu! Telinga aku sudah lelah mendengar ucapan palsu lelaki! Hati Aku sudah terlalu sakit dengan harapan yang tak kunjung pasti!" Balas Ussy,


"Bukan itu Ussy percayalah!",


"Aku sudah tidak percaya dengan ucapan para lelaki! Semuanya biadab!" Bentak Ussy,


"Tidak semua lelaki seperti itu! Kamu egois Ussy! Asal kamu tahu aku rela melakukan ini karena aku sangat sayang kepada kamu! Aku peduli! Aku cinta kamu! Tapi apa?! Balasan kamu seperti ini! Tidak pernah sedikit saja menghargai perasaan aku!" Balas Fahrul memuncak emosi,


"Buka mata kamu! Dan lihat mana yang benar dan mana yang tidak tulus mencintai kamu! Jangan karena rasa egois itu membunuh kamu!" Lanjut Fahrul dengan nada tinggi.


Setelah mendengar ucapan Fahrul seakan hati Ussy tersambar petir, bibirnya tidak mampu berucap saat telinga mendengar pernyataan. Fahrul segera meninggalkan Ussy sendirian dan masuk kedalam mobil dengan penuh rasa kesal dalam hati.


Hati Ussy semakin hancur berkeping, jiwanya begitu berantakan. Lututnya kini lunglai hingga terduduk lemas dibawah derasnya hujan.


"Tuhan!!! Kenapa hidup aku begitu hancur?! Apa salah aku!! Aaarrggghh semua tidak adil!"