
Seperti yang telah Ussy janjikan setelah sarapan selesai, segera Ussy pergi menjenguk Fahrul dengan membawa makanan untuk sarapan Fahrul. Dalam hatinya berbisik sepertinya hubungan Fahrul semakin dekat dengan Ussy. Tetapi mengapa sampai sekarang perasaan Ussy sama sekali hampa, tidak ada respon apapun.
Suara ketuk pintu terdengar dari luar, Fahrul yakin itu Ussy yang datang. Segera Fahrul mempersilahkan untuk masuk. Benar saja dugaan Fahrul, Ussy datang menjenguknya kembali sesuai janjinya kemarin. Ussy membawa Bubur hangat yang dia racik sendiri.
Seperti biasa Lily pasti melekat dekat dengan Fahrul, dan berbincang begitu asik, entah apa yang mereka perbincangkan hingga tertinggal tawa riang yang tersirat indah. Ussy sangat tenang melihat keduanya saling akrab, rasanya itu membuat batin Fahrul yang kesepian sedikit terobati.
"Kakak Pangeran'nya mau sarapan dulu, biar cepat sembuh. Apakah permaisuri kecil mengijinkannya?" Tanya Ussy bergurau,
"Tentu saja saya ijin'kan," balas Lily dengan tawa kecil,
Fahrul begitu tenang melihat canda gurau Ussy dan Lily, rasanya selimut hangat membalut hati yang sepi. Kemudian, Ussy segera membuka kotak makan yang berisi bubur. Perlahan Ussy mulai menyuapi Fahrul sedikit demi sedikit.
Lily ingin menyuapi Fahrul, Ussy mengiyakan keinginan Lily tersebut dengan persyaratan harus hati-hati, jangan sampai berceceran. Kemudian Lily menyinduk buburnya, dan mulai mengarah mulut Fahrul, dan dilahap langsung olehnya tanpa memikirkan suhu panas. Keadaan Bubur yang masih panas membuat Fahrul merasa terbakar didalam mulutnya.
"Ahh ... panas!!"
Secara refleks Ussy langsung mengambil minum dan membantu Fahrul menuangkan air untuk diteguk. Keduanya saling menatap sebentar.
Dia begitu perhatian.., batin Fahrul berkata.
"Kamu tidak apa-apa?" Ussy bertanya penuh rasa khawatir,
"Tidak kok, hanya kepanasan saja...," Fahrul segera memalingkan wajahnya yang mulai merona kembali,
"Maafkan Lily, Pangeran... Lily tidak sengaja.." Lily tertunduk malu atas sikapnya yang ceroboh, takut Fahrul dan Ussy memarahinya.
Dengan lembut Fahrul mengusap puncak kepala Lily seraya tersenyum manis, " Tidak apa-apa sayang ... lagian ini bukan salah Lily,"
Lily pikir Fahrul akan memarahinya, namun sebaliknya dia begitu lembut terhadap Lily. Membuat Lily semakin yakin bahwa Fahrul adalah seorang yang baik. Lily memeluk Fahrul sebentar.
"Ya sudah, aku serahkan kepada Kak Ussy lagi, Lily mau main boneka-bonekaan aja...," lily langsung menyerahkan sarapan tersebut kepada Ussy.
Yes! Akhirnya Ussy yang menyuapi aku!
Fahrul begitu riang saat Ussy yang memberikan suapan selanjutnya, perlahan semangkuk Bubur itu habis. Dan Ussy langsung memberikan Obat kepada Fahrul. Ussy merawatnya dengan sepenuh hati, sebagai pertanggung jawaban akibat Fahrul bisa seperti ini karena dirinya.
"Ussy.. boleh tidak aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
Ketika Fahrul hendak melontarkan pertanyaan nya, sesaat terpotong saat Mami datang menjenguknya. Mami sangat senang mendapati Ussy yang telah duduk menemani Fahrul.
"Pagi sayang... eh ada Ussy.."
Ussy langsung mencium tangan Mami dan tersenyum kepadanya, Mami membalasnya dengan pelukan.
Mungkin aku tanya lain kali saja..
Fahrul menghela nafas, saat pertanyaannya terpaksa ditunda karena kedatangan Mami secara mendadak. Membuat dirinya mengurungkan niat untuk pertanyaan tersebut.
"Kamu sudah sarapan, Nak?" Tanya Mami kepada Fahrul,
"Sudah, baru saja Ussy yang memberikannya."
"Oh, yasudahlah Mami simpan saja makanan ini untuk makan siang. Oh ya, Terima kasih ya Ussy telah menjaga dan merawat Fahrul,"
"Iya Tante," balas Ussy tersenyum.
Sesaat ponsel Ussy berdering, terdapat panggilan masuk dari Mr. GE, perlahan Ussy membalikan badan dan menjauhi Mami dan Fahrul. Saat posisinya sudah cukup jauh, Ussy langsung menggeser ke atas tombol hijau dan mulai berbincang.
"Hallo.."
'Hallo.. Ussy berkas yang kamu minta sudah siap, aku tunggu kamu di Cafe biasa..,'
Percakapan yang begitu singkat, lalu Ussy pergi dan menitipkan Lily terhadap Fahrul.
"Mami, Fahrul. Bolehkah Ussy menitipkan Lily sebentar saja. Ussy mau keluar dulu ada urusan penting," Ussy mulai beralasan.
Tentu saja Mami menyetujuinya, Senyum puas tergambar jelas.
"Lily.. sayang kakak pergi dulu sebentar ya, kamu jangan nakal ... disini ada pangeran dan Mami, harus patuh ya!"
"Baik, Kak Ussy. Tapi janji ya jangan lama-lama.."
"Ya sayang...,"
Ussy berpamitan dan segera keluar.
Urusan apa? Segitu penting nya'ya?
Fahrul mengerutkan dahinya, seakan kepergian Ussy meninggalkan janggal dalam hatinya. Namun, segera Fahrul tumpas pikiran negatif tersebut.
...***...
#Cafe
Terlihat diujung meja nomor delapan, Mr. GE T telah duduk menunggu Ussy dengan segelas Cappucino yang sesekali di sesapnya. Mr. GE memakai topi dengan kacamata hitam, dia sengaja memakai style seperti itu, agar keberadaannya tidak diketahui.
Mr. GE melambai tangan, memberi kode bahwa dia ada disana. Segera Ussy merespon dengan cepat dan menghampirinya. Ussy terduduk saling berhadapan, tanpa basa basi lagi, Ussy bertanya berkas data tersebut.
"Semua ada disini, silahkan kamu baca. Ini semua akurat," ucapnya sembari memberikan berkas,
"Terima kasih, Tuan."
Perlahan Ussy mulai membuka lembar demi lembarnya dan mulai membacanya, dalam isi berkas menjelaskan bahwa kematian Bapak bertolak belakang dengan informasi yang dia dapat.
Matanya membelalak tidak percaya, setelah membaca bagian kematian Bapak, Bapak mati tertabrak oleh mobil. Dan si pengendara kabur begitu saja, tanpa pertanggung jawaban. Kecelakaan itu membuat cedera yang cukup parah, bahkan dalam waktu bersamaan penyakit jantung Bapak kambuh kembali.
Dalam keadaan sekarat, tidak ada satu orang pun yang menolong Bapak, hingga Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Ketika Ussy membaca lebih dalam data tersebut, ternyata si Pengendara Mobil tidak lain dari Mama Jamy! Ussy sangat tidak percaya, ternyata yang membuat Bapak mati adalah orang kejam seperti Mama Jamy.
Mama Jamy!
Tangannya menutup mulut, seakan tidak percaya membaca semua kebenaran. Apalagi saat mengetahui bahwa Mama Jamy menyogok dokter untuk membungkam kematian sebenarnya, cukup dengan memberi informasi bahwa pasien terkena serangan jantung saja bukan tabrakan.
Ditambah lagi saat jasad Bapak ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa, juga keadaan Becak yang terjungkal, dahinya berdarah. Menjadikan masyarakat berasumsi bahwa Bapak mati karena terjatuh dari becak karena serangan jantung.
Dada Ussy semakin sesak saat terus menelusuri kebenarannya, dalam hatinya begitu penuh dendam kepada Mama Jamy yang sangat biadab!
Kamu biadab! Sudah membunuh anakmu sendiri, sekarang Bapak juga!
Tangan Ussy mengepal keras, matanya mulai berlinang. Membuat tanya Mr. GE mencuat.
"Kenapa? Apa ada hal yang menyakitkan?" Tanyanya dengan menyeruput Cappucino.
"Ya! Aku ingin balas dendam!" Balas Ussy dengan mata yang memerah, seakan memendam rasa sakit terlalu dalam.
"Saya tahu itu semua tidak mudah kau terima, dendam lah yang akan membayar semuanya. Maka Lakukanlah...," balasnya santai,
"Hutang saya sudah lunas, waktunya saya pergi, keadaan disini sudah tidak terlalu aman bagi saya, ingat kembali lagi ke markas!" Bisiknya, perlahan Mr. GE beranjak keluar dan pergi meninggalkan Ussy.
Ussy masih terdiam paku dalam duduknya, tangannya gemetar mendapati kebenaran yang menusuk hatinya. Air mata perlahan menetes.
Bapak.. Ussy akan membalas semuanya!
Pelayan datang menghampiri Ussy, mananyakan perihal pesanan, Ussy tersadar karena sedari tadi dia hanya terdiam tidak memesan apapun, lantas Ussy menggelengkan kepalanya. Dan berlalu pergi meninggalkan Cafe.