
#POV LUNA
Pagi hari seperti biasa Luna berangkat sekolah dengan mengayuh sepedanya. Tetapi pagi itu terasa berbeda, Daniel yang biasanya terlihat menampakan wujudnya di gerbang sekolah menunggu kehadiran Luna dan berjalan bersama menuju ruang kelas kini tidak memunculkan dirinya.
Sempat bertanya dalam diri Luna akan situasi yang tidak seperti biasanya. Namun inilah kenyataannya, Luna harus menerima akan keputusannya untuk menghindari Daniel dan membuat Daniel membencinya. Batinnya berat untuk menerima, namun apa daya semua harus berjalan seperti ini.
"Maafkan Luna Kak Daniel, Luna harus membohongi perasaan Luna kepada Kak Daniel dan membuat Kak Daniel membenci Luna. Ini semua harus berjalan seperti ini, kita tidak akan pernah bersatu! Luna akan berusaha mengubur perasaan ini!" Ujar Luna dalam benak, air matanya mengalir seketika dan dengan segera mengusapnya.
Langkah kakinya terus berjalan menyusuri koridor, tidak terasa pintu kelasnya telah terpampang. Luna memasuki kelas dan berjalan menuju mejanya. Perlahan duduk dan menyimpan tasnya, wajahnya masih tertegun, lalu menghela nafas panjang dan melirik arah jendela.
Memandangi pemandangan dibalik jendela kelas, lapangan terlihat jelas penuh orang yang bersiap diri untuk olahraga, dan ada juga banyak yang berlalu lalang, berjalan kesana kemari dengan kesibukan tersendiri.
"Luna!" sahut seseorang, menepuk pundak Luna.
Luna sedikit terkejut akan seruannya lalu dengan Refleks Luna menoleh kearahnya. Ternyata Angel, dengan tas yang masih digendong dan rambut ikalnya yang digerai dengan jepit cantik yang tersemat.
Sedikit terkejut akan kehadiran Angel, lantas Luna segera bertanya dengan wajah yang dingin. Angel tersenyum begitu hangat dan memberi penjelasan kepada Luna, maksud kedatangannya.
"Angel datang kesini, untuk memberi kamu undangan ulang tahun. Besok acaranya, Luna datang Ya! Ku mohon..." ucap Angel dengan mata yang berbinar, dan tangan yang terus menggenggam harapan besar kepada Luna.
Kemudian Luna mengangguk dan menerima undangan tersebut, meskipun terasa berat bagi Luna untuk menerimanya. Wajah Angel seketika sumringah setelah Luna menerima undangannya.
"Terima kasih Luna. Ku harap kamu tidak berbohong akan kehadiran mu yaa... Angel akan selalu menunggu kedatangan mu Luna." Timpalnya penuh semangat, tidak lama setelah memberi undangan Angel berlalu ke arah kelasnya dan pergi meninggalkan Luna.
---
*Bel istirahat telah terdengar
Seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Ada yang pergi ke kantin ataupun bermain dengan temannya dan berbagai tujuan yang beragam. Luna berjalan menuju arah kantin, lalu memesan satu kotak susu kemasan dengan varian rasa coklat.
Kemudian berjalan menuju arah meja kantin yang telah tersedia, tangannya yang menggenggam sekotak susu kemasan lalu duduk di bangku kantin.
Sesekali Luna memandangi orang yang berlalu lalang kesana kemari entah apa yang mereka sibukan. Lagi dan lagi terbesit dalam pikir Luna akan keberadaan Daniel yang tertelan bumi. Bahkan batang hidungnya pun tidak terlihat sama sekali. Membuat hati bergejolak ingin bertanya akan keberadaan Daniel, Tapi mulut enggan berbicara.
Sekotak susu kemasan telah habis diseruputnya. Lalu beranjak dari tempat duduknya, menggenggam kembali kotak kemasan susu yang saat ini telah kosong, kemudian membuangnya kedalam tong sampah.
Luna berjalan menyusuri koridor kelas, tidak sengaja berpapasan dengan sahabat dekat Daniel, yang kala itu Daniel tidak terlihat dengannya. Lantas Luna bertanya kepadanya.
"Kak Vino!" Panggil Luna,
Vino menoleh kearah panggilan tersebut, "eh Luna, ada apa?" Tanya kembali Vino.
"Mau tanya kak Daniel kemana ya? Tumben gak bareng kakak?" Ujar Luna bertanya,
"Oh itu... Daniel lagi sakit, jadi dia tidak masuk hari ini. Tumben kamu bertanya tentang Daniel? Bukankah kalian selalu bersama? Atau Daniel tidak memberitahu kamu?" Vino terheran,
Luna hanya menggelengkan kepala, "Oh gitu ya, terima kasih Kak Vino." Lanjut Luna sambil berlalu meninggalkan Vino, untuk menghindari pertanyaan tersebut.
---
Tidak terasa bel pulang sekolah telah berbunyi, seluruh siswa dan siswi kini bergegas pulang menuju rumahnya masing-masing. Begitupun dengan Luna, dia langsung memboseh sepeda menuju arah jalan pulang.
Disepanjang perjalanan pulang, tidak sengaja Luna melihat danau yang begitu jernih dan menenangkan dengan air yang berhembus sejuk. Seketika Luna menghentikan sepedanya dan menoleh ke arah danau, memandanginya untuk menghilangkan rasa penat dalam diri. Sesekali Luna memejamkan mata sambil menghembus nafas lega upaya menenangkan pikirannya yang kacau.
"Apakah Kak Daniel membenci ku? Apa aku salah dalam bertindak? Aku benci diri ku sendiri!" Ucap Luna merenung,
"Maafkan Luna Kak Daniel.... Luna sangat sayang Kak Daniel.... Luna ingin bersama Kak Daniel... Luna bodoh!! Luna bodoh!!" Teriak Luna melampiaskan amarahnya dengan menjatuhkan air matanya,
Dengan sigap Luna langsung membalikan badannya, matanya membelalak tidak percaya ketika melihat orang tersebut, "Kak Daniel!" ujarnya terkejut.
Daniel perlahan mendekati Luna, "Apa benar yang kamu ucapkan tadi?" tanya kembali memperjelas,
Luna hanya terdiam membisu melihat Daniel yang mendadak berdiri di hadapannya, "Daniel yakin Luna sayangkan sama Daniel. Luna cinta sama Daniel. Tapi kenapa Luna menutupinya?" Lanjut Daniel,
"Engga! Kak Daniel! Kakak salah dengar!" Balas Luna mengelak, kemudian pergi meninggalkan Daniel.
Namun langkahnya terhenti ketika Daniel menggenggam tangan Luna. Lalu menariknya, membuat tubuh Luna membalik secara otomatis. Daniel langsung memeluknya, Luna hanya terdiam kaku dalam peluknya.
"Ku mohon katakan sejujurnya!" Ucap Daniel meyakinkan kembali.
Tanpa berkata apapun Luna membalas peluknya, tangannya melingkar pinggang Daniel. Peluknya semakin erat, Daniel tersenyum lalu mengelus rambut Luna dengan lembut.
"Maafkan Luna! Luna tidak bisa membohongi soal rasa! Luna sayang Kak Daniel!" Ujar Luna tersedu,
"Daniel juga sayang Luna," balasnya lembut,
Luna melepaskan peluknya, dengan segera Daniel mengusap air mata yang terjatuh tepat pada wajah manis Luna.
"Daniel tahu perasaan Luna. Tapi kenapa Luna harus membohongi perasaan kamu Luna? Kenapa?" Tanya Daniel,
Luna melepaskan tangan Daniel yang mendarat di pipinya, "Ceritanya panjang." Jelasnya,
Lalu Luna mengayunkan langkahnya ke taman kota sembari menggandeng tangan Daniel, kemudian duduk di kursi taman.
"Luna seperti memakan buah simalakama. Posisi ini memberatkan Luna, di satu sisi Luna memang menyukai kak Daniel, Luna sangat sayang kak Daniel, tapi di sisi lain Angel sangat menyukai kak Daniel. Dan dia berani melakukan hal apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, maka dari itu mungkin Luna yang harus mundur,"
"Luna harus menutupi perasaan Luna, agar pertemanan Luna dan Angel tidak hancur. Namun lambat laun hati Luna sakit menahan rasa ini kak! Luna tidak bisa membohongi lagi perasaan ini! Semakin ditahan semakin sakit!" Jelas Luna,
"Bukankah sikap Angel sudah berubah menjadi baik terhadap mu Luna?" Tanya kembali Daniel,
"Betul, Angel memang sudah berubah. Namun hati Luna tidak sepenuhnya percaya akan perubahannya. Karena perubahan yang drastis Angel membuat penasaran dalam diri Luna, seperti ada yang janggal." Ucap Luna sedikit mengerinyit dahi.
Lalu Daniel membelai rambut Luna, "Sudahlah, yang terpenting Angel sudah berubah. Masalah benar atau tidaknya itu biarkanlah. Jangan jadi beban pikiran Luna. Nah sekarang apakah Luna menerima Daniel menjadi pacar Luna?" Tanya Daniel membuat rona tergambar di wajah imut Luna.
Luna menganggukan kepalanya, memberi isyarat setuju dalam menjalin hubungan dengan Daniel, "Tapi, ada satu syarat yang harus dilakukan." Pinta Luna.
"Apa?",
"Luna tidak mau hubungan ini diketahui banyak orang hingga lulus sekolah nanti." Pintanya,
"Tapi kenapa? Apakah Luna malu mempunyai pacar seperti Daniel?" Tanya kembali Daniel,
"Bukan malu. Tapi ini demi kebaikan Luna dan kakak. Luna tidak mau ada keributan lagi saat menjalin hubungan dengan kak Daniel, seperti kejadian Angel yang melabrak Luna. Ku harap Kak Daniel mengerti." Jelas Luna.
Lantas Daniel menyentujui persyaratan yang di minta Luna, meskipun sedikit berat hatinya untuk menerima persyaratan tersebut. Tapi bagi Daniel lebih berat ketika dia tidak bersama Luna.
"Baik Daniel akan lakukan. Terima kasih Luna telah menerima Daniel." Balasnya sambil memeluk Luna.
Dibalik pohon besar taman terlihat seseorang dengan berbalut jaket sedang memantau Luna dan Daniel,
"SIALAN! KAU BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN SEPERTI ITU! TUNGGU PEMBALASAN KU!" Ujarnya saat melihat dan mendengar Daniel dan Luna menjalin hubungan, tangannya mengepal keras menahan amarah penuh dendam.