
***Tidak semua orang peduli..
Tidak semua orang baik..
Tidak semua orang jahat..
Dan tidak semua orang adil..
Ketika uang berkata..
Apakah mulut masih bisa mengata..
Meskipun kebenaran didepan mata..
Semua hanya sia-sia semata..
Dunia sangat biadab..
Ketika semua insan tak beradab..
Ketika harta saling menghadap..
Saat keadilan tak lagi menancap..
Ketika kau bersedih..
Saat kau merasa pedih..
Akan kehidupan yang semakin meruncing..
Antara hidup dan mati berada dihadap jurang..
Pikirnya buntu..
Hanya ingin mengakhiri hidup yang tak lagi menentu,
Hancur berkeping seluruh hidup..
Harapan yang kian meredup***..
***
Pagi mulai menyambut, tidak seperti pagi biasanya yang terdengar suara tawa hangat di dalam rumah sederhana itu, kini sepi terasa semakin menjadi. Setelah kepergian Bapak dan Ibu yang kini berada dalam perawatan mentalnya di rumah sakit jiwa. Masalah datang secara bertubi seakan tidak ada waktu untuk bernafas sejenak.
Rasa sesak yang semakin terasa oleh Lily, si bungsu yang kini berusaha kuat untuk menopang kehidupan diatas ujian berat ini, setelah kondisi kesehatan Luna yang semakin memburuk. Lily terus berusaha tegar diusia yang masih terbilang sangat muda.
Mungkin anak seusia Lily seharusnya sedang senang menikmati masa kanak-kanaknya, bermain kesana kemari dengan suka cita bersama teman sebayanya. Akan tetapi takdir berbicara lain untuk kehidupan Lily, Dia di tuntut untuk tegar dalam hidupnya tanpa di temani oleh kedua orang tua dan saudaranya.
Lily berusaha mandiri namun tetap saja batinnya merindukan sosok ayah dan kasih sayang seorang Ibu, juga dukungan dari saudaranya.
Lily terbangun dari tidurnya ketika sinar matahari menembus celah jendela, segera Lily bersiap diri untuk pergi sekolah. Meski sedikit ragu untuk meninggalkan Luna sendirian di rumah dengan kondisi seperti ini membuat Lily bingung.
Satu sisi Lily harus sekolah karena ada ujian penting di sekolahnya, di sisi lain keadaan Luna yang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan.
"Bagaimana ya? Apa Lily tidak usah sekolah? Tapi kan ada ujian di sekolah! Aduhhhh bingung," ujarnya.
"Nah! Lily ada ide, Lily harus menelpon dulu kak Ussy agar segera kesini." Lanjutnya, lalu meraih ponsel Ibu dan dengan lihai Lily menghubungi Ussy.
Panggilan mulai terhubung, beberapa saat kemudian suara Ussy mulai terdengar.
"Hallo ibu, kenapa Ibu baru menghubungi Ussy?" Tanya Ussy menyerobot.
"Maaf Kak Ussy ini Lily. Lily hanya ingin memberitahu, kak Ussy cepatlah pulang, Kak Una sedang sakit dan Lily bingung harus bagaimana? Cepat lah pulang ya Kak!" jawab Lily,
"Iya kakak akan segera pulang, tapi dimana Ibu?" Tanya Ussy kembali,
Tut.. Tut..
Panggilan mendadak terputus, pertanyaan Ussy tidak sempat dijawab oleh Lily, "Loh kok mati?" Tanya Ussy, lalu Ussy berusaha menghubungi ulang Lily.
Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi
"Ada apa dengan Lily dan Luna?! Aku harus segera pulang!" Batinnya semakin terasa tidak karuan.
***
"Eh kak Una sudah bangun?" Tanya Lily saat melihat Luna membuka matanya, namun Luna tidak menjawab pertanyaan Lily, hanya menoleh dan kembali tertegun.
Seketika suasana hening ketika Luna bersikap dingin dan seolah tidak peduli akan kehadiran Lily.
"Oh iya, Lily sudah menyiapkan sarapan untuk kak Una. Dimakan ya.. apa kak Luna akan pergi sekolah atau tidak?" Tanya kembali Lily,
Namun lagi dan lagi Luna hanya terdiam membisu, Lily semakin mencurigai akan sikap Luna, "Ya sudah Lily akan buatkan surat sakit untuk kak Una, Lily berangkat dulu ya.." ujar Lily sambil berlalu.
Lily segera berangkat sekolah, dan berniat untuk memberikan surat sakit kepada sekolah Luna terlebih dahulu. Lily menutup pintu rumah dan memulai perjalanannya. Suasana rumah semakin terasa sepi, Luna hanya terdiam dengan tatapan kosong, sesekali menitikan air mata.
#Sekolah Luna
Lily mulai memasuki sekolah Luna dan menghampiri satpam yang sedang bertugas memantau para siswa masuk sekolah tepat waktu.
"Permisi Pak," ujar Lily
"Oh iya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya satpam tersebut,
"Ini Pak, saya mau menitipkan surat sakit Kakak saya." Jawab Lily,
Satpam tersebut menerima surat yang dibawa Lily, "Oh boleh, Kakaknya kelas berapa ya?" Tanya kembali satpam untuk memastikan.
"Kelas 9A," jawab Lily, kemudian Satpam tersebut menuliskan kelas dibalik surat tersebut.
"Terima kasih Pak," lanjut Lily, dan berlalu.
Satpam tersebut menganggukan kepala dan tersenyum kepada Lily, dan segera pergi ke kelas tujuan untuk memberikan surat tersebut.
Ketika Lily kembali berjalan, dan keluar dari gerbang sekolah Luna. Terlihat sedang banyak kerumunan orang yang berebut lembaran kertas, Lily menghampiri karena rasa penasaran ada hal apa yang terjadi disana?
"Permisi kak, ini ada apa ya?" Tanya Lily kepada salah seorang yang berseragam sama dengan Luna,
"Oh ini dek, ada berita tentang penjualan diri. Dan ternyata orang tersebut murid di sekolah aku. Isshh ngeri sampe segitunya nyari uang! Padahal masih dibawah umur!" Jawabnya bergidik,
Lily mengerutkan dahinya, " ini kalau gak percaya baca aja sendiri," lanjutnya sambil menyerahkan lembaran berita tersebut kepada Lily.
Lily mulai membuka berita tersebut dan membaca perlahan, terkejut bukan main ketika gambar Luna terlihat jelas di berita tersebut.
"Kak Una!! Bukan ini bukan Kak Una!! Ini berita bohong!!" Ucap Lily tidak percaya.
***
#POV USSY
"Hey Rosa. Nanti pas jam pelajaran kedua aku gak bakalan hadir, ini suratnya" ujar Ussy,
"Loh kok tumben sih Lus? Emang kamu mau kemana sampe ijin setengah hari gini?" Tanya Rosa kembali kepada Ussy,
"Aku ada urusan dulu Ros. Maaf ya kalau ngerepotin," jawab Ussy,
"Tenang aja santai sama aku mah hehe",
Ussy balas dengan tersenyum, tidak lama kemudian Dosen masuk dan memulai pembelajaran. Hati dan pikiran Ussy semakin tidak tenang, selalu teringat akan rumah. Rasanya Ussy ingin segera pulang.
Waktu terasa lama bagi Ussy saat menanti, akhirnya pembelajaran jam pertama selesai, Dosen mengakhiri perjumpaan dan berlalu keluar kelas. Ussy tidak ingin menunggu waktu terlalu lama lagi, Ussy langsung keluar dan segera pulang.
"Ros, aku ijin pulang dulu ya," Ujar Ussy sambil beranjak dari kursinya.
"Oke, hati-hati dijalannya." Jawab Rosa.
Oh iya sedikit berkenalan dengan Rosa, Dia merupakan sekretaris di kelas Ussy. Dan sekaligus teman dekat Ussy di kampus. Rosa yang berwatak ceria, sopan, dan berwajah manis.
Kebetulan Rosa juga sama tinggal di indekos sama dengan Ussy, membuat keduanya lebih sering bertemu dan bercanda bersama. Hingga terjalin persahabatan.
Langkah kaki Ussy bergegas keluar dari kampus, dengan segera menaiki angkutan umum,
"Semoga tidak terjadi apapun dirumah," benak Ussy berkata upaya untuk mentenangkan hatinya yang semakin resah akan kondisi keluarganya.
Fahrul yang berjalan menuju kelas Ussy, berniat untuk makan bersama Ussy di kantin kampus, namun sayang Ussy lebih dulu keluar dan segera pulang. Saat Fahrul memasuki kelas Ussy, beberapa wanita genit langsung menghampiri Fahrul dan mencari perhatiannya.
Akan tetapi Fahrul sama sekali tidak menggubris wanita yang berusaha menggodanya, Fahrul celingak celinguk melihat sekitar kelas, sayang kehadiran Ussy tidak terlihat.
"Eh, Ussy mana?" Tanya Fahrul kepada wanita yang di dekat dirinya,
"Loh kakak kesini cuma mau ke Ussy? Sama aku aja gimana kak? Hehe," rayu wanita tersebut membuat Fahrul bergidik,
"Ogah! Cepat kasih tau dimana Ussy?" Desak Fahrul,
"Ussy tidak ada di kelas, Dia pulang lebih dulu."
"Kenapa?" Tanya kembali Fahrul,
"Katanya mau pulang kampung, ada urusan penting."
"Eh sekarang kakak ada waktu gak? Kita makan bersama yuk..." lanjut wanita tersebut mengajak Fahrul,
"Ogah! Bye! Makasih ya infonya..." Jawab Fahrul ketus sambil berlalu meninggalkan wanita tersebut dan para gerombolan penggoda.
"Isshh nyebelin!! Tapi ganteng uhhhhh..." teriak wanita tersebut.
"Semoga belum jauh," ucap Fahrul mengejar Ussy.