LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 38



#POV FAHRUL


Malam telah tiba, jam menunjukan pukul delapan malam. Akhirnya Fahrul sampai depan gerbang rumah, dengan sigap Pak Seno membuka pagar saat klakson Fahrul telah terdengar. Fahrul memasukan mobilnya ke dalam garasi rumah. Turun dengan wajah yang penuh akan rasa kesal terpendam, menutup pintu mobil dengan keras seakan ingin meluap amarah.


Langkahnya memasuki rumah, perlahan mulai menaiki anak tangga. Asisten rumah tangga di rumah Fahrul telah menyediakan beberapa sajian makan malam. Mbok langsung menyapa Fahrul saat mendapati kaki langkah anak tangga.


"Selamat Datang Den Fahrul, makan malam telah siap. Apa Den mau makan sekarang?" Sahut Mbok,


"Tidak Mbok," jawab Fahrul sambil terus berjalan menaiki anak tangga,


"Loh tumben? Biasanya setiap udah beres masak pasti saja langsung makan? Kenapa ya?" Mbok terheran,


"Mungkin sedang tidak Mood saja kali yaa, hmm.. Dasar anak muda!" Mbok tersenyum simpul dan kembali berlalu menuju dapur.


Suara telpon rumah berdering, dengan cepat Mbok mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo," sapa awal Mbok,


"Hallo Mbok, tolong bilang ke Fahrul bahwa Mamih akan segera pulang lusa," balas Mamih Fahrul,


"Baik Nyonya..",


Sedikit perkenalan dengan Ibu Fahrul yang sering dipanggil Mamih, seorang wanita karir yang sangat terampil dan super sibuk. Mamih selalu keluar masuk negara untuk urusan pekerjaannya, sudah menjadi tuntutan seorang karyawan di salah satu perusahaan besar.


Mamih juga seorang karyawan yang jenius dan supel membuat Mamih menjadi karyawan terbaik ditempat kerja, paras Mamih sangat cantik dan berkulit putih serta bibirnya yang tipis. Hampir seluruh ciri fisik Mamih menurun kepada Fahrul.


Mami sangat sempurna dimata karyawan lainnya, tapi tidak bagi Fahrul. Masa kecil Fahrul cukup menyedihkan karena dia tidak bisa merasakan hangatnya kasih sayang seorang Ibu, Mami terlalu sibuk bekerja hingga rela menitipkan Fahrul kepada Baby sister.


Hari demi hari Fahrul penuh rasa kesepian, seperti hidup seorang diri tanpa ada tawa hangat keluarga. Membuat Fahrul memiliki sikap dingin dan acuh. Dari semenjak lahir Fahrul telah dirawat oleh Baby sister, hingga sekarang Fahrul tidak pernah merasakan hangatnya kasih seorang Ibu.


Hatinya penuh rasa kecewa dengan kehidupan yang penuh rasa egois, terkadang pandangannya selalu iri akan keluarga lainnya yang penuh rasa hangat layaknya keluarga bahagia. Hartanya memang berlimpah ruah namun tidak untuk rasa sepi didalam hatinya.


---


Dalam heningnya malam, Fahrul hanya termenung sembari memandangi langit kamar, tubuhnya terbaring santai diatas kasur.


"Kenapa ya... Aku harus kejar Ussy sampe sejauh ini?! Dan kenapa sama perasaan yang mendadak naik turun?!" Tanya dalam renungan.


"Arggghh apakah ini cinta?!" Lanjutnya,


"Bodo amat ah! Lebih baik tidur!" Kemudian mata Fahrul terpejam.


***


#Back To Ussy


"Apakah ini ujian?! Apa malapetaka bagi ku Tuhan?! Kenapa masalah datang secara bertubi-tubi!" Dalam hatinya bertanya penuh rasa pedih,


"Setelah keluarga ku hancur! Apakah cerita cinta ku hancur juga?! Apa aku salah mencintai seseorang, Ya Tuhan?!" Bisiknya dalam hati Ussy, tidak sengaja air mata menitik haru.


Ussy seakan rapuh setelah masalah yang datang satu per satu dalam hidupnya, raganya berusaha kuat namun tidak untuk hati. Lukanya terlalu terbuka besar, hingga sulit untuk menutupinya.


"Aku hanya punya Lily! Keluarga ku satu-satunya yang tersisa! Aku harus menjaga dia!" Tekad Ussy,


Ussy beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri kamar Luna, memandang kamar kosong yang hanya tergeletak satu kasur dan lemari baju serta meja belajar, air matanya kembali terjatuh ketika pikirannya mengajak akan masa lalu indah bersama Luna.


Lily si Bungsu menghampiri Ussy yang terpaku


dihadapan kamar Luna yang kini kosong tanpa penghuni, terasa dingin dan sepi semakin menyeruak di rumah kecil.


"Kak Ussy..." sahut Lily memecahkan lamunan Ussy,


"Kak Ussy kenapa?" Tanya kembali Lily,


"Tidak, hanya rindu Una" jawab Ussy tersenyum,


Kemudian Ussy merangkul Lily, "Lily, kamu hanya satu-satunya keluarga Kakak! Jangan tinggalkan Kak Ussy ya..",


"Lily akan selalu ada untuk Kak Ussy," jawab Lily lembut,


"Oh iya, besok kita harus pindah dari rumah ini,"


"Kenapa kita harus pindah Kak?" Tanya Lily heran,


"Agar Kak Ussy bisa menjaga Lily, dan hati Kak Ussy akan tenang bila Lily ada bersama Kak Ussy," jelas Ussy,


"Lily tidak keberatankan kalau kita harus pindah?" Lanjut Ussy bertanya,


"Tidak kok Kak, Lily sangat setuju!" Jawab Lily dengan senyum terukir,


"Syukur kalau begitu Kak Ussy menjadi tenang mendengarnya, yuk kita tidur agar besok tidak kesiangan," ajak Ussy,


"Ayo.." jawabnya sambil berlalu menuju kamar dan terpejam diatas kasur,


Sehelai selimut hangat Ussy balut kepada Lily, mengecup kening Lily kemudian Ussy tertidur dengan memeluk Lily.


Ponsel Ussy berdering Notifikasi panggilan masuk, mata Ussy kembali terbuka saat hendak menutup. Nomor tidak dikenal tertera dalam panggilan tersebut. Sempat ragu menerpa ketika hendak mengangkat panggilan itu. Namun Ussy berusaha tenang dan menghembus nafas, tombol hijau Ussy tekan memulai suatu percakapan.


"Hallo, ini siapa ya?" Tanya Ussy bingung,


"Ini aku Fahrul,"


"Hah Senior?! Kenapa memanggil Ussy? Tahu darimana nomor Ussy? Siapa yang memberinya? Kenapa..." Tanya Ussy tiada henti,


"Stop! Bisa gak sih satu-satu tanyanya!" Potong Fahrul,


"Aku dapat nomor kamu dari Rosa, maaf kalau lancang," jelasnya,


"Oh," balas Ussy ketus,


"Kenapa kamu tidak kuliah?" Tanya kembali Fahrul,


"Bukan urusan Senior!" Jawabnya dingin,


"Yaampun Ussy, aku khawatir sama kamu!" Balasnya dengan nada sedikit tinggi,


"Apa?!" Ucap Ussy minta penjelasan kembali,


"Tidak! Cuma mau bilang selamat tidur!" Balas Fahrul dengan rona merah di wajahnya, kemudian mengakhiri panggilan tersebut,


"Ihh! Aneh banget sih!" Heran Ussy menerpa ketika panggilan diakhiri begitu saja,


Ussy kembali tertidur, dan menghiraukan percakapan tadi. Berbeda dengan Fahrul, jantungnya sangat berdegup kencang saat mendengar suara Ussy, namun hal aneh terjadi kepadanya hati Fahrul terasa tenang setelah mendengar suara Ussy meski singkat.


Fahrul berusaha memejamkan matanya namun sayang pikirannya selalu dihantui oleh Ussy, hatinya memberontak ingin bertemu. Namun Fahrul tahan, akan tetapi semakin ditahan semakin sesak rasanya, kemudian Fahrul membuka matanya dan memberanikan diri untuk menelpon Ussy. Meskipun hatinya merasakan campur aduk ketika hendak memanggil Ussy.


"Huh! Akhirnya aku berhasil! Yess!", ucapnya penuh rasa puas setelah mendengar Ussy,


"Udah dong, jangan deg-degan terus!" Ujar Fahrul sambil mengelus dadanya, matanya kembali terpejam dan tertidur dengan tenang.


***


Matahari mulai memunculkan diri, sinarnya menembus celah jendela. Ussy bangkit dari tidurnya langsung beranjak menuju kamar mandi. Memulai hari dengan kembali tersenyum.


Ussy hendak keluar rumah untuk pergi menemui Pak Romi Si ketua RT, untuk mengurus perpindahan rumah.


"Lily, Kak Ussy keluar dulu ya mau mengurus dulu untuk perpindahan rumah.. Lily jaga diri baik-baik yah..",


"Oke Kak," balas Lily,


---


Akhirnya perjalanan telah sampai tujuan, Ussy segera menghampiri Pak Romi yang sedang duduk depan halaman rumah. Sapa senyum terukir diwajah Ussy, memulai perbincangan dengan Pak Romi membahas perkara perpindahan Rumah.


Tidak perlu waktu lama akhirnya segera urusan telah selesai, Ussy langsung beranjak dan berlalu mendekati sepedanya, namun langkahnya terhenti ketika teringat sesuatu yang belum tersampaikan, Ussy membalikan kembali tubuhnya dan bertanya kembali kepada Pak Romi.


"Oh iya Pak, ada yang mau Ussy tanya lagi,"


"Tanya apa Nak?",


"Perihal Ibu saya, kalau boleh tahu Ibu saya dirawat di rumah sakit mana ya?" Tanya Ussy,


"Oh Ibu kamu ada di rumah Sakit Insani, dijalan melati," jawab Pak Romi,


"Oh begitu ya, terima kasih Pak. Saya pamit ya.." balas Ussy sambil berlalu,


Ussy kembali memboseh sepeda dan berjalan menuju rumahnya, namun ditengah perjalanan Jamy datang menghadang perjalanan Ussy, dengan sigap Ussy langsung mengerem sepeda.


"Kamu Gila?! Gimana kalau ke tabrak?!" Kesal Ussy,


"Ussy.. ku mohon ayo kita kabur dari sini! Jamy ingin hidup bersama Ussy!" Mohon Jamy,


Ussy langsung menghampiri dan mendekati Jamy, dengan lembut Ussy berkata, "Kak Jamy, aku sangat sayang sama Kak Jamy. Aku juga mau hidup bersama dengan Kak Jamy. Tapi bukan dengan cara seperti itu, aku tidak mau menjalin kehidupan tanpa restu dari orang tua, aku takut terjadi malapetaka,"


"Di mata orang tua Kak Jamy, aku sudah ternilai buruk! Apalagi kalau aku melakukan pelarian diri seperti ini, mungkin akan lebih buruk! Pliss Kak jangan seperti ini! Kalau Kak Jamy sayang sama Ussy turuti apa perintah orang tua Kak Jamy," jelas Ussy dengan mata berlinang,


"Tidak! Orang tua Jamy sangat egois!", tolak keras Jamy,


"Bukan seperti itu Kak tapi...",


Byurrr


Ucapan Ussy terpotong, ketika air kotor nan bau tersiram membasahi seluruh tubuhnya, membuat bibir membungkam. Dengan refleks Ussy menoleh ke arah belakang.


"Bagus!!!" Ucap dengan nada kesal,


"Mama!"