
"Akhirnya cincin ini kembali tehadap pemiliknya. Sayang kamu sangat cantik.. Kamu suka'kan?" ucapnya dengan senyum sarkastik.
Wanita itu masih terpejam, rambutnya di belai lembut oleh Mr. GE, perlahan Air mata Mr. GE tergelincir menatapnya masih dalam keadaan dingin.
---
Bercerita sedikit tentang wanita yang berada dalam peti mati itu, dia adalah Tunangan Mr. GE yang bernama Elisa. Seorang gadis berparas cantik bak permaisuri, memiliki tinggi badan yang ideal dan juga badan yang ramping serta berkulit putih dan berbibir tipis.
Elisa adalah Tunangan Mr. GE, hubungan mereka sangat romantis dan begitu harmonis. Elisa dan Mr. GE akan menggelar kan pernikahan dengan kurun waktu yang tidak lama lagi setelah pertunangan digelar.
Tetapi, ada sesuatu yang di tutupi oleh Elisa kepada Mr. GE yaitu perihal kesehatannya. Elisa tidak ingin membebani Mr. GE perihal penyakit yang dia alami, Elisa sangat takut Mr. GE meninggalkannya apabila mengetahui penyakitnya. Elisa mengidap penyakit Kanker Rahim yang memungkin kecil akan memiliki keturunan.
Karena rasa takut yang begitu hebat akan kehilangan kekasih tercinta, maka Elisa bungkam dengan ujian yang menimpa dirinya. Saat itu Elisa membutuhkan biaya untuk melakukan operasi atas penyakitnya. Namun, kondisi ekonomi Elisa yang memburuk. Dia tidak berani meminta uang kepada Mr. GE karena itu akan menimbulkan kecurigaan. Terpaksa Elisa mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai model.
Tapi sebagai model saja tidak cukup untuk menutupi biaya pengobatannya, maka dari itu Elisa menambah pekerjaannya sebagai pelayan disalah satu Bar. Mr. GE tidak tahu menahu soal Elisa yang bekerja paruh waktu.
Dan sewaktu itu terjadi ke salah pahaman antara Elisa dan Mr GE. Saat Mr. GE mulai mengetahui pekerjaannya dan memergoki Elisa yang sedang berduaan dengan Albert, sebagai rivalnya Mr. GE. Amarahnya langsung tersulut, apalagi saat mendapati cincin pertunangan Elisa tidak ada karena terpaksa Elisa menggadai'kan cincin itu untuk biaya pengobatan dan hutang kedua orang tuanya.
Pertengkaran yang mereka alami begitu hebat, dan Mr.GE yang sedang bertengkar dengan Albert memukuli satu sama lain. Elisa langsung memisahkan keduanya, tapi sayang karena kekuatan mereka begitu kuat hingga Elisa tersungkur ke sudut tembok hingga meninggalkan luka serius dibagian kepala. Segera Elisa dibawa ke Rumah Sakit, tapi sayang nyawanya tidak tertolong lagi.
Hatinya hancur berkeping dan Mr. GE menyadarinya atas sikapnya yang telah cemburu buta, setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya dan rahasia yang ditutupi Elisa yang mulai terkuak membuat Mr. GE semakin menyesal atas kepergiannya.
Karena Mr. GE tidak menerima atas kematian kekasihnya itu, dia bersikeras membawa jasad Elisa untuk dibawa kedalam rumahnya.
...***...
"Lily, sudah bisa pulang sekarang. Tetapi dengan satu syarat untuk tetap terus meminum obatnya dan menjaga kesehatannya. Dan juga Check Up setelah obatnya habis ya," tutur Dokter,
"Asikkk... Lily sudah bisa pulang," sorak gembira Lily setelah mendengar berita yang membuatnya begitu senang,
"Baik Dok, Terima kasih."
"Oh iya, untuk jadwal Kemoterapi selanjutnya saya akan jadwalkan bulan depan ya," lanjut Dokter,
Ussy mengangguk setuju untuk pengobatan Lily, nafas lega terhembus lega saat Lily sudah bisa pulang. Sebelum kembali ke rumah, Ussy menengok keadaan Fahrul. Fahrul masih membutuhkan perawatan intensif, sehingga belum bisa pulang. Padahal, batinnya sudah ingin menghirup bau rumah.
"Hallo pangeran!" Lily masuk kedalam ruangan dengan berlari kecil,
"Eh Lily! Kamu sudah sehat?"
Lily mengangguk dengan antusias, wajahnya sangat sumringah sekali. Dilanjut Ussy yang masuk kedalam, mata Fahrul sangat gembira atas kehadiran Ussy untuk kesekian kalinya. Membuat hati-hati sepi Fahrul sedikit terobati.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Ussy sembari duduk disebelah Fahrul,
"Ya.. masih seperti ini, dokter bilang dua hari kedepan aku sudah bisa pulang."
"Syukur kalau begitu, sudah minum obat?" Tanya Ussy berempati,
Balasnya dengan anggukan. "Oh iya, Dimana Ibu kak Fahrul?" Tanya kembali Ussy saat tersadar diruangan begitu sepi,
"Bagaimana dengan Ayah?"
"Sama saja, mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaannya!"
Astaga! Kasihan sekali.. pasti Kak Fahrul begitu kesepian.
Sesaat Ussy menatap Fahrul penuh rasa kasihan, matanya memberi penjelasan bahwa Fahrul begitu kesepian. Kemudian Ussy memegang tangan Fahrul, sedikit tercengang saat tangan Ussy mendarat di punggung tangannya.
"Kak Fahrul pasti bisa melewati ujian ini! Ussy yakin!" Ucap Ussy memberi secuil semangat kepada Fahrul,
Setelah mendengar kata penyemangat, senyum Fahrul merekah. Semangat hidupnya seakan mengalir secara otomatis saat tangan Ussy menggenggamnya seperti mentransfer semangat.
"Kalau gitu Ussy pulang dulu ya, ini sudah terlalu malam, Kak Fahrul jaga diri baik-baik ya.. besok Ussy datang kesini lagi."
"Iya, Terima kasih. Hati-hati dijalannya.." Fahrul tersenyum kepada Ussy,
hatinya tenang setelah Ussy menjenguknya meskipun rasanya ingin menolak Ussy untuk pulang. Ussy segera pulang dengan menggendong Lily yang sudah tertidur pulas di Sofa.
Ussy pindah indekos, ke indekos yang lebih besar karena sekarang dia tinggal bersama Lily yang membutuhkan ruang yang cukup besar untuk mereka berdua. Karena indekos sebelumnya lebih sempit dan sulit untuk bergerak.
Rumah yang Ussy sewa dengan harga terjangkau, memiliki dua kamar tidur, satu toilet, dan dapur, serta ruang tamu yang tidak terlalu besar. Dengan desain yang minimalis sengaja Ussy memilih desain tersebut, agar terlihat lebih nyaman tinggal dirumah.
Ussy segera merebahkan Lily di atas ranjang, segera Ussy menutup pintu kamar Lily secara pelan. Perlahan langkahnya menuju kamar Ussy dan menyimpan tasnya di meja, kemudian Ussy menumbangkan tubuhnya diatas kasur sesekali menghela nafas.
Matanya menatap langit kamar, pikirannya kembali mengingat kejadian berdarah. Seakan Ussy masih tidak percaya dia telah melakukan hal berdosa itu.
"Kenapa?? Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku bisa berani mengotori tanganku dengan dosa keji!" Ussy menatap tangannya yang telah ternodai darah pembunuhan.
"Bapak... Ibu.. Maafkan Ussy telah menjadi manusia pembunuh!! Maafkan Ussy..." tangisnya pecah didalam hening malam, meratapi seluruh dosa yang telah dibuat. Bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur. Ussy terus tersedu hingga mata tertidur.
...***...
Sinar mentari mulai menyinari bumi, warnanya kuning kemerah-merahan menghiasi langit. Sesekali terdengar ayam berkokok bersahut-sahutan yang memberikan semangat baru. Kicauan burung membelah kesunyian pagi. Angin berhembus menyejukkan kalbu. Embun pagi membasahi dedaunan. Mulai terdengar hiruk pikuk kota. Semua orang mulai sibuk melakukan aktivitasnya.
Suara Alarm mulai mendengung di gendang telinga, membuat mata mulai terbangun karena suara bising yang menggangu tidur. Ussy menggapai Alarm dan segera mematikan tombol Off. Tangannya mengucek mata yang masih terasa kantuk, Ussy harus segera bangkit dan menjalani aktifitasnya.
setelah usai sudah Ussy mandi dan menyiapkan sarapan, datanglah Lily langsung menghampirinya.
"Selamat pagi, Kak." sapa Lily,
"pagi juga Lily, ayo sarapan dulu."
Lily mengambil segelas susu dari tangan Ussy, perlahan diteguk hingga habis. "Kak, Ayo kita jenguk Pangeran lagi.." ajak Lily kepada Ussy yang ingin segera bertemu kembali dengan Fahrul.
"Iya, setelah sarapan selesai. Kita pergi menjenguk Kak Fahrul ehh pangeran," balas Ussy sembari tersenyum.