LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 21



Disepanjang perjalanan Ussy hanya terdiam dengan tangan yang asik bermain ponsel, Fahrul pun demikian hanya terdiam dan fokus mengemudikan mobil. Suasana mulai terasa canggung, lalu Ussy meminta untuk berhenti di pinggir jalan.


"Stop.. Turunin aku disini aja!" ucap Ussy memecah suasana hening.


"Ini masih jauh! mana mungkin aku tega turunin kamu disini." timpal Fahrul menolak dengan terus mengendarai mobilnya.


"Pokoknya Stop! Stop! Stop!".


Akhirnya Fahrul menginjak rem secara mendadak, membuat tubuh terhentak, dengan nada tinggi Fahrul berucap "Kamu keras kepala banget sih! Engga bakal aku turunin kamu!".


"Siapa juga yang mau turun disini?! Orang aku mau pindah ke belakang!" jawab Ussy dengan nada datar.


Seketika wajah Fahrul merona, menahan rasa malu karena berpikir Ussy akan turun di pertengahan jalan. Lalu Ussy membuka pintu mobil berpindah posisi menjadi di belakang, dengan tertawa kecil melihat reaksi Fahrul. Akhirnya perjalanan kembali berlangsung dengan suasana hening.


Selang beberapa menit kemudian, 'Krubuk' terdengar jelas suara perut keroncongan Fahrul. Ussy menahan tawa saat mendengarnya. Fahrul hanya menutupi wajah dengan malu. Kemudian Ussy merogoh tas dan mengeluarkan bekal yang telah disiapkan oleh Ibu.


"Nih, makan." Ussy menawarkan bekal makanannya kepada Fahrul, meski hanya Ubi rebus saja.


Fahrul melirik makanan yang ditawarkan oleh Ussy "Engga! Terima kasih! Masih kenyang!" Tolak Fahrul dengan gengsi.


"Hmm.. Ya sudah kalau gak mau. Tidak apa-apa, biar Ussy aja yang makan sendiri." Ucap Ussy lalu melahap Ubi tersebut.


"Emmm enak sekali... Tapi sayang, orang kaya mana mungkin mau makanan seperti ini. Padahal ini enak sekali. emmm enak banget..." Ussy melahap secuil demi cuil Ubi,


Fahrul yang melihat dikaca *S*pion dalam mobil hanya bisa menelan ludah saat Ussy memakan perlahan Ubi tersebut.


"Yakin.. Enggak mau?" Tanya Ussy sekali lagi menawarkan. Lalu Fahrul mengulurkan tangannya ke belakang.


"Mau," jawab Fahrul dengan nada rendah,


Ussy langsung menyodorkan Ubi. Seketika Fahrul langsung menyatapnya dari tangan Ussy, membuat rona pipi terukir jelas di wajah Ussy.


"Gak bisa makan sendiri apa?!" kesal Ussy,


"Kan lagi nyetir mobil!" balas Fahrul tidak mau kalah. Ussy terduduk kembali dan menengok ke arah jendela, tidak ingin sipu malu nya terlihat. Fahrul hanya tersenyum melihat sikap Ussy gelagapan.


Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya sampai tujuan. Fahrul mengantarkan Ussy hingga indekos nya. Tidak butuh waktu lama Fahrul bergegas kembali menuju arah rumahnya karena hari sudah mulai larut. Tidak lupa Ussy berterima kasih kepadanya dan melambai tangan perpisahan kepada Fahrul.


"Ternyata Senior gila itu baik juga." Ujar Ussy tersenyum,menatap mobil Fahrul yang perlahan menjauh termakan jalan. seraya membuka gerbang.


***


#POV LUNA


Saat hari mulai malam dan jam menunjukan pukul sepuluh malam, Luna terbangun dari tidurnya. Luna membuka tirai kamarnya lalu berjalan keluar menuju kamar mandi, tidak tahan menahan perut yang terasa sakit ingin membuang hajat kecil.


Setelah selesai, Luna langsung keluar dari toilet dan berjalan menuju arah kamarnya. Namun, saat di pertengahan jalan. Luna tidak sengaja mendengar seseorang sedang berbincang asik dengan sesekali tertawa di bilik kamar Ibu. Lalu Luna menghampiri kamar Ibu dan mengintip di balik Tirai kamar Ibu.


Luna terkejut, matanya membulat sempurna seakan tidak percaya apa yang Luna lihat. Terlihat Ibu sedang asik berbincang sendiri terkadang tertawa begitu saja dengan *B*antal guling yang terbuat dari kapuk disampingnya.


"Ibu.. kenapa belum tidur?" tanya Luna sambil membuka tirai kamar,


"Belum, ini Ibu lagi ngobrol sama Bapak," jawab Ibu dengan penuh rasa yakin dan senyum menyirat,


"Bapak siapa Bu?" Tanya kembali Luna tidak percaya,


"Bapak kamu lah!" jawab Ibu dengan nada tinggi,


"Tapi bu.. Bapak sudah meninggal!" tegas Luna membenarkan keadaan.


"BAPAK KAMU MASIH HIDUP! SIAPA YANG BILANG SUDAH MENINGGAL! LIHAT BAPAK SEDANG BERSAMA IBU DISINI!" jawab Ibu dengan nada tinggi sambil menunjukan bantal guling kepada Luna.


"Ibu itu bukan Bapak! Itu hanya Guling kapuk! Ibu... Una mohon sama Ibu, terima dan ikhlaskan kepergian Bapak! BAPAK SUDAH MENINGGAL BU!" Jelas Luna kepada Ibu dengan mata yang berkaca.


"TIDAK! BAPAK TIDAK MUNGKIN MENINGGAL!" teriak Ibu tidak percaya.


"Bu... Una mohon.."


Ibu langsung memotong ucapan Luna "KELUAR KAMU!" teriak Ibu mengusir Luna dengan nada tinggi, membuat Luna terdiam membisu dengan tubuh yang bergetar mendengar bentakan Ibu.


"IBU BILANG KELUAR !!!" Bentak Ibu kembali kepada Luna. Luna langsung berlari keluar menuju kamarnya meninggalkan Ibu.


Luna menangis tersedu setelah mendengar Ibu membentaknya, perih bersatu menjadi satu. Seakan di tampar oleh keadaan. Tubuhnya langsung menghempas ranjang, mata terus mengalirkan air kepedihan.


Tidak menyangka atas sikap Ibu yang berubah drastis, membuat hati Luna teriris. Luna yang menangis tersedu membuat Lily yang sedang tertidur di sebelahnya terbangun, dengan polos Lily bertanya keadaan Luna yang tiba-tiba menangis. Dengan cepat Luna mengusap air matanya dan hanya menggelengkan kepalanya.


Lantas Luna menyuruh Lily untuk tertidur kembali, Lily pun kembali dalam tidurnya.


"Tuhan.. mengapa jadi seperti ini! Kenapa Una harus terlahir MISKIN dan sekarang kenapa mengambil Bapak! INI TIDAK ADIL! UNA BENCI HIDUP! UNA BENCI SEMUANYA!!" jerit derita Luna meratapi nasib.


Keesokan harinya Luna bersiap diri untuk berangkat sekolah, dengan seragam putih biru. Namun semangatnya tidak sepenuh saat awal memasuki sekolah barunya, wajahnya menjadi lebih dingin dengan mata yang sembab.


Tas sekolah di raih dan sepatu mulai di ikat. Dengan berat hati Luna berpamitan kepada Ibu yang sedang sibuk dengan adonan kue nya.


Namun saat Luna hendak mencium tangan Ibu, Ibu menolaknya. Hati Luna sakit melihat perilaku Ibu, seolah dingin oleh keadaan. Ibu hanya sibuk dengan adonan Kue nya saja, menghiraukan keberadaan Luna.


Luna mematung seketika saat Ibu berperilaku seperti itu kepada Luna, lalu datang Lily memecahkan suasana dingin antara Ibu dan Luna, dengan menarik tangan Luna agar segera berangkat sekolah. Luna menerima ajakan Lily dan beranjak pergi sekolah bersama.


"Kak Ayo berangkat, Nanti kesiangan," Ajak Lily kepada Luna.


"Ayo.." Jawab Luna merespon ajakan Lily.


Saat Luna dan Lily sudah berangkat sekolah. Ibu masih saja membisu dengan tangan yang sibuk mengolah adonan kue, lambat laun air mata Ibu menitik. Teringat kejadian saat malam tadi, membentak Luna. Lantas Ibu mengusap air matanya dan berusaha melupakan kejadian semalam.


"Bapak tidak meninggalkan! Bapak selalu ada di samping Ibu! Engga mungkin Bapak ninggalin Ibu! Luna saja yang gegabah berbicara Bapak meninggal! Apa Luna gila ya?? Aduh... Haha Luna ada-ada saja." ujar Ibu berbicara sendiri sambil tertawa