LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 61



Happy Reading ...


Jangan lupa tinggalkan Like dan komentarnya, juga Vote kalian untuk mendukung Author lebih semangat 😊


***


"Ada seseorang datang menjenguk," ucap seorang polisi kepada Mama Jamy sembari membuka pintu sel penjara.


Mama Jamy hanya mengerutkan dahinya penuh heran, siapa yang menjenguknya? Tidak mungkin kalau suaminya, karena baru-baru ini suaminya menggugat cerai Mama Jamy. Ya, karena perilakunya yang selalu membuat malu dan merusak reputasi keluarga.


Setelah tragedi penusukan Jamy yang dilakukan oleh dirinya sendiri, meskipun tidak sengaja tetap saja Mama Jamy harus menikam di penjara karena kesalahannya dan mempertanggung jawabkan semuanya. Hatinya terasa sangat tersiksa atas kepergian anaknya itu, karena kecerobohan Mama Jamy yang membuat dia menyesal dibalik jeruji besi.


Perlahan Mama Jamy keluar dari sel, menemui seseorang yang datang untuk menjenguknya, setelah sekian lama dia ditikam dipenjara kini ada seseorang yang datang untuk menemui dirinya, siapa gerangan?


Mendadak mata Mama Jamy membulat sempurna dengan mulut yang sedikit menganga, tidak percaya yang membesuknya adalah seseorang yang sangat dia benci, sempat terjadi penolakan. Namun, dengan sigap Polisi menahan Mama Jamy dan segera mempertemukan dengan seseorang yang membesuknya itu.


Mama Jamy terpaksa duduk dan langsung bertanya perihal alasan orang tersebut datang membesuknya.


"Mau apa kamu datang kesini, Ussy! Masih punya muka ya!" Mama Jamy berucap dengan angkuh seakan dirinya merasa benar,


Ussy tersenyum miring dan memandang tajam Mama Jamy yang membuatnya sedikit bergidik melihat tatapan mata Ussy yang terlihat sangat dingin.


"Harusnya saya yang berucap seperti itu! Begitu tebalnya wajah anda, hingga masih bisa berkata seperti itu kepada saya!"


"Kurang ajar kamu! Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" Mata Mama Jamy seakan menggambarkan rasa takut.


Ussy memegang kecil dagu Mama Jamy sedikit menengadah, Mama Jamy tidak bisa berontak karena tangannya yang kini di borgol.


"Apa kamu tidak puas setelah membunuh Anak-mu sendiri, lalu membunuh lagi seseorang yang tidak bersalah?"


"Apa yang kamu katakan?! Saya tidak mengerti!" Jawab Mama Jamy seakan penuh rasa takut akan pertanyaan Ussy yang menjerumus kepada aksi buruknya yang berusaha dia tutupi.


"Masih kurang ngerti?! Baiklah biar saya perjelas, apakah kamu yang membunuh Bapak Ussy?" Pernyataan Ussy membuat seluruh badan Mama Jamy bergetar hebat saat keburukannya telah tercuat,


"Beraninya kamu bertanya seperti itu! Mana mungkin saya melakukannya!" Mama Jamy menjawab dengan terbata-bata,


"Jangan berbohong! Ussy tidak segan menggugat hukuman mati untuk kamu!" Peringatan keras Ussy terhadap Mama Jamy yang berusaha berbohong untuk menutupi kebenarannya.


"Jangan asal bicara kamu! Apa kamu menantang saya?! Saya tegaskan sekali lagi, bahwa saya tidak melakukan hal keji seperti itu! Bukankah sudah jelas bahwa Bapak kamu mati karena serangan jantung?" Mama Jamy terus mengeluarkan Alasannya,


Ussy langsung menepuk tangannya memberikan sindiran kepada Mama Jamy yang pandai berbohong, "pandai juga ya ... anda bersandiwara!"


"Saya tanya sekali lagi, apa anda membunuh Bapak saya? Kalau anda tidak mengatakan yang sejujurnya, maaf anda harus dihukum mati. Karna nyawa dibayar nyawa!"


"SAYA TIDAK BERBOHONG! SAYA TIDAK MELALUKAN PEMBUNUHAN BAPAK KAMU!" balas Mama Jamy dengan penuh kesal.


Plakk..


Ussy langsung menamparnya saat Mama Jamy ngotot dengan perbuatannya dirinya sendiri.


"Ussy kamu sungguh kurang ajar! Beraninya kamu menampar aku!" Mama Jamy langsung meringgis kesakitan terkena tamparan Ussy yang meninggalkan merah,


"Apa kamu masih mau mengelak dengan bukti ini?!"


Mata Mama Jamy membelalak mendapati seluruh bukti tertulis atas kejadian sebenarnya kematian Bapak Ussy. Keringat dingin menetes basah membanjiri tubuhnya.


"A-apa ... Dapet dari mana bukti ini?!"


"Itu semua tidak penting untuk anda ketahui, saya dapat bukti ini dari siapa! Karena anda sudah tidak jujur. Maka maaf Ussy akan memberatkan hukuman anda, Mama!" Balas Ussy begitu tajam.


"Tidak... tidak... maafkan aku Ussy! Maafkan Mama, Mama Janji akan melakukan hal apapun untuk kamu asal jangan membuat Mama mati, Mama tidak ingin mati!" akhirnya Mama mengaku dan meminta maaf atas semuanya, tangannya berusaha meraih tangan Ussy dan segera bersimpuh.


"Cih, sudah terlambat!"


"Mama mohon ... ampuni Mama, jujur Mama tidak sengaja menabrak Bapak kamu!" Mama Jamy bergetar, air matanya mengalir deras.


Ussy mendongakan dagu Mama Jamy, "Apa kata mu? Tidak sengaja! Mama biarkan Bapak Ussy yang sekarat hingga mati! Tidak ada pertanggung jawaban sama sekali!" Amarah Ussy mulai tersulut.


"Tapi ... Mama benar-benar tidak sengaja Ussy ... Ampuni Mama!"


"Ampuni? Hah! Tidak ada gunanya, sekarang anda pilih Mau hukum penggal? Atau hukum gantung?" Ussy memberi pilihan hukuman yang membuat Mama semakin histeris ketakutan,


"Sa-ya ... mohon jangan lakukan itu!" Balas Mama begitu terbata,


"Hmm .... baiklah Ussy akan meringankan hukumannya, asal Mama harus mencium kaki Ussy!" Syarat Ussy dengan senyum terseringai, begitu menakutkan.


Seketika amarah Mama tersulut, dia berdiri dan langsung membanting meja, membuat polisi langsung menahan Mama yang ingin menerkam Ussy.


"DASAR BRE*GSE*! J*L*NG TERKUTUK! BERANINYA KAMU MENGHINA HARGA DIRI SAYA!!" Mama Jamy mulai menggila dengan tangan yang terus ingin menikam Ussy, polisi menahan pergerakannya.


Ussy hanya berperilaku santai, lalu Polisi segera membawa Mama Jamy masuk ke dalam sel kembali. Keadaan mulai tenang, Ussy menghela nafas. Matanya mulai memerah memendam amarah yang begitu besar.


Ussy segera bertindak lanjuti kasus Mama Jamy, dengan membawa berkas sebagai bukti kuat untuk menuntut hukuman yang lebih berat kepada Mama Jamy. Dengan semua data yang dimilikinya, Mama Jamy berhasil dijatuhi hukuman mati.


Senyum jahat Ussy terukir, saat semua dendam terbalaskan, hukuman mati akan dilaksanakan pekan depan. Tentu, Ussy akan datang menghadiri haru terakhir Mama Jamy.


Maaf Bapak ... terpaksa Ussy melakukan ini semua, Ussy tidak rela Bapak mati mengenaskan ditangan Rubah licik itu! Nyawa dibayar nyawa!


...***...


Saat di perjalanan pulang, Ussy merogoh ponselnya. Tidak disangka saat melihat layar ponsel banyak sekali daftar panggilan yang tidak terjawab, dan beberapa pesan yang belum sempat terbuka.


'Ussy kamu dimana?'


'Kamu tidak tertelan bumi'kan? Jangan buat aku khawatir!'


Setelah membaca beberapa pesan dari Fahrul, segera Ussy melihat jam tangannya. Sesaat Ussy terkejut saat jam menunjukan pukul dua sore.


"Astaga! Pantas saja ini sudah jam dua! Aku harus cepat!"