LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 25



Prang..


Gelas yang berisi air panas seketika lepas dari genggaman Ussy, kakinya melepuh terkena tumpahan air. Ussy langsung meringis kesakitan. Lalu menggapai kotak obat, dengan cepat mengobati kakinya yang terluka.


Deg


"Kenapa ya perasaan aku tidak enak? Gak biasanya." Keluh Ussy dengan perasaan di hati yang penuh cemas.


"Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi kenapa ya akhir-akhir ini Ibu sulit dihubungi? Apa Ibu baik disana? Coba deh sekali lagi telpon." Lanjut Ussy bertanya dalam diri, dan meraih ponselnya lalu menghubungi Ibu.


Tut..Tut.. Tut..


Maaf panggilan yang anda tuju, sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.


"Loh.. Kok gak aktif sih?!" Cemas Ussy semakin menjadi, ketika ponsel Ibu tidak aktif.


Tiba-tiba *N*otifikasi pesan masuk diponsel Ussy, dengan segera Ussy membukanya. Sebuah kabar baik telah masuk dalam kehidupannya, Ussy diterima kerja di sebuah restoran, yang kemarin sempat mengikuti test dan hasilnya Ussy berhasil melewatinya hingga lulus. Perjuangannya kini tidak sia-sia. Senyumnya terukir ketika mendapat kabar yang begitu membuat Ussy bahagia.


"Selamat untuk kamu Lussy, kamu telah lulus test di cafe kami, dengan posisi sebagai kasir. Kerja di mulai lusa. Selamat bergabung! Kami tunggu kehadiran mu Lussy!" Isi pesan tersebut, membuat Ussy begitu bahagia.


"Terima kasih Tuhan." Ucap syukur terpanjatkan.


"Minggu depan aku harus pulang kerumah!" Lanjut Ussy menyusun rencana.


***


#POV LUNA


Mentari mulai menyinari dunia, Luna terbangun dari tidurnya, kemudian melanjutkan membangunkan Lily agar segera bersiap untuk sekolah. Suasana rumah kini terasa berbeda, hening yang terasa begitu tajam, tanpa kehadiran Ibu.


Bapak yang kini telah tiada, dan Ibu yang kini telah berada di Rumah sakit jiwa, dibawa paksa oleh warga. Karena kondisi mental Ibu yang membuat resah orang.


Hati Luna hancur berkeping, jiwanya berkecamuk. Senyumnya kini hilang ditelan keadaan pahit, semangatnya perlahan luntur dihapus hari kelam.


Luna dan Lily segera berangkat sekolah, di depan keranjang terisi penuh kue dagangan, seperti biasa Luna menyimpan dagangannya ke warung-warung. Dan berangkat lebih pagi dari biasanya, mengantar dagangannya lalu pergi berangkat sekolah.


Tubuhnya Luna kini semakin terlihat kurus, kantung mata terlihat begitu jelas. Terkadang Luna sering kepergok tertidur di kelas saat jam pelajaran berlangsung.


Karena terlalu lelah menghadapi hidupnya. Teguran Guru seakan menjadi hal biasa bagi Luna yang sering tertidur di kelas, telinganya sudah tidak menggubris seluruh teguran.


Sewaktu hari Luna membawa dagangannya ke sekolah, laris manis kue yang dijualnya habis, lalu Luna membawa kembali dagangannya. Namun sayang saat hari itu Luna sedang sial. Angel datang mengganggu kembali kehidupan Luna.


"Wihh... ada yang masih berani nih! Muncul di hadapan aku! Tambah berani lagi dagang di sekolah! Gak tahu malu banget!" Ganggu Angel kepada Luna.


Namun Luna sibuk dengan melayani para pembeli kue, tidak menggubris perkataan Angel, sehingga Angel kesal dengan perilaku Luna yang tidak menganggapnya.


brakkk..


Dagangan Luna hancur berantakan dilemparkan oleh Angel. Luna terkejut ketika dagangannya hancur berantakan, para siswa yang sedang mengantri untuk membeli Kue Luna kini menyoroti Angel si pembuat onar.


"PUAS KAMU!" Ujar kesal Luna,


"Sangat puas!" Jawab Angel sembari menginjak kue dagangan Luna, reaksi Angel membuat para siswa yang melihatnya geram dengan tingkahnya.


"Huuuu.. dasar pembuat Onar!" Seru para siswa menyuraki Angel.


"Hey... Diam kalian! Kalau kalian bicara lagi saya akan lapor ke ayah saya supaya kalian dikeluarkan dari sekolah! Cepat bubar!!!!" Kesal Angel mengancam. Ayah Angel adalah kepala sekolah membuat Angel menjadi sombong atas jabatan ayahnya itu.


Seketika datang Daniel langsung menampar Angel, Angel terkejut dengan tamparan Daniel secara mendadak. Suasana menjadi lebih panas, para siswa yang menonton mulai riuh melihat suasana menjadi lebih tegang.


"Kamu keterlaluan Angel!" Teriak kesal Daniel.


"Angel lakukan ini karena Angel sayang sama kak Daniel!",


"Bukan kaya gitu caranya! Kamu itu wanita kasar! Berhati busuk!" Bentak kembali Daniel kepada Angel.


"Lalu Angel harus melakukan apa? Supaya Kak Daniel sayang sama Angel! Asal Kak Daniel tahu, semenjak ada Luna. Kak Daniel berubah sama Angel! Gak deket lagi seperti dulu!"


"Aku cuma sayang sama Luna! Dan tidak ada hak kamu untuk melarang aku! PAHAM!" Jelas Daniel.


"ARRGGGHH! Awas kamu Luna! Tidak sudi aku melihat kamu dengan Kak Daniel!" Angel menjerit kesal, seraya meninggalkan Luna dan Daniel.


Luna menghela nafas, menahan segala emosi yang tertimbun begitu besar. Tangannya berhenti mengepal ketika Angel pergi dari hadapannya. Lalu Luna perlahan memungut kue yang hancur diinjak manusia biadab seperti Angel.


Menahan tangis yang ingin keluar. Jiwanya berusaha tegar tapi tidak dengan hati yang rapuh. Lalu para siswa bubar setelah keadaan kembali normal.


"Sini biar Daniel bantu." ucap Daniel memberi pertolongan.


"Tidak usah! Cepat pergi!" balas Luna dingin, akan tetapi Daniel tidak menghiraukan sikap Luna. Dan kekeh membantu Luna.


"SUDAH KU BILANG PERGI!!" tolak Luna sekali lagi dengan nada tinggi.


"Tapi Luna, Daniel mau bantu Luna. Dan Daniel sayang sama ka...," ucap Daniel langsung terpotong oleh Luna.


"Sudah ku bilang pergi dari sini! Luna tidak butuh bantuan kamu! Apalagi perasaan kamu! Apa Kak Daniel tidak menganggap serius dengan ucapan Luna waktu itu? Bahwa Kak Daniel bukan tipe Luna! Apa kurang jelas?!" Bentak Luna, membuat hati Daniel tercatat dengan perkataan Luna.


"Sungguh.. Luna kejam! Luna tidak punya hati! Luna kejam!" Jawab Daniel tersedu.


"Itu memang kenyataannya. Suruh siapa Kak Daniel mengejar cinta Luna? Luna tidak akan pernah cinta ataupun sayang sama kak Daniel. Camkan!"


"LUNA JAHAT!" Teriak Daniel seraya meninggalkan Luna sendirian.


"Maafkan Luna kak.." bisik Luna dalam hati menyesal telah berbohong.


***


Akhirnya Bel pulang sekolah berbunyi. Luna langsung dengan segera mengayuh sepedanya. Dan berjalan menjemput Lily. Saat telah sampai, Terlihat Lily sedang duduk menunggu jemputan Luna. Tapi sayang mata Lily terlihat sembab ketika dari dekat.


"Lily kenapa matanya merah? kamu habis nangis ya?" cemas Luna, Lalu Lily mengangguk kepalanya, dan menjelaskan apa yang Lily alami.


"Teman sekelas Lily mengejek Ibu Lily Ibu gila. Lalu mereka menyebut Lily juga Gila. karena Ibu Gila jadi mereka menganggap Lily Juga Gila. lily dijauhkan oleh teman sekelas Lily. hiks..hiks... pokoknya Lily gak mah sekolah lagi!" adu Lily sambil tersedu.


"Ehhh.. Lily tidak boleh berbicara seperti itu. Lily harus sabar dengan ucapan mereka. Lily harus balas ucapan mereka dengan kecerdasan Lily di sekolah. Lily ingatkan Lily ingin menjadi bintang? nah jadi bintang kan gak mudah, butuh banyak proses. jadi anggap aja ucapan mereka adalah angin berlalu. Sekarang Lily hapus air mata Lily, kembalilah tersenyum." Jelas Luna.


Akhirnya Lily kembali tersenyum, setelah mendengar ucapan Luna, "Kak Una akan memberikan pelajaran ke orang yang telah menyakiti adik Una, jadi mana orangnya? Biar Una timpuk pake ban." Lanjut Luna sambil bergurau.


"Hehe.. tidak usah Kak Una, biar Lily yang balas nya. Lily akan balas dengan bintang!" Timpal Lily kembali semangat.


"Nah gitu lebih bagus! Sekarang mari kita pulang." Ajak Luna.


Lily menaiki jok belakang sepeda dan terduduk, "Ayo... Kita pulang.." Seru semangat Lily. Luna tersenyum bahagia ketika adiknya tidak lagi bersedih.