LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 49



Hallo untuk para Readers yang sangat setia menunggu UP karya saya ini, maaf ya sekarang agak lama UP ๐Ÿ˜… karena saya mengidap penyakit MALAS akut! hohoho jadi hampir terbengkalai cerita ini kwkw, tapi saya akan berusaha selalu UP setiap hari apabila penyakit MALAS ini tidak kambuh dan memberontak, semoga saja... udah sih gitu aja, gak penting ya ๐Ÿ˜…


Ya sudah sekarang kita kembali berhalu dalam cerita sayeuu๐Ÿ˜š semoga kalian tidak lupa alurnya hoho๐Ÿ˜…


Happy Reading gais๐ŸŽ


*********


"Arrghh sakit!" Teriak Lily sambil memegang kepalanya,


"Lily! Kamu kenapa?" Cemas Ussy,


"Aarrghh aku pusing Kak, argh sakit sekali!" Lily semakin meringis kesakitan di kepalanya.


Segera Ussy menekan tombol darurat, tidak lama kemudian Suster dan Dokter datang menghampiri dan memeriksa kondisi Lily, raut wajah Ussy sangat tergambar jelas penuh kecemasan yang tak tertahankan.


"Bagaimana Dok?" Ucap Ussy langsung bertanya ketika dokter melepaskan Stesthoscope,


"Pasien harus segera melakukan Kemoterapi secepat mungkin, karena saya khawatir akan kondisi Pasien yang semakin memburuk," jawab Dokter,


"Saya telah memberinya obat pereda sakit namun itu bekerja sangat singkat, saya harap anda segera melakukan Administrasi untuk melakukan Kemoterapi," lanjut Dokter.


Kemudian Dokter segera berlalu keluar ruangan yang dilanjut dengan Suster, Ussy hanya terdiam setelah mendengar saran Dokter, rasanya semakin ingin menjerit dan keluar dari kehidupan pahit ini!


Setelah Dokter memberikan Obat kepada Lily, perlahan Lily tertidur. Reaksi obat mulai bekerja, seakan Lily tertidur dengan nyaman, jeritnya tidak lagi terdengar hanya suara dengkuran kecil saat itu.


"Lily .. kamu harus kuat ya sayang! Kakak akan segera mencari uang untuk pengobatan kamu!"


Ussy mengecup kening Lily, tak terasa air matanya terjatuh membasahi pipi Lily. Segera Ussy mengusapnya dan membelai lembut.


***


Ussy berusaha mencari puing-puing uang untuk pengobatan Lily, melamar pekerjaan kesana kemari namun nihil! Tidak ada satupun perusahaan yang menerima Ussy. Lalu Ussy berupaya untuk mencari pinjaman, namun tetap saja tidak ada satupun yang menolongnya.


Dalam hati sempat merasa guncangan lelah yang ingin mengakhiri hidupnya, sesak semakin terasa saat jiwa tidak lagi mampu menahan beban. Hela nafas semakin berat, langkah kaki seakan lunglai menahan semua cobaan.


"Tuhan harus kemana lagi aku mencari uang?!" Keluh Ussy dalam hati,


"Bibi Yun!" Segera Ussy merogoh ponselnya untuk menghubungi Bibi Yun,


Semangat Ussy kembali bergelora saat otak telah memberi solusi terakhir yaitu meminta pertolongan kepada Bibi Yun, hanya itu harapan satu-satunya.


"Ayolah! Angkat Bi!" Dengus kesal Ussy yang menunggu begitu lama panggilan terjawab,


Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.


"Argh! Kenapa tidak aktif?" Dengus kesal Ussy,


"Aku harus segera menemui Bibi Yun secara langsung!" Tekadnya kembali membulat.


Perjalanan cukup memakan waktu, akhirnya Ussy telah sampai depan gerbang rumah Bibi Yun. Langkahnya segera mendekati pagar, tidak lama Satpam muncul dan langsung menyapa Ussy.


"Eh Non Ussy, sudah lama tidak berjumpa! Bagaimana kabarnya?" Tanya Satpam lembut,


"Baik Pak, oh iya apakah Bibi Yun ada?" Tanya kembali Ussy,


"Aduh Non maaf! Nyonya Yun sudah lima hari meninggalkan rumah untuk pergi ke luar negeri bersama Tuan besar," jelasnya,


"Oh, lalu kenapa sulit untuk dihubungi ya?",


"Maaf Non, perihal itu saya tidak tahu,"


"Oh seperti itu ya, Terima kasih pak." Balas Ussy sembari berlalu,


"Loh Non tidak akan mampir dulu?" Sahutnya,


"Tidak Pak, Ussy sedang buru-buru! lain kali saja," Balasnya,


***


Langkah kaki menyusuri Trotoar jalanan, langit mulai senja namun perjuangannya tidak mereda. Batin semakin terguncang dengan hari yang semakin berganti. Air mata menetes penuh dengan kekacauan! Hatinya memberontak keluh.


"TUHAN!! KENAPA KAU BERI UJIAN BESAR INI KEPADA KU!!" jerit kesal Ussy hingga mengalirkan tangis,


Kepalan Tangan Ussy terus memukul pohon yang berdiam diri dipinggir jalan, tangannya mulai memerah saat berulang kali memukul meluapkan segala emosi.


"Aarrghh Aku benci! Benci!"


Kini kakinya lunglai dan perlahan terjatuh, tumit mencium tanah, terduduk begitu lemah tidak berdaya dengan tangis yang selalu terdengar. Sesaat pikiran buruk menerpa kondisi yang mendesak. Ussy merogoh tasnya dan mengambil secarik kertas, Lalu memandang dengan tangis yang perlahan terhenti.


"Apakah aku harus melakukan ini?" Ucapnya sambil memandang secarik kertas,


"Hanya ini jalan terakhirnya!" Tutur Ussy sambil beranjak.


Derap langkah semakin cepat saat niatnya berkunjung kepada alamat tujuan, tatapan lembut kini berubah dengan tatapan penuh dendam, hatinya seakan membatu termakan api Egoisme.


Kini Ussy telah sampai tujuan dan segera memasuki ruangannya. Suara dentingan Bel toko terdengar saat Ussy memasukinya.


"Sudah ku duga kamu akan kesini!" Ucapnya menatap puas kehadiran Ussy,


"Cepat antarkan aku!" Tegas Ussy,


"Dengan senang hati," balasnya tersenyum simpul,


---


"Permisi Tuan ada yang ingin..." ucapnya terpotong saat suara tepuk tangan terdengar dibalik kursi.


Lalu dia memutarkan kursi tersebut dan melihatkan wajahnya, membukakan kupluk jubahnya dan tersenyum seringai dihadapan Ussy.


"Haha akhirnya kamu datang Lussy!" Ucapnya penuh puas dengan terkekeh,


"Aku tahu tujuan kamu kesini, Bagaimana apa kamu setuju?" Lanjutnya sedikit mengangkat alis.


"Saya setuju bergabung dengan Tim anda, Mr. GE!" Ucap Ussy penuh lugas,


"Haha bagus! Pikiran saya memang tidak salah kamu pasti akan bergabung dengan tim saya!"


"Dengan satu syarat saya ingin imbalan hari ini di bayar lebih awal! Dan saya harap anda menepati janji anda untuk membungkam identitas saya!" Pinta Ussy,


"Haha masalah identitas, harta, bahkan takhta sekalipun itu perkara mudah bagi saya, asalkan kamu bersedia melakukan apapun yang saya perintah maka semua akan aman," balas Mr. GE penuh arogan,


"Dan apabila kamu mengkhianati saya! Semua akan hancur lebur dalam sekejap!" Lanjutnya,


"Baik saya terima!" Balas Ussy penuh yakin,


"Bagus! Saya ucapkan Selamat Datang Lussy di Vile Blood! Kamu akan dilatih oleh Anton secara khusus,"


Terpaksa Ussy bergabung dengan Mr. GE, entah apa yang akan terjadi nantinya, pikirannya sudah butuh untuk menyelamatkan Lily.


"Maafkan Kak Ussy, Lily sayang .. kakak harus mendapatkan uang segera meskipun dengan cara seperti ini, yang terpenting Lily harus selamat! Harus tetap Hidup!" Ucap Ussy dalam batinnya begitu tersayat.


"Mari sayang ikutlah dengan ku.." ucap Mr. GE sembari menuntut Ussy ke salah satu ruangan.


Ussy berjalan menuturi Mr. GE, dilanjut oleh Anton yang berada di belakangnya. Mereka berjalan menyusuri koridor gelap yang hanya diterangi beberapa lampu gantung yang sedikit redup.


Hawa dingin begitu menyeruak ketika mereka mulai mendekati salah satu ruangan, lalu Mr. GE membuka pintu dengan menekan tombol dan memasukan kode pembukaan pintu. Akhirnya pintu terbuka, sorot mata Ussy begitu tercengang melihat isi dalam ruangan tersebut. Didalam ruangan itu banyak sekali koleksi perhiasan dengan berbagai model yang begitu mewah, tentu dengan harga yang cukup tinggi.


"Ini merupakan sebagian koleksi kecil yang saya dapat dan akan saya lelang kepada para pebisnis besar!" Tuturnya,


"Astaga! Apakah Dia seorang pedagang gelap!" Kejut Ussy dalam hatinya,


"Yang lainnya ada di beberapa ruangan, disini tidak hanya barang namun manusia juga ada! Tapi tenang saja saya tidak akan menjual kamu.." Bisik Mr. GE kepada Ussy membuat sedikit merinding.


"Keparat kau Mr. GE!" Gerutu Ussy dalam hatinya,


"Oh iya, apabila kamu mengkhianati saya! Atau pun mengekang apa yang saya perintahkan, maka hukumannya adalah..." Mr. GE segera menekan tombol disalah satu remote nya, hingga ruangan yang dituju terbuka.


Mata Ussy sangat membulat sempurna, badannya gemetar ketika melihat isi ruangan penuh akan aroma darah, banyak manusia yang digantung dalam keadaan mati membusuk serta beberapa sedang dikuliti. Sungguh keji Mr. GE! Ussy langsung menutup hidungnya, tidak tertahankan bau amis darah yang cukup membuat rasa mual. Raungan kesakitan mereka yang disiksa sungguh membuat Ussy tidak tega.


"Ruang Hukum!" Ucap Mr. GE


"Siapapun yang berani melawan, mengkhianati, ataupun berusaha membunuh saya! Termasuk kamu! Saya tidak akan segan untuk menyiksanya seperti itu!" Lanjutnya dengan menunjuk kepada segorombol manusia yang sedang disiksa.


Raung kepedihan para manusia masih mendengung jelas di telinga Ussy, raganya bergetar melihat kondisi mereka yang berlumuran darah, mata seakan enggan melihat siksa yang begitu mengerikan. Ussy menelan ludah, setelah melihat para manusia yang disiksa oleh suruhan Mr. GE