
Luna dan Lily akhirnya sampai dirumah, Lily membuka pagar dan sepeda Luna masukan di depan halaman. Kemudian terlihat sendal Ibu yang sudah ada didepan pintu. Luna pikir Ibu pulang lebih awal, dan sedikit menghela nafas lega karena Ibu tidak perlu berjualan kue terlalu larut.
Kemudian Lily membuka pintu dan memasukinya, lalu langsung menuju kamar. Menyimpan tasnya. Dan dilanjutkan oleh Luna yang masuk kedalam rumah, setelah menyimpan sepeda di depan halaman.
"Ibu.. Luna pulang.." Sahut Luna memanggil Ibu. Namun sayang Ibu tidak membalasnya, hanya terasa hening di sekitar ruangan.
Lantas Luna mencari Ibu di setiap sudut ruangan. Mulai dari kamar Ibu yang sepi tidak ada yang menempatinya, hanya terlihat ranjang dan lemari tanpa pemilik. Lalu Luna mencari kembali menuju dapur, tetap saja Ibu tidak ada.
Rasa khawatir Luna kembali menyeruak. Harapan terakhir Luna adalah memeriksa satu ruangan lagi yang mungkin Ibu ada disana. Yaitu Toilet, namun sayang tetap saja Ibu tidak ada.
"Dimana Ibu? Padahal sandalnya ada diteras?!" Pikir Luna was-was.
Kemudian suara pagar terbuka, terdengar jelas di telinga Luna. Otomatis Luna menghampiri teras rumah dan melihat siapa yang datang. Ternyata Ibu, dengan dagangannya yang masih banyak dan tertata rapih.
Dengan kondisi telapak kaki yang melepuh, terbakar panasnya aspal di siang hari.Luna langsung menghampiri Ibu dengan berjalan sedikit cepat,
"Ya ampun... Ibu! Kenapa tidak pakai sandal? Lihat kaki Ibu jadi merah begini!" Khawatir Luna, langsung memapah Ibu ke dalam Rumah.
Ibu terduduk dengan wajah yang lemas dan tatapan yang kosong, Luna memberikan segelas air hangat kepada Ibu. Perlahan Ibu meneguknya. Dan menyandarkan diri di kursi. Lantas Luna menyuruh Lily untuk mengambil kotak obat. Untuk mengobati luka bakar di kaki Ibu.
"Aaaw.." raung Ibu kesakitan, saat Luna membersihkan kaki Ibu.
"Kenapa Ibu tidak memakai sandal? Cuaca hari ini sangat panas.. Kaki Ibu jadi melepuh seperti ini." ujar Luna khawatir sambil mengoleskan salep dingin kepada telapak kaki Ibu.
"Ibu tidak memakai sandal karena sandal ibu dipinjam Bapak untuk pergi ke ladang." Jawab Ibu dengan meringis kesakitan.
Luna menarik nafasnya, "Ibu... Una mohon sama Ibu. Terima kepergian Bapak. Bapak telah meninggal, Bapak sudah bahagia disana." jelas lembut Luna.
Plakk...
Tidak menyangka tangan lembut Ibu kini melayang dan mendarat keras di wajah Luna. Tamparan yang sakit, hingga meninggalkan bekas merah. Luna tidak percaya Ibu akan menamparnya, Luna tertunduk dan menitikan air mata.
Luna mendongakan kepalanya," Ibu! Berapa kali Una harus bilang bahwa BAPAK SUDAH MENINGGAL! Luna sudah cape melihat Ibu seperti ini! Sakit hati Una mendengar ucapan orang lain menyangka IBU GILA! SADAR BU! SADAR! Una hanya ingin Ibu yang dulu. Hati Una juga sama sakit ditinggalkan Bapak. Dan hanya Ibu yang Una punya sekarang! Jadi Una mohon sama Ibu terima dan ikhlaskan Bapak!" Jelas Luna dengan air mata yang mengalir.
"ENGGAK... ENGGAK... IBU TIDAK PERCAYA ITU!!!" Ucap Ibu bergetar dengan wajah yang penuh ketakutan.
Tangannya menutup telinga, enggan mendengar apa yang di ucapkan Luna.Luna berusaha menenangkan Ibu dengan segala upaya, Luna memeluk Ibu,
"Ibu... Maafkan Una. Luna sangat sayang sama Ibu. Una harap ibu mengerti."
Ibu menjerit dan menangis tidak menerima kenyataan. Lalu mendorong Luna hingga terhempas di sudut ruangan. Badan mungil Luna kesakitan terbentur benda keras. Hingga meninggalkan lebam di lengan yang terbentur.
"BAPAK MASIH HIDUP!! TIDAK AKAN PERNAH MATI!! PERGI.... KAMU!!! KAMU BUKAN LUNA!! PERGIII!!! PERGII!!" Teriak Ibu dengan wajah penuh amarah, matanya membulat sempurna, telunjuknya menunjuk Luna kesal.
Tubuh Luna bergetar bukan main, pupil nya mengecil melihat perilaku Ibu. Bentakan yang sangat tajam terdengar jelas di telinga Luna, hati nya sakit. Lily yang melihat kejadian tersebut membuatnya ketakutan dengan Ibu yang bersikap temperamen. Lily langsung memeluk Luna dengan menatap Ibu dengan takut.
Luna langsung menuntun Lily masuk kedalam kamar, meninggalkan Ibu sendirian. Lily terus memeluk Luna, bergetar dengan wajah yang penuh ketakutan. Luna berusaha menenangkan hati Lily.
"Sudah.... Lily jangan menangis ya. Kak Una tidak apa-apa."
"Tapi tadi kakak dilukai oleh Ibu, Lily rasa itu bukan Ibu," Tanya Lily dengan menangis.
"Syuttt... Itu memang Ibu, hanya saja hati Ibu sedang terluka jadi mudah tersinggung. Lagian ini juga salah Kak Una. Sudah yaa.. jangan menangis lagi." Jelas Luna sambil mengusap air mata Lily.
Akhirnya Lily berhenti menangis, "Kenapa tidak kasih tahu aja Kak Ussy tentang Ibu yang kini berubah! Lily sangat takut."
"Tidak. Ini adalah masalah kita. Kasihan Kak Ussy sedang fokus kuliah. Lagian Kak Una yakin, masalah ini akan segera berlalu. Dan kita mampu menghadapinya," Jawab Luna.
***
#POV USSY
Jam kuliah sudah selesai, Ussy berjalan keluar kampus. Dan melanjutkan kembali perjuangan mencari pekerjaan sampingan. Namun Fahrul datang kembali di hadapan Ussy.
"Ussy... Tunggu..." teriaknya, menghampiri Ussy.
Langkah Ussy terhenti dan menoleh, "Senior? Ada apa?".
Lalu Fahrul menyerahkan baju Ussy yang tertinggal saat dirumah Fahrul, "Nih. Baju kamu yang ketinggalan waktu itu. Sudah di cuci sama pembantu aku" ujar Fahrul.
Ussy menerimanya seraya berucap terima kasih. Dan melanjutkan perjalanannya, tetapi Fahrul menghentikan kembali langkah kaki Ussy.
"Tunggu dulu." Ujar Fahrul menahan pergelangan tangan Ussy.
Seketika Ussy menoleh sedikit terkejut karena genggaman Fahrul. Ussy menatap tangannya yang dipegang Fahrul dan berlanjut menatap wajah Fahrul dengan tatapan aneh.
Fahrul langsung melepaskannya, "Sorry... Emmm kamu lagi sibuk gak? Aku butuh bantuan."
"Bantuan apa?".
"Temenin aku makan bareng. Mau gak?" Ujarnya penuh harap.
"Engga!" Jawab Ussy singkat, dan pergi meninggalkan Fahrul.
Fahrul berupaya menghentikan Ussy, namun Ussy tidak menggubris sahutan nya. Saat hendak berlari mengejar Ussy, tiba-tiba datang segerombolan para penggemar Fahrul.
"Hai.. itu Senior Fahrul.. ayo kesana!" Salah satu penggemarnya melihat keberadaan Fahrul. Lalu mendekati Fahrul dengan membawa segerombolan para fans.
"Gawat!" Cemas Fahrul saat melihat gerombolan fans nya, lalu dengan cepat Fahrul memutar arah dan berlari menghindari para fans fanatiknya.
"Yah.. Senior kabur.. Ayo kejar..." seru ketua mereka.
---
Ussy terus berjalan mencari pekerjaan, satu persatu toko telah di kunjungi untuk mencari pekerjaan. Namun hasilnya nihil. Hari mulai petang, namun suasana kota masih ramai kendaraan yang berlalu lalang.
Lampu jalanan satu persatu menyala. Ussy tetap berjalan menyusuri Trotoar. Kakinya gemetar kelelahan, karena seharian berjuang. Lantas Ussy terduduk di bangku jalan.
Hanya opini semata saja kota adalah tempat dunia kerja. Hari ini sungguh melelahkan bagi Ussy, namun dia yakin perjuangan tidak akan mengkhianati hasil, saat sedang termenung di pinggir jalan. Ussy teringat akan Ibu yang berada jauh di kampung. Kemudian Ussy mengambil ponselnya, dan menghubungi Ibu.
Tut..Tut.. Tut..
Maaf panggilan yang anda tuju, sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.
"Yah kenapa gak diangkat ya?" benaknya bertanya,
"Mungkin Ibu sedang sibuk. Semoga semuanya baik-baik saja. Tuhan Ussy mohon lindungi keluarga Ussy. Amin." Ujar Ussy sedikit was-was karena panggilan Ussy tidak di jawab. Lalu Ussy beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pulang menuju indekos.
Ketika hendak berjalan menuju arah pulang, tidak sengaja Ussy melihat secarik kertas pengumuman di salah satu kedai kopi, di butuhkan karyawan sebagai kasir. Seperti mendapati durian runtuh. Hati Ussy gembira melihat berita dari secarik kertas yang ditempel di depan toko.
"Terima kasih Tuhan. Semoga Ussy bisa di terima di toko ini." Ucap Ussy gembira,
Ada beberapa Test untuk memasuki pekerjaan tersebut, yang akan di selenggarakan besok.Ussy langsung mengambil selembar kertas formulir dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju indekos.
Akhirnya Ussy sampai di depan indekos dan membuka pagar, langkahnya mulai memasuki pintu. Namun terlihat seseorang yang sedang terduduk di teras indekos dengan jaket tebal dan kepala yang tertutupi topi. Ussy bergidik melihatnya, Ussy memberanikan diri untuk melewatinya.
Akan tetapi saat Ussy membuka pintu, pria berjaket tersebut menodong Ussy dari arah belakang dengan belati. Ussy terbujur kaku bercampur keringat dingin, jantungnya sangat berdetak kencang.
Menahan nafas ketakutan yang menyeruak. Tangannya digenggam erat membuat Ussy sulit untuk melepaskan diri. Belati yang ditunjukan tepat wajah Ussy membuatnya tidak bisa memberontak.
"Syuttt... Jangan berisik!" ancamnya,
"Apa yang kamu mau?!" tanya Ussy gemetar.
Lalu Ussy diseret menuju semak, hanya ada Ussy dan pria berjaket dengan topi hitam dan belati yang masih dipegang erat olehnya. Lantas pria tersebut membuka topi nya, membuka penyamarannya
Ussy terkejut saat melihat pria tersebut, "ANTON!".
"Jangan berisik!" Anton membungkam mulut Ussy. Lalu Ussy menggigit tangan Anton hingga anton melepaskan bungkamannya dan sedikit meringis kesakitan.
"Apa yang kamu mau?!" Tanya Ussy kesal.
"Haha... Tenang dulu. Ada yang perlu aku sampaikan kepada mu Ussy." Jawab Anton dengan memainkan belati tepat di depan wajah Ussy.
"Katakanlah!" Tegas Ussy.
"Tuan GE menyuruh Anton untuk menjemput kamu, dan Tuan GE ingin kamu segera bergabung bersama tim kami. Bagaimana Ussy?" Tawar Anton.
"TIDAK AKAN PERNAH! USSY TIDAK AKAN MAU BERGABUNG DENGAN TIM KEJI SEPERTI KAMU!" tolak Ussy tegas.
Anton langsung mengarahkan belati nya tepat di leher Ussy, mata Ussy membulat sempurna, tubuhnya gemetar saat belati yang begitu tajam mendarat di lehernya. Sekali menggerakan badan, belati akan menancap.
"Apabila kamu tidak mau bergabung, belati ini akan merenggut nyawa kamu dengan sekali gores!" Ancam Anton semakin menggila.Ussy tidak menyangka dengan Anton yang berani mengancamnya. Kini otak Anton hanya diperbudak dengan Tuan Ge. Pikiran Ussy berantakan. Pilihan kini menjadi musuh. Dilema bukan main saat itu, Ussy berpikir keras dan menelan konsekuensi keputusan.
Ussy menghela nafas dan berusaha tenang saat mengambil keputusan di hadap jurang, " Ussy tetap MENOLAK! Silahkan BUNUH SAYA! lebih baik saya mati dalam keadaan benar! Dari pada hidup harus bergabung dengan tim keji seperti kamu ANTON!" keputusan Ussy dengan tegas.
Anton tersenyum mendengar keputusan Ussy, lalu anton perlahan mengesekan belati di leher Ussy. Hingga meninggalkan goresan kecil yang menimbulkan darah. Ussy menutup matanya penuh rasa takut saat kematian telah di depan mata. Menahan rasa sakit dari goresan belati.
"Apa kamu yakin?" Tanya Anton sekali lagi.
"Tolong... Tolong..." teriak seseorang yang membuat Anton terkejut, dan terpaksa Anton menarik belati dan pergi meninggalkan Ussy dengan segera.
"Hari ini kamu menang!" Ujar Anton sambil berlalu, dengan hitungan detik raganya tidak terlihat seperti di telan bumi.
Ussy terkulai lemas, lututnya mencium tanah, lehernya berdarah, goresan belati masih terlihat jelas. Orang tersebut langsung menghampiri Ussy dan memapah Ussy masuk kedalam Indekos.
Orang yang menyelamatkan Ussy tadi adalah Fahrul. Ussy yang baru tersadar akan keberadaan Fahrul didalam kamarnya sedikit terkejut melihat kehadirannya.
Fahrul berupaya untuk menenangkan Ussy. Seketika pandangan Ussy semakin jelas bahwa itu Fahrul. Hingga jiwanya merasa aman, dengan refleks Ussy memeluk Fahrul. Wajah Ussy yang tergambar jelas penuh rasa takut.
Deg
"Sudah... Tenang.. sekarang kamu aman. Ada aku disini!" Ujar Fahrul dengan membalas peluk Ussy dan mengelus rambutnya dengan perasaan yang tiba-tiba berdegup.
Ussy hanya membisu, tidak mampu untuk berkutik. Terus memeluk Fahrul dengan erat. Goresan luka di lehernya meninggalkan darah yang kini mengalir deras. Fahrul terkejut melihat keadaan Ussy. Panik bukan kepayang melihat darah berlumur di leher Ussy.
"Dimana kotak obatnya?!" Tanya Fahrul panik, akan tetapi Ussy hanya terdiam ketakutan dan tidak melepaskan pelukannya.
"Tunggu disini. Aku mau ambil kotak obat di mobil." Ujar Fahrul seraya melepaskan pelukan Ussy.
Perlahan Ussy melepasnya dan dengan segera Fahrul mengambil kotak obat tersebut dengan berlari begitu cepat. Fahrul kembali ke kamar Ussy dengan membawa kotak obat dan segelas air hangat.
Fahrul berikan minum kepada Ussy, agar sedikit tenang. Setelah Ussy selesai meneguk minumnya rasa tenang kini menghampiri. Dengan cepat Fahrul membuka kotak obat dan membersihkan darah di leher Ussy, kemudian mengoleskan Obat merah untuk menghentikan pendarahan, lalu membalut dengan kain perban yang di plester. Upaya pertolongan pertama.
"Lebih baik kita ke dokter saja. Yuk! Gue takut luka Lu tambah parah." Pinta Fahrul.
Namun Ussy hanya menggelengkan kepalanya memberi isyarat tidak setuju. Dengan berat hati Fahrul menerima penolakan Ussy.
"Ya sudah. Sekarang Lu tidur dulu sekarang. Dan Gue mohon agar Lu kerumah sakit besok ya, takutnya ada luka yang serius. Gue bakal antar Lu."
Ussy mengangguk dan perlahan Fahrul menidurkan Ussy lalu membalut Ussy dengan selimut.
Dan memastikan Ussy dalam kondisi yang aman. Setelah mata Ussy tertidur, Fahrul langsung pergi beranjak meninggalkan Ussy. Namun langkahnya terhenti ketika Ussy memegang tangannya.
"Jangan pergi! Kumohon..." Ucap Ussy yang mengngigau.
Lalu Fahrul membatalkan niatnya untuk pergi meninggalkan Ussy. Dan melanjutkan menunggu Ussy hingga sadar dan pulih. Fahrul mengelus wajah Ussy yang sedang tertidur pulas dengan tangan yang selalu di genggam.
"Sebenarnya kamu itu siapa? Mengapa banyak misteri dalam kehidupan kamu? Selalu membuat ku terkejut dan ingin mengetahui kehidupan kamu lebih dalam Ussy." Gerutu Fahrul dalam hati,
Fahrul mengelus wajah Ussy dengan lembut dan mengecup kening Ussy. Hingga Fahrul tertidur dalam posisi duduk menunggu di samping Ussy, dengan tangan yang Selalu berpegangan.