
"Ussy...... Tunggu...." teriak Fahrul yang mendapati Ussy hendak memasuki angkutan umum, namun sayang Ussy tidak mendengarnya dan berlalu begitu saja, angkot tersebut langsung menancapkan gas dan berjalan dengan kecepatan penuh.
"Aarrghh sial!!" Kesal Fahrul karena tidak sempat mengejar Ussy,
"Kok berasa aneh ya, kenapa dia tiba-tiba pulang kampung. Engga biasanya kaya gini! Sampe rela mengorbankan jam kuliahnya.. hmmm... mungkin ada hal sesuatu terjadi, sudahlah kenapa jadi aku yang repot sih! Itukan urusan dia!" Gerutu Fahrul,
Kemudian Fahrul kembali masuk kedalam gerbang kampus, namun pikirnya selalu mengacaukan langkahnya untuk pergi ke kelas. Selalu terngiang akan Ussy, membuat Fahrul semakin kesal akan pikirnya sendiri. Fahrul menghentikan langkahnya, berdiam sejenak lalu menghembuskan nafas.
Fahrul langsung merogoh ponselnya dan menghubungi sahabatnya bernama Dika, "Bro! Jadwal kuliah hari ini aku gak bisa hadir. Ijin dulu ya, ada urusan mendadak! Tolong buatin aku surat ijinnya yaaa..." Ucap Fahrul,
"Lah kamu mau kemana? Kenapa mendadak gini sih! Mana sekarang jadwal Dosen Kill! Ah ngerepotin mulu!" Balasnya kesal,
"Pliss.. bantulah sahabat mu ini Dik, ini beneran Urgent!" Bujuk Fahrul,
"Oke! Aku bantu tapi gak gratis yeee" timpal Dika memberi syarat,
"Siapp kamu mau apapun aku kasih! Asal jangan minta yang aneh!",
"Oke bos!" Jawab Dika, lalu Fahrul memutuskan panggilan. Dan segera berjalan menuju arah parkir mobil, dengan gesit Fahrul mengendarai mobilnya dan berusaha mengejar Ussy.
Saat di perjalanan tiba-tiba lampu merah menyala, Fahrul menghentikan mobilnya, meskipun tertinggal jauh dengan Ussy. Fahrul terdiam sejenak, berusaha mencerna pikirnya yang rela mengambil keputusan hingga sejauh ini.
"Bentar dulu, kenapa aku harus sampe kejar si mungil ya??" Tanya dalam benak seakan tidak percaya apa yang telah dilakukannya.
"Bodo ah! Yang penting aku gak was-was! Eh eh sebentar kenapa aku khawatir sama dia?? Apa aku beneran suka sama tuh orang?!!" Tanya Fahrul bertubi,
"Apa ini yang namanya jatuh cinta?!!",
Tiditttt..
Bunyi klakson mobil dibelakang mobil Fahrul terdengar sangat keras, hingga memecahkan lamunan Fahrul. Tidak menyadari ternyata lampu mulai hijau, seketika Fahrul langsung menancap gas, menjalankan mobilnya.
***
#POV LUNA
Luna masih dalam posisi yang sama, terdiam kaku di atas ranjang. Memandangi langit-langit kamar, rasa dendam masih berselimut rapih di dalam hatinya. Pikirannya semakin lama semakin membunuh akal.
Setelah sekian lama Luna berdiam diri akhirnya beranjak dari tidurnya, melepaskan seluruh selimut yang terbalut. Berjalan menuju cermin, lalu memandangi dirinya yang kacau dengan kondisi wajah teramat pucat dan rambut yang berantakan.
Luna memandangi dirinya dihadapan cermin, "Kembalikan Luna yang dulu! Kembalikan kebahagiaan Luna!" Ujarnya dengan mengusap cermin lalu menitikan air mata,
Seketika emosi Luna meledak dan menjerit keras saat pikirannya kembali mengingat pemerkosaan oleh penjahat suruhan Angel.
"Aaarrggghh!!! ANGEL KEPARAT!! MATILAH!!" Teriak Luna dengan nada teramat tinggi sekaligus menimbuk cermin dengan kepalan tangan kosong Luna.
Prangg
Cermin langsung pecah berhamburan menjadi partikel kecil, tangan Luna yang masih mengepal seketika mengeluarkan darah yang mengalir deras akibat pukulannya terhadap cermin. Tangannya berdarah, akan tetapi Luna tidak menghiraukannya.
Luna berlalu begitu saja meninggal cermin yang pecah berhamburan, kemudian perlahan mendekati lemari dan merogoh seutas tali. Luna juga mengambil kursi dan tertatih menaiki kursi tersebut.
Luna ikat tali tersebut di atas langit kamar, dan perlahan mulai memasuki kepala hingga lehernya kedalam lingkaran ikatan tali tersebut.
"Bapak, Ibu, Kak Ussy dan Lily si bungsu yang Una sayang. Maafkan Luna, Luna tidak bisa melanjutkan hidup Luna! Luna tidak tahan akan semua ujian ini!! Luna harap bisa tenang dan nyaman mengikuti Bapak disana, mungkin dengan cara ini Luna bisa senang!" ucap Luna dalam hatinya,
"SELAMAT TINGGAL SEMUANYA!! LUNA SAYANG KALIAN!! MAAFKAN LUNA TUHAN!" Ucap terakhir Luna , lalu Luna mendorong kursi hingga terjatuh dan membuat dirinya tergantung.
Luna menggantungkan dirinya, mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Seketika nafasnya tertahan hingga sulit untuknya bernafas, wajahnya mulai membiru karna kekurang oksigen yang masuk.
"Aarggghhh" raung Luna kesakitan, tubuhnya mulai memberontak saat pasokan oksigen tidak masuk, namun perlahan matanya tertutup dan tidak kembali memberontak. Terkulai lemas dan menghembus nafas terakhirnya.
Dengan hitungan detik Luna menghembuskan nafas terakhirnya, kini nadi tidak berdenyut, jantung tidak lagi berdetak, dan wajah yang mulai pucat pasi dengan bibir yang membiru. Luna terpaksa mengakhiri hidupnya dengan ironis, menggantung dirinya dengan seutas tali yang melingkar di lehernya.
---
"Hati ku semakin tidak karuan! Kenapa selalu teringat Luna?!" Ujar Ussy dalam hatinya penuh rasa cemas,
---
Lily segera pulang kerumah setelah ujian di sekolahnya selesai, langkahnya bergegas pulang. Di tengah perjalanan Lily bertemu dengan Daniel, yang kala itu Daniel sedang memasang wajah penuh kebingungan.
"Itu kan teman Kak Una!" Ujar Lily sambil berjalan mendekati Daniel,
"Kakak.." sapa Lily kepada Daniel,
Daniel langsung menoleh kearah panggilan tersebut, sempat termenung saat Lily menghampiri,
"Kamu siapa?" Tanya Daniel, seakan tidak mengenali Lily.
"Ini aku Lily, Adik kak Luna. Apa kakak lupa dengan ku?" Tanya Lily terheran,
"Luna??" jawabnya mencoba mengingat, namun Daniel sama sekali tidak kenal, akan tetapi nama Luna merasa tidak asing di telinganya.
"Argh.. sakit!" Daniel meringis kesakitan disekitar kepalanya, Lily terkejut akan keadaan Daniel seperti itu.
Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri Daniel, ternyata adalah ibunda Daniel yang sedang menjemputnya. "Daniel sayang kenapa kamu? Ayo cepat kita pulang!" Ucapnya sambil memapah Daniel masuk kedalam mobil.
Lily hanya mematung saat Daniel begitu saja berlalu, rasa janggal semakin terasa oleh Lily. Dalam benaknya selalu bertanya dengan keadaan yang mendadak berubah. Lily langsung berjalan kembali menuju arah rumahnya.
Krekk
Lily membuka pintu rumah, seperti biasa rasa sepi semakin menyeruak. "Lily rindu Bapak! Lily juga rindu Ibu..." ucapnya dalam hati memandang sekitar rumah,
Lily berjalan menuju kamar Luna, untuk melihat kondisinya. "Kak Una... Lily sudah pulang, kita keluar yu.. Sudah lama tidak bermain.." ujar Lily sambil berjalan dan langsung membuka tirai kamar Luna.
Srekk
"Argggggggghhhhhhhhh...!!" Lily menjerit histeris melihat Luna yang tergantung dan tangan penuh darah serta serpihan cermin yang berhamburan.
Saat itu jarak Ussy hampir mendekati rumah dan perlahan membuka pagar, lalu tidak sengaja mendengar jeritan Lily di dalam rumah, membuat Ussy dengan cepat berlari dan mendobrak pintu dengan paksa.
DUAAGHH
Pintu terbuka paksa Ussy dobrak hingga membuat sedikit kerusakan, Ussy langsung menghampiri Lily yang bersimpuh dihadapan kamar Luna dengan tubuh yang gemetar dan menutupi wajahnya dengan tangan.
"Lily...!!" Ussy langsung mendekap Lily yang penuh rasa takut dan tidak berhenti menangis.
"Kenapa Lily? Ada apa? Tenang disini ada kak Ussy!" Peluk Ussy semakin erat kepada Lily,
Lily langsung menyadari kehadiran Ussy dan membalas peluknya, "Kak Ussy, Lily takut !!" Ujar Lily gemetar,
"Kenapa Lily? Apa yang ditakutkan?" Tanya Ussy semakin penasaran.
Lily langsung menunjuk arah Luna yang mati dalam keadaan gantung diri dan darah terus menetes di tangannya dengan wajah yang sangat pucat pasi,
"Iiituu.." tunjuk Lily,
Ussy menoleh kearah tunjuk jari Lily, Seketika matanya membulat sempurna, bibirnya menganga, seakan tidak percaya akan pemandangan yang mengerikan ini.
"LUNAAA!!! TIDAKKKK!!" Ussy langsung mendekati jasad Luna dan berusaha melepaskan ikatan di lehernya, Ussy mengguncang tubuh Luna, upaya agar Luna tersadar, namun sayang nyawa Luna tidak bisa tertolong.
"LUNA BANGUN! SADARLAH!! LUNAA!!!" Ussy semakin histeris dan menangis memeluk jasad Luna yang kini mulai dingin.
"LUNAAA!!!!"