
Lily sedang berbicara dengan siapa?
Hatinya semakin berdebar tidak karuan, Ussy langsung membuka pintu, matanya membulat melihat orang yang berbincang dengan Lily.
"Senior!" Sontak kaget Ussy,
Saat mendapati Fahrul dengan Lily yang sedang asyik berbincang sesekali tawa terukir indah, kondisi Fahrul yang kini memakai kursi roda dan tangan Fahrul yang masih memegang mangkuk bubur yang telah habis dia beri kepada Lily.
Fahrul hanya tersenyum setelah melihat Ussy pulang, Lily sangat antusias melihat Kakaknya telah datang kembali, senyumnya amat merekah dan membuka tangannya memberi tanda ingin dipeluk.
"Kakak!"
Segera Ussy mendekati Lily dan memeluknya.
"Maaf Kakak telat!"
"Tidak apa-apa Kak,"
"Apa kamu sudah makan?" Tanya Ussy sembari menangkup pipi Lily,
"Sudah Kak, untung ada Pangeran Tampan ini yang datang memberi makan Lily. Coba kalau menunggu Kakak pasti akan lebih lama lagi, Lily sudah tidak tahan menahan perut keroncongan ini hehe," jelasnya begitu polos,
Ussy memandang Fahrul saat Lily berucap demikian, dan memberikan senyum rasa terima kasih kepada Fahrul, lalu Fahrul merespon dan mengangguk pelan.
"Maafkan Kakak, ya sayang ... Lain kali Kak Ussy tidak akan meninggalkan Lily lagi!" Janji Ussy,
"Janji ya Kak,"
"Janji!" Balas Ussy dengan tersenyum kepada Lily,
"Lily sudah minum obatnya?"
"Sudah Kak, Pangeran Tampan ini juga yang mengingatkan Lily untuk minum obat. Dia baik'kan Kak," ucap Lily kembali menunjuk Fahrul,
"Iya sayang.." balas Ussy,
"Ya sudah sekarang Lily harus istirahat dulu ya, Kakak mau berbicara dulu dengan teman Kakak, boleh'kan?" Pinta Ussy,
"Tentu boleh! Tapi Kakak tidak boleh memarahi Pangeran Tampan ini ya," balasnya dengan mengacung jari telunjuknya, memberi peringatan.
Ussy tersenyum dan mengiyakan apa perintah Adiknya yang begitu polos, Ussy membantu Lily kembali merebahkan dan menarik selimut Lily.
"Istirahat dulu ya sayang, agar kamu lekas pulih!"
Lily tersenyum dan perlahan memejamkan matanya, Ussy mengecup hangat kening Lily. Kemudian Ussy beranjak dan mendekati Fahrul.
"Ada yang ingin Aku katakan," ucap Ussy.
Fahrul mengangguk pelan, kemudian Ussy mendorong kursi roda Fahrul perlahan keluar ruangan menuju Taman Rumah Sakit. Saat telah sampai, Ussy duduk diatas kursi Taman berwarna putih, mereka saling berhadapan.
"Terima kasih banyak Senior!" Tutur Ussy,
"Untuk apa?"
"Segalanya,"
"Tidak perlu sungkan, oh ya sekali lagi jangan panggil aku Senior! Panggil saja Fahrul. Merasa risih dengan panggilan itu," jelasnya,
Ussy memangutkan wajahnya, sesekali tersenyum. Lantas perbincangan seakan menjadi canggung, seketika hening dan tidak mampu untuk saling memandang.
Krubuk..
Saat keadaan sepi, suara perut keroncongan memecahkan hening. Seketika Fahrul membungkam perutnya dan menahan rasa malu untuk ke dua kalinya saat perut kembali memberikan peringatan. Ussy hanya tersenyum melihat reaksinya.
"Kamu lapar ya?" Tanya Ussy,
"Ya lumayan hehe," balasnya sedikit malu,
"Kebetulan Aku bawa makanan, nah ini ada bubur, anggap saja ini menggantikan tadi yang kamu beri kepada Lily," ucap Ussy sembari menyodorkan semangkuk Bubur yang masih hangat.
Fahrul memandangi bubur dan pikirannya mulai mengajak untuk memanfaatkan waktu emas berduaan dengan Ussy.
"Ah tidak, badan ku sangat lemas! Aku tidak mampu untuk makan sendiri," ucapnya memelas,
"Baiklah, akan ku bantu menyuapi," balas Ussy,
"Yes!" Benak Fahrul sangat gembira,
"Aku yakin dia berbohong. Hah! Dasar bodoh!" ucap Ussy dalam hati dengan terkekeh.
Perlahan Ussy mulai menyinduk bubur sedikit demi sedikit mulai masuk kedalam mulut Fahrul, hatinya sangat gembira saat mendapati suapan dari pencuri hatinya. Senyumnya selalu merekah saat Ussy kembali menyuapi, apalagi saat Ussy membalas dengan tersenyum pula membuat Fahrul semakin berdebar.
Pandangan Fahrul seketika terpaku melihat lengan Ussy berbalut perban dengan noda obat merah yang mulai menembus, sontak diri Fahrul terkejut mendapati luka itu.
"Lengan mu kenapa?" Tanyanya sambil meraih lengan Ussy,
"Tidak, ini hanya terjatuh."
"Jangan bohong!" Elak Fahrul,
"Terserah!" Balas Ussy dingin,
"Ya sudah aku tidak ingin melanjutkan makannya!" Fahrul mulai menunjukan rasa manja,
"Bodo amat!"
Balas Ussy dengan memasang wajah sedikit kesal, dan menaruhkan kembali makanan disamping tempat duduknya. Kemudian Ussy beranjak dari duduknya hendak pergi meninggalkan Fahrul. Namun langkahnya terhenti saat Fahrul menggenggam tangannya.
"Tunggu!"
Ussy menoleh sedikit menatap sinis. "Apa?!"
"Maafkan aku..." ucap Fahrul dengan nada pelan,
Kemudian Ussy membalikan badannya dan mulai mendorong kursi roda Fahrul, sedikit terkejut atas perlakuan Ussy yang mendadak membawanya.
"Ya! Lupakan saja, Sekarang waktunya kamu istirahat!" Sepotong perintah Ussy,
"Sudahlah lupakan saja itu,"
***
Kenapa ruangan ini gelap?
Dimana aku?
Aku tidak bisa melihat! Gelap sekali!
Brukk
Arrrgghh..!!
Tubuhnya terjatuh diatas tanah dengan kerikil bertebaran, sedikit sakit tetapi tak mendalam. Ussy memandang sekeliling yang banyak pepohonan dan suasana malam begitu dingin.
Dimana Aku?!
"Aarrghh Tolong!!!" Jerit seseorang dengan keras,
Ussy langsung beranjak dan mulai mengikuti arah suara meminta pertolongan tersebut, akhirnya Ussy mendapati suara jeritan itu, matanya membelalak saat melihat orang itu diseret paksa oleh Jubah Hitam dengan lumuran darah di Tangannya.
Orang tersebut menoleh arah persembunyian Ussy dibalik pohon, wajahnya berlumuran darah dengan nadanya yang begitu lirih menahan rasa sakit.
"Tolong... Ussy.."
Saat Ussy mulai mempertajam penglihatannya, tak disangka orang itu adalah
Bapak!
"Ussy ... Ban-tu Ba-pak .." ucap Bapak lirih,
Jleb.. Jleb...
Bapak terus menerus ditusuk oleh tombak yang dibawa si Jubah Hitam, mulutnya menyemburkan muntaha darah.
"Aaarrggghh Bapak..!!!" Teriak Ussy seraya keluar dari persembunyiannya,
"Siapa kamu! Lepaskan Bapak!" Ujar Ussy sembari menodongkan pisau ke arah Jubah Hitam.
Perlahan dia menoleh arah Ussy dan mulai membalikan badannya, tidak disangka setelah Ussy melihat wajahnya dengan jelas, Mata Ussy membelalak tidak percaya orang yang menusuk Bapak dengan kejam.
"Mama Jamy!" Sontak kaget Ussy,
Bruk
Perlahan Ussy mundur langkah, lututnya lunglai tidak mampu menopang hingga terjatuh mencium tanah. Mama Jamy terus menatap Ussy penuh dengan dendam, Tombak yang dia bawa menodong tepat wajah Ussy.
"Apa kamu terkejut?" Ucapnya begitu lirih,
"Kenapa Mama membunuh Bapak Ussy?! Apa salah Bapak!!" Teriak Ussy menjadi,
"Apa kamu mau tau alasannya?"
"KARENA KALIAN HIDUP! DAN AKU BENCI KALIAN SEMUA!" Ucapnya dengan nada tinggi,
Mama Jamy menaikan tombaknya dan mengarah kepada dada Ussy, "KAMU HARUS MATI!!" tombak melayang menusuk Ussy,
AAARGGGHHH
AARGGHHH
TIDAK!!!
---
Hanya mimpi!
Ussy membuka matanya dengan cepat, keringatnya peluh, nafasnya terengah-engah. Pandangannya mulai melihat sekeliling, ternyata dirinya masih ada di Ruang Inap dalam kondisi yang sama terduduk diatas sofa.
Kenapa mimpi itu lagi!
Tiba-tiba hidung Ussy mengeluarkan darah, dengan cepat Ussy mengusapnya dan menyumbatnya dengan Tissue.
Pasti ini gara-gara kemarin, aku sangat kelelahan hingga terbawa mimpi! Sudahlah lupakan saja.
Ussy memandang Lily yang masih tertidur dengan selang Infus yang menjalar, nafasnya lega setelah melihat Adiknya berada dalam kondisi yang sama. Tidak lama kemudian seorang Suster masuk kedalam ruangan dengan membawakan sarapan pagi dan beberapa obat.
Suster menyapa lembut, Ussy langsung beranjak dan mendekati Lily. Kemudian Suster segera membenahi selang Infus, terakhir menyuntikan cairan kepada selang Infus. Setelah selesai, suster pamit dan beranjak keluar.
Kondisi Lily semakin membaik, kondisi tubuhnya perlahan mulai pulih membuat Ussy semakin tenang. Ussy membelai lembut rambut Lily. Tidak lama Lily bangun saat Ussy membelai rambutnya, senyum Lily merekah saat mendapati Ussy ada didekatnya menemani mentari pagi yang menyambut.
"Kakak," ucap Lily sedikit lirih,
"Iya, maaf ya Kakak membangunkan tidur mu."
"Tidak Kak,"
"Oh iya kamu harus sarapan dulu ya, biar Kak Ussy suapin." Ucap Ussy sembari menyinduk makanan sarapan Lily.
"Pokoknya Lily harus segera sembuh ya," ucap Ussy memberi semangat,
"Iya kak,"
"Oh iya, kemana Pangeran Tampan?" tanya Lily menanyakan keberadaan Fahrul,
"Dia sedang istirahat, nanti kita akan main bersama lagi ya! makanya Lily harus cepat habisi sarapan ini, agar Pangeran Tampan akan datang kembali lagi." jelas Ussy sembari memberikan suapan makanan ke dalam mulut Lily.
"Asyik.. Janji ya Kak!" balas Lily begitu sumringah.
Ussy mengangguk pelan dan entah kenapa Lily sangat menyukai Fahrul.
Entah apa yang membuat Lily sangat menyukai Fahrul, Hah. Entahlah...