
"Beruntung peluru itu dikeluarkan terlebih dahulu, kalau tidak lengan kamu akan terinfeksi lebih dalam," ucap Dokter Amel yang sedang mengobati luka lengan Ussy.
Ussy hanya terdiam dengan tatapan lurus membuat Amel mengerinyit. "Kamu kenapa?" Tanyanya pelan dengan tangan yang sibuk mengobati.
"Dokter Amel, apa kamu tertekan bekerja di Vile Blood ini?" Tanya Ussy membuat Amel terdiam dengan kaku.
"Jawabnya kamu pasti mengetahui," balasnya dengan membalut perban di lengan Ussy.
"Lantas kenapa anda sudi bergabung dengan tim seperti ini? Anda rela mengobati orang keji seperti saya," Tanya Ussy semakin mengerucut panas.
"Terkadang setiap pertanyaan tidak selalu ada jawabannya, semua ada batasannya," jawabnya singkat, membuat Ussy terdiam.
"Saya beritahu kamu, jaga ucapan kamu disini. Bisa saja nyawa melayang," bisiknya.
Amel langsung menaruh kembali alat bedah, dia berjalan membawa Alat yang kotor untuk dicuci bersih. Ussy hanya terduduk dengan pandangan yang tidak putus kepada Amel.
"Dan satu lagi, aku sarankan kamu untuk mengoperasi wajah kamu. Kalau tidak, bisa saja malapetaka hadir, percaya atau tidak tergantung dirimu sendiri," lanjutnya memberi saran.
"Apa karena saya mirip dengan Elisa?" balas Ussy.
Amel hanya membalasnya dengan tersenyum simpul dan keluar ruangan begitu saja, meninggalkan Ussy setelah pengobatan selesai.
Apa maksud dia mengucapkan itu? Sebenarnya Dokter Amel baik atau sebaliknya? Yang pastinya aku harus berhati-hati dengannya.
Ussy masih tertegun melihat darah yang bersimbah begitu banyak dilantai, beberapa pelayan sibuk membersihkannya. Ussy langsung memalingkan wajahnya kembali dan melanjutkan langkahnya. Kejadian penusukan yang masih lekat di pikirannya membuat nafas terus berderu dengan gelisah.
Ussy berjalan dengan kaki yang gemetar, pikiran yang begitu kacau, sesaat terdengar suara teriakan didalam toilet, Ussy segera menghampiri suara tersebut, pikir Ussy adalah Anton yang mual setelah menonton kejadian merah. Segera Ussy membuka pintu dengan cepat.
"Anton kamu tidak apa?" Tanyanya terpotong saat melihat yang sebenarnya adalah Mr. GE dengan tangan yang berdarah karena memukul berulang kembali cermin.
"Tuan!" Sontak kaget Ussy langsung menghampiri GE yang seketika terduduk lemas dengan tangis tak reda.
Bau alkohol yang menyengat, batin Ussy berkata saat posisinya lebih dekat dengan Mr.GE
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Tanya Ussy dengan cemas.
Mr. GE menoleh arah Ussy, dirinya menatap dengan sembab sesaat tangisnya pecah kembali. Tatapan yang terlihat begitu hancur dan rapuh. Batin Ussy semakin kebingungan melihat kondisi Mr.GE.
"Dimana para pengawal, Tuan?" Tanya Ussy sembari membantu Mr.GE bangun dan berusaha memapah Mr.GE
Saat Ussy menolong Mr.GE untuk berdiri, dia sematkan tangan Mr.GE ke pundaknya, meskipun terasa berat setidaknya Ussy harus membantu tuannya untuk berdiri. Mr.GE terus menatap Ussy dengan deru nafas yang begitu bau alkohol.
"Elisa...," ucapnya dengan nada pelan, Sesaat Ussy menoleh arah Mr.GE dengan kebingungan atas kata yang dilontar.
"Tuan, apakah anda tidak apa-apa?" Tanya Ussy kembali meyakini Mr.GE
Senyum Mr. GE seketika mengembang indah dengan rona merah diwajah, nafasnya terasa begitu panas. Saat telah berdiri sempurna, dia langsung menarik tangan Ussy dan menyeret ke sudut tembok. Tubuhnya tertindih oleh Mr. GE yang hampir menutupinya.
"Elisa ... aku mohon jangan tinggalkan aku...," ungkap Mr. GE dengan terus mendekati Ussy.
Gawat! Dia terpengaruh Alkohol!
"Tuan, sadarlah ... saya bukan Elisa!" Jawab Ussy membantu menyadarkan Mr. GE yang dibawah pengaruh alkohol.
Aksi Mr.GE semakin panas, dia mencengkeram tangan Ussy lebih kuat lagi, sulit bagi Ussy untuk memberontak. Jarak keduanya begitu sangat dekat, hingga terasa detak jantung GE yang berdegup dengan suhu badannya yang terasa panas.
"Tuan sadarlah ... aku Ussy!" Tegasnya kembali.
Tangan kanan GE tetap memegang tangan Ussy agar tidak memberontak, tangan kirinya mendongakan dagu Ussy. "Elisa ... aku sangat merindukan mu...,"
Mr. GE langsung memeluk erat Ussy hingga sulit bagi Ussy untuk memberontak, tubuh Ussy berusaha menggeliat agar segera terlepas dari peluknya.
"Tuan! Sadarlah...,"
"Kenapa kamu banyak bicara sayang ... aku sangat rindu kamu, Elisa...," ucap Mr. GE semakin melantur dengan mendongakan dagu Ussy, memandangnya lebih dekat.
Br*ngs*k!
Umpat Ussy dalam hati, matanya membelalak saat perilaku Mr. GE yang tidak sopan meraih bibirnya, sulit bagi Ussy untuk melepaskan diri. Ussy tidak mau hingga terbawa lebih dalam lagi.
Dalam pikirnya berusaha keras untuk melepaskan diri dari ciuman Mr. GE yang semakin liar, terpaksa Ussy menggigit bagian bibir bawah Mr. GE hingga mengeluarkan sedikit darah, refleks Mr. GE langsung melepaskan ciumannya.
"Arggghh..," GE meringis kecil dengan mengelap darah yang keluar di bibir bawahnya.
Saat keadaan mulai lenggang, Ussy langsung mengeluarkan tendangan mautnya. Kakinya melayangkan tendangan tepat kepemilikan Mr. GE, seketika Mr. GE merasa linu bukan main tepat pada kedua butir yang paling sensitif. Hingga membungkukkan badannya dan meringis penuh sakit. Ussy segera berlari, lepas dari cengkramannya.
"ELISA ... jangan tinggalkan Aku...," Teriak Mr. GE.
Bebarapa pengawal Mr. GE segera menghampiri suara teriakan yang terdengar dibalik toilet, segera memapah Tuannya yang sudah lemas dengan keadaan hati yang begitu hancur.
Ussy berlari sekuat tenaga menjauhi GE, matanya mulai berlinang. Bibir mungilnya terus ditutupi oleh telapak tangan.
Sesaat Anton berpapasan dengan Ussy, dia langsung menghentikan langkahnya.
"Kamu kenapa Ussy?" Tanya Anton begitu khawatir melihat partnernya menangis begitu deras.
Ussy menatap Anton dengan tatapan yang seakan benci, dia langsung menghempaskan tangan Anton yang mendarat di bahunya. Ussy kembali berlari meninggalkan Anton begitu saja.
"Ussy ... tunggu...," tahan Anton, namun Ussy tidak menggubrisnya dan terus berlari.
"Kenapa dengan dia? Kenapa dia menangis? Apa yang terjadi?" Tanya Anton begitu heran.
"Ah sudahlah ... tidak usah dipedulikan, mungkin dia mempunyai masalah yang sulit dijelaskan," tuturnya kembali.
"Tapi masalah apa? Hey ... Anton sudahlah tidak usah dipikirkan, tidak usah ikut campur," lanjutnya dengan menghela nafas pendek, dan berjalan kembali.
Jam menunjukan pukul sebelas malam, malam semakin gelap. Ussy terus berlari keluar menjauhi dirinya dari tempat keji, penuh darah, dan kebencian. Tangisnya semakin menjadi, hatinya begitu hancur setelah GE Berani menodai bibir mungil Ussy.
Pikirannya begitu kacau, guntur semakin menggelegar seakan tahu kondisi Ussy yang pecah. Tidak lama hujan deras mengguyur kota Metropolitan di tengah gelapnya malam.
Kakinya tidak henti untuk terus berlari, tidak peduli dengan hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya begitu pucat, dengan kondisi badan yang gemetar. Sesaat langkahnya terhenti ketika kaki sudah tidak mampu berlari, seluruhnya gemetar hingga Ussy terduduk dibawah derasnya hujan.
Tangisnya terus menggila, pikirannya membawa mengelilingi kejadian hina sekaligus keji yang berpadu menjadi satu.
"Aarggghhh ... kenapa jadi seperti ini!" Teriak Ussy dengan tersedu.
"Bre*gse*! B*engs*k!"
"Tuhan ... kembalikan aku yang dulu! Arggghh...," tangis kesal terlontar dari bibirnya.
Ussy terus memukuli dirinya sendiri, rasa jijik nan benci pada dirinya semakin menebal, seluruh tubuhnya terasa hina.
"Kenapa tidak aku saja yang mati! Kenapa Tuhan! Kenapa? Aku ingin mati! Mati!" Beritanya begitu pedih.
"Siapa yang akan mati?" Mendadak seseorang datang dengan membawa payung, memberi keteduhan pada Ussy.
Ussy menengadahkan kepalanya, melihat seseorang yang ada di hadapannya.
"Kak Fahrul?" Ucap Ussy lirih.
Fahrul kemudian berjongkok dan menetap Ussy. "Siapa yang akan mati? Apa kamu sudah bosan hidup? Bagaimana bisa kamu berani mengucap kata seperti itu? Sedangkan diluar sana masih banyak orang yang bertarung untuk bertahan hidup!"
Tanya Fahrul membuat Ussy terdiam seribu bahasa, bibirnya gemetar, tangis yang pecah kembali. Fahrul langsung mendekapnya. Ussy yang terkenal dingin dan tangguh, kini dihadapan Fahrul dia sangat terlihat rapuh dan begitu tidak berdaya.
"Jangan menangis lagi, ada aku disini...," ungkap Fahrul memberi ketenangan.