LIFE OR DEATH?

LIFE OR DEATH?
Bagian 68



"Sia-pa dalang-nya?" Ucapnya terbata.


Ledakan yang mengeluarkan asap panas yang membuat penglihatan kabur. Nafasnya terengah, langkah kaki lunglai hingga terduduk. Albert terus menutup hidungnya dengan tangan berupaya tidak menghirup udara, tetap saja kandungan senyawa dari asap tersebut menembus diri karena pelindung yang tidak sesuai. Albert terbatuk batuk, sulit untuk dia mengatur nafas hingga akhirnya dia memejamkan mata.


Ussy dan Anton mengendap menuturi salah satu Anak Buah yang baru saja mengantar paket ke dalam ruangan, pikir Ussy itu adalah ruangan Albert, Ussy dan Anton bersembunyi dibalik pintu. Saat Anak buah itu keluar dari ruangan segera Anton membekamnya dengan secempal kain yang sudah diberi obat bius.


Awalnya terjadi pemberontakan, lambat laun kesadarannya menurun dan terjatuh pingsan.


Duagh


Pintu terbuka paksa, dengan tendangan kaki Ussy yang bisa membobol pintu. Keduanya mundur perlahan dan memakai penutup kepala untuk melindungi indera penciumannya, asap didalam ruangan Albert masih mengepul, terdengar suara orang yang terbatuk batuk disudut ruangan.


"Itu, Albert!" Ussy langsung menghampirinya yang sudah setengah tidak sadarkan diri.


Anton masih mengamati keadaan luar dan berjalan mundur masuk dengan selalu waspada. Albert dengan keadaan yang sudah setengah tidak sadar dan tangan yang menyemat di dada karena rasa sesak setelah menghirup kepulan asap.


Albert yang sudah terkapar di sudut ruangan, Ussy langsung menghampirinya dan menggoyangkan tubuh Albert perlahan, mengecek kesadaran Albert.


Apakah dia sudah tidak sadar?


Batin Ussy bertanya dengan selalu waspada dengan kondisi Albert yang terkulai. Pandangan Ussy semakin mendekatinya untuk melihat lebih dekat. Ussy semakin yakin Albert sudah pingsan, dia langsung mendudukan Albert.


Saat Ussy hendak memanggil Anton, seketika Albert tersadar dan menghempaskan senjata api yang digenggam Ussy, lalu dengan cepat Albert menarik tangan Ussy dan berbalik sandera.


"Siapa kamu?!" Tanya Albert dengan tegas sembari menodongkan pisau teoat leher Ussy.


Ussy tidak menjawabnya dan terus menggeliat untuk melepaskan diri. "Cepat beritahu saya siapa yang mengutus kalian? Kalau tidak pisau ini akan mengiris leher kamu!" Ancam Albert semakin keras.


"Aku tidak akan memberitahu kamu!" Jawab Ussy yang terus berupaya melepaskan diri, namun Albert semakin memperkuat.


"Kau mau bermain-main denganku!" Balas Albert penuh kesal sembari mempermainkan pisau menari di leher Ussy.


Anton yang menyadari Ussy dalam keadaan tidak aman, berada dalam terkaman Albert membuatnya tidak bisa berkutik.


"Kalian berdua diutus oleh siapa? Kalau kalian tidak menjawabnya, aku akan menancapkan pisau ini tepat leher temanmu ini!" Ancamnya Albert pada Anton.


Anton terdiam dengan kaki yang gemetar, tidak mungkin dia menjawab pertanyaannya, semua misi akan gagal. Ussy terus menggelengkan kepalanya agar Anton tidak menjawabnya.


"Diam kamu!" Ujar Albert pada Ussy yang terus menggeliat.


Karena keduanya terdiam membuat kesabaran Albert hilang dengan cepat Albert membuka masker yang Ussy pakai dengan merobeknya. Saat melihat wajah Ussy, sesaat Albert membulatkan matanya dengan sempurna seakan tidak percaya apa yang telah dia lihat.


"ELISA!" sontak kaget Albert, pandangannya terpana melihat wajah Ussy.


Duagh


Seketika Ussy langsung menendang kepemilikan Albert saat fokusnya teralihkan, membuat Albert melepaskan cengkramannya dan meraung kesakitan.


Duagh


Duagh


Ussy terus mengeluarkan tendangan bertubi kepada Albert memanfaatkan keadaannya yang mulai melemah. Pukulan terakhir tepat pundak Albert yang membuat kesadarannya langsung menurun. Seketika Albert tumbang.


"Perfect!" Lagi-lagi Anton bedecak kagum melihat reaksi Ussy yang membuat Albert terkapar tidak berdaya.


"Cepat bawa dia!" Ucap Ussy sedikit berteriak kepada Anton yang terdiam paku memandangnya.


Tatapannya pecah dan langsung membopong Albert, Ussy membuntutinya dari belakang.


"Stop!" Tahan Ussy secara mendadak membuat langkah Anton terhenti.


"Anak buah Albert ada yang sudah sadar," jelas Ussy saat telingannya mendengar suara langkah kaki manusia lainnya.


Dengan cepat Ussy menggelindingkan kembali Boom Ball yang tersisa satu lagi di tangannya.


Bush...


Kepulan asap yang pedas menjerembak Pandangan anak buah Albert, Ussy dan Anton memanfaatkan waktu saat pandangan anak buah Albert terganggu, mereka melintasinya dengan cepat.


Tinggal satu langkah lagi menuju gerbang keluar, mereka berlari cepat dan tidak disangka si penjaga gerbang sudah sadar. Si penjaga gerbang melesatkan tembakan kepada Ussy. Untung Ussy berhasil mengelak meskipun terkena sayatan kecil.


Segera setelah Ussy berlari dengan cepat saat penjaga gerbang terus melesatkan tembakan hingga akhirnya peluru sudah habis, dia gelagapan saat Ussy semakin mendekat. Tangannya terus merogoh saku baju mencari peluru yang tersisa.


Tetapi, langkah kaki Ussy lebih cepat. Di terkejut saat Ussy sudah ada dihadapannya.


Duagh...


Bruk..


Segera Ussy melayangkan pukulannya hingga terjatuh pingsan. Karena jalannya terhalangi Ussy langsung menendang tubuh si Penjaga gerbang ke sisi sudut hingga mencium semak.


"Ayo cepat!" Teriak Ussy.


Anton segera berlari menyusulnya dengan membopong Albert. Mereka berlari secepat mungkin menuju mobil yang terdampar di bahu jalan.


"Sial!" Umpat Ussy ketika Anak buat Albert yang lain mengejar mereka.


"Teruslah berlari!"


Dor..


Dor..


Beberapa tembakan telah di lesatkan oleh Anak buah Albert, untung saja mereka bisa menghindar. Ussy langsung mengeluarkan senjata api, suara desingan begitu jelas. Beberapa Anak buah Albert yang mengejar mulai berjatuhan terkena tembakan yang Ussy lesat tepat sasaran.


"Berhenti kalian!" Ancam salah seorang dari gerombolan Anak buah Albert.


Dor..


"Aarghh!"


Lengan Ussy berhasil terkena serangan tembak yang di lesat oleh Anak buah Albert.


"USSY!" Langkah kaki Anton terhenti saat lengan Ussy terluka.


"Cepatlah lari! Jangan hiraukan aku!" Balas Ussy.


"Tapi ... kamu terluka!"


"Aku bisa mengatasinya, cepat lari!"


Terpaksa Anton berlari kembali dengan membopong Albert, tangan Ussy menutup lengannya yang mengeluarkan darah, terpaksa Ussy mengeluarkan Boom Ball.


Ussy langsung mengaktifkannya dan segera melemparkan pada gerombolan Anak buah Albert yang mengejarnya. Ussy kembali berlari dengan secepat tenaga menyusul Anton yang sudah menunggu dimobil.


"Awas ... lari!" Teriak salah satu dari mereka.


Boom!


Kepulan asap begitu luar biasa menutupi mereka.


Brukk


Kaki Ussy lunglai hingga tidak mampu untuk berjalan kembali. Darah terus mengalir di lengannya.


"Ayo Ussy! Kamu harus kuat!" Ucapnya menyemangati saat keadaan mulai melemah.


Ussy terbatuk batuk karena menghirup sedikit asap tadi. Pandangannya mulai kabur, dan kepala yang terasa pusing. "Sialan!"


Saat keadaanya melemah, Anton langsung menghampirinya dengan mobil.


"Ayo masuk!" Teriak Anton.


Ussy menoleh dan berusaha bangkit dengan sisa kekuatannya. Anton dengan cepat turun dan langsung memapah Ussy, Anton langsung merebahkan Ussy di jok mobil, kemudian dengan cepat menutupinya kembali.


"Jangan lari!" Beberapa dari mereka telah sadar.


"Sialan! Mereka masih mengejar." Anton segera masuk kedalam mobil dan dengan cepat mengemudikan mobil.


Dor..


Dor..


Tembakan peringatan kembali melesat, tetapi mobil lebih cepat menjauh, hingga anak buah Albert tidak mampu untuk mengejarnya kembali.


"Sial! Mereka berhasil kabur!" Dengus kesalnya.


---


"Mereka sudah tidak mengejar kita lagi," ucap Anton melihat dibalik kaca spion.


"Baguslah...," jawab Ussy dengan nafas yang terengah-engah.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Anton dengan khawatir dengan darah yang mengalir deras di lengan Ussy.


"Sebentar lagi aku akan pulih," ucap Ussy sembari mengorek peluru yang menancap di lengannya.


Peluru akhirnya berhasil Ussy keluarkan, Anton yang sedikit bergidik melihatnya. Segera Ussy membalut lukanya dengan perban agar darah tidak mengalir deras.


"Kamu tidak sakit apa?" Jawab Anton dengan ekspresi ngilu.


"Sakit lah! Tapi harus bagaimana lagi, peluru ini harus segera dikeluarkan," jawab Ussy santai.


"Dimana Albert?" Tanya Ussy heran karena jok belakang mobil yang kosong.


"Aku simpan di bagasi mobil," jawabnya santai.


"Apa! Bagaimana kalau dia mati kehabisan nafas?"


"Tidak akan! Lagian jaraknya tidak terlalu jauh...," balasnya tanpa dosa.


Ussy hanya menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan Anton. Dia benar-benar tidak manusiawi, batin Ussy.