
Keesokan harinya Ussy mendatangi makam Bapak, Ussy memandangi kuburan Bapak, dengan membawa seikat bunga, lalu diam mematung tertatih mengenang semua hal indah dengan Bapak semasa hidup.
"Bapak.. Rasa ini masih terasa sakit, Jiwa masih menolak kepergian, Angan masih merasa kehadiran, Hati Ussy hancur untuk perpisahan ini, Waktu merenggut Bapak secara paksa, Membuat Ussy kesal tanpa daksa, Rasanya ingin mengulang waktu, Ingin sekali memeluk Bapak, Maafkan Ussy tidak bisa membahagiakan Bapak, Hingga ajal mendahului bertemu, Sakit jiwa ini melihat Bapak terbaring dibawah tanah,Namun semua sudah takdir, Ussy berharap Bapak bahagia disana, Bapak tidak akan merasakan sakit lagi. Tuhan jagalah selalu Bapak disamping-Mu. Ussy sayang Bapak..." ucapnya dengan air mata yang tidak terasa mengalir begitu saja.
Ussy bangkit dan berjalan menuju arah pulang, setelah menjenguk peristirahatan Bapak. Langkahnya perlahan sampai menuju rumah. Terlihat dari penghujung jalan terpampang mobil berdiam diri di halaman depan rumah Ussy. Ussy segera melangkah kaki dengan cepat.
Fahrul dan Dua teman perwakilan kelas Ussy, datang melayat untuk berbela sungkawa atas kepergian Bapak Ussy . Sempat terheran atas kehadiran Fahrul namun Ussy tidak menghiraukannya.
"Ussy... Kami perwakilan kelas ikut berduka cita atas kepergian Bapak Ussy. Semoga mendiang Bapak Ussy ditempatkan yang terbaik disisi-Nya," ucap teman kelas Ussy sebut saja Mira.
Memeluk haru Ussy, kemudian Ussy membalas peluk nya seraya mengucap terima kasih. Lily yang keluar dari kamarnya dengan membawa boneka kesayangan menghampiri Fahrul begitu saja dengan polos berucap.
"Kak Ussy.. Apakah ini pangeran Kakak?" Tanyanya sambil menatap Fahrul dengan tatapan manis Lily.
Fahrul hanya tersenyum mendengar ucapan polos si Bungsu Lily. Dengan cepat Ussy menghindarkan Lily kepada Fahrul dan memberi penjelasan.
"Bukan! Dia adalah teman Kak Ussy," tumpas Ussy,
Namun tangan Lily enggan melepaskan pegangan nya kepada Fahrul. Sulit menjelaskan situasi seperti ini kepada Lily. Akhirnya Ussy hanya pasrah dengan membiarkan si Bungsu Lily berbincang dengan Fahrul.
Sedangkan Ibu tetap berada didalam kamar enggan keluar, hanya ingin berdiam diri sendiri di bilik kamar. Teman Ussy memaklumi keadaan Ibu Ussy yang mungkin masih terluka mendengar kenyataan untuk menerima kepergian Bapak.
Tidak lama kemudian kedua teman sekelas Ussy pamit pulang lebih dahulu, berbeda dengan Fahrul yang masih saja asik bermain dengan Lily. Ussy hanya bisa membiarkan Lily bermain sejenak dengan Fahrul, upaya agar hati Lily tidak bersedih akan musibah ini. Canda dan tawa terdengar jelas terukir di wajah Lily membuat hati Ussy sedikit lebih tenang melihat si bungsu kembali ceria.
"Kapan kamu kembali ke kampus?" Tanya Fahrul kepada Ussy yang sedang menuangkan teh hangat kedalam cangkir.
"Mungkin setelah keadaan sedikit membaik dan kesehatan Ibu pulih." jawab Ussy dengan memberikan secangkir teh hangat kepada Fahrul. Secangkir teh hangat langsung diterima Fahrul.
"Ibu enggak sakit Ussy, Ibu baik-baik saja kok. Ussy Anakku sayang.. maafkan Ibu ya Nak sudah membuat Ussy resah," ucap Ibu yang datang seketika keluar dari bilik kamar dan menghampiri Ussy.
Hati Ussy seketika tenang, Senyumnya kembali terukir melihat keadaan sang Ibunda kembali seperti semula. Ussy memeluk Ibu dengan perasaan begitu tenang.
"Sudah jangan resah lagi ya.. Sekarang Ussy harus segera kuliah kembali.. Sayang kalau ilmu ditinggal begitu saja.." balas Ibu dengan kembali memeluk Ussy dan memberi kecupan hangat di kening.
Hati Ussy sungguh begitu damai dan pikirnya kembali rapih.
"Terima kasih Ibu.. Ussy sayang Ibu.." ujar Ussy tersedu, saat Fahrul melihat kejadian yang sangat langka dan berharga ini seketika hatinya bergetar melihat keluarga yang begitu hangat meski dalam atap yang tidak begitu besar.
"Seandainya Fahrul punya keluarga hangat seperti ini" ujar Fahrul dalam hati dengan memandangi sambil tersenyum.
Ibu yang baru melihat kehadiran Fahrul langsung menatapnya. Karena baru pertama kali melihat seorang lelaki yang di bawa oleh Ussy selain Jamy ke rumahnya. Pikir Ibu, Ussy telah bisa melupakan Jamy dalam kehidupan asmaranya. Meskipun itu kecil kemungkinannya. Setidaknya Ussy tidak perlu merasakan sakit dalam memadu asmara.
Dahulu Ussy pernah berjanji hanya akan membawa pasangan ke rumah hanya satu jenis laki-laki saja tidak ingin berganti pasangan. Ibu senang mendengar Ussy memiliki hati yang setia. Namun sayang, saat penentu hidup Ussy adalah Jamy terjadi beberapa masalah dalam kisah asmaranya. Seperti yang telah di ceritakan, orang tua Jamy yang tidak memberi ijin atau restu kepada hubungan mereka.
Mungkin hati Ussy sangat terluka dengan hubungannya yang bertepuk sebelah tangan, Ibu hanya bisa memberi dukungan kepada Ussy dan mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Ibu tidak begitu tahu perasaan Ussy dalam kisah asmaranya karena Ussy lebih menutupi diri tentang percintaan nya. Mungkin lambat laun Ussy akan melupakan Jamy dan mampu menerima lelaki lain di hatinya pikir Ibu.
"Nama saya Fahrul Bu.." ucap Fahrul tersenyum.
"Fahrul ini siapa nya Ussy ya?" tanya Ibu penasaran.
"Hanya TEMAN!" jawab Ussy memotong ketika Fahrul akan menjawab.
Ibu hanya tersenyum melihat reaksi Ussy. Lalu tanpa perintah apapun Fahrul memberikan bantuan tumpangan untuk Ussy berangkat kembali ke kampus.
"Ya Sudah bagaimana bila Ussy berangkat bersama dengan Fahrul, kebetulan satu tujuan. Tapi apabila Ibu memberi ijin." tawar Fahrul. Awalnya Ussy menolak namun Ibu memaksa untuk pergi bersama Fahrul.
"Ibu ijinkan, asalkan selamat sampai tujuan" balas Ibu.
"Ibu... Besok saja Ussy berangkatnya, biarlah Ussy satu hari lagi untuk berhalangan hadir di kampus, lagian Ussy tidak tega meninggalkan Ibu dan Dua adik Ussy hari ini.." tolak Ussy.
"Kan Ibu sudah sehat ini.. Lagian Ussy tidak boleh sering bolos di kampus, sayang ilmu banyak yang tertinggal. Dan juga ada nak Fahrul yang rela memberi tumpangan untuk Ussy, jadi Ibu lebih tenang kalau Ussy bersama nak Fahrul dari pada naik angkutan umum." jelas Ibu. Terpaksa Ussy menuruti perintah Ibu.
***
Ussy kembali berkemas, Ibu memberikan bekal makanan untuk di jalan nanti apabila rasa lapar menghadang, meskipun hanya dengan ubi rebus. Namun Ussy menerima dengan sepenuh hati.
"Ibu.. Ussy pamit ya.. Ibu harus jaga kesehatan Ibu.. Ussy akan berusaha untuk pulang segera mungkin.." ucap Ussy memeluk Ibu.
"Iya hati-hati dijalan. Nak Fahrul.. Ibu titip Ussy ya.." ucap Ibu kepada Fahrul. Ussy mendengar perkataan Ibu seperti Itu langsung menatap sinis Fahrul.
Ussy memasuki mobil dan membuka jendela mobil seraya melambai tangan kepada Ibu, Luna, dan Lily. Senyumnya merekah melihat keluarga kembali pulih dari keadaan pedih.
Ibu langsung masuk kedalam rumah setelah Ussy telah menjauh dari pandangannya. Segera Ibu berlalu menuju dapur untuk membuat beberapa kue untuk di jual. Akan tetapi saat di dapur suara Ibu terdengar sedang berbincang dengan seseorang. Membuat Luna yang mendengarnya penasaran dengan siapa Ibu berbicara.
"Oh iya Bapak tolong cobain ini kue kurang apa ya? " ucap Ibu sambil mengaduk adonan.
Luna terkejut melihat Ibu yang berbicara sendiri, lantas Luna menghampiri Ibu "Ibu.. bicara dengan siapa? " tanya Luna.
"Eh Una.. ini loh Ibu sedang berbicara dengan Bapak." Jawab Ibu polos. Luna terkejut mendengar jawaban Ibu.
"Bapak siapa Bu? " tanya kembali Luna memperjelas.
"Lah siapa lagi? ini Bapak Una!" ucap Ibu kekeh, dengan menunjukan posisi sebelah yang kosong tidak ada siapapun.
"Tapi Bapak sudah meninggal Bu.." ujar Luna memberi kebenaran kepada Ibu. Namun Ibu tetap menyatakan bahwa Bapak masih hidup. Luna bergidik takut dan berlalu meninggalkan Ibu.