
"Tatkala aku menatapmu,tatapanku terfokus pada sorot bola matamu yang menyiratkan banyak enigma dalam benak"
☆ ~Juan Mahendra Nasution~ ☆
🍃🍃🍃
Sementara dilain tempat ,pada Cafe Coffie yang terkenal disebut "Watt Coffee" lokasinya berada di Jalan Kwitang Raya No.14, Senen, Jakarta Pusat.
Berbagai menu minuman bisa dipilih sesuai selera. Kalau tidak ingin memesan coffee, bisa memesan menu non-kopi seperti jus, teh atau cokelat.
Watt Coffee juga menyediakan berbagai menu makanan. Ada pasta, pizza, waffle, dan masih banyak lagi yang lainnya. Coffee shop ini buka setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga 10 malam.
Karena tempatnya yang sangat nyaman dengan nuansa bangunan yang menarik,dekorasi dinding bertemakan clasic sangat kontras dengan hiasan dindingnya.Semua ditata sedemikian rupa agar tercipta daya tarik bagi para pengunjung dan pecinta coffee.
Oleh karena itu,Juan dan teman-temanya menjadikan cafe ini sebagai base camp kedua setelah rumah yang mereka beli bersama-sama.
Watt Coffee tempat yang cocok untuk kumpul bareng atau istilah kerennya yang biasa disebut oleh remaja masa kini yaitu " Warung Nongkrong".
Di cafe itu terlihat Juan dan Cindy sedang nge-date.Cindy terus berusaha mencari topik agar pembicaraan dengan Juan terus berlanjut.Namun Juan sibuk memainkan ponselnya dan hanya menjawab seadanya itu pun sangat singkat hanya Ohh ... hmmm ... ya ... nggak ....
Sumpah kalo kaya gini caranya cowok seganteng Kim Taehyung yang mendapat gelar cowok tertampan didunia juga pasti bakal bosen jika dicuekin terus-menerus.
Tetapi apalah daya cinta sudah mendarah daging,apalagi ini moment langka bisa nge-date bareng Juan.
Duh betapa bodohnya cewe yang menjadi pacarnya Juan.Dasar Buciners.
"Juan tadi pelajaran di sekolah ada yang susah nggak?"tanya Cindy berusaha mencari topik.
"Nggak,"jawab Juan singkat masih fokus memainkan ponselnya.
"Wih hebat dong,padahal menurutku pelajaran IPA susah lohh ... apalagi yang mengajar Pak Dodi guru yang terbilang killer itu, kalau marah bisa satu alam semesta hancur dengan segala isinya,"tutur Cindy panjang lebar.
"Ohh ...,"singkat Juan.Cindy pun hanya menghela nafas pendek rasanya jika yang dihadapanya cowo biasa bukan Juan pasti Coffee panas sudah mendarat dimukanya.
"Tadi kamu ada kelas IPA kan yang guru mapelnya Pak Dodi? yakin nggak sulit gitu?"tanya Cindy lagi masih sabar.
"Nggak."
"Ohhh iya An aku dengar Bonyok kamu lagi keluar negeri yah?"
"Ya."
Juan masih saja mengacuhkan Cindy dengan menjawab pertanyaanya singkat.Cindy lama-kelamaan tidak tahan dengan sikap Juan yang acuh tak acuh akhirnya Cindy memberanikan diri menegur Juan.
"Juan!kamu masih sayang nggak sih sama aku?"tanya Cindy setengah berteriak agar Juan mendengarnya lebih jelas.
"Nggak,"jawab Juan enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun membuat Cindy geram.
"Apah?!!!Kamu kenapa sih?nggak pernah serius!aku maunya kamu itu perhatian selayaknya pasangan-pasangan yang di luar sana!!!!!"geram Cindy memuntahkan unek-uneknya yang sedari tadi dia pendam.
"Emm yaudah sih pacaran saja sama orang-orang yang kamu maksud itu,buruan gih,"tandas Juan.
"Maksudmu apa sih An?!kalo kamu kaya gitu sebenernya tujuan kamu macarin aku apa sih?jawab An?!"teriak Cindy sembari membendung air matanya yang hampir tumpah.
"Ya karena waktu itu aku lagi mainan TOD sama temen-temenku jadi dikasih tantangan gitu?"tukas Juan.
"Jangan bilang aku yang jadi tantanganya?jawab An!!!!!!!!"duga Cindy.
"Maybe."
"JERKK!!!!!!!kamu An!Kamu pikir aku bonekamu yang bisa kamu mainkan sesuka jidatmu hah?cowo macam apa yang beraninya matahin hati cewe?dasar Keparat!!!"umpat Cindy kini air matanya tumpah.
"Yaudah aku mau sekarang kita putus!"sambung Cindy meminta putus dengan Juan.
"Nah tuh kamu peka apa yang aku mau ... anak pintar,"cerca Juan.
"Dasar playboy inget yah suatu saat nanti kamu bakal tau betapa sakit orang-orang yang kamu patahkan hatinya demi memperjuangin cinta kamu!Ingat An karma tidak pernah salah bertindak.Drama yang manis akan kalah dengan karma yang sadis!!!"bentak Cindy sembari mengucapkan sumpah serapah.
Juan tak mempedulikan bentakanya tak sanggup rasanya melihat air mata dari seorang wanita,sebrengsek-brengseknya Juan sebenarnya dalam relung hatinya yang paling dalam tak sedikitpun terbesit membuat seorang wanita menangis karena Juan tau jika menyakiti hati wanita sama saja dia menyakiti hati nyokapnya.Namun demi tantangan yang dianggap sebagai imagenya apa boleh buat.Oleh karena itu Juan tidak mau menyakiti hati Cindy lebih lama gadis yang sama sejali tidak dicintainya itu.
Cindy sudah geram setengah mati.Rasanya ingin mencakar seluruh muka tampanya Juan.
"So?kenapa kamu masih disini?"
"Iya kamu bener An buat apa aku masih disini dengan cowo brengsek kaya kamu!"
Dengan hati tersiksa Cindy beranjak meninggalkan Juan setengah berlari,sudah cukup dirinya diperlakukan seperti boneka oleh Juan.
Juan terpaku,kini dirinya mengulangi apa yang seharusnya tidak dilakukanya.Dalam sekejap dia menjadi cowo yang sangat brengsekkk maybe tidak bisa disebut manusia tetapi devil!
Juan masih menatap kosong ponselnya pikiranya melayang entah kemana,suasana hatinya campur aduk.Kala Juan melamun, tiba-tiba teman-teman Juan datang membuat Juan segera mengendalikan dirinya agar teman-temanya tidak tau suasana hatinya yang kacau balau.
"Ehh Ann!!sendirian saja!!dimana si Cindyllll itu?"tanya Panca mengagetkan Juan.
"Sudah pulang dari tadi,"jawab Juan menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.
"Yahh padahal gue pengin adu mulut sama dia lagi kan asik tuh,"cerca Imel.
"Hushhh Imel nggak boleh ngomong kaya gitu lahh,"anjur Angel menasihati Imel.
"Gimana hubungan kalian sekarang?Everything is alright kan?"kini gantian Rafa yang bertanya kepada Juan.
"Udah putus,"tutur Juan membuat semua orang terkejut dengan penuturanya.
"Serius An???!"tanya Rafa memastikan pendengaranya tidak salah.
"Iya gitu deh?"
"Wahhh parah lu An, kenapa sih?lu masih mempermainkan cewe terus?lu nggak takut karma bakal bertindak?"tegur David sembari menasihati Juan yang keras kepala kali ajah gitu omonganya nyantol sedikit demi sedikit.
"Bener kata David An gue sebagai cewe nggak terima jika kaum kami diperlakukan seperti itu,"timpal Angel.
"Kalian ini ribut mulu udah deh ... yang lalu biarlah berlalu,"pekik Ray yang sedari tadi diam,dalam hatinya ada rasa bahagia yang amat dalam karena Cindy sudah putus dengan Juan artinya perjuangan Ray tidak ada saingan dalam memenangkan hati sang Pangeran Juan.
"Betul tuh kata Ray,kenapa jadi meributkan Cindy?udah deh lupakan saja,"saran Juan.
Teman-teman yang lain tidak ada yang menentang sikap keras kepala Juan lebih lanjut.Jika sudah "Ya" ya sudah berarti keputusanya sudah bulat tidak boleh mengganti "Tidak" itulah prinsip Juan.Yang terpenting teman-temanya sudah berusaha menasihati Juan untuk hidup yang lebih baik.
Mereka mulai memesan menu sesuai dengan selera mereka masing-masing.
Seperti biasa Juan memesan Coffe 'Espresso',Rafa dan Raya memesan Coffee 'Cafe Late',Panca dan Imel 'Hot Chocho Macadamia',Angel dan David 'Hot Caramel Machiatto'.
Setelah dirasa cukup memesan, mereka memanggil pelayan cafe untuk membuatkan pesanan mereka.
Sambil menunggu pesanan,mereka berbincang-bincang seputar sekolah atau kejadian yang dialami mereka.
"An btw cewe yang duduk disebelah lu gimana sih?"tanya Rafa memulai pembicaraan.
"Ohhh si cewe songong itu?Dih berasa dineraka tau nggak duduk sama dia,"cetus Juan.
"Ehhh bentar-bentar jangan bilang yang sedang kalian bicarakan itu murid pindahan dari LA yang sedang jadi tranding topik itu?"duga Imel.
"Yupz."
"Gue rasa dia itu cewe introvert deh liat saja dia selalu tampil cool, pendiam,tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya,"ujar David.
"Alah palingan cuma cari sensasi doang,sok jual mahal kaya kebanyakan cewe-cewe lainnya,dikasih rayuan dikit juga pasti luluh auto baper ketinggian sampai langit ke tujuh,"cerca Jusn sok tahu.
"Khem!!!!"Angel Ray dan Imel berdehem keras,mereka merasa tersindir dengan penuturan Juan yang tanpa pengecualian.
"Ehhhh kecuali kalian teman-temanku yang saya sayangi dan saya banggakan,"ralat Juan sembari tertawa.Untunglah Juan segera meralat tutur katanya itu jikalau tidak percayalah dalam hitungan detik Juan bakal mendapatkan tiga bogeman mentah dari ketiga cewe itu.
"Wait-wait kalian merasa ada yang aneh nggak sih sama dia?soalnya pertama aku menatap bola matanya seperti melihat duka yang amat mendalam gitu?ada yang sama nggak?"ungkap Angel menganalisis cewe yang mereka bicarakan.
"Perasaan lu saja kali Ngel ... terlalu cepat mengambil kesimpulan. Paradigma seseorang kan berbeda-beda,"simpul Juan.
"Tapi kan An --,"belum sempat Angel bertanya lebih lanjut perkataanya sudah dipotong Juan.
"Udah deh Ngel ... mending kita ngopi bareng liat tuh pesanan kita sudah datang,"potong Juan.
Angel menghela nafas panjang kenapa tidak ada yang satu pemikiran dengan dia. Angel yakin sorot mata cewe itu menimbulkan enigma bagi seseorang yang benar-benar ingin mengetahui siapa dirinya.
Namun tanpa sepengetahuan siapapun dilubuk hati Juan sekejap sempat terlintas bahwa dirinya satu pemikiran dengan Angel namun pemikiran itu segera dia tepis jauh-jauh berusaha masa bodoh mengingat bagaimnana perlakuan cewe itu terhadapnya.
Setelah pesanan datang, mereka langsung mengambil milik mereka masing-masing dan meminum coffee sedikit demi sedikit sembari meniupnya agar coffee mereka tidak terlalu panas.
Mereka melanjutkan obrolan yang sempat terpending,berbagai topik mereka bicarakan seakan-akan caffee itu milik mereka sendiri tak mempedulikan orang-orang disekitarnya.
Waktu demi waktu terus berputar hingga tiba saatnya mereka untuk pulang.
Sudah cukup waktu untuk bersenang-senang hari ini.Jika tidak disudahi pasti mereka mengobrol sampai cafe itu tutup.
Juan beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri kasir untuk membayar bill sesuai yang mereka pesan.
"Eh kalian keluar duluan yah,ntar gue nyusul,"saran Juan.
"Siap 86 pangeran Juan yang tampanya melebihi Dylan,"ucap mereka serentak menirukan Jargon yang biasa Juan ucapkan sehari-hari itu.
"Dasar kalian!itu kan Jargon gue,seenaknya saja menirukan tanpa meminta izin dulu,"tukas Juan pura-pura marah sembari memonyongkan bibirnya beberapa senti membuat teman-temanya gemas ingin menarik bibir Juan itu.
Setelah teman-temanya keluar Juan membayar billnya.
"Jadi berapa Mba semuanya?"tanya Juan kepada salah satu kasir cafe itu yang dandananya paling mencolok diantara pegawai-pegawai yang lainya.
"Semuanya jadi 350 ribu Mas,"jawabnya dengan suara menggoda.
"Ohh ini uangnya Mba,"cakap Juan sembari memberikan uang kepada pegawai itu.Perasaan Juan menjadi was-was dengan tatapan pegawai kasir itu,tubuhnya bergidik ngeri.
"Ini kembalianya dan bisa memberikan nomor handphonenya Mas?"kata pegawai itu dengan tatapan tidak mengenakan.
Mendengar ucapan yang keluar dari oegawai itu ingin rasanya Juan beranjak pergi meninggalkan cafe itu.
"Sepertinya saya sudah ditunggu teman-teman saya di luar,ambil saja kembalianya,"ujar Juan seraya berlari kecil meninggalkan Cafe itu.
"Ehh tunggu Mas!!!!"teriak pegawai itu.
Tak ada sahutan dari Juan.Dia pergi cepat sekali pikir pegawai itu dalam hati.Ketika masih terheran-heran dibuatnya tiba-tiba pegawai lain yang disebelahnya menceloteh.
"Mereka anak dari keluarga terpandang Mba ... jadi tidak mudah tergoda dengan yang begituan,"puji pegawai lain yang sedari tadi memperhatikan tingkah mereka.
Semua pegawai lama sudah hafal dengan perilaku Juan dan teman-temanya karena apa? Juan sudah menjadikan cafe ini sebagai base camp.
"Iya yah ... sia-sia dong dandanan saya,"tawa pegawai yang melayani Juan tadi.
"Makanya jangan ke ganjenan deh Mba ... takutnya salah sasaran,"ujar pegawai yang lain.Mereka pun tertawa renyah.
Setelah dirasa selamat dari godaan pegawai baru itu.Juan memelankan langkahnya.
Kini tinggal teman-temanya yang dibuat heran melihat Juan berlarian.
"Ada apa sih An?lari-lari gitu kaya dikejar setan,"tanya Panca heran.
"Iya ... elu setanya ... buruan gih cabut ...,"perintah Juan sembari menghidupkan motornya.
Teman-teman Juan hanya mengangkat bahu,tak tahu apa yang terjadi pada Juan.
Setelah semua siap,mereka bergegas tanjap gas sebelum para bonyok mereka berceramah panjang lebar.
-- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- --
-- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- --