Let me Love You

Let me Love You
Bab 36.



"Istirahat lah sayang,, aku tahu kau pasti capek bukan??".


"Berapa hari aku sudah di sini, dan kau belum tidur dengan benar".


"Tak apa sayang,, demi untuk mu aku bersedia lakukan apapun".


"Tidurlah di sebelahku,, kau juga harus menjaga kesehatan mu".


"Tapi, bagaiman kalau perawat masuk nanti".


"Aku pasti akan kena omelan nya".


"Tenang saja,, aku yang bertanggung jawab,,naiklah kemari, temani aku".


Andin ragu menerima ajakan Toni. Pasalnya, luka jahitan di perutnya belum kering benar.


Walaupun Toni sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dia masih membutuhkan penanganan serius.


Perlahan-lahan, Andin naik ke ranjang pasien.


Terasa sempit dan tak nyaman, namun Toni sungguh menikmatinya. Dia langsung mendekap erat tubuh istrinya.


"Sayang,,, luka mu.....bagaimana kalau aku tak sengaja menekan nya".


"Tidak apa,, hanya luka kecil, tidak akan menyakiti ku".


"Tidur lah yang nyenyak sayang,,, aku akan menjaga mu".


Berbaring dalam dekapan Toni sungguh sangat nyaman. Tidak menunggu lama, Andin sudah terlelap dalam damai. Pun ketika perawat masuk ke kamar untuk memeriksa Toni, Andin masih belum bangun.


Toni sudah memberikan isyarat agar perawat itu kembali nanti. Tapi tetap saja perawat membangunkan Andin. Mereka harus membersihkan luka Toni dan mengganti perban nya.


"Maaf Bu,,,pasien akan di periksa sebentar".


"Silahkan ibu pindah ke sofa dulu".


"Ah....ya....maaf suster, saya ketiduran".


"Silahkan kalau mau memeriksa".


Andin turun dari ranjang dan memandangi Toni yang tersenyum nakal. Sejak tadi, perawat itu juga senyum-senyum sendiri.


Mungkin mereka melihat kemesraan Andin dan Toni di rumah sakit. Padahal, itu bukan tempat yang tepat untuk berdua-dua an.


Selesai mengganti perban, perawat itu tersenyum ke arah Andin. Sambil berlalu dia sempat bicara kepada Andin.


"Kalian pasangan paling romantis yang pernah ku temui".


"Anda beruntung pak, memiliki istri seperti dia".


"Tapi ingat,, luka di perut suami ibu masih belum sembuh Lo".


"Sedikit gerakan saja bisa terbuka lagi jahitan nya,,, anda paham kan maksud saya??".


Andin tersipu malu. wajahnya merona merah mendengar kata-kata perawat. Sedangkan di belakang nya, Toni pura-pura tidak mendengarnya. Andin menunggu sampai para perawat keluar dari ruangan Toni.


"Kau dengar kan,,, sedikit gerakan saja, luka mu kembali terbuka".


"Bersabarlah sayang,,, tahan keinginan mu sampai beberapa hari ke depan".


"Hmmm.....itu yang tidak ku suka".


"Harus berjauhan darimu,,,, lebih baik aku mati saja".


"Sstt.....jangan pernah ucapkan itu Toni".


"Kau tahu bagaimana paniknya aku kemarin kan".


"Jangan pernah menyebut kematian lagi saat kau sedang bersama ku".


"Iya,,, maafkan aku sayang".


"Malam ini tidurlah di sofa,,,buat diri mu nyaman, aku akan memanggilmu nanti, kalau perlu sesuatu".


Andin menuruti permintaan suaminya. Setelah memastikan Toni tidur dengan nyaman, Andin lalu merebahkan dirinya di sofa.Malam yang panjang beberapa hari ini di


rah sakit. Hanya berdua dengan suaminya saja. Andin bersyukur kini Toni sudah jauh lebih baik. Dia berharap mereka segera bisa pulang kembali ke apartemen.


Pagi-pagi sekali, Natalie sudah datang ke rumah sakit. Ditemani Adam, dia akan menggantikan Andin untuk menjaga Toni.


Andin harus pulang mengambil surat-surat untuk keperluan administrasi rumah sakit.


"Pagi sekali mom,,, kalian tidak ke kantor dulu??".


"Bagaimana bisa kami ke kantor, kalau tidak ada yang menjagamu disini".


"Tenang saja mom,, ada istri ku disini".


"Justru itu, Andin harus pulang sebentar, ada pekerjaan yang harus di selesaikan nya".


"Jadi kami menggantikan nya sebentar menjaga mu".


Andin keluar dari kamar mandi dengan memegang handuk. Tak sabar Toni menanyakan pada Andin tentang perkataan Natalie.


"Sayang, memangnya kau mau pulang?".


"Iya,, aku ada kerjaan di butik sebentar, lalu aku harus mengambil dokumen milikmu agar kau bisa keluar dari sini".


"Apa kau yakin bisa sendiri??".


"Tenanglah sayang,, sopir mom akan mengantar ku".


"Setelah pekerjaanku selesai, aku akan segera kembali".


"Iya sayang,, aku pergi dulu sekarang!!".


"Mom,,, tolong jaga sebentar anak kesayangan mom ini".


"Ku ingatkan mom,, dia agak manja sekarang".


"Tenang saja Andin, mom pasti bisa mengatasi anak nakal ini".


"Cepat kembali, dan hati-hati!!".


"Ok mom,,, see you...!!".


Andin keluar dari kamar inap suaminya dan bergegas turun ke halaman rumah sakit. Sopir Natalie sudah menunggu di sana. Saat tiba di depan pintu masuk, Andin berpapasan dengan Bram. Karena tergesa-gesa, Andin tak sengaja menabraknya.


"Andin,,,sedang apa kau di sini,,apa kau mau keluar??".


"Maaf Bram,, aku buru-buru,, lain waktu kita bicara lagi".


"Tunggu Andin,,, kau mau kemana,, biar aku mengantar mu".


"Aku harus pulang ke apartemen sebentar,, sopir sudah menunggu ku di depan".


"Biar aku saja yang mengantar mu,, aku lebih tahu jalan cepat di kota ini".


"Tak usah repot-repot Bram,,, kau lanjutkan saja pekerjaan mu".


"Aku tadi nya ingin menjenguk Toni,, tapi melihat mu kerepotan, biar aku antar kau dulu".


"Ku mohon, jangan menolak ku,, aku hanya ingin membantu kalian".


"Jangan salah paham dulu,, aku janji tak akan macam-macam".


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Andin menyetujui usulan Bram dan bersedia di antar olehnya. Mereka bergegas menuju parkiran dan langsung berangkat ke apartemen.


Sepanjang jalan, Bram terus memandangi wajah Andin. Dia terlihat semakin cantik setiap hari. Hanya ini kesempatan nya untuk bisa dekat dengan Andin. Makanya Bram harus menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk bisa bicara dengan nya.


"Bagaimana keadaan Toni sekarang??".


"Dia sudah jauh lebih baik Bram,, terima kasih kau mau menjenguknya".


"Dan kau sendiri,, bagaimana keadaan mu??".


"Kau terlihat sangat lelah dan wajah mu sayu".


"Keadaan ku tidak penting, Toni bisa selamat pun, aku sudah sangat bersyukur".


"Apa kau mencintai nya Andin??".


"Tentu,, kenapa tidak??".


"Toni sangat baik, dan dia tulus mencintai ku".


"Lalu, bagaimana dengan ku??".


"Apa maksud mu bertanya seperti itu Bram??".


"Bukan nya kau juga sangat mencintai istri mu??".


"Kenapa kau tanyakan keadaan mu padaku??".


"Karena aku masih sangat mencintai mu Andin".


"Hanya kau satu-satunya wanita di dalam hidup ku".


"Sejak memiliki mu malam itu, aku tak bisa berpindah ke lain hati".


"Aku hanya terus memikirkan diri mu".


Andin terkejut mendengar perkataan Bram. Dia memandangi wajahnya dengan lekat. Matanya tidak berbohong. Bram jujur mengatakan yang sebenarnya. Namun, dia belum berani mempercayai Bram sepenuhnya.


"Hentikan pembicaraan ini Bram".


"Kita masing-masing sudah memilih jalan sendiri".


"Tak usah lagi memandang masa lalu".


"Berdamai lah dengan hati mu sendiri".


"Terima pasangan mu dengan sepenuh hatimu".


"Aku yakin, kau akan menemukan kedamaian".


Bram menghentikan laju mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Dia memandang wajah Andin dan menggenggam lengan nya erat. Sejenak emosi menguasai dirinya. Namun, dia berusaha untuk menahan nya.


"Apa kau bahagia Andin,,, apa cinta Toni lebih dalam daripada cinta ku padamu".


"Aku melihat di matamu,, kau masih menyimpan perasaan cintamu untuk ku".


"Apa kau akan mengelak sekarang??".


"Bram,, terkadang keinginan berbanding terbalik dengan kenyataan".


"Kita hanya harus berdamai dengan keadaan bukan??".


"Sudah lah.....aku buru-buru,,. kalau kau keberatan mengantar ku, biar aku turun disini saja".


Andin hendak membuka pintu mobil, namun tangan Alex menahan nya. Dia menghidupkan mobil dan segera mengantar Andin ke apartemen.


...****************...