
Sejak dari masuk kamar, Toni sudah memeluk istrinya dari belakang. Dia juga menciumi tengkuk dan seluruh lehernya. Andin tersenyum jengah merasakan gairah yang di timbulkan dari aktivitas suaminya tersebut.
"Sayang,, lepaskan aku,, aku mau mandi sebentar,, badan ku gerah,, tidak enak rasanya".
"Honey,, bagaimana kalau kita mandi bersama".
"Hmmm......aku tahu apa.yang kau inginkan,, lepaskan aku....!!!".
Bukan nya melepaskan Andin,, dia justru mendorong istrinya masuk ke kamar mandi.
Toni membasahi sekujur tubuh Andin, sehingga cetakan tubuhnya terlihat sangat jelas. Hal itu tentu saja membangkitkan nafsu Toni sebagai laki-laki. Dia langsung saja mendekap erat tubuh Andin. Bibirnya ranum istrinya langsung di ciumnya. Mereka berdua di selimuti gairah yang membara.
Toni tak sabar melepas pakaian Andin. Dia terlalu bersemangat memberikan kenikmatan pada sang istri.Di bawah kucuran air shower, keduanya mendesah manja, melepaskan gairah yang menyelimuti keduanya.
Kedua pasangan tersebut keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Toni membantu istrinya mengeringkan rambut dan begitu pula sebaliknya. Terlihat binar-binar cinta terpancar di mata mereka.
"Sudah selesai kan,, aku mau tidur dulu".
"Tunggu,, masih ada yang basah, jangan buru-buru".
"Apa,,,,,lepaskan sayang......dasar kau mesum".
Toni tak menghiraukan teriakan protes Andin. Dia malah menarik paksa handuk yang melilit tubuhnya. Sekali lagi tubuhnya menindih tubuh telanjang Andin dan mengeksplor titik-titik sensitif dari istrinya. Teriakan protes Andin dalam sekejap berganti dengan rintihan
nikmat. Andin tak kuasa menolak. Toni selalu berhasil memberikan kepuasan padanya. Dai seakan tidak punya rasa lelah. Menginginkan Andin lagi dan lagi.
Ketika aktivitas panasnya berakhir, keduanya terlelap bersamaan. Entah sudah jam berapa sampai mereka berdua tertidur. Yang jelas,, siang hari keduanya terlambat bangun pagi.
Natalie mengetuk pintu kamar Toni lirih. Kalau saja tidak terpaksa, dia tak mungkin melakukan nya. Hanya saja sejak tadi pagi, Rossi sudah bertamu ke rumah mereka.
"Tante,, sini....biar Rossi saja yang membangunkan Toni".
"Dia itu kebiasaan,, tak pernah bisa bangun pagi".
"Aneh,, biasanya dia tak pernah mengunci pintu kamarnya".
"Toni,,,,,buka pintunya......ini sudah siang,,, cepat bangun".
"Rossi,,kau tunggu saja di luar,, biar Tante saja".
"Toni masih kecapekan semalam".
Natalie terus membujuk Rossi, tapi gadis itu tidak bergeming. Dia tetap berteriak membangunkan Toni. Dia sudah rindu sekali melihat laki-laki pujaan nya itu.
Andin menggeliat. Suara ribut-ribut di luar kamar membangunkan tidurnya. Saat hendak berdiri,, tangan Toni refleks mendekap Andin ke dalam pelukan nya. Alhasil dia tidak bisa bergerak sama sekali.
"Sayang,, lepaskan aku....Natalie manggil kita".
"Aku masih ngantuk sayang,,kemarilah....
sebentar mom juga pergi,, dia pasti mengerti kita sedang berusaha memberinya cucu".
"Kau salah sayang,, dengar lah....dia masih memanggil kita".
"Oh.....aku malu sekali,,, di hari pertama kepulangan ku,, aku terlambat bangun".
"Toni,,, kau dengar itu kan,, cepat lepaskan aku".
Andin melepaskan diri dari dekapan suaminya. Dia segera memakai gaun tidur dan piyama yang masih teronggok di lantai.
Sebelum keluar, Andin menutupi tubuh telanjang suaminya dengan selimut.
Andin membuka pintu kamarnya, dan mendapati ibu mertuanya bersama seorang gadis muda. Tentu saja Rossi terkejut karena dari kamar Toni muncul seorang wanita.
"Maaf ma,, kami telat bangun,, ada yang bisa Andin bantu??".
"Andin,,ini...kenalkan dia......".
"Siapa kau berani memanggil mama,, di mana Toni".
"Apa dia ada di dalam,,, biar aku yang membangunkan dia".
Keduanya bengong melihat Rossi dengan lancangnya, masuk ke kamar pribadi Andin dan Toni. Natalie dan Andin segera menyusulnya ke dalam. Mereka melihat apa yang akan di lakukan oleh Rossi.
"Toni,,, bangun......ini sudah siang,, kau ini kebiasaan....ayo bangun".
"Toni...........bangun kataku!!!!".
Toni terkejut mendengar seseorang berteriak
membangun kan dirinya. Dia refleks memegangi selimut yang menutupi tubuh telanjang nya. Tak berapa lama, Toni baru sadar kalau yang berdiri di hadapan nya adalah Rossi. Gadis itu kelihatan sangat marah melihat keadaan Toni.
Rossi memandangi Andin dan Toni bergantian. Dia menduga kalau pasti keduanya baru saja mengabiskan malam bersama. Bisa di lihatnya dari keadaan Toni dan Andin yang berdiri di samping ranjang.
"Apa-apa an ini mom,, sungguh tidak sopan".
"Bawa dia keluar dari kamar ku".
"Dia benar-benar mengganggu privasi ku".
"Keterlaluan kau Toni,, jadi ini yang kau lakukan kalau tidak ada aku??".
"Wanita mana yang kau undang untuk menghibur mu".
"Hei.....kemasi barangmu dan segera pergi dari sini".
"Mom,,, ayolah....bawa dia keluar dari kamar ku".
Natalie menyeret Rossi keluar dari kamar Toni. Sementara Andin sendiri bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Toni bangkit dari ranjang lalu mengunci pintu kamar,, setelah itu dia menyusul istrinya.
"Sayang,,,buka pintunya,,, ini hanya salah paham".
"Ayolah honey,,, biar aku jelaskan semuanya".
"Ini tak seperti yang kau pikirkan".
"Gadis itu sudah benar-benar gila".
"Sayang,,, buka pintunya".
Andin hanya terdiam. Selesai mandi, dia keluar dari kamarnya tanpa bicara sepatah kata pun. Toni langsung mendekati dirinya untuk membujuk supaya Andin tidak marah.
"Sayang,, dia itu Rossi,,,kami berteman sejak kecil".
"O ya,, begitu dekatnya seorang teman hingga bebas keluar masuk kamar".
"Dan ya,,,, dia menyebutku wanita penggoda".
"Aku tak tahu kalau gadis itu akan kembali".
"Dia sangat terobsesi padaku sejak dulu".
"Ayolah,,,jangan marah sayang".
"Biar mom nanti yang menjelaskan semuanya pada mu".
"Tunggu aku mandi sebentar,,kita temui Rossi bersama".
Andin menuruti perkataan suaminya. Dia menunggu sembari berdandan. Masalah ini harus segera di luruskan. Andin tak mau dianggap wanita penggoda dan perempuan tidak baik, oleh seorang gadis yang masih bau kencur. Setelah melihat Toni selesai berpakaian, Andin langsung menggandengnya keluar kamar menemui Rossi.
Di ruang tamu, gadis itu terus saja berteriak marah-marah pada Natalie. Dia sampai kewalahan menenangkan Rossi. Sampai akhirnya putra dan menantunya keluar dari kamar juga. Tak di duga,, Rossi tiba-tiba langsung menepiskan tangan Toni dan gantian menggandengnya ke sofa. Toni berusaha melepaskan dirinya dari Rossi, dan melihat Andin duduk di dekat Natalie.
"Rossi,, lepaskan aku,, hormati Andin,, dia itu istri ku kalau kau mau tahu".
"Jangan menuduhnya macam-macam".
"Atau aku tak akan mengijinkan mu datang kemari".
"Kau tidak bercanda kan Toni,, istri kau bilang??".
"Sejak kapan kau menikah....hah???".
"Bukan nya kau sudah janji akan menikahi ku kalau aku sudah sukses nanti".
"Lalu kenapa kau sekarang berubah pikiran??".
"Apa wanita itu yang sudah mempengaruhi mu".
"Toni,,, kau sudah di buat bodoh oleh wanita itu".
"Dia tak sungguh-sungguh mencintai mu".
"Hanya aku,,, Rossi yang sampai saat ini setia menunggu mu".
"Maaf nona Rossi, tahu dari mana anda kalau aku tidak mencintai Toni".
"Ku kira kau terlalu banyak minum, jadi kau kehilangan kesadaran mu".
"Sebaiknya kau pulang, dan jangan berbuat onar di sini".
Rossi berdiri dan menghampiri Andin. Dia melayangkan tangan nya untuk menampar pipi Andin. Namun Andin refleks menangkis tangan nya di udara. Kemudian dia mendorong Rossi ke belakang. Perbuatan gadis itu sudah benar-benar keterlaluan. Dia sama sekali tak punya rasa hormat dan sopan santun.
...****************...