
Sejak melihat sikap Andin kepada dirinya di pertemuan pagi itu, Bram semakin merasa cemburu. Ingin rasanya menyeret wanita itu dan langsung saja menggaulinya di atas lantai cottage. Sikapnya yang cuek seolah menantang Bram. Di tambah lingerie seksi yang di kenakan nya,,,dia terlihat begitu cantik mempesona. Tapi apa daya Bram, laki-laki itu sudah tidak punya hak atas diri Andin.
Jangan kan menyentuhnya, melihat dirinya pun Andin sudah malas rasanya. Itulah yang membuat darah Bram serasa mendidih. Cintanya,,begitu dekat di hadapan nya, namun dia tak bisa merengkuhnya.
"Sialan....!!!".
"Sombong sekali dia sekarang,,seolah-olah tak melihat ku".
"Apa aku ini bukan manusia??".
"Kau berteriak pada siapa Bram,,pada ku atau Andin??".
"Karena wanita itu mustahil mendengarnya,,dan aku bosan mendengar teriakan mu itu".
"Terimalah,,,,Andin sudah bahagia dengan Toni".
"Dan kau pun juga harus melanjutkan hidup kan??".
"Tak ada gunanya kau marah-marah sepeti ini".
"Iya,, kau benar...aku akan lakukan sesuatu daripada hanya marah-marah di sini".
Bram keluar dan membanting pintu. Dia melewati jalan setapak dari kayu menuju ke kamar Andin dan Toni. Di ketuk nya pintu dengan keras dari luar. Andin meloncat kaget.
Dia baru saja selesai berpakaian, sementara Toni masih ada di dalam kamar mandi. Andin buru-buru membuka pintu. Dia langsung marah karena mengira itu ulah tidak sopan pelayan hotel.
"Mas,, tolong hargai privasi kami dong,, mas tahu kan kami sedang bulan madu !!!".
Andin menatap laki-laki di depan nya tanpa berkedip. Dia sangat terkejut karena ram yang datang ke kamarnya. Andin refleks menutup pintu,, namun tangan Bram menahan nya hingga jarinya terluka terjepit pintu.
Tanpa pikir panjang, Bram segera menarik tangan Andin dan menyeretnya keluar kamar.
Andin berteriak meminta tolong pada Toni suaminya,,tapi Bram sudah gelap mata. Andin diseret menjauh dari cottage.
Mendengar teriakan Andin, Toni dan Vanessa berlari mengejarnya, namun Bram mengacungkan pisau ke leher Andin untuk mengancam Toni.
"Pergi dari sini,,,dan jangan ikuti kami".
"Atau kau tak ingin lagi melihat wajah istri mu ini".
"Lepaskan Andin sekarang,, dia sudah jadi istri ku Bram".
"Lepaskan aku Bram,,,apa-apa an kau ini".
"Diam kalian semua,,,atau darah Andin menetes di tempat ini".
"Kau jangan gila Bram,,,dia itu istri orang,, lepaskan Andin sekarang juga".
"Diam Vaness,, kau juga jangan ikut bicara".
"Ah...kau memang sudah gila Bram".
"Terserah....lakukan apa pun mau mu".
Bram membawa Andin menjauh,,sementara Toni mengikuti di belakang nya. Sebelum membawa Andin pergi,,dia menusuk ban mobil di sampingnya, supaya Toni tak bisa mengejarnya. Barulah setelah itu, Bram membawa Andin menjauh dari cottage.
"Sial,,,,kau sudah kurang ajar Bram".
"Lihat saja nanti,, apa yang bisa kulakukan padamu".
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Andin,,aku tak akan mengampuni mu".
Toni menelpon pihak hotel untuk meminta di siapkan mobil. Segera setelah mobil diambil,, Toni mengejar Andin dan Bram.
Sementara itu, Bram membawa Andin ke tepi pantai. Dia menurunkan Andin dan bermaksud mengajaknya bicara. Tapi Andin selalu berusaha melarikan diri. Jadi dengan terpaksa, Bram mengikatnya di pohon kelapa.
"Lepaskan aku,, aku kasar sekali".
"Dasar....tidak punya sopan santun!!!".
"Diam kau,,, sudah cukup kan bicara mu,, sekarang giliran ku yang bicara".
"Aku tak mau dengar apapun dari mu".
"Kau.....laki-laki pengecut,,, lihat saja nanti, Toni tak akan mengampuni mu".
"Toni....Toni...Toni,, aku muak mendengar nama itu".
"Kau tahu,,,,setengah mati aku mencari mu,, tapi nyatanya kau kabur bersama bajingan itu".
"Kalian bersenang-senang dan menertawakan kebodohan ku bukan???".
"Ku kira kau gadis yang berbeda,, ternyata kau sama saja,,, materialistis....!!".
"Omong kosong apa yang kau katakan ini Bram??".
"Kau keterlaluan Bram,,, aku membenci mu,, aku tak Sudi melihat wajah mu lagi".
"Kau tak sudi,,, lihatlah.....aku masih Bram yang sama".
"Dia tahun kau meninggalkan aku".
"Seperti orang gila, aku terus mencari keberadaan mu,, berharap kalau kau baik-baik saja".
"Siang malam, aku menyuruh semua anak buah ku mencari diri mu".
"Andin,,, sadarlah...hanya aku laki-laki yang mencintai mu".
Bram bersimpuh di depan Andin. Dia juga membuka ikatan tangan nya. Andin lalu berusaha melepaskan diri. Tapi Bram memeluk tubuhnya begitu erat.
"Kumohon,,, jangan pergi lagi".
"Tinggalkan Toni dan hiduplah bersama ku".
"Aku janji akan membahagiakan mu".
"Lepaskan aku Bram,, aku sudah tidak mencintai mu lagi".
"Kembalilah bersama Vaness, jangan ganggu aku lagi".
Bram mengendurkan pelukan nya dan menatap mata Andin dengan lekat. Bram melihat masih ada cinta di sana untuk dirinya.
Sesaat dia terhanyut. Bibir merah merekah itu dikecupnya dengan lembut. Andin berusaha berontak dan menutup rapat bibirnya. Namun Bram lihai mencari jalan masuk dengan lidahnya. Alhasil, Andin menggigit bibir Bram sampai berdarah, dan kemudian mendorongnya ke belakang hingga terjerembab.
Andin berlari sekencang-kencangnya. Dengan kaki telanjang dia berlari menyusuri jalanan yang sudah mulai panas. Tepat di saat itu, Toni datang dengan membawa petugas keamanan hotel. Melihat Andin berlari, Toni segera turun menghampirinya. Dia melihat kaki istrinya mulai terbakar. Toni membuka sepatu dan jaketnya kemudian dia pakaikan pada tubuh istrinya.
"Honey,,, apa dia melukai mu??".
"Tidak sayang,, dia hanya sudah gila".
"Entah apa yang ada di pikiran nya, dia berbicara tak jelas".
Toni segera menghampiri satpam hotel dan menyuruhnya membawa Bram kembali. Kebetulan pria itu mengejar Andin di belakang.
"Pak,,,tangkap pria itu dan bawa ke kantor".
"Dia sudah menculik dan berusaha menyerang istri ku".
"Baik pak,,,akan segera kami aman kan".
Kedua petugas menghampiri Bram dan menangkapnya. Mereka lalu membawa Bram ke hotel dengan mobilnya. Sementara Toni masih mendekap erat tubuh istrinya yang gemetaran.
"Dia seperti orang gila,, memaki ku tanpa alasan".
"Dia bilang aku wanita murahan yang hanya mengincar harta saja".
"Ssttt......hentikan,,,jangan lagi kau dengar kan".
"Cukup aku saja yang mengerti diri mu".
"Bram akan menebus semua yang di lakukan nya padamu hari ini".
"Tenangkan diri mu sayang,,aku bersamamu sekarang".
Toni mencium puncak kepala Andin dan kembali memeluknya. Sebelum pulang,,Toni mengajak istrinya berjalan di tepi pantai. Dia merasa kasihan karena perasaan Andin sedikit terguncang. Entah apa yang sudah Bram lakukan kepadanya.
"Apa kau suka berjalan di pantai seperti ini??".
"Iya Toni,,tapi bukankah kita harus ikut ke kantor sebagai saksi".
"Hal itu bisa menunggu,,tapi air mata istri ku tadi, harus ditebus sekarang".
"Kau harus rileks,,lupakan kejadian tadi".
"Malam ini kita kembali,,jadi aku ingin mengajak istri ku berjalan-jalan".
"Kenapa kita kembali lebih cepat,,apa karena Bram??".
"Karena aku tak ingin ambil resiko membahayakan mu".
"Bram sudah nekat menculik dan menyerang mu".
"Sebaiknya kita pindah atau pulang sekarang".
"Kebahagiaan dan kenyamanan mu jauh lebih penting sekarang".
Andin memeluk Toni erat dan mencium bibir suaminya. Seharusnya lah seperti ini seorang pasangan. Toni sangat sempurna. Menjadikan Andin ratu di hatinya. Tak ada lagi yang Andin inginkan di dunia ini sekarang, selain dari suaminya ini.
...****************...