
Pesawat yang di tumpangi Natalie dan Adam
baru saja mendarat di Jakarta. Keduanya langsung menuju ke rumah sakit tempat Andin dan Toni di rawat. Setelah bertanya pada bagian informasi, Natalie langsung menuju ke kamar Adam.
Kebetulan, dokter baru saja keluar dari kamar Toni. Natalie segera menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Toni.
"Bagaimana dengan kondisi putra saya dokter??".
"Maksud ibu, pak Toni??".
"Iya dokter,, itu putra kami".
"Beliau sudah membaik Bu, mungkin sebentar lagi sadar".
"Tapi maaf, kami harus sampaikan pada ibu kalau kedua kaki pak Toni terpaksa harus di amputasi".
"Apa,, dokter serius,,, lalu apa putraku sudah tahu hal ini??".
"Belum Bu,, saat itu dokter tak punya pilihan lain, menyelamatkan nyawa beliau,, kami harus mengambil keputusan secepatnya".
"Boleh saya masuk sekarang dokter??".
"Silahkan Bu,, sebentar lagi mungkin pak Toni sadar".
Natalie dan Adam masuk ke dalam ruang perawatan Toni. Melihat keadaan putranya, Natalie tak berhenti meneteskan air mata. Sekarang Toni sudah cacat. Dia khawatir apa putranya ini bisa menerima keadaan nya sendiri.
Tak berapa lama, Toni membuka matanya. Dia melihat kalau orang tuanya sudah ada di sampingnya.
"Mom,,, kenapa menangis,, aku baik-baik saja kan".
"Syukurlah nak,, mom cemas sekali dengan kau dan Andin".
"Apa Andin sudah sadar mom??".
"Iya,, tapi kepalanya masih pusing, jadi harus di periksa".
Mulanya Toni biasa saja, tapi lama kelamaan dia menyadari kalau ada yang berbeda dari tubuhnya. Dia sama sekali tak merasakan kakinya. Toni meminta tolong kepada ayahnya untuk bangun dan meraba kedua kakinya. Dia terus menyingkap.selimutnya sampai ke atas.
Baru di sadarinya kalau kakinya sudah hilang.
"Kenapa bisa seperti ini mom, dad??".
"Di mana kaki ku,, mengapa kalian biarkan mereka mengambilnya???".
"Tenang sayang,,, mom bisa jelaskan".
"Tidak.....aku mau kaki ku kembali".
Toni berteriak histeris, tidak terima kalau dirinya harus kehilangan kedua kakinya. Adam sampai harus memanggil dokter untuk menenangkan Toni. Setelah di suntik obat penenang, barulah Toni bisa di kendalikan.
Melihat keadaan nya yang tampak shock, Natalie seakan terenggut nyawanya. Walau
pun anak angkat, Toni lah yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Sekarang, melihat keadaan putranya seperti ini, Natalie sungguh tak kuat.
Walaupun sebentar, Toni tertidur. Kecemasan Natalie kalau sampai dirinya kembali histeris karena kondisi tubuhnya tersebut. Mereka berjaga di samping Toni tanpa sedetik pun meninggalkan dirinya.
Di kamarnya, Andin mencemaskan keadaan suaminya, tapi dia belum bisa bangun karena kepalanya masih sangat pusing. Setiap kali membuka mata, seluruh ruangan berputar-putar di atasnya. Dia masih menunggu hasil laboratorium agar segera di laksanakan CT scan.
Tak berapa lama, dokter masuk ke kamar Andin. Dia memberitahukan hasil pemeriksaan laboratorium.
"Maaf Bu Andin, anda tidak bisa menjalani pemeriksaan CT scan".
"Kami juga akan mengganti semua obat yang anda minum".
"Memangnya saya kenapa dokter??".
"Anda positif hamil Bu Andin,, ini hasil laboratorium nya".
"Sekarang anda akan di bawa untuk menjalani USG, semoga kecelakaan kemarin tidak berpengaruh pada calon janin di kandungan Bu Andin".
Andin seketika langsung menangis dan mengucap syukur. Di balik musibah yang menimpa dirinya dan suaminya, ada hadiah besar yang Tuhan berikan untuk mereka berdua. Andin menurut saja ketika dokter membawanya ke ruangan periksa ibu hamil.
Di dalam ruangan, lagi-lagi Andin di buat menangis melihat calon bayinya lewat layar monitor. Dia kelihatan baik-baik saja dan tidak
ada masalah sama sekali. Hanya mungkin pusing yang di derita Andin akibat ketidakstabilan hormon kehamilan yang sedang di alaminya.
kan kabar gembira ini kepada suaminya, ketika sudah sadar nanti. Dia tentu akan sangat bahagia mendengar berita ini. Setelah pemeriksaan, Andin di dorong kembali oleh perawat menuju ke kamarnya.
"Suster, apa suami saya sudah sadar??".
"Iya Bu, pak Toni sudah sadar sejak tadi pagi".
"Kalau begitu, saya boleh mengunjungi nya??".
"Belum boleh ibu,, tunggu kondisi anda stabil dulu".
"Sekarang saya antar ke kamar anda ".
" Baik suster".
Andin memang harus bersabar sebentar lagi. Menunggu sampai kondisinya membaik. Dia yakin setelah ini hanya akan ada kebahagiaan bagi dirinya dan suaminya tersebut.
Sampai di kamar, rupanya Bram sudah menunggu di dalam. Dia sempat pulang untuk berganti pakaian dan kembali lagi membawakan makanan untuk Andin.
"Bagaimana keadaan mu,, kau juga sudah baikan kan Andin?".
"Iya Bram,, terima kasih sudah menolong kami berdua kemarin".
"Tapi kau tak perlu repot-repot seperti ini".
"Aku tidak repot,, ini sekalian ku bawa saat kemari tadi".
"Aku juga sudah membelikan mertua mu makanan, kasihan mereka belum hafal Jakarta bukan?".
"Sekali lagi, terima kasih banyak Bram".
"Apa kau melihat Toni tadi??".
"Dia sudah sadar kan,,, tapi kenapa dia belum menemui ku".
"Katakan, apa kondisinya parah".
"Tidak,, sama seperti mu, dia juga tengah menjalani pemulihan".
Bram tahu kondisi Toni yang sebenarnya, tapi dia tak berhak memberitahukan nya kepada Andin. Biar Toni sendiri yang akan mengatakan kepadanya nanti. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan Andin.
Di kamar rawat nya, Toni sudah sadar kembali. Kali ini dia terlihat lebih tenang. Emosinya juga stabil, walaupun entah seperti apa perasaan nya. Natalie terus saja menghiburnya dan memberinya semangat.
"Sayang,, apa kau mau mom bawa Andin kemari??".
"Jangan mom, aku tak mau Andin tahu tentang keadaan ku".
"Aku ingin berpisah dengan Andin mom".
"Secepatnya, bawa aku pergi dari sini".
"Tapi sayang, bagaimana kalau Andin mencari mu nanti".
"Mom,, aku tak mau Andin menanggung malu karena punya suami cacat".
"Tolong mom, jangan katakan apapun padanya".
"Hanya, bawa aku secepatnya pergi dari sini".
"Please mom,,,tolonglah aku".
Adam dan Natalie hanya bisa menuruti keinginan putranya. Dia tahu betul kalau kemauan Toni sangat keras. Dia pasti sudah memikirkan semuanya dengan matang, sebelum mengambil keputusan.
Kedua orang tua tersebut lantas bergegas menuju ke ruang administrasi. Malam ini juga, Toni akan di pindahkan ke rumah sakit di Inggris. Dia bahkan tak ingin berjumpa dengan istrinya sama sekali. Mereka hanya harus menuruti semua permintaan Toni.
Kepindahan Toni pun dilakukan secara mendadak. Orang tuanya menyewa pesawat pribadi dan langsung terbang ke Inggris malam itu juga. Tanpa ada ucapan dan penjelasan apapun, Toni meninggalkan Andin seorang diri. Toni berharap Bram bersedia merawat Andin hingga sembuh dan kembali kepadanya. Dibanding dirinya sekarang, Bram jauh lebih sempurna untuk Andin.
Sudah sepekan Andin di rawat. Hari ini dia meminta ijin dokter untuk pergi ke kamar Toni. Aneh sekali dengan Toni dan Natalie serta Adam. Selama di rumah sakit, mereka tak pernah sekalipun mengunjungi kamarnya.
Untuk itu, hari ini Andin yang akan mendatangi suaminya.
...****************...