Let me Love You

Let me Love You
Bab 55.



Di saat Toni sedang serius menjalani terapinya, Andin sudah memulai hidup barunya di Yogya. Dia juga sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah hotel.


Tentu saja itu karena campur tangan Bram yang dilakukan nya secara diam-diam.


Kehamilan nya kini sudah memasuki usia 4 bulan. Dia agak kesulitan karena ngidamnya yang terlalu parah. Namun begitu, Andin tetap profesional bekerja. Untung saja rekan kerjanya yang dipanggil mbak Tari, selalu bersikap baik padanya.


Kebetulan Andin dan mbak Teri satu kontrakan. Dia seorang janda yang juga di ceraikan oleh suaminya karena tergoda perempuan lain. Jadilah kisah hidup keduanya membuat kedekatan satu sama lain menjadi kuat.


Pagi ini giliran Andin dan mbak Tari di shift pertama mereka. Tugas resepsionis di depan tak jarang mengharuskan Andin berdiri lama.


Sementara kehamilan nya di awal ini sangat menyusahkan dirinya.


"Kau duduk saja, biar aku yang melayani mereka".


"Aku tak apa mbak, kita gantian saja".


"Apa kau tak merasa mual lagi".


"Aku bisa mengatasinya mbak, semoga anak ini tidak manja kali ini".


"Ayo,, semangat Andin".


Keduanya bergiliran melayani tamu hotel yang akan menginap di tempat mereka. Kalau weekend seperti ini, mereka akan sangat sibuk seharian. Kadang harus bergiliran untuk makan. Bahkan terkadang tak ada waktu buat makan sama sekali.


Pemilik hotel ini seorang pria muda, lulusan Amerika. Dia baru saja pulang, setelah menyelesaikan pendidikan nya. Dan langsung di tunjuk untuk menggantikan ayahnya mengelola hotel keluarga.


Kebetulan dia bersahabat dengan Bram. Ketika pertama kali melihat foto Andin yang di tunjukkan oleh Bram, pria itu sudah tertarik padanya. Jadi, dia bersedia menerima Andin menjadi karyawan nya.


Selama Andin bekerja, dia kerap kali mendapatkan keistimewaan dari boss nya tersebut. Kadang dia mengirim makanan, kadang memberinya bonus. Kisah hidupnya dan juga kecantikan nya sudah merasuk di dalam hati Reynaldi. Dia ingin mengenal lebih dekat pribadi Andin yang ramah dan baik hati tersebut.


"Andin, jam kerja mu kan sudah habis, kenapa masih berdiri di situ??".


"Ah....pak Rey, baik pak, sebentar lagi saya selesai".


"Maya agak sedikit terlambat, jadi saya dan mbak Tari belum bisa pulang".


"Kenapa dia tak ijin sama saya,, lalu Sinta ke mana??".


"Dia juga belum datang pak".


"Mereka sungguh keterlaluan,, setelah mereka datang nanti, suruh ke ruangan saya".


"Kalian boleh pulang sekarang, biar Indra dan Widi yang gantikan".


"Baik pak".


Andin dan Tari langsung keluar menuju loker pegawai untuk mengambil tas. Sudah hampir dua jam, keduanya bekerja ekstra. Setiap hari


nya memang seperti ini, karena katanya mereka anak baru. Untung hari ini ketahuan sendiri oleh pak Rey. Kalau tidak, selamanya mereka akan di kerja i seniornya itu.


"Mbak,, kalian berdua di panggil pak boss sebelum pulang".


Andin dan Tari saling berpandangan.Rasanya mereka tidak berbuat salah. Makanya, keduanya bergegas masuk ke ruangan boss.


"Itu bonus untuk kalian berdua".


"Aku tak mau ada ketidakadilan di hotel ku ini".


"Jam kerja kalian berlebih, jadi sepatutnya kami juga mengapresiasi".


"Silahkan di terima, dan kalian boleh pulang".


"Terima kasih banyak pak".


Andin dan Tari keluar dari ruangan pak Rey dengan senyum sumringah. Tak sia-sia mereka di kerja i kalau ujung-ujungnya dapat bonus langsung dari pak boss. Sepanjang perjalanan pulang, Andin terus bersyukur, bisa menambah jumlah tabungan nya untuk persiapan kelahiran anaknya nanti.


"Wah.....senang sekali aku mbak, bisa punya tabungan lagi".


"Iya Din,, tak nyangka pak Rey ternyata orang nya baik".


"Bulan ini kamu sudah ke dokter kan??".


"Tenang mbak, aku sudah periksa kok".


"Entah lah mbak,, aku pun tak tahu kabarnya lagi,, sudah lah....lagipula aku sudah hampir melupakan nya".


"Sudah enam bulan berlalu sejak kecelakaan itu".


"Mungkin dia sudah mendapatkan ganti wanita lain yang lebih baik mbak".


"Maaf Andin, mbak terlalu kepo,, kamu jadi sedih lagi".


"Aku nggak sedih kok mbak,, aku justru senang bisa ketemu sama mbak Tari".


"Orang yang selalu menghibur ku dan menemani saat aku bersedih, terima kasih banyak mbak".


Keduanya berpelukan di pinggir jalan, hingga sebuah mobil menghampiri keduanya.


"Andin,,ayo aku antar kalian berdua".


"Bram,, kau ada di sini ??".


"Nanti saja ngobrolnya, ayo cepat naik, biar aku tidak di marahi karena memenuhi jalan".


Andin menggandeng lengan Tari memasuki


mobil Bram. Ketiganya melaju menuju ke restoran yang dekat dengan tempat kos Andin dan Tari. Bram menghentikan mobilnya dan menyuruh keduanya masuk. Dia sendiri memesan makanan untuk Andin dan Tari.


Setelah nya dia bergabung di meja.


"Ada acara apa kau kemari sebenarnya".


"Kebetulan ada urusan bisnis dengan Rey, jadi sekalian mampir, kangen sama kamu".


"Wah......aku berasa jadi obat nyamuk ini".


"Apaan sih mbak,, kamu juga Bram,,jangan begitu dong".


"Iya,,,aku bercanda Andin".


"Cuma mau lihat keadaan kamu saja,, gimana kehamilan mu,, pasti mbak Tari kesusahan nurutin ngidamnya Andin kan??".


"Nggak juga,, aku nggak minta aneh-aneh kok"


"Iya Bram,,anak Andin nggak rewel kok".


"Dia pintar sekali sejak di dalam kandungan".


"Syukur deh,, ikut senang dengar nya".


Ketiganya berbincang-bincang sambil makan.


Bram senang melihat perubahan Andin yang lebih ceria. Sejak di tinggalkan oleh Toni tanpa pamit waktu itu, dia sepertinya sudah bisa move on.


Bram terus memantau Andin, walaupun tak bisa sering-sering datang. Andin menolak tawaran nya untuk menjadi ayah dari bayi yang di kandungnya. Hanya dengan cara ini, dia tetap bisa berada di dekat Andin. Dengan berjanji menjadi teman yang baik baginya.


Sebenarnya Bram masih sangat mencintai


nya. Tak perduli Andin mengandung bayi Toni, dia akan tetap merawatnya kalau waktu itu Andin menerima lamaran nya. Tapi mungkin Andin masih butuh waktu untuk menata kembali hatinya. Lagipula baik Andin dan Toni, Bram dan Vanessa pun masih belum bercerai. Mereka masih terikat perkawinan dengan masing-masing pasangan nya.


"Aku nanti boleh kan mampir ke kosan mu".


"Ada kejutan yang ku bawa untuk bumil cantik ini".


"Kejutan apalagi Bram?".


"Namanya juga kejutan,, jadi kau harus bersabar,, tunggu sampai kembali ke kosan nanti".


Andin dan mbak Tari penasaran dengan kejutan yang di bawa oleh Bram. Mereka tak bisa menebak ulah apalagi yang di buat oleh laki-laki di depan nya ini. Setelah menyewakan satu rumah untuk berdua, dengan mbak Tari. Masih banyak lagi kebaikan yang di buat Bram untuk menyenangkan hati Andin. Semuanya atas peran Bram, dirinya bisa memulai hidup yang baru di Yogya. Pekerjaan yang layak serta teman yang baik. Entah bagaimana Andin bisa membalas semua kebaikan nya nanti.


Yang jelas,, Bram tetap setia di sisinya selama ini. Walaupun setiap kali hanya mendapat penolakan dari Andin. Dia masih tetap tidak menyerah dan pergi seperti Toni.


...****************...