Let me Love You

Let me Love You
Bab 35.



"Hei....lepaskan wanita itu,, kalian semua pengecut".


"Beraninya menyerang wanita baik-baik seperti ini".


"Toni,,, tolong aku,, mereka sudah kurang ajar kepada ku".


"Hei,,,bung....siapa kau berani ikut campur".


"Tinggalkan tempat ini segera, atau kau akan merasakan akibatnya".


"Atau kau juga mau serahkan wanita di sebelah mu untuk kami berpesta??".


"Kurasa dua wanita akan sangat menghibur kami malam ini".


"Jaga bicara kalian, dan lepaskan wanita itu sekarang".


"Atau apa bung,, kau mau mati di ujung pisau kami??".


Tak diduga, keempat pemuda itu maju dan menyerang Toni, sementara satu pemuda lagi memegangi Rossi. Andin berdiri menjauh dan terus mengawasi suaminya yang melakukan perlawanan.


Nampaknya ilmu beladiri Toni mampu mengalahkan keempat pemuda ingusan yang ingin menangkap Rossi. Namun, saat pukulan terakhir, konsentrasi Toni hilang ketika melihat seorang pemuda menghunuskan pisau di leher Andin.


"Hentikan pukulan mu jagoan,, atau wanita mu ini akan mati di tangan ku".


Toni terdiam memandangi Andin. Sementara


ketiga rekan pemuda itu menghajar Toni hingga babak belur. Mereka tertawa senang melihat Toni berlumuran darah. Sedangkan Andin tak kuasa menolong. Air matanya mengalir melihat suaminya di pukuli. Bahkan kepalanya sudah bersimbah darah.


Andin menggigit tangan pemuda yang membawa pisau dan memukul kepalanya dengan tongkat kayu. Dia terjerembab ke tanah. Andin bergerak cepat mengambil pisau yang terjatuh dari tangan nya.


"Lepaskan suamiku, atau teman mu akan mati".


"Ayo cepat,, jangan main-main dengan ku".


Toni memanfaatkan kesempatan dengan kembali memberi pukulan kepada tiga orang yang menyerangnya tadi. Di saat bersamaan terdengar sirine mobil polisi. Para pemuda itu lari tunggang langgang menyelamatkan diri.


Toni berhasil menangkap kaki salah satu pemuda, dengan sisa tenaga nya. Namun, pemuda tersebut gelap mata dan menancapkan pisau ke perut Toni. Pegangan nya terlepas, dan akhirnya bisa melarikan diri.


Toni terjatuh ke lantai dengan perut bersimbah darah. Sisa tenaganya sudah habis, sedangkan dia tak kuat lagi menahan nyeri di perutnya. Toni pingsan seketika.


Para polisi sebagian mengejar para pelaku, dan sebagian lagi membawa Toni ke rumah sakit. Andin dan Rossi mengikuti di mobil ambulan.


"Sayang,, bangun...kau harus bertahan".


"Aku tahu kau pasti kuat sayang,, ku mohon jangan tinggalkan aku".


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Andin terus menangis, memegangi tangan Toni. Dia selalu berdoa untuk keselamatan suaminya.


Sementara Rossi hanya terdiam memandangi tubuh Toni yang terbujur kaku.


Sesampainya di rumah sakit, Toni langsung di dorong menuju kamar operasi. Andin masih harus mengurus administrasi. Setelah itu dia menyusul menunggu operasi suaminya selesai. Andin menghubungi Natalie dan Adam, untuk mengabarkan keadaan Toni di rumah sakit.


Adam dan Natalie bergegas menyusul ke rumah sakit tempat putranya di rawat. Sementara, Andin dan Rossie masih berada di depan ruang operasi.


Setelah hampir dua jam berlalu, dokter keluar dari ruang operasi. Andin segera berdiri dan menemui dokter.


"Bagaimana keadaan suami saya dokter??".


"Kami sudah selesai mengoperasinya, untung saja lukanya tidak tembus ke perut dalam".


"Kalau tidak, bisa fatal akibatnya".


"Kita tunggu sampai dia sadar,,, selama itu perawat akan intensif mengawasinya".


"Boleh saya melihatnya dokter??".


"Hanya satu orang, dan kenakan baju steril".


"Kita lihat perkembangan nya nanti, saya permisi dulu".


"Terima kasih dokter".


Andin segera ke ICU tempat suaminya di rawat. Sebelum masuk, perawat membantunya memakai baju steril.Lagi-lagi


Andin hanya bisa meneteskan air mata melihat kondisi suaminya.


Selang infus, dan oksigen terpasang di tubuhnya. Wajahnya pucat, masih tak sadarkan diri. Andin meraih dan menggenggam tangan suaminya.


"Sayang,, aku tahu kau kuat,, kau pasti bertahan".


"Aku akan selalu di samping mu".


"Berjuang lah sayang,, kau pasti bisa melewati semua ini".


"Aku sangat mencintai mu sayang".


Andin terus berjaga di samping suaminya. Dia tak melepaskan genggaman tangan nya sedetik pun. Di sampingnya, Andin selalu mendoakan kesembuhan suaminya.


Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan dan memeriksa kondisi Toni. Sebelum pergi, perawat menyuntikkan obat ke dalam infus Toni. Mereka kemudian keluar ruangan.


"Suami anda sudah melewati masa kritisnya Bu".


"Kita tinggal menunggu beliau sadar kembali".


"Kalau ada apa-apa, tolong segera kabari kami".


"Baik dokter, terimakasih!!".


"Andin,, boleh aku melihat Toni sebentar".


"Aku merasa bersalah, karena aku Toni jadi seperti ini".


"Tak apa Rossi, ini musibah, bukan salah siapa-siapa".


"Masuklah,, biar aku tunggu di sini".


Rossi masuk ke kamar perawatan Toni, sedang Andin menunggu di luar. Tak berapa lama, Adam dan Natalie datang dengan berurai air mata.


"Sayang,,, bagaimana dengan putraku,, bagaimana keadaan nya sekarang?".


"Tenang mom,, dia sudah melewati masa kritisnya".


"Rossi ada di dalam untuk melihatnya".


"Lalu, bagaimana semua ini bisa terjadi??".


"Ceritanya panjang mom".


Andin kemudian menceritakan awal kejadian sampai akhirnya Toni terkena tusukan pisau penjahat. Natalie hanya bisa menangis. Dia takut kalau harus kehilangan putranya tersebut. Syukurlah,,, sekarang putranya sudah tertolong.Adam dan Natalie bisa bernafas lega.


"Mom, masuklah setelah Rossi, dokter bilang harus bergiliran".


"Aku yakin, Toni akan segera sadar, karena kita semua menyayanginya".


"Kau tak perlu mencemaskan nya,, dia pria yang tangguh".


"Aku tahu, sejak awal putra ku anak yang kuat".


"Dia sudah mencicipi semuanya,, hanya seperti ini,, aku yakin tidak ada apa-apanya".


Adam dan Natalie satu-persatu sudah masuk ke dalam menjenguk Toni. Sementara Rossi sudah pulang ke rumah nya. Hanya tinggal


mereka bertiga yang masih menunggu di rumah sakit.


"Dad,, sebaiknya ajak mom pulang".


"Aku tak mau mom sampai sakit, atau Toni akan marah pada ku nanti".


"Tapi sayang,, kau sendirian di sini,, biarkan mom menemani mu".


"Tidak mom, pulanglah,, nanti kalau Toni sudah sadar, aku akan hubungi kalian".


"Pulang lah istirahat,, besok pagi kalian boleh kesini lagi".


Adam dan Natalie akhirnya menuruti permintaan Andin, setelah dia membujuk ibu mertuanya itu. Yang tinggal di rumah sakit hanya Andin saja. Dia kemudian masuk ke ruang perawatan.


Dia bercerita tentang harinya kepada Toni. Lama bercerita, akhirnya dia ketiduran di samping tempat tidur Toni. Andin terlihat sangat kelelahan.


Sudah hampir tengah malam, Andin terbangun karena usapan lembut di kepalanya. Rupanya suaminya sudah sadar. Andin bangkit dan bergegas ke ruang perawat.


Mereka memeriksa Toni dengan seksama. Dokter keluar dan mengatakan kalau kondisi Toni sudah jauh lebih baik. Hanya tinggal menunggu pemulihan luka di perutnya.


Andin kembali ke ruang rawat menemui suaminya. Dia tersenyum mesra, walau wajahnya terlihat sayu menahan lelah.


"Hai,,, selamat datang kembali sayang??".


"Akhirnya kau bersama ku lagi di sini".


"Memangnya aku mau kemana Andin".


"Surah pun tak menerima ku karena tak membawamu".


"Sstt,,, jangan ucapkan hal itu lagi,, aku tak mau membayangkan nya".


"Aku terlalu takut kehilangan dirimu".


"Aku juga sayang".


Sepanjang malam, Andin menemani Toni dengan bercerita. Seakan Andin punya kekuatan ganda. Rasa lelah dan kantuk tak di rasakan nya, demi menjaga suaminya tercinta.


...****************...


"