
Sepanjang penerbangan, Toni terus memikirkan perkataan Rossi. Gadis itu selalu benar. Toni baru memikirkan nya saat ini. Kalau Andin dan Bram dekat setelah Toni meninggalkan nya, tak mungkin usia kandungan Andin sebesar sekarang.
Toni langsung mengguncang tubuh Rossi dan
bermaksud membangunkan nya. Dia ingin bertanya lebih lanjut tentang pemberitahuan gadis itu. Namun Rossi sudah memasang ear phone di telinganya, sehingga dia tak mendengar perkataan Toni.
"Rossi,,,cepat bangun...katakan sebenarnya yang kau tahu tentang Andin".
"Ayo Rossi, cepat bangun!!".
Jengkel karena Rossi tak kunjung bangun, Toni melepas ear phone Rossi dan berteriak kencang di telinganya.
"Toni,,keterlaluan sekali kau,,ada apa lagi??".
"Kau benar sekali,,berarti anak itu adalah milik ku bukan??".
"Lalu,, kau pikir ini ada gunanya??".
"Kita sudah terbang meninggalkan Indonesia".
"Aku ingin pesawat ini berhenti sekarang juga".
"Jangan gila Toni".
Rossi membungkam mulut Toni dan memegangi tubuhnya. Kalau di biarkan, dia bisa nekat melakukan nya juga.
"Duduk tenang di kursi mu dan jangan membuat ku malu".
"Atau kau mau membuat ku marah dan melempar mu dari sini?".
"Tapi Rossi, aku tak sabar untuk menyentuh bayi ku di perut Andin".
"Kau sudah kehilangan hak mu, ketika kau pergi dari Indonesia tadi".
"Tunggu sampai bayi itu lahir, lalu kau bisa tes DNA untuk meyakinkan mu".
"Saat itu kau bisa memutuskan untuk kembali pada Irene atau memperjuangkan anak mu saja".
"Bagaimana kalau ternyata hasil tes itu menyatakan kalau dia memang bukan anak ku?".
"Berarti kau bebas dari kewajiban mengurus dan menafkahinya".
Setelah mendengar kata-kata Rossi, pikiran Toni jadi terbuka. Benar juga yang di katakan sahabatnya itu. Toni akan mengambil anak Andin, ketika terbukti itu adalah putranya.
Hari berganti bulan, dan kandungan Andin sudah menginjak 8 bulan. Sebentar lagi dia akan melahirkan. Bram masih tetap setia menemaninya, bahkan dia membeli apartemen di Yogya supaya bisa terus memantau perkembangan Andin.
Toni juga sibuk bekerja, hingga tak sempat menghubungi mantan istrinya tersebut. Dia semakin dekat dengan Rossi, hingga berencana untuk melangsungkan pernikahan.
Sepertinya dia memang sudah benar-benar melupakan Andin.
Pagi ini Andin mendapat giliran shift pagi di hotel. Bram sudah menjemputnya dan menunggu di depan rumah. Mbak Tari yang selalu menemaninya, tak tahan untuk menggoda Andin.
"Kenapa kau tidak menikah dengan Bram saja??".
"Kasihan anak mu nanti kalau dia lahir tanpa seorang ayah".
"Lagi pula, Toni juga tak mengakui dia sebagai anak nya bukan?".
"Tak apa mbak, aku bisa menghidupi anak ku sendirian".
"Dia tak butuh ayah seperti Toni".
"nak ini hanya milik ku saja, dan akan terus seperti ini".
"Ya sudah sana, cepat berangkat, kasihan Bram sudah menunggu di depan".
"Mbak Tari tidak ikut sekalian??".
"Mbak juga sudah ada yang jemput nanti, kau tenang saja".
"Aku lupa kalau kakak ku ini sebentar lagi menikah".
"Aku duluan mbak".
Andin meraih tas nya dan langsung menghampiri Bram di teras.
"Kau masih belum bosan, tiap hari mengantar dan menjemput ku?".
"Jangan mulai lagi Andin,kau sudah tahu jawaban nya bukan?".
"Ayo cepat, kau bisa terlambat nanti".
Bram membuka pintu mobilnya, dan kemudian berjalan meninggalkan rumah kontrakan Andin. Mereka berkendara menuju hotel.
"Andin, sebentar lagi mbak Tari menikah".
"Dan kau akan tinggal sendirian di rumah itu".
"Aku masih ingin agar kau mau menerima tawaran ku".
"Setidaknya, pikirkan bayi mu".
"Aku bisa melindungi kalian berdua, daripada kau harus tinggal di rumah itu sendirian saja".
"Bagaimana kalau kau melahirkan nanti".
"Entahlah Bram, aku masih bingung".
"Aku janji tak akan menyentuh mu kalau kau tak menginginkan nya".
"Lalu kenapa kalau ayahnya tak menginginkan dirinya".
"Masih ada aku yang bersedia memberinya kebahagiaan di dunia ini".
"Kenapa kau masih mau bertahan selama ini Bram".
"Padahal kau tahu bagaimana perasaan ku".
"Karena aku masih mencintai mu Andin".
"Sama seperti dulu, ketika kau masih sendirian".
"Pikirkanlah lagi tawaran ku".
"Masih ada waktu sebelum bayi mu lahir".
Andin memikirkan dalam-dalam perkataan Bram. Semua yang di ucapkan nya benar. Akan sangat sulit berjuang sendirian di saat melahirkan nanti. Tadinya memang ada mbak Tari, tapi sebentar lagi dia juga akan segera menikah. Mungkin Andin memang harus mulai memikirkan tawaran dari Bram tersebut.
"Pulang dari hotel nanti, aku akan memberi mu jawaban Bram".
"Biarkan aku memikirkan nya seharian ini".
"Terima kasih sudah mengantar ku".
Andin masuk ke dalam hotel, sementara Toni menuju ke kantor nya. Sampai di ruangan pegawai, Maya memanggil dirinya.
"Andin, kau di panggil pak boss ke ruangan nya".
"Memangnya aku salah apa May??".
"Mana ku tahu, cepat sana...keburu di tunggu pak Rey".
Setelah Andin meletakkan tas nya di loker, dia segera bergegas menghadap pak Rey.
"Bapak memanggil saya??".
"Duduk lah Andin, aku ingin bicara dengan mu sebentar".
Andin duduk di depan pak Rey dan bersiap mendengarkan apa yang di katakan oleh boss nya tersebut.
"Kandungan mu sudah 8 bulan bukan??".
"Jadi, mulai besok pagi kau sudah boleh cuti".
"Aku tetap memberi mu gaji selama masa cuti mu 3 bulan".
"Dan tunjangan rumah sakit, pihak hotel juga memberikan nya untuk mu".
"Kau bisa melahirkan putra mu dengan tenang".
"Terima kasih pak Rey, anda baik sekali".
"Di luar urusan hotel, kau bisa menelpon ku kapan saja kalau kau butuh bantuan".
"Baik pak, saya akan mengingatnya".
"Gaji mu bulan ini sudah ku transfer Andin, dengan sedikit tambahan bonus dari hotel".
"Terimakasih banyak pak Rey".
Andin keluar dari ruangan pak Rey dengan hati lega. Banyak sekali orang yang masih perduli kepadanya. Bersedia dengan tulus membantu Andin dan calon buah hatinya.
Dia kemudian menuju lobby hotel dan bergabung dengan mbak Tari.
"Ada apa pak Rey memanggilmu??".
"Cuti ku besok pagi sudah di mulai mbak".
"Hmmm.....aku akan merindukan mu disini".
"Bukan nya mbak Tari juga sudah cuti sebentar lagi".
"Iya Andin,,aku juga sudah harus pergi dari kontrakan".
"Maafkan aku, tak bisa lagi menemani mu".
"Tenang saja mbak, aku ini kan pemberani".
"Andin, kalau boleh aku bicara, tolong terima lah Bram".
"Sebelum aku pergi, aku ingin melihat mu menikah dengan nya".
"Supaya aku tenang mempersiapkan pernikahan ku".
"Kau sebentar lagi melahirkan, harus ada yang menemani mu bukan?!".
"Tolonglah,,,sekali ini saja jangan egois".
"Pikirkan anak yang kau kandung juga".
"Dia juga berhak bahagia, walaupun ayahnya tak mengakui dirinya".
Andin menunduk. Kata-kata mbak Tari memang ada benar nya. Sudah lama sekali sejak terakhir Toni datang. Tak sekalipun dia menelpon dan menanyakan kabar Andin. Dia bahkan sudah menghilang. Hanya Bram yang tetap berada di samping nya selama ini.
Mungkin memang ini jawaban dari semua keraguan Andin selama ini. Toh, Toni juga sudah menikah dengan Rossi sebelum mereka berdua resmi bercerai. Jadi, kali ini Andin akan memberi kan jawaban dan keputusan nya kepada Bram.
...****************...