
Pagi-pagi sekali Toni sudah bangun dan berjalan-jalan di sekitar hotel. Itu merupakan kebiasaan nya ketika di Inggris. Dia harus berolahraga setiap hari untuk memperkuat otot kakinya.
Kebetulan juga, pagi itu giliran Andin bekerja.
Dia juga menyempatkan diri berjalan-jalan sejenak supaya kandungan nya sehat. Tak sengaja keduanya bertemu di taman belakan hotel. Ingin menghindar pun tak bisa karena terlanjur saling melihat.
Toni menghampiri Andin. Di lihatnya tubuhnya dari atas sampai bawah. Dia kemudian menyapa mantan istrinya itu.
"Selamat pagi Andin, kau berolahraga juga??".
"Seperti yang kau lihat Toni".
"Aku hampir selesai,sebaiknya aku masuk ke dalam".
"Andin, bisakah kita bicara sebentar??".
"Tentang apalagi Toni?".
"Kita duduk di sana saja, biar lebih enak ngobrolnya".
Entah kenapa, Andin menurut saja ketika Toni menawarinya untuk berbicara di bangku taman.
"Kandungan mu,,apa bayi mu sehat".
"Tentu saja,,aku rutin periksa ke dokter kandungan".
"Ya,,aku melihat kalian kemarin".
"Bram suami yang baik, dia menjaga mu lebih dari aku".
"Kau dan Rossi juga serasi,,kalian akhirnya bersama bukan??".
"Tentu saja, kenapa tidak?".
"Kita masing-masing sudah mendapatkan yang semestinya".
"Aku hanya ingin bilang pada mu".
"Gunakan kartu kredit yang ku berikan, itu kompensasi untuk mu selama kau menjadi istri ku".
"Aku sudah memberi mu yang sepantasnya kau dapatkan".
Toni bangun dan hendak melangkah pergi, ketika kata-kata Andin menahan langkahnya.
"Apa kau bahagia sekarang Toni??".
"Seperti yang kau lihat bukan,,kita bahagia dengan cara kita masing-masing".
"Apakah menurut mu kau sudah berlaku adil padaku?".
"Apa maksud ucapan mu??".
"Aku sudah memberi mu kebahagiaan bukan".
"Kau kembali bersama Bram dan sebentar lagi kalian akan punya bayi".
"Keadilan apa lagi yang kau inginkan dari ku?".
"Tidak ada,,itu sudah cukup, terima kasih untuk semuanya Toni".
"Dan maafkan aku, aku tidak butuh kompensasi untuk sebuah cinta Toni".
"Karena cinta itu dari hati, dan bukan di ukur dengan materi.
Andin melangkah pergi setelah menyerahkan kartu kredit ke tangan Toni. Dia berlalu tanpa menoleh sedikit pun. Ada rasa penyesalan karena ucapan Toni tadi. Namun, ketika mengingat Andin mengandung anak Bram, hatinya kembali mengeras.
Toni masih duduk di taman dan menimang kartu pemberian Andin. Sifatnya tak pernah berubah. Masih seperti yang dulu. Mandiri, keras kepala dan teguh pendirian. Enam bulan Toni meninggalkan nya, dia masih kokoh berdiri laksana karang.
Sementara sampai saat ini, dirinya masih sangat rapuh. Dia bahkan tak berani menghadapi kenyataan. Toni bersembunyi di dalam sikap tertutup nya. Dia takut kalau ketidaksempurnaan dirinya akan membuatnya terasingkan.
Hanya Rossi, gadis yang sabar menemani dirinya. Bahkan di saat terpuruk sekalipun, dia tak meninggalkan Toni sedikitpun. Rossi juga lah yang selalu menemaninya berlatih, hingga memasang kaki palsu. Sahabat masa kecilnya itu sangat setia kepadanya.
Toni berdiri, memasukkan kartu kredit ke saku jaketnya dan berjalan masuk ke dalam hotel.
Di lihatnya Bram di ruang resepsionis bersama dengan Andin. Dia langsung naik ke atas tanpa menyapa mereka berdua.
"Jadi, dia menginap di sini rupanya".
"Iya Bram,,sekamar dengan Rossi".
"Dan kau sudah bicara dengan nya??".
"Ya,,,kami baru saja bicara tadi".
"Dan dia tahu kau mengandung bayinya?".
"Tidak akan pernah,,di pikir ini bayi mu".
"Dan biarkan saja dia tetap berpikir demikian".
"Itu akan lebih baik untuk kami berdua Bram".
Bram bernafas lega.Dia pikir Andin akan mengatakan sebenarnya. Nyatanya, Andin lebih memilih menutup rapat kebenaran tentang bayinya. Tentu saja hal itu malah menguntungkan Bram. Kini dia bisa mencoba merebut kembali hati Andin yang telah di lukai oleh Toni.
"Habiskan makan mu,,aku juga mau ke kantor".
"Hari ini aku bersama Maya, dia mungkin sudah tidur sekarang".
"Baiklah,,aku pergi dulu Andin".
"Nanti sore aku akan menjemput mu".
"Ok,,,hati-hati Bram".
Bram meninggalkan Andin dan segera berangkat ke kantor. Dia sekarang sudah tidak khawatir lagi. Hubungan Andin dan Toni sudah tidak akan mungkin di teruskan lagi.
Saat Toni masuk ke kamar, di lihatnya Rossi masih terlelap di bawah selimut. Toni masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan berpakaian. Rossi sudah bangun, tapi masih di atas tempat tidur.
"Tumben kau sudah rapi, mau kemana sepagi ini?".
"Kita pulang ke Inggris sekarang".
"Tak ada gunanya lagi kita disini sekarang".
"Tapi,,kau bilang kalau kau ingin bicara dengan Andin".
"Aku sudah bicara dengan nya Rossi".
"Dia juga sudah mengembalikan kartu kredit dari ku".
"Semua sudah jelas sekarang".
"Aku tak butuh penjelasan apapun lagi".
"Kemasi barang mu, sudah cukup aku di sini".
"Saat nya kita pulang".
"Memangnya apa yang Andin bicarakan padamu, sampai kau memutuskan seperti ini".
"Aku sudah mendengar apa yang perlu ku dengar".
"Cepat berkemas,, atau aku akan meninggalkan mu disini dan pulang sendiri ke Inggris".
Rossi segera berlari ke kamar mandi. Kalau Toni sudah bersikap seperti ini, itu berarti dia harus di turuti dan tak boleh di bantah. Atau kemarahan nya akan membuat nya mengurung diri di kamar selama berhari-hari.
Raut wajah Toni sedari tadi sudah tidak bersahabat. Hanya untuk menunggu Rossi saja dia rela duduk kembali di sofa. Gadis itu bergerak kesana kemari membuat kepalanya pusing.
"Lima menit lagi kau belum selesai, aku akan meninggalkan mu".
"Tunggu Toni,,aku sudah siap sekarang".
Rossi bergegas berlari mengikuti langkah Toni. Pria itu terlihat sangat terburu-buru. Sampai di lobby hotel, dia menyerahkan kartu kreditnya kepada Andin.
"Aku keluar hari ini, tolong di urus pembayaran nya".
"Baik pak, tunggu sebentar".
Andin mengambil kartu kredit Toni dan mencetak struk tagihan hotel. Setelah selesai,
dia mengembalikan kartu tersebut kepada Toni.
"Terima kasih atas reservasinya, semoga liburan anda menyenangkan".
Tak memperdulikan ucapan Andin, Toni terus saja melangkah menuju ke parkiran. Hatinya seakan sudah mati. Semua yang di perjuangkan, berakhir sia-sia. Kisah cinta Toni dan Andin akhirnya harus berakhir juga.
Andin memandang kepergian Toni dan Rossi. Dia mengusap perutnya sambil meneteskan air mata. Toni tak akan pernah mengetahui kenyataan kalau anak yang di kandung Andin, adalah anaknya. Biarlah rahasia ini tersimpan rapat untuk dirinya sendiri.
Di dalam pesawat yang membawanya ke Inggris, Toni tampak termenung. Mungkin dia belum bisa melupakan Andin. Mungkin juga sedih, harus berpisah dengan nya.
"Kalian ini memang aneh".
"Kalau saling cinta, kenapa harus egois?".
"Kau juga Toni, setidaknya kau juga harus pikirkan tentang anak mu".
"Dia bukan anak ku Rossi".
"Anak itu milik Bram, itu yang Andin katakan".
"Itu lah diri mu, mengaku orang pintar, tapi gampang di bodohi".
"Apa maksud mu??".
"Pikirkan baik-baik yang ku katakan sekarang".
"Anak yang di kandung Andin, walaupun kau meragukan nya, dia adalah anak mu".
"Jangan katakan apapun, hanya pikirkan dengan nurani dan akal sehat mu".
"Kapan kalian berpisah, dan berapa usia kandungan Andin sekarang".
"Orang bodoh pun tahu, kalau mereka berpikir dengan logika".
Rossi menutup matanya dan berhenti bicara.
Menikmati penerbangan nya kembali ke Inggris dengan hati damai. Walaupun mungkin di sebelahnya sedang ada badai yang berkecamuk di hatinya.