
Vanessa sangat terkejut karena tiba-tiba Bram memintanya untuk mengemasi barang- barang nya. Bram mengatakan akan membawa Vanessa berbulan madu. Tentu saja Vanessa malah jadi keheranan. Mengingat pernikahan mereka hanya sekedar sandiwara. Walaupun tak di pungkiri, Vaness sudah mulai jatuh cinta pada Bram.
"Memangnya kita mau ke mana Bram??".
"Kalau sudah selesai, ayo segera berangkat ke bandara".
"Tugasmu hanya menuruti perintah ku,, jangan banyak bertanya".
"Cepat jalan....!!".
Buru-buru Vaness mengikuti langkah Bram masuk mobil. Pelayan sudah memasukkan semua koper mereka. Bram dan Vaness segera berangkat menuju Bandara. Tujuan mereka kali ini adalah menyusul Andin ke pulau Maldives.
Tekad Bram sudah bulat. Dia akan merebut kembali Andin dari sisi Toni. Walaupun apa yang terjadi nanti, setidaknya Bram sudah mati-matian mengejar Andin. Kalau perlu, dia bisa nekat menculik Andin dan membawanya lari, menjauh dari semua orang yang ada di sampingnya.
Setibanya di Bandara, Bram segera menyerahkan ***** dan paspor keduanya. Tak butuh waktu lama, karena memang jadwal penerbangan mereka di carikan yang berangkat secepatnya. Sambil menunggu pesawat lepas landas, Vanessa bertanya kepada Bram.
"Kau yakin kita akan berlibur ke Maldives??".
"Bukankah sudah ku larang untuk bertanya!!".
"Yang penting kau senang bukan??".
"Aku senang Bram,, apalagi kalau kau menerimaku sebagai istri mu seutuhnya".
"Kita sudah sejauh ini, akan lebih baik kalau kita teruskan saja".
"Aku sudah belajar untuk mencintai mu Bram".
"Aku bahkan ingin kita punya bayi,, ".
"Orang tua kita pasti senang sekali kalau hal itu sampai terwujud".
"Apa pikiran mu sudah tidak waras??".
"Hanya karena kita berlibur berdua, maka aku mau menerima mu seutuhnya".
"Dengar,,, setelah dua bulan nanti, aku akan menceraikan mu".
"Itu sesuai dengan kesepakatan kita bukan??".
"Itu dulu Bram,,, tapi sekarang..aku tak mau kita berpisah".
"Aku akan membuat mu jatuh cinta padaku".
"Dalam dua bulan,,,kau sendiri yang akan memohon cinta kepadaku".
"Itu janji ku Bram,,kau ingat itu??".
"Terserah kau saja Vanessa, tapi daripada kecewa, ku peringatkan dari sekarang".
"Aku tak akan mengemis cinta padamu".
"Dan aku juga tak akan pernah membuka hati ku untuk mu".
"Baiklah,,,kita bertaruh...siapa di antara kita yang akan menang".
Setelah berdebat, keduanya terdiam tak saling sapa. Hanya, tangan Vanessa menempel di telapak tangan Bram. Dia tak ingin menimbulkan keributan di pesawat, jadi Bram membiarkan saja. Keduanya bahkan tertidur di pesawat.
Tak terasa, pesawat mereka sudah tiba di pulau Maldives. Ketika keluar Bandara, Ricky sudah menjemput pasangan suami istri tersebut.
"Tak ku sangka, semangat mu ternyata tinggi juga".
"Kau sudah langsung menyusul ke sini".
"Jangan banyak bicara,,katakan di mana mereka".
"Kau tenang saja,,aku sudah memesan cottage dekat dengan mereka".
"Jadi kau bisa dengan jelas melihat wanita itu".
"Wanita mana yang kalian maksud??".
"Sebenarnya apa tujuan mu kemari Bram".
"Mari ikuti saya nyonya Vanessa".
"Saya yakin anda akan menyukai liburan kali ini".
Bram dan Vaness mengikuti Ricky naik ke dalam mobilnya. Mereka segera menuju cottage yang sudah di pesan Ricky khusus untuk Bram. Tempat itu sangat dekat dengan cottage milik Andin dan Toni.
Malam hari mereka baru sampai. Ricky menyerahkan kunci cottage dan meninggalkan mereka berdua. Dia sendiri memilih berganti hotel karena cottage nya sudah diberikan kepada Bram.
Bram membuka pintu belakang yang langsung terhubung dengan laut. Saat itu dia melihat Andin dan Toni sedang berdiri di balkon. Keduanya menikmati suasana malam hari dengan berpelukan. Bram mendidih seketika. Kedekatan keduanya melukai hati Bram yang terdalam. Terbayang kebersamaan mereka waktu itu.
"Apa yang kau lihat Bram,,makan lah....pesanan kita sudah sampai".
" Mereka seperti tidak asing,,,tapi siapa??".
"Ayo,,kita makan dulu,, mereka mungkin juga sedang berlibur seperti kita".
Bram sama sekali tidak menjawab. Dia juga enggan beranjak dari balkon belakang. Hanya butiran bening keluar dari sudut matanya. Menyaksikan wanita yang sangat di cintai nya berada di pelukan orang lain.
Bram baru masuk ketika di lihatnya Andin dan Toni sudah masuk ke dalam cottage. Di kemudian ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan dirinya.
Sementara di kamar pengantin baru tersebut, malam bahkan baru saj di mulai. Dari tadi suaminya Toni terus saja menempel padanya.
"Kau masih ingin pesan makanan sayang??".
"Tidak usah honey,,, malam ini aku makan kau saja".
"Aku rasa dengan tubuh mu ini, aku langsung bisa kenyang".
"Jangan menggodaku sayang".
"Kapan aku lakukan itu,, aku sama sekali tak menggoda mu".
"Hanya,,,,entah kenapa aku selalu jatuh cinta padamu".
"Aku tahu sampai di mana ini nanti".
"O,,ya.....kemarilah.....biar aku tunjukkan kemana ini akan berakhir".
Toni menarik tangan Andin ke pelukan nya. Dia mencium bibirnya lembut. Toni tak membiarkan Andin bergeser sedikit pun dari hadapan nya. Mereka berdua terlarut dalam suasana romantis. Dingin nya malam dan bulan purnama menjadi saksi penyatuan keduanya malam itu. Sepasang pengantin baru yang tengah mereguk nikmat asmara.
Pagi hari nya, kedua pasangan ini masih belum bangun. Mereka masih berada di tempat tidur. Rasanya enggan beranjak karena kelelahan dengan aktivitas panas keduanya semalam.
Di cottage yang berbeda, Vanessa masih nyenyak di ranjang nya. Sementara Bram sudah keluar dari kamar. Semalam dirinya tidur di sofa. Bram berdiri di balkon belakang
dan melihat cottage Andin masih tertutup.
Dia kemudian keluar dan berjalan-jalan di sekitar cottage. Udara pagi yang segar, Bram sekalian berolahraga. Dia berjalan sedikit jauh menyusuri tepi pantai. Pikiran nya galau menerka macam-macam yang terjadi di cottage Andin.
"Sepagi ini kau sudah di sini,, apa bulan madu mu mengecewakan Bram??".
"Hentikan bicara mu, kau tahu kan tujuan ku datang kemari".
"Apa kalian sudah bertemu??".
"Belum,, dia masih belum tahu kalau aku menyusulnya kemari".
"Sebentar lagi, mereka akan berjalan-jalan bersama".
"Setahu ku, Toni tak pernah meninggalkan Andin sendirian saja".
"Kemanapun mereka selalu berdua".
"Kalau begitu, telpon dia dan minta untuk menemui mu di sini".
"Ayo cepat,, aku tunggu sekarang!!".
Ricky mengeluarkan ponsel nya dan menelpon Andin. Dia sudah terjaga dan segera mengangkat telpon nya.
"Andin,, apa aku mengganggu mu sepagi ini??".
"Katakan Rick, kau ada perlu apa??".
"Tidak,, hanya ingin berjalan-jalan dengan mu".
"Pagi ini cuacanya cerah sekali".
"Kita bisa sarapan bersama nanti".
"Hmmm.....kita lihat saja nanti Rick,, Toni masih belum bangun".
"Baiklah, kalau kau berubah pikiran, aku tunggu di restoran tepi pantai".
"Oke,,, nanti ku telepon kembali".
Andin meletakkan ponselnya. Dia menyingkap selimut dan ingin pergi ke kamar mandi. Namun Toni menarik telapak tangan nya, sehingga Andin terjatuh menindihnya.
"Kau mau kemana,, siapa yang menelpon mu tadi??".
"Itu Ricky,, dia mengajak kita sarapan bersama".
"Katakan padanya, pagi ini kita tak kan kemana-mana".
"Aku hanya ingin berdua dengan istri ku saja".
Dalam pelukan Toni di tempat tidur, Andin mengetik pesan untuk Ricky. Mereka tak bisa memenuhi undangan nya. Lagipula, Andin sudah berjanji pada suaminya, dia tak akan menemui Ricky tanpa nya.
...****************...